The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Is Dead




"Biarkan dia disini dulu, Nyonya. Lebih baik Anda menemui kedua cucu Anda dulu," nasehat Orion yang membuat tubuh Pandora berbalik.


Matanya berbinar saat mengingat jika dirinya sudah dikaruniai dua orang cucu yang sangat menggemaskan. Namun, sayang sekali, dirinya tak bisa melihat bagaimana si kembar tumbuh karena perceraian Galexia dan Galaksi yang terjadi.


Tapi sejak melihat si kembar dari foto yang dibawa Orion saat dia ada New York. Membuatnya yakin jika dua orang itu adalah darah daging anaknya sendiri. Wajahnya dan beberapa bagian tubuh si kembar, memiliki kemiripan dengan Galaksi.


Akhirnya semua orang mulai keluar dari kamar itu. Mengabaikan teriakan Alula yang meminta mereka untuk membunuhnya. Semua seakan tutup telinga dan tak peduli karena rasa senang masih melingkupi hati mereka semua. Perlahan kaki Pandora menuruni tangga, bibirnya tersenyum melihat kedua cucunya sedang asyik makan cemilan sambil menonton televisi. 


"Halo cucu Oma," panggil Pandora yang membuat perhatian si kembar beralih. 


Keduanya meletakkan toples cemilan itu saat Galexia berjalan mendekatinya. Dia membantu Mars dan Venus turun lalu mengenalkan Pandora kepada mereka.


"Ini Oma kalian. Salim dulu, Nak!" kata Galexia dengan tersenyum.


Venus dan Mars menatap Pandora dengan lekat. Lalu dia menatap mata saudaranya dan sang mama bergantian.


"Ini Oma Venus yang asli, Mama?" celoteh Venus yang mengundang tawa semua orang di sana.


"Iya, Sayang. Ini Oma, Venus." Bukan Sia yang menjawab. Melainkan Pandora dan dia mensejajarkan tubuhnya sekaligus merentangkan tangan, siap untuk memeluk kedua cucunya. 


"Yey. Oma Venus bukan Nenek lampil," serunya bertepuk tangan. 


Tanpa menunda, tubuh mungil itu menghambur ke pelukan Pandora. Memeluknya erat seakan Venus benar-benar bahagia dengan bertemu dan kembalinya sang oma. Sejak dulu dirinya selalu bermimpi ingin memiliki seorang oma atau nenek. Namun, sifat Alula yang buruk tentu membuat Venus dan Mars menahan keinginannya itu.


"Hai, Cucu Oma," panggilnya pada Mars yang masih diam di tempatnya. "Apa Mars tak ingin memeluk Oma juga?" 


"Iya, Abang. Abang gak mau peluk. Oma baik kok, gak nakal kayak Nenek Peyot," celetuk Venus yang masih betah dalam pelukan Pandora.


Mars perlahan mendekat. Lalu dia segera memeluk tubuh sang Oma dengan pelan. Akhirnya setelah sekian lama, dirinya bisa merasakan kasih sayang selain dari mamanya. Kelembutan dan binar mata Pandora yang menatapnya begitu bahagia, membuat Mars yakin jika wanita ini adalah sosok yang begitu baik. 


Setelah memeluk kedua cucunya. Pandora bergantian memeluk Bu Na. Wanita yang berjasa di keluarganya selama dia menghilang. Pengabdian dan kesetiaan Bu Na membuat Pandora sudah menganggapnya seperti seorang ibu. 


"Terima kasih, Bu. Sudah mau menjaga Galaksi kecil," lirihnya saat pelukan itu terlepas.


Air mata sama-sama menetes di kedua mata wanita itu. Mereka sama-sama tersenyum menyalurkan kebahagiaan karena bisa berkumpul dan bertemu lagi.


"Sama-sama, Nyonya. Saya juga bahagia melihat Anda kembali dalam keadaan sehat." 


Setelah adegan penuh haru itu. Akhirnya Galaksi meminta semua orang duduk di ruang tamu. Dengan lengketnya, Venus dan Mars tak mau jauh dari Pandora. Dua sosok kecil itu duduk mengapit tubuh sang Oma. Seakan kebahagiaan keduanya begitu terpancar jelas dengan kedatangan sang Pandora di antara mereka.


"Bagaimana rencana selanjutnya, Om?" tanya Galaksi setelah mereka semua duduk dengan tenang. 


"Apa kamu tak mau menyiksa Alula terlebih dahulu? Mungkin kamu ingin membalaskan sakit hatimu karena kebohongannya selama ini?" tanya Orion menatap anak tuannya itu. 


Perkataan Orion tentu menarik perhatian Galexia dan Pandora yang sedang mengobrol. Jantung keduanya sama-sama berdebar menunggu jawaban Galaksi. Keduanya sama-sama menatap wajah pria yang sedang menatap Orion dengan lekat. 


"Mungkin bisa saja aku membunuhnya dengan kedua tanganku, Om," jedanya sebentar lalu menatap kedua anaknya. "Namun, saat ini aku memiliki dua orang anak. Aku tak mau mereka melihatku sebagai seorang pembunuh." 


Hati Galexia sedikit menghangat. Rasa khawatirnya menguap digantikan dengan kebahagiaan melihat sosok mantan suaminya yang mulai sedikit berubah. Bagaimana sikap Galaksi lebih memilih kepentingan anaknya daripada keegoisannya, membuat Sia yakin jika mantan suaminya bisa berubah jauh lebih baik lagi. 


****


Hampir sepanjang hari mereka berada di ruang tamu. Mengobrol, melepaskan rindu dan bercanda ria hingga akhirnya permintaan Pandora membuat Orion dan Galaksi berpandangan.


"Lebih baik kita segera menyerahkan Alula pada pihak berwajib. Mama tak mau dia tetap berada di antara kita," ucapnya dengan mata penuh harap. "Mama ingin kita semua melupakan kejadian masa lalu. Menutupnya dan mulai melihat ke depan." 


Orion dan Galaksi mengangguk. Mereka segera meminta anak buahnya membawa Alula turun. Dari bawah, suara teriakan dan rontaan Alula sudah terlihat. Sumpah serapah dari mulutnya yang pedas tentu begitu jelas terdengar hingga membuat Sia memeluk kedua anaknya agar tak melihat kelakuan Alula.


Tangannya yang terikat dengan rambut yang berantakan begitu mengenaskan jika dilihat. Namun, tak ada seorang pun yang merasa kasihan. Apalagi di mata Pandora dan Galaksi. Keduanya menatap tajam wanita yang menjadi dalang dari semua  kesakitan mereka selama ini.


"Membunuhmu bukan jalan terbaik agar kau sadar, Alula," kata Galaksi menatap Alula dengan tajam. "Lantai penjara lebih cocok untuk meratapi kesalahanmu selama ini!" 


"Bawa dia!" perintah Orion yang langsung disanggupi oleh kedua anak buahnya. 


Galaksi, Galexia, Orion, Pandora dan si kembar mengikuti langkah Alula yang diseret kedua pria berbadan besar. Mereka sudah menyiapkan sebuah mobil yang akan membawa Alula menuju kantor polisi. Namun, saat tubuhnya hendak dimasukkan, Alula menolak.


"Tunggu!" katanya membuat gerakan dua pria bawahan Orion itu berhenti. "Kumohon beri waktu aku sebentar untuk mengatakan suatu kebenaran pada Galaksi," pintanya dengan menatap ke belakang.


Wajahnya mengiba. Dia menatap penuh permohonan dan membuat Galaksi meminta anak buahnya membawa Alula mendekat kepadanya. 


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Galaksi menatap Alula dengan dingin.


Alula terdiam. Dia menatap mata Galaksi dengan lekat. Mata itu begitu mirip dengan sosok sang pujaan hatinya. Garis rahangnya yang tegas, bentuk wajahnya tentu begitu duplikat dengan sosok sang mantan kekasih, Altair. Hingga hal itu membuat Alula tak pernah tega untuk memukul Galaksi saat dia menjelma sebagai Pandora. Perempuan itu selalu keluar dari rumah karena tak ingin mencelakainya. Meski dia benci pada ibunya tetapi wajah Galaksi membuatnya ingat akan sosok yang dia cintai. 


"Musuh terbesar dalam hidupmu bukanlah aku," kata Alula dengan wajah datarnya.


Kening Galaksi berkerut. Sungguh dia tak tahu apa maksud dari perkataan Alula.


"Apa maksudmu?" 


"Berhati-hatilah. Musuhmu selalu ada didekatmu. Dia memiliki darah dan wajah yang sama denganmu." 


Jantung semua orang yang mendengar berdebar kencang. Bahkan mereka semua menatap wajah Alula yang benar-benar serius. Seakan apa yang dikatakan wanita itu memang benar-benar nyata.


"Siapa dia, Lula?" tanya Orion dengan mata tajamnya.


Lula menatap Orion. Dia tersenyum miring seakan mengejek. "Kau yang pintar saja tak tahu tentangnya, 'bukan?" 


"Jangan berbasa-basi denganku. Katakan! Siapa dia?" 


"Ayahmu." 


Dor! 


Galexia berteriak kaget. Dia merasa shock melihat kepala Pandora ditembak oleh orang yang tak diketahui dimana posisinya tepat di matanya. Dengan sigap Galaksi segera menarik tangan Sia dan kedua anaknya. Dia membawanya ke sisi mobil dan meminta mereka berjongkok.


Nafas semua orang terasa sesak. Kejadian yang begitu cepat membuat mereka semua terkejut. Bahkan sekarang, melihat tubuh Alula yang tergeletak dengan darah mengalir deras dari kepalanya membuat semua orang yakin jika ini benar-benar nyata.


Namun, hal itu tak membuat perhatian Galaksi terusik. Dia hanya mengingat perkataan dari Alula tadi sebelum kejadian penembakan itu. Sosok yang tak pernah ada dalam otaknya apa mungkin menjadi dalang dari semua ini.


"Apa manusia yang sudah mati, bisa hidup kembali?" 


~Bersambung~


Pak cepak cepak cepak jeder! hahaha. Mikir lagi, mau kabur ahh.


Mau kasih manis-manis dulu kali yah. Masak iya tegang melulu, haha.


Jangan lupa tekan like, komen dan vote ya sebagai tanda apresiasi kalian semua untuk novel si kembar.


Hari ini aku ada telat updatenya. Dirumah ada acara lamaran balik dari pihak wanita, jadi lagi riweh.


Selamat membaca dan berpikir hehe.


Tembus 250 like aku usahain update lagi!