
"Riksa."
Cressida benar-benar tak menyangka jika sosok yang begitu dirindukannya ada di depan mata. Berjalan memasuki ruang sidang dengan senyum tipis dia berikan kepadanya.
Sungguh Cressida ingin berlari mendekati pria yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya. Entah apa yang dirasakannya, tapi dia menyadari jika Cressida tak mampu untuk berada jauh dari Riksa.
"Saudara Riksa, bukankah Anda adalah saksi mata ketika mobil itu meledak?"
"Benar. Saat itu saya sedang makan malam bersama calon istri saya dan dua korban tersebut," kata Riksa dengan jujur.
"Lalu, apakah perbincangan kalian disana ada sesuatu yang memicu pertengkaran?"
Riksa menggeleng, "Tuan Castor dan Nyonya Carina hanya mengatakan jika Cressida bukan anak kandungnya."
"Itu saja?"
"Ya. Mereka juga mengatakan ada Tuan dibalik itu semua."
"Apakah saat kalian makan malam, tak ada hal mencurigakan disana?" tanya Jaksa penuntut pada Riksa.
"Tidak ada. Semua berjalan lancar awalnya. Bahkan saya tidak menyadari apapun saat itu. Tapi…." jedanya dengan mata menatap sosok perempuan yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya itu. "Setelah kedatangan istri dari Tuan Atlas, saya mulai menyelidikinya."
Jaksa penuntut mengangguk. Lalu dia mengambil sebuah berkas yang berisi rekaman cctv dan suara rekaman istri dari Atlas yang ternyata ibu tiri Inggrid.
"Disana terdapat bukti dimana ada sosok Saudara Atlas di restoran tersebut, Yang Mulia. Lalu pengakuan istrinya yang mengatakan jika Atlas dan anak tirinya yaitu Inggrid menjalin kerja sama untuk menghancurkan keluarga Tuan Jericho dan Tuan Altair," kata Jaksa penuntut pada Hakim Ketua.
Hakim Ketua segera membuka berkas itu dan memberikan kepada protokol agar semua orang bisa mendengarkan. Jantung Cressida berdebar kencang, bahkan kedua tangan wanita itu berkeringat dingin. Dirinya tak menyangka jika permasalahan antara keluarga dirinya dan calon suami kakaknya hanya karena satu orang.
Perlahan layar yang semula hitam menyala dan menampilkan wajah dari ibu tiri Inggrid dan istri sah Atlas.
Perkenalkan aku adalah istri sah negara dan agama dari Atlas. Namun, aku juga ibu tiri dari anak perempuannya bernama Inggrid. Disini aku akan memberikan kesaksian dari kejahatan yang dilakukan oleh suami dan anak tiriku.
Awal pernikahan kami, semuanya berjalan lancar. Namun, ada satu hal yang membuatku merasa janggal. Ketika kami sudah ada di rumah yang Atlas gunakan untuk tempat tinggal kami, ada satu kamar yang terkunci. Awalnya aku tak merasa curiga sama sekali. Namun, saat itu tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan antara Atlas dengan Inggrid yang mengatakan jika wanita bernama Alula sudah ditembak dan mati, dari sanalah aku mulai takut.
Akhirnya aku mulai nekat memasuki ruangan yang sering dimasuki suamiku. Aku paksa membukanya menggunakan jasa kunci saat semua pelayan istirahat. Akhirnya saat pintu itu terbuka, disana aku menemukan kenyataan ini…."
Video yang awalnya dipenuhi wajah istri Atlas, akhirnya berganti dengan gambaran ruangan yang sudah lama tertutup. Terlihat banyak sekali foto-foto keluarga Altair dan Jericho. Bahkan banyak tulisan di tinta merah dengan kata-kata yang menakutkan.
Death, dilenyapkan, diculik, pantauan dan masih banyak lagi. Tentu hal itu semakin membuat Galexia dan Cressida menatap tak percaya. Ternyata pria itu terobsesi menghancurkan keluarga mereka. Hingga perlahan video itu berhenti dan membuat suara riuh orang-orang disana tertuju pada terdakwa.
"Harap tenang!" kata Hakim Ketua dengan mengetuk palunya.
"Jadi orang tua angkat Nona Cressida meninggal di tempat?" tanya Jaksa penuntut pada Riksa.
"Baiklah. Terima kasih atas pengakuan dan bukti yang Anda berikan."
Akhirnya Riksa turun dari tempat tersebut lalu berjalan ke arah wanita yang terus menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Jujur perasaannya saat ini masih bimbang. Namun, satu yang Riksa pahami, jika selama satu minggu ini dia begitu merindukan sosok calon istrinya itu.
Entah kenapa wajahnya, cerewetnya terus terngiang di kepalanya. Bahkan tak ada lagi bayang-bayang Sia di matanya. Seakan hati yang dulunya terisi penuh akan cintanya pada Galexia, seakan mata dan pikiran yang terus membayangkan wajah dari ibu si kembar tersebut, mulai digantikan.
Sosok Cressida dengan seluruh sikapnya yang berbeda, membuat Riksa menyadari jika cinta tak harus dipaksakan. Jika cinta akan datang dengan sendirinya. Lalu cinta juga tak bisa kita paksa untuk memilikinya, jika mereka tak menginginkan.
"Kenapa menangis?" tanya Riksa dengan menahan senyumnya.
"Kamu kenapa bisa ada disini?" tanya Cressida dengan suara bergetar.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu, jika aku akan datang untuk menyusulmu," kata Riksa dengan menghapus air mata yang menetes di pipi calon istrinya.
"Tapi…bagaimana bisa kau mengetahui semua ini?" tanya Cressida penasaran.
Begitu pula dengan Galexia, wanita itu menatap pria yang pernah menolongnya dengan wajah penuh rasa penasaran. Mereka sungguh ingin tahu bagaimana bisa Galaksi yang selamat dari pesawat itu dan kehadiran Riksa sekaligus kesaksian keduanya.
"Kami akan menceritakannya di rumah. Lebih baik kita melihat bagaimana keputusan Hakim untuk seorang pembunuh sepertinya," kata Galaksi menatap Atlas dari tempatnya duduk.
Suasana ruangan begitu hening. Hanya terdengar suara detik jam dinding yang berbunyi. Seakan semua orang sedang menahan nafas untuk mendengar keputusan keadilan bagaimana yang akan didapatkan seorang penjahat seperti Atlas.
"Sidang Pengadilan Kota Jakarta, yang memeriksa perkara pidana nomor 018910 atas nama Atlas pada hari Jumat tanggal 24 September 2021 menyatakan bahwa, terdakwa Atlas terbukti bersalah telah melakukan pembunuhan berencana kepada seseorang bernama Alula dan orang tua angkat dari putri Tuan Jericho, bernama Castor dan Calina. Bersalah telah melakukan rencana pembunuhan dengan menyabotase pesawat sampai terjatuh dan memakan banyak korban. Serta bersalah, karena telah menculik dan menyekap Tuan Jericho bersama istrinya Nyonya Rhea."
"Maka dengan ini, Pengadilan memutuskan memberikan HUKUMAN MATI kepada terdakwa Atlas. Keputusan Pengadilan ini bersifat mutlak," jeda Majelis Hakim sejenak.
"Sebagaimana diatur oleh Undang-undang hukum, pelaksanaan HUKUMAN MATI akan dilaksanakan tanggal 8 Oktober 2021, dua minggu dari sekarang," kata Majelis Hakim lalu mengetuk palu sebanyak tiga kali yang menandakan jika keputusan tersebut sah dan didengar oleh semua orang.
Tentu semua orang yang hadir bersorak gembira. Mereka saling bersujud syukur karena Tuhan memberikan kelancaran dalam rangkaian sidang sejak awal sampai akhir. Wajah begitu bahagia tentu terlihat dari keluarga Galexia dan Galaksi. Mereka sama-sama berpelukan ketika semua sumber masalah mulai teratasi dengan baik. Sedangkan Atlas, pria itu berteriak hebat karena menolak hasil sidang tersebut.
"Lepaskan aku! Aku tak bersalah," serunya dengan meronta ketika tubuhnya dibawa oleh dua orang polisi.
Tubuh tua itu tentu terus berusaha untuk lepas. Namun, tak ada satu orangpun yang merasa kasihan. Semua hal yang terjadi tentu akibat perbuatannya di masa lalu. Tak akan ada asap jika kau tak bermain api. Tak akan ada kejahatan jika kau tak merencanakannya dan tak akan ada hal buruk jika kau mampu menerima takdir.
~Bersambung~
Yuhuu akhirnya setelah sekian lama ye'kan?
Biang keladinya ketangkep dan selesai. Setelah ini tinggal manis-manis deh, hahaha. Ampek diabetes juga boleh, wkwkw.
Jangan lupa di like, komen dan vote yah.
Tembus 250 like update lagi!