
Apa yang dipikirkan oleh Mama Pandora dan Ibu Rhea ternyata benar adanya. Keduanya begitu senang saat melihat benda pipih yang saat ini mereka pegang. Dua wanita paruh baya itulah yang memaksa putri mereka untuk melakukan tes karena tingkahnya yang benar-benar aneh.
"Selamat, Nak. Kamu akan menjadi seorang ayah lagi," kata Mama Pandora memeluk putranya, Galaksi.
"Hasil akurat itu pagi hari, 'kan, Ma? Mungkin ada kesalahan bisa jadi," kata Sia yang tak mau terlalu berharap.
Dia takut jika harapan yang sudah ia bumbung tinggi akan terhempas. Melihat tespek itu bergaris dua samar, memang membuatnya bahagia. Namun, dia juga takut karena melakukannya bukan di pagi hari.
"Ibu yakin kamu hamil, Nak. Ayo kita dokter kandungan sekarang!" Ajak Ibu Rhea yang membuat Sia dan Galaksi saling menatap.
Keduanya tak tahu harus melakukan apa. Ini memang mengejutkan. Ada perasaan percaya tak percaya. Hingga akhirnya Galaksi mengangguk, meyakinkan istrinya untuk periksa sekarang.
Galaksi segera membantu Galexia ke kamar. Dia tahu istrinya mungkin sedang bingung tapi juga lemah. Makanan yang ia makan semuanya ia keluarkan. Hal itu tentu membuat ayah si kembar begitu khawatir.
"Duduklah, Sayang. Aku akan mengambilkan pakaianmu," kata Galaksi mendudukkan istrinya di atas ranjang.
Galexia menunduk. Dia memijat dahinya yang pusing. Jujur kepalanya berkedut hingga membuatnya mencengkram sprei begitu kuat.
"Kak!" Jerit Sia yang membuat Galaksi segera keluar dari walk in closetnya. "Kamu kenapa?"
Sia mencengkram tangan suaminya. Dia merasa pusing luar biasa. Mungkin ditambah perutnya yang kosong membuat Sia benar-benar tak bisa melakukan apapun.
"Kepalaku sakit, Kak."
Galaksi merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dia mengabaikan dirinya yang hanya memakai celana pendek tanpa atasan. Jujur dirinya merasa khawatir pada keadaan sang iatri.
Baru kali ini, Sia sakit dengan begitu lemahnya dan membuatnya takut.
"Kemarilah!"
Galaksi menarik istrinya ke dalam pelukan. Dia meletakkan kepala Sia ke atas lengannya lalu dengan pelan Galaksi memijat kepala istrinya.
Sia merasa nyaman. Bahkan dengan pelan dia semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh sang suami dan mendekap tubuh tegap tersebut. Aroma yang ada dalam diri Galaksi seperti angin segar.
Bahkan Sia tanpa malu mengendus endus leher suaminya dan membuat Galaksi hanya bisa memejamkan matanya.
Ah kalau begini namanya membangunkan dia, gumamnya dalam hati.
"Apa kita tunda periksanya, Sayang?" Tanya Galaksi mencoba mengalihkan hasratnya yang mulai menaik.
Dia mengelus kepala istrinya penuh cinta dan menghadiahi banyak kecupan disana.
"Sekarang aja, Kak. Kamu gak lihat, bagaimana bahagianya Mama dan Ibu. Aku yakin mereka akan ikut dan menggedor pintu kita ini," ujar Galexia sambil terkekeh pelan.
Galaksi tak mampu menutupi tawanya. Dia juga merasa tim yang paling heboh adalah mama dan ibu mertuanya sendiri. Bahkan dia yakin jika dua calon nenek itu lah yang ingin memiliki cucu lagi.
"Ya udah. Kepalamu udah gak sakit, 'kan?" Tanya Galaksi dan membuat wajah Sia diangkat.
Mata mereka saling beradu dan Galaksi bisa melihat bibir yang sangat menggoda. Tanpa kata dia mencium bibir itu dan membuat Sia segera mendorong kepala suaminya.
"Kenapa?"
Sia menutup mulutnya. Entah dia merasa aneh pada dirinya sendirinya.
"Aku mual, Kak."
Mata Galaksi membulat. Apa kata istrinya itu. Dicium dirinya merasa mual.
"Kamu mual karena ada aku?" Tanya Galaksi dengan pandangan takut.
"Bukan, Kak. Aku suka bau badanmu tapi pas kamu cium. Perutku gak enak."
Perlahan Sia menjauh. Hal itu membuat Galaksi menatap sosok adik kesayangannya yang sudah menonjol. Dia mengusapnya sebentar tanpa sepengetahuan istrinya.
Jangan sampai Sia tak mau disentuh. Kalau itu terjadi, kasihan dia, ucapnya dalam hati dengan perasaan ketar ketir.
"Iya, Sayang. Jadi."
...🌴🌴🌴...
Saat keduanya baru saja keluar dari kamarnya. Muncullah dua orang anak kembar yang berlari lalu memeluk kaki mamanya itu.
"Mama benel kata Nenek kalau di pelut Mama ada adik bayi?" tanya Venus yang langsung mencerca mamanya.
Tadi saat dia bersama Mars dan Tania. Mereka dipanggil oleh Mama Pandora dan Ibu Rhea. Kedua paruh baya itu mengatakan bahwa Mars dan Venus akan memiliki adik lagi.
"Gak tau, Sayang. Mama juga masih ragu."
"Kok lagu?" tanya Venus sambil mengerutkan keningnya.
"Iya. Mama belum tau udah ada adeknya atau belum. Mangkanya Mama mau periksa sekarang," ujar Sia yang membuat Venus menjauhkan tubuhnya dari kaki sang mama.
"Venus ikut. Venus mau liat adek," ujarnya dengan heboh.
Galaksi dan Galexia mengangguk. Lalu keduanya menoleh menatap putranya yang sejak tadi diam.
"Ada apa, Sayang?" tanya Sia dengan pelan lalu mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra. "Mars gak bahagia dengar berita ini?"
Kepala mungil itu menggeleng. Tiba-tiba dia memeluk mamanya dengan erat.
"Mars takut nanti Papa dan Mama bakalan lupa sama kita kalau ada adik bayi."
Jantung Sia mencelos. Dia menjauhkan tubuh anaknya lalu menangkup wajah mungil itu. Dia bisa melihat Mars menahan air matanya yang hendak meluncur.
Inilah salah satu ketakutan yang ada dalam diri Sia ketika dia kembali menikah dengan Galaksi. Anak-anaknya akan merasa tersaingi jika ia mengandung kembali.
"Mama gak bakal lupa sama Abang dan Adik Venus," kata Sia meyakinkan. "Abang sama Adik adalah kekuatan Mama sejak dulu."
"Abang cuma takut, Ma. Abang takut…"
"Abang bisa pegang omongan Mama ini. Abang bisa melihat perilaku Mama dan Papa yang gak bakal berubah," kata Sia dengan tatapan teduhnya.
Galaksi yang merasa menjadi tersangka, segera meraih Putranya dalam gendongan. Dia merasa paling bersalah karena dirinya juga yang ingin istrinya cepat hamil.
Dia hampir melupakan jika kedua anaknya pasti merasa takut keadaannya akan tersingkir.
"Abang adalah penjaga Mama sejak dulu. Saat Papa gak ada dan jauh dari kalian bertiga," kata Galaksi dengan pelan. "Terus kenapa Abang bisa berpikir Mama sama Papa lupain, Abang?"
Mars hanya menggeleng. Pemikiran anak-anak ya tetaplah sama. Mereka menganggap adik mereka adalah sosok yang akan mengambil kasih sayang orang tuanya. Kehadiran adiknya yang baru akan menggeser kedudukannya yang semula.
Galaksi menghela nafas pelan. Dia menatap istrinya yang juga sedih dengan keadaan putranya lalu turun menatap anak perempuannya yang menatapnya penuh keraguan.
Hal ini tak bisa dibiarkan. Galaksi tak mau anaknya akan terus berpikiran buruk dan menyebabkan mentalnya terguncang.
"Abang mau gak pegang janji Mama sama Papa?"
"Apa?" tanya Mars dengan cepat.
"Posisi Abang sama Adik Venus gak bakal diganti oleh siapapun. Begitupun sama Adik. Kalian tetap dapat kasih sayang Mama sama Papa dengan adil. Kalian juga memiliki kedudukan sendiri di hati Mama sama Papa. Jadi, pegang janji Papa ini yah."
"Kalau Papa ngelanggar?" tanya Mars dengan tatapan seriusannya.
"Papa akan melakukan apapun yang diinginkan Adik sama Abang," ujar Galaksi dengan serius.
~Bersambung
Akhirnya aku bisa update ini lagi. Mungkin tinggal beberapa bab lagi mau tamat. Aku emang dah janji mau namatin TBTB dulu sebelum lanjutim Syakir Humai.
Semoga kalian setia menunggu yah. Tinggal dikit lagi kok.