The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Tindak KDRT




"Mars...Venus!" teriak Galexia saat dia tak melihat anak-anaknya.


Saat ini ibu dari si kembar itu berjalan untuk menyusul kedua anaknya. Namun, sesampainya disana, dia tak menemukan siapapun.


"Ayo pergi!" ajak Mars menarik tangan sang adik.


"Tapi Titania?"  sela Venus menahan tarikan kakaknya.


"Mama sedang mencari kita. Ayo!" 


Walau enggan akhirnya Venus mengalah. Apalagi suara sang Mama yang terdengar khawatir, membuatnya mau tak mau mengikuti langkah sang kakak. 


"Bye, Tania. Sampai jumpa." 


Venus akhirnya beranjak dari sana. Namun, sebelum terlalu jauh, dia melambaikan tangannya sampai sosok Titania tak terlihat.


"Abang sama Adek disini, Ma!" balas Mars yang membuat kepala Galexia spontan menoleh.


"Kalian dari mana?" tanya Sia dengan tatapan cemasnya. 


"Dari san….mmmm." Bibir Venus dibekap oleh Mars hingga membuat bocah kecil itu meronta. 


"Kita dari jalan-jalan, Ma." 


Mata Sia memicing. Apalagi saat melihat alis putrinya yang menyatu pertanda bahwa dia sedang marah.


"Venus, ada apa?" tanya Sia dengan lembut.


"Jangan berkata apapun," bisik Mars begitu pelan.


"Venus!" 


"Gak ada, Ma. Tadi Abang cari Adek yang sembunyi." 


"Beneran, Bang?" 


"Iya, Ma." 


"Yaudah," sahut Sia pada akhirnya.


"Mama kesini ngapain?" 


"Oh hampir lupa. Mama bawain jus sama potongan buah apel. Ayo kesana!" 


Akhirnya Mars dan Venus mengikuti langkah mamanya yang berjalan lebih dulu. Namun, tak henti-hentinya Venus bertanya pada Mars kenapa dia diminta diam. 


"Ingat kata Mama sama Papa, 'kan? Kita tak boleh terlalu dekat dengan orang asing. Paham?" 


Venus mengangguk lemas. Bukannya mereka ditahan atau dikurung. Melainkan ini adalah negara yang baru mereka tinggali. Tak ada seorang pun yang mereka kenal hingga baik Galaksi maupun Sia benar-benar harus ekstra hati-hati terhadap anaknya. Apalagi adat istiadat dan aturan tiap negara berbeda. 


Mereka akhirnya duduk bersama di bawah pohon. Menikmati buah segar dan jus dingin menyegarkan dahaga. Apalagi Venus, bocah kecil itu sambil merebahkan kepalanya di paha sang mama. Bibirnya minta makan sambil disuapin dengan tangan memegang buku belajar. 


"Kapan Abang sama Adek sekolah lagi, Ma?" tanya Mars tiba-tiba.


"Besok kalian mulai sekolah di rumah." 


"Yahhh." Venus mendudukkan dirinya.


Bibirnya mengerucut dengan alis berkerut. 


"Kenapa harus di lumah lagi sih, Ma? Kapan Adek sama Abang bisa main," keluhnya tak terima.


"Itu semua sudah menjadi keputusan Papa, Nak. Apalagi kalian kurang satu tahun untuk sekolah dasar," kata Galexia memberikan pengertian.


"Tapi…." 


"Bagaimana jika Venus sendiri yang protes sama Papa?"


"Hah!" Venus terbelalak. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah bingung. "Nanti Papa malah, bagaimana? Venus takut." 


"Papa gak bakal marah. Nanti ada Mama yang akan jagain Venus. Gimana?" 


"Siap."


Galexia sejak dulu adalah sosok istri penurut. Dia tak pernah menolak apa yang sudah suaminya siapkan. Menurutnya Galaksi tak akan bertindak tanpa perencanaan. Hingga perihal sekolah anaknya pun dia pasrahkan pada Galaksi.


Mungkin pemikiran suaminya, anaknya ini hanya tinggal satu tahun saja masuk pendidikan semacam TK. Jadi lebih baik sekolah di rumah agar lebih fokus mengejar ketertinggalan. 


Hampir dua puluh menit mereka habiskan dengan berleha-leha. Sampai suara teriakan seseorang membuat Sia beranjak berdiri.


"Mama mau kemana?" tahan Mars melihat mamanya hendak pergi.


"Tunggu sini yah! Mama ingin melihat suara apa tadi," ucap Sia pada putranya.


Suara teriakan itu semakin kencang. Diiringi tangisan menyayat hati sekaligus bentakan seorang pria. Dengan keberanian dalam dirinya, Galexia mencoba mendekat.


Dia berjalan ke arah tempat yang tadi menjadi munculnya kedua anaknya. Sampai saat mereka hampir mendekati pembatas. Sebuah pemandangan menyakitkan ada disana.


Seorang pria tengah memukul wanita yang usianya hampir seumuran dengan Sia. Dengan makian terlontar di bibirnya dan kekerasan itu disaksikan oleh seorang anak kecil yang memegang kaki mamanya.


Tangisan anak itu semakin menyayat hati. Hingga entah jiwa kemanusiaan Sia mengobar dan membuatnya lekas berjalan ke arah pagar pembatas.


"Hey...hey stop!" teriak Sia dengan kencang.


Suara itu tentu membuat pertengkaran atau lebih tepatnya tindak kekerasan itu berhenti. Sang pria hanya menoleh sekilas lalu kembali marah-marah pada sang wanita. 


Sia awalnya mencoba menunggu. Sampai sebuah tamparan kembali dilayangkan dan jambakan dilakukan oleh pria itu pada istrinya. Membuat Sia tak bisa diam. 


"Cepat pergi atau aku panggilkan polisi!" ancam Sia sambil merogoh ponsel yang ada di saku celananya.


Mendengar kata polisi. Membuat jambakan pria itu terlepas. Dia segera meninggalkan sosok perempuan dengan anak kecil itu yang sudah terluka parah di wajahnya.


Sia tak bisa ada disini. Dia segera memanggil satpam yang dipekerjakan suaminya untuk membuka pintu belakang rumahnya.


"Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Sia menatap sosok wanita di depannya dengan pandangan iba.


Wajahnya terdapat bekas tamparan. Ada luka robek di ujung bibirnya dan bekas luka lebam di pipi yang lain dan dahi.


"Terima kasih banyak, Nyonya. Anda benar-benar menyelamatkan saya dan putri kecil saya," ucapnya dengan menahan perih di bibirnya.


"Lebih baik kalian ikut kami ke rumah. Saya bantu untuk mengobati luka Anda," ajak Sia dengan penuh permohonan. 


"Tidak perlu, Nyonya…."  


"Jangan menolak. Anggap saja atas dasar kemanusiaan dan putri kecil Anda juga sedang ketakutan." 


"Titania, Nak," panggil sosok perempuan tadi lalu menggendongnya anak bernama Titania. "Maafkan Papa yah." 


"Papa jahat, Mama. Papa jahat!" 


Sia hanya bisa menatap sakit ke arah anak perempuan itu. Sosok anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang kedua orang tua, akhirnya harus dipaksa melihat pemandangan menyakitkan. 


Pemandangan dimana ibunya disiksa, dipukul dengan keras. Tentu akan meninggalkan luka yang mendalam.


"Kumohon, Nyonya. Setidaknya sampai anak Anda tenang." 


****


Suara ringisan kecil terdengar ketika kapas berisi obat merah menempel di ujung bibir yang robek. Sia mengobatinya dengan pelan. Namun, sepertinya tamparan itu begitu keras hingga membuat bekasnya begitu parah. 


"Jika boleh tau. Apakah suami Anda sering memukul?" tanya Sia dengan hati-hati.


Wanita yang belum diketahui namanya itu mengangguk. Sekilas dia menatap putrinya Titania yang duduk di pangkuannya hingga tanpa sadar air matanya menetes.


"Maaf jika pertanyaan saya menyakiti, Anda." 


"Tidak apa-apa, Nyonya. Kenyataannya memang begitu dan ini sudah berlangsung hampir dua tahun." 


"Dua tahun?" ulang Sia tak percaya.


"Ya. Sudah lama sampai fisik saya terasa kebal." 


"Kenapa Anda tidak lapor polisi? Ini sudah termasuk tindak KDRT," ucap Sia begitu penasaran. 


"Dia sering mengancam akan membawa anak saya jika berani melapor." 


Galexia tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat tahu betul bagaimana perasaan wanita di depannya. Demi sang anak dia rela menjadi sasaran pukulan hingga membuatnya lupa untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Terima kasih atas bantuan Anda, Nyonya. Jika Anda tidak ada, mungkin luka ini akan lebih parah."


"Jangan katakan apapun. Saya ikhlas menolong, Anda," balas Sia dengan tatapan hangatnya.


"Kalau boleh tau nama Anda siapa?" tanya wanita dengan paras kebulean.


"Nama saya, Galexia. Kalau Anda?" balas Sia dengan senyuman hangat.


"Namaku Flora. Anda bisa memanggil saya dengan Flo saja." 


~Bersambung~


Ehem calon mak mantunya siapa ye? Hahhaa


Kalau ada typo, komen yah. Maaf gak bisa revisi.


Aku minta doanya. Di kotaku sedang ada bencana erupsi Gunung Semeru. Doakan semoga tidak ada korban jiwa lagi dan tidak ada lahar susulan.


Jika mulai besok jadwal udpateku telat. Mohon maaf.