
"Mama."
Sosok yang dipanggil olehnya tersenyum. Dia merentangkan kedua tangannya dengan air mata yang semakin keluar dari mata tuanya.
"Anakku," panggilnya pelan dengan sebuah rasa syukur dalam hatinya.
Galaksi benar-benar tersadar jika sosok di depannya nyata. Perempuan yang melahirkannya ternyata masih hidup dan sehat. Tanpa menunda, Galaksi segera menghambur ke dalam pelukan Pandora. Pelukan yang selalu membuatnya tenang dan nyaman ternyata masih sama.
"Ternyata kamu sudah sebesar ini, Nak," ucap Pandora dengan lelehan air mata terus mengalir.
Rasa syukur begitu Pandora panjatkan. Dia benar-benar bahagia masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengan anak tunggalnya ini. Keinginan yang begitu dia tahan bertahun-tahun lamanya. Akhirnya mampu dia akhiri hari ini.
Setelah kerinduan itu sedikit terobati. Galaksi mulai melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata yang tanpa sadar mengalir dari kedua matanya. Senyumnya begitu lebar hingga dia mengusap kedua pipi mamanya dan meneliti penampilannya dari atas sampai bawah.
"Bagaimana bisa, Ma? Selama ini Mama ada dimana?" tanya Galaksi beruntun pada sang Mama.
"Mama dilindungi oleh Om Orion, Nak. Dia yang menyelamatkan Mama dari maut," kata Pandora sambil menatap ke depan.
Pikirannya menerawang saat kejadian saat dia berada di dalam gudang pada hari kedua. Saat itu, dia baru saja diberi makan. Perlakuan yang baik tentu membuat Pandora heran. Namun, perempuan itu tak bertanya apapun. Dia terkesan penurut dan percaya kepada mereka. Dalam hatinya, dia yakin akan ada seseorang yang menyelamatkannya.
Hingga tiba-tiba, seorang pria baru saja memasuki ruangan. Dia membawa tas yang tak tahu apa isinya dan mendekati posisi Pandora.
Sebuah jaket dengan sebuah benda berwarna putih serta sekantung cairan merah di dalam plastik membuatnya bingung. Namun, Pandora belum mengatakan apapun. Dirinya tak bertanya karena satu hal yaitu hatinya masih begitu ketakutan.
"Pakai ini!" seru pria berambut gimbal.
Pandora tak menolak. Dia seakan pasrah saat ikat di tangannya dibuka dan diberikan sebuah rompi berwarna putih yang dia tahu sebagai pelindung tubuh dari tembakan. Setelah itu, cairan merah tadi, diletakkan di bagian dada keduanya. Setelah semua beres, pria tadi melemparkan jaket berwarna hitam dan memintanya untuk dipakai.
Banyak pertanyaan dalam benak Pandora. Untuk apa penjahat itu memberikan perlengkapan keamanan padanya. Namun, semua itu terjawab saat sosok Alula datang menemuinya.
Dirinya melihat bagaimana para penjahat itu sedikit ketakutan ketika Alula mencekik dan mulai memfokuskan pistol yang ia pegang pada dirinya. Dari situlah, Pandora merasa ada sesuatu yang janggal. Namun, dirinya tetap waspada dan mengikuti semua rencana itu. Hingga saat peluru mulai ditembakkan kepadanya.
Dor!
Jantung Pandora benar-benar berdebar. Namun, dia spontan memperagakan sosok yang benar-benar tertembak hingga memejamkan matanya. Kemudian tak lama dari itu, suara tepuk tangan dari sosok Alula terdengar. Telinganya ia pasang baik-baik untuk mendengar apalagi yang akan dilakukan oleh Alula kepadanya.
"Kau memang lemah. Altair benar-benar bodoh memilihmu sebagai istrinya," seru Alula didekatnya.
"Buang mayatnya ke jurang dan bereskan semua bukti disini! Kalian paham?"
"Paham, Nyonya." Setelah itu terdengar suara heels menjauh dan membuat Pandora menarik nafasnya begitu dalam.
Peluru itu tidak membuatnya terluka. Namun, terasa sedikit sakit karena tembakannya yang kuat. Hingga tak lama, suara pintu kembali terbuka diiringi suara yang begitu dia kenal membuat Pandora mendongakkan kepalanya dengan mata perlahan ia buka.
"Orion?" lirih Pandora membulatkan matanya.
"Nyonya baik-baik saja?" tanya Orion sambil membuka ikatan tangan dan kaki Pandora.
"Ya. Aku baik-baik saja," sahut Pandora sambil menghembuskan nafas lega. "Jadi selama…."
"Ya. Saya memantau Anda dari jauh."
"Terima kasih, Orion. Aku benar-benar berhutang nyawa kepadamu," kata Pandora dengan tulus.
"Sama-sama, Nyonya," sahut Orion dengan menundukkan kepalanya. "Lebih baik kita segera pergi sekarang! Sebelum dia kembali dan semuanya akan ketahuan."
Setelah itu Orion mulai membawa Pandora mengendarai mobilnya. Menjauhi gedung kosong itu dan mencari tempat yang aman.
"Kenapa kita tak pulang ke rumah?" tanya Pandora dengan pandangan bingung.
"Apa Nyonya lupa, jika wanita itu mengambil alih posisi Nyonya sekarang?"
Pandora tersadar. Dia hampir melupakan dengan kenyataan jika ada wanita lain yang mengaku menjadi dirinya disamping sang suami dan anak tunggalnya.
"Kita akan pergi ke pinggiran kota, Nyonya. Namun, sebelum itu saya harus menghubungi seseorang untuk membantu rencana kita."
"Siapa dia?" tanya Pandora penasaran.
"Star. Cucu angkatku!"
Galaksi spontan terkejut. Bahkan tubuhnya sampai mematung karena kenyataan kembali terbuka. Dirinya menatap Orion tak percaya. Anak kecil yang dulu menjadi teman bermain dan ketika dewasa menjadi tangan kanannya, ternyata mengetahui semua kenyataan yang disembunyikan.
"Om memang sengaja meminta Star mendekatimu untuk menjaga dan menjadi mata-mata Om, Galaksi," kata Orion dengan wajah tenangnya. "Tak ada niatan untuknya mengkhianatimu. Tapi demi keselamatan Nyonya, kamu dan Tuan besar. Om harus melakukan ini."
Galaksi mengangguk mengerti. Jujur tak ada kemarahan dalam hatinya untuk sang asisten. Tetapi ada perasaan kecewa saat orang-orang terdekatnya membohongi dan menutupi kenyataan dari dirinya. Seakan dia yang sebagai seorang anak, tak bisa diandalkan sedikitpun.
"Apakah Star juga yang meletakkan surat tentang kematian, Om?" tanya Galaksi menebak.
"Betul, Nak. Om menyuruhnya agar kalian tak khawatir dan menganggap Om benar-benar sudah tiada." Galaksi hanya mampu menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya.
Kenyataan yang mulai terkuak. Membuat hati Galaksi sedikit lega. Akhirnya dari semua ujian yang dia hadapi, Allah masih memberikan kesempatan untuknya bertemu sang Mama. Sosok penyayang dan begitu perhatian kepadanya ternyata masih hidup dan bisa dia peluk.
Hingga tak lama, perhatian Pandora beralih pada sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya. Dirinya tersenyum dan mendatangi Galexia yang sejak tadi hanya diam.
"Kamu pasti Galexia, 'kan? Menantuku yang memiliki hati begitu baik," ucapnya membuat hati Galexi menghangat.
Matanya berkaca-kaca menatap wajah perempuan yang mulai sedikit ada keriputan. Entah kenapa hatinya begitu berbunga saat bertemu dengan sosok yang begitu baik dan jauh berbanding terbalik daripada Alula.
"Aku hanya mantan menantu, Tante."
"Ust." Pandora menggeleng. Lalu dia meraih tubuh Galexia dan memeluknya dengan erat.
"Kamu tetap menantu Mama, Nak. Kamu adalah ibu dari cucuku," kata Pandora membuat pelukan itu terlepas.
"Jadi, Tante…."
"Mama," selanya membuat senyuman tercipta di bibir Galexia. Dia menganggukkan kepala dihadapan mantan mertua aslinya.
"Jadi Mama sudah tahu tentang si kembar?" tanya Galexia antusias.
"Tentu saja, Sayang. Semua yang terjadi Mama tahu," jeda Pandora lalu mulai berjalan mendekati ranjang.
Dia menatap sosok dihadapannya ini dengan mata tajamnya. Dia menunduk dan mencengkram dagu Alula hingga membuatnya meringis.
"Lepaskan, Bodoh!" seru Alula semakin membuat Pandora menguatkan cengkramannya.
Galaksi membelalakkan matanya. Dia tak menyangka jika Mamanya bisa melakukan hal itu. Sikap yang begitu berbeda dengan Mamanya yang dulu.
"Mulutmu masih tetap sama, Alula. Kau harus diberikan pelajaran agar mau berubah," ucap Pandora melepaskan cengkramannya dengan kasar.
"Bawa dia ke kantor polisi, Orion! Semua bukti sudah kita dapatkan. Aku yakin dia akan mendekam di penjara seumur hidup."
~Bersambung~
Siapa yang gak nyangka kalau ternyata Star ada di balik itu semua? hahaha.
Berhasil terkecoh gak ya kalian? hihi.
Ini bab terakhir malam ini. Terima kasih atas dukungan kalian semua. Bab ini aku tunjukkan untuk pendukung si kembar Mars dan Venus. Ini juga sebagai perayaan karena novel ini bisa nangkring disini.
Terima kasih banyak. Aku gak tau mau bilang apa lagi. Karena like, komen dan vote kalian si kembar bisa ada disini. Semoga dia terus naik dan bisa bertahan. Aamiin.
Kita berjuang bersama yah! Semangat!!