The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Dibuntuti




Sinar mentari mulai menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Ruangan yang awalnya temaram mulai terlihat terang. Di sebuah kamar, terlihat seorang perempuan tengah memasukkan pakaian kecil milik kedua anaknya ke dalam koper. Hari ini, dia sudah memutuskan untuk kembali ke kota tempat kedua anaknya lahir.


Galexia, dia merasa tak pantas tinggal satu rumah dengan Galaksi. Hubungan keduanya yang sudah lama berakhir, tentu bukan pemandangan yang baik jika dilihat oleh orang lain. Walau Jakarta adalah kota yang orang-orangnya kebanyakan bodo amat dengan sekitar. Namun, Sia tetap merasa risih.


Dia ingin kembali ke Surabaya. Menata semuanya dan mengurus kedua anaknya. Apalagi privat school yang dilakukan Mars dan Venus akan dimulai minggu depan. Hingga mengharuskan ketiganya segera kembali ke sana. 


Setelah semua pakaian selesai dimasukkan. Sia perlahan beranjak berdiri. Dia melihat kedua anaknya yang hanya duduk diam di ranjang dengan wajah datar. Dirinya hanya bisa menghembuskan nafas panjang, saat kedua anaknya seperti enggan untuk diajak pulang.


Tak mau terjadi salah paham lagi, Sia berlalu mendekati keduanya. Dia mendudukkan dirinya disana dan menatap Mars dan Venus bergantian.


"Apa kalian ingin dekat dengan Papa terus?" tanya Sia to the point. 


Keduanya kompak menggeleng. 


"Terus? Kenapa kalian cemberut begini, hm?" tanya Sia mengelus sisi wajah kedua anaknya.


"Venus pengen tinggal sama Mama dan Papa," ujarnya sambil membayangkan keinginannya itu terkabul. "Sepelti teman-teman Venus yang lain, Ma. Meleka gak pelnah jauh sama olang tuanya."


Degup jantung Sia berdebar kencang. Ada sesuatu yang sakit di sudut hatinya saat mendengar keinginan anaknya. Sebuah harapan yang diinginkan seorang anak berumur 6 tahun. 


Kehidupan keluarga yang diinginkan Mars dan Venus tentu belum bisa Sia kabulkan. Jujur sampai sekarang, walau Galaksi sudah berubah, Sia belum percaya penuh pada pria itu. Dia takut kejadian masa lalu akan terulang dan jatuh ke lubang yang sama.


Apa yang dirasakan Sia, bukan kenangan yang mudah. Apalagi sampai menimbulkan sebuah trauma yang mendalam. Seseorang mungkin bisa menyuruhnya atau mendesak dirinya untuk memaafkan Galaksi. Namun, bagaimana jika kalian ada di posisi Galexia?


Apakah kalian akan sanggup?


Tak punya tempat curhat, tak ada keluarga, dihina suami, hamil dan anak dalam kandungannya diragukan. Itu bukan perkara yang mudah. Butuh wanita kuat seperti Sia untuk bisa keluar dari jurang ketakutan ini. Hingga untuk kembali pada Galaksi, tentu dia harus melihat bagaimana mantan suaminya berjuang untuk mereka.


Dia membutuhkan bukti yang kuat untuk melihat seberapa pantasnya Galaksi kembali di tengah-tengah mereka. Jadi, jangan memaksanya untuk kembali secepat mungkin. Sakit hatinya belum sembuh dan dia ingin menyembuhkannya terlebih dahulu. 


"Sayang," panggil Sia memegang kedua tangan Venus.


Keduanya sudah kembali seperti biasanya. Melupakan kejadian semalam yang membuat mereka saling berselisih. Seakan tak ada hal menegangkan di antara mereka, baik Venus dan Sia kembali bersikap seperti semula. 


"Beri Mama waktu sedikit lagi," pinta Sia menatap wajah putrinya dengan sendu. 


"Sampai kapan, Ma?" tanya Mars yang sejak tadi diam.


Tak ada pemberontakan lagi dari si kembar. Ketiganya berbincang dengan begitu tenang bersama Sia. Mereka ingin mengobrol dari hati ke hati agar tak ada lagi perselisihan di antara mereka.  


"Sampai kita melihat perjuangan Papa untuk kembali sama kita." 


Mata kedua anaknya membulat penuh. Bahkan mereka menatap tak percaya ke arah sang Mama. Keduanya seakan mendapatkan angin segar di pagi hari mendengar jawaban sang mama yang tak disangka-sangka.


"Jadi Mama…." 


Sia mengangguk. Dia menepis air mata yang turun saat melihat wajah bahagia dan mata berbinar dari kedua anaknya. "Mama mau kembali sama Papa Galak demi kalian." 


Senyuman lebar terbit di kedua sudut bibir Mars dan Venus. Keduanya spontan menghambur ke pelukan Sia dengan cepat. Mereka tak menyangka jika keinginannya akan terwujud secepat ini. Walau keduanya harus menunggu sedikit lagi, yang penting sang mama sudah memberikan lampu hijau untuk papa mereka. 


"Telima kasih, Mama," ucap keduanya semakin mengeratkan pelukan di tubuh Sia.


"Sama-sama, Sayang." 


Mama akan berusaha menerima perilaku papa kalian di masa lalu demi kebahagiaan kalian berdua, batin Sia sambil menghapus air mata yang menetes.


****


Semua orang mulai berkumpul di ruang tamu untuk mengantarkan kepergian Sia dan kedua anaknya. Wajah semua orang terlihat begitu sendu. Bahkan saat mengingat tak akan ada lagi canda tawa dari bibir si kembar, pasti hal itu membuat rumah sebesar ini akan kembali sepi.


Papa janji akan membuktikan pada Mama kalian, kalau Papa benar-benar berubah, batinnya sambil memejamkan mata.


Tanpa Galaksi sadari. Jika semua yang dia lakukan tak luput dari penglihatan dua orang anak kecil. Mereka sejak tadi sudah turun ke bawah dan mulai berpamitan dengan semua orang. Namun, saat keduanya mencari sosok sang ayah, ternyata pria itu hanya duduk diam sambil melamun.


Perlahan kedua tangan Mars dan Venus saling bertaut. Mereka berjalan mendekati Galaksi dan membuat lamunan pria itu buyar. Dia menurunkan pandangannya dan melihat kedua buah hatinya sudah berdiri di depannya saat ini.


"Kami pulang, Om," pamit Venus yang membuat mata Galaksi berkaca-kaca.


Karena kebodohanku, akhirnya mereka yang menjadi korbannya, gumamnya dalam hati sampai tanpa sadar air matanya mengalir. 


"Boleh kami minta peluk?" kata Mars untuk yang pertama kalinya bersuara. 


Galaksi yang semula diam spontan mengangguk. Dia membuka kedua tangannya dan langsung disambut pelukan oleh kedua anaknya. 


"Semangat, Papa. Venus bakalan bantu Papa sampai kembali di antara kami," bisik Venus dengan pelan.


"Jangan patah semangat. Mars siap membantu Papa juga." 


Setelah mengatakan itu. Mars dan Venus melepaskan pelukan mereka. Tanpa kata, keduanya mencium pipi Galaksi hingga pria itu semakin menyadari akan kesalahannya.


Waktu yang terus berjalan, membuat ketiganya segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Galaksi untuk mengantarkan mereka. Tak ada wajah muram seperti tadi di wajah Galaksi, seakan semangat dari kedua anaknya membuat dia sadar, jika ini adalah awal perjuangan dirinya. Hingga perpisahan itu harus dimulai dari lambaikan tangan mereka semua.


****


Kendaraan mulai melaju meninggalkan kota Jakarta. Supir Galaksi memilih menggunakan jalan tol agar perjalanan mereka tak terkena macet. Di dalam mobil, dua anak itu duduk di kursi belakang. Keduanya begitu tenang karena ditangan mereka terdapat sebuah rubik untuk hiburannya.


Namun, perlahan saat jalan tol terlihat lenggang. Supir mobil mulai melihat ke cermin belakang. Dia mengerutkan keningnya saat menyadari mobil lain ada di belakang mereka sejak keluar dari perumahan rumah Galaksi. Tak mau mengambil resiko, dia menaikkan laju kendaraan hingga mengundang rasa penasaran dalam diri Sia.


"Ada apa, Pak? Kenapa Bapak menaikkan laju mobilnya?" tanyanya sambil menatap supir Galaksi.


"Di belakang sepertinya ada yang mengikuti kita, Nona."


Galexia terkejut. Dia spontan menoleh dan menyadari ada dua mobil suv hitam tepat di belakangnya. Dirinya semakin curiga saat melihat kaca mobil itu tak tembus pandang.


"Mars, Venus pegangan ya, Nak," nasehat Sia yang membuat kedua anak itu saling berpandangan.


Mereka tak membantah dan langsung mengikuti saran sang mama. Hingga mobil yang ada di belakang mereka berusaha untuk menyalip. 


"Berhenti!" teriak seorang pria dari kaca mobil yang dibuka.


Sia menoleh. Dia bisa melihat ada pistol di tangan pria itu hingga membuatnya yakin jika mereka adalah orang jahat.


"Cepat berhenti atau aku akan menembak kalian!"


~Bersambung~


Ulah siapa lagi ini? si Tante Garong atau si ono?


Perjuangan Galaksi dimulai dari sini yah. Kita lihat seberapa kuat Abang Galak mengambil hati istri dan anaknya.


Aku ucapin terima kasih sama yang udah bilang novel ini bertele-tele. Aku kasih saran yah, kalian berhak kritik karya aku. Mau sepedas apapun aku malah seneng. Aku suka pembaca kritis, yang komen tiap bab panjang lebar disertai saran aku harus gimana. Itu namanya kritik membangun.


Jangan cuma bisa kritik doang tanpa saran. Apalagi sampai nyakitin hati authornya. Aku bukan penulis baperan. Bahkan karyaku pernah dibilang sampah, gak ngotak, aku terima. Karena yang komen nambahin saran. Itu jadi aku sadar kalau karyaku emang sampah. Tapi kalau udah kritik aja, aku mana tau salah ku dimana. Bener gak?


Apalagi yang komen begitu, gak pernah like, gak pernah komentar di bab-bab yang lain. Ah makin bikin aku suudzon yakan? dia baca dari awal apa nggak? udah ah aku elus dada aja.


Terima kasih semua pembaca uang masih mau support aku. Tanpa kalian aku gak bakal ada di titik ini. Aku gak tau mau update lagi apa nggak. Jujur pagi-pagi lihat komenan begitu bikin down.