
"Siomay?" ulang Galaksi dengan mata terbuka lebar.
Dia spontan mendudukkan dirinya dan menatap istrinya tak percaya.
"Kenapa kamu kaget gitu?" tanya Galexia dengan heran.
"Lah kamu minta siomay. Disini mana ada, Yang?" tanya Galaksi dengan bingung.
"Siapa yang suruh beli?" sahut Sia dengan memicingkan matanya.
"Ya katanya kamu mau siomay," jawab Galaksi sekenanya.
"Aku gak mau beli, maunya kamu yang buat."
"Hah." Mulut Galaksi menganga dengan mata membulat. "Aku gak tau cara buatnya, Sayang."
"Jadi kamu nolak?" tanya Sia sambil ikut mendudukkan dirinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tak memakai apapun.
Matanya berkaca-kaca bahkan dirinya sendiri tak tahu kenapa sangat menginginkan makanan itu. Ibu dari si kembar sadar bila sulit mencari makanan itu disini. Namun, dia hanya ingin makan siomay buatan sang suami.
Ya, Galaksi harua memasak. Dia ingin melihat suaminya memakai celemek dan berperang dengan alat-alat masak.
"Ya, Mas. Plis," pinta Sia dengan memohon.
"Jangan memohon padaku, Sayang. Aku merasa seperti suami jahat," kata Galaksi menggeleng. "Ayo kita belanja bahannya dan memasak."
Wajah yang tadinya mendung spontan sumringah. Matanya berbinar menatap ke arah Galaksi tak percaya.
"Beneran?"
"Iya. Ayo siap-siap dan berangkat."
🌴🌴🌴
Tak henti-hentinya senyuman lebar menghiasi bibir Galexia. Perempuan itu dengan semangat menggandeng tangan suaminya untuk mencari bahan membuat siomay. Atas saran dari Mama Rhea dan Pandora, akhirnya keduanya membawa sebuah catatan kecil yang berisi bahan lengkap membuat siomay.
Keduanya benar-benar tak ingin ada satupun barang yang tertinggal. Mereka bekerja sama mencari tempat dimana bahan itu berada.
Jangan lupakan, tiga anak kecil kesayangan Sia tentu saja ikut. Saat keduanya hendak berangkat. Galaksi menjemput kedua anaknya untuk ikut ke toko market. Sekaligus mereka juga mengajak Tania yang sedang bermain bersama Venus.
"Tinggal cari daging ayam, Yang," kata Sia pada sang suami.
"Iya." Galaksi lebih banyak diam.
Tak ada bantaha di bibirnya. Jujur pria itu bingung harus melakukan apa. Sosok yang biasanya berkutat dengan laptop dan berkas. Hari ini harus berteman dengan dapur dan alat masak.
Ini bukan hal mudah memang. Namun, mengingat mertua dan ibunya yang akan membantu, membuat hati Galaksi sedikit lebih tenang.
"Kalian sudah dapat?" tanya Sia saat mereka sampai di tempat daging ayam.
"Sudah, Mama," sahut Sia menunjukkan cemilan dan minuman miliknya.
Sia mengangguk. Sampai dia terpaku pada Titania yang tak membawa apapun.
"Tania kenapa gak beli, Nak?" tanya Sia dengan pelan.
Ibu dari si kembar itu menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka masih ada anak seperti Tania yang mampu menahan keinginannya ketika teman-temannya membawa makanan.
"Sekarang Abang sama Adek temenin Tania cari cemilan yah," kata Sia pada dua anaknya. "Tania gak usah khawatir. Mama Sia yang beliin."
Akhirnya setelah menghabiskan waktu selama satu jam untuk berbelanja. Kelima orang itu segera kembali ke rumah. Dengan perasaan campur aduk, Galaksi menenteng semua bahan masakan itu ke rumah dan segera menuju dapur.
Disana, sudah ada kedua perempuan yang sangat berjasa di hidupnya dan hidup sang istri. Walau wajah keduanya sudah berumur. Namun, tak dapat menghentikan semangat mereka.
"Biarin Kak Galak yang masak, Ibu, Mama. Aku ingin masakan suamiku," kata Sia membuat kedua orang tua itu menoleh.
Seakan dalam tatapannya sedang memikirkan sesuatu yang mengusik kepala mereka.
"Mama sama Ibu bantuin ngasih tau aja," lanjut Sia yang membuat wajah Galaksi semakin tersiksa.
Ketika sang putri sudah meminta. Maka, Pandora dan Rhea hanya bisa menurut. Pikiran mereka masih menebak dan tak mau salah. Lalu keduanya berdiri di dekat meja dapur dan menunjuk apa saja bahan yang harus dicuci dulu sebelum digunakan.
Dengan telaten dua ibu itu membantu Galaksi yang kesusahan. Pria itu benar-benar diuji kesabarannya dalam membuat siomay. Namun, akhirnya dia menyerah ketika membuat adonan kulitnya.
Galaksi berulang kali gagal terus dan akhirnya dia menyerah. Dengan terpaksa Sia mengizinkan Mama Pandora membantu putranya yang tak sabaran.
"Awas aja hatinya mengumpat tentang aku, yah!" seru Sia mengancam. "Aku gak mau makan."
Galaksi menghela nafas berat. Dia menatap Sia dan memaksakan senyuman.
"Aku gak mengumpat, Sayang. Aku hanya kesal karena kulitnya gak jadi," kata Galak dengan lugas.
"Oh ya udah. Semangat ya suamiku."
Setelah menunggu sampai hampir dua jam. Akhirnya masakan itu jadi dengan baik. Galaksi segera menatanya di meja bersama sausnya lalu meletakkan di depan istrinya.
"Selamat makan, Sayang. Semoga kamu suka!"
Galexia mengangguk. Dia menatap siomay itu dengan menjilat bibirnya sendiri. Entah kenapa melihat bentuk dan aromanya yang wangi sangat membuatnya ingin segera menyantapnya.
Dengan pelan, Sia menusukkan garpu di siomay itu. Satu kata yang pertama muncul di bibir Sia, 'empuk'.
Dia mendekatkan hidungnya dan menghirup makanan itu. Sedangkan tiga orang yang membuatnya ketar ketir. Mereka menunggu reaksi bagaimana Sia saat memakannya.
Tanpa menunda, ibu dari si kembar segera memasukkan siomay itu dalam mulutnya. Satu kali mengunyah, wajah yang tadinya cerah perlahan meredup. Bahkan ketika Sia mulai mengunyah kembali, tiba-tiba wajahnya seakan menahan sesuatu yang ingin keluar. Hingga dirinya yang tak tahan langsung berlari menuju kamar mandi.
Hoek...hoek.
Suara muntahan itu begitu jelas terdengar dan membuat Mama Rhea serta Pandora menatap penuh harap.
"Jangan...jangan!"
~Bersambung
Jangan-jangan apa hayoo?
Kalau ada typi komen ya. Aku ngetik sambil ngantuk nih. Gak sempet revisi.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah.