The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Janji Seorang Pria




Malam harinya, saat semua orang baru saja selesai makan malam. Galaksi mengajak mereka semua menuju ruang tamu. Pria itu mengatakan jika ada sesuatu yang ingin disampaikan dan itu sangat penting. 


"Ada apa, Nak?" kata Pandora saat semua orang sudah mulai duduk dengan tenang.


"Sebelumnya Galaksi ingin meminta maaf pada Ayah, Ibu dan Mama," kata Galaksi memulai pembicaraan. 


"Untuk apa, Nak?" tanya Rhea begitu penasaran.


"Sebenarnya Galaksi mau pamit sama Ayah, Ibu dan Mama untuk mengajak istri dan anak-anak Galaksi kembali ke New York," pamit Galaksi dengan mata menatap istrinya. "Perusahaan Galaksi ada disana. Tidak mungkin jika Galaksi harus berpisah dengan mereka dalam jangka waktu yang lama." 


Jericho mengangguk. Sebagai seorang pria berstatus suami dan ayah, dia begitu mengetahui bagaimana perasaan Galaksi saat ini. Sebagai seorang pria yang bekerja dia harus bertanggung jawab. Ditambah sebagai seorang ayah, dia juga tidak mungkin meninggalkan kedua anaknya dan istri yang baru saja kembali rujuk dengannya. 


"Ayah mengijinkan kamu membawa anak dan cucu Ayah, Galaksi," kata Jericho dengan tegas. "Mereka adalah tanggung jawabmu. Ayah hanya bisa meminta padamu untuk meluangkan waktu menjenguk kami disini." 


"Itu pasti, Ayah," sahut Galaksi dengan anggukan kepala.


"Kira-kira kapan kalian berangkat?" tanya Pandora menatap putranya. 


"Jika pernikahan Cressida benar-benar dipercepat. Maka kami berangkat setelahnya," ucapnya dengan menatap sang istri. "Betul, 'kan, Sayang?" 


"Iya, Kak." 


"Pernikahan Cressida dipercepat minggu depan. Ayah juga tak bisa menolak niat baik Nak Riksa."


"Itu lebih baik, Yah. Biarlah mereka segera menikah. Riksa terlalu ganas jika menunggu terlalu lama," sindirnya melirik pria yang duduk disamping calon istrinya.


"Nyindir diri sendiri, huh?" balas Riksa tak mau kalah. "Istri diculik, anak ditelantarkan. Bener-bener!" 


"Kamu!" 


"Udah-udah. Kenapa kalian yang ribut?" tegur Pandora tak habis pikir.


"Dia duluan, Tante!" 


"Udah, Kak," sela Sia saat suaminya ingin membalas.


Akhirnya pembicaraan malam itu berakhir. Semua orang mulai pergi meninggalkan ruang tamu. Mereka memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat. 


"Aku liat anak-anak dulu ya, Kak. Kamu gapapa, 'kan, aku tinggal?' pamit Sia saat suaminya belum ingin beranjak dari sofa.


Galaksi yang berkutat dengan ponselnya menoleh. "Iya, Sayang. Aku masih ingin menghubungi Star untuk membahas pekerjaan." 


"Oke." 


Galexia mendekat. Dia memberikan kecupan di pipi sang suami yang membuat bibir pria itu tersenyum. 


"Kamu udah mulai berani yah," goda Galaksi tersenyum jahil.


"Apaan sih!" ucap Sia mengelak. "Udah sana kerja, Kak. Jan mesum mulu!" 


Tak mau suaminya semakin menggoda. Galexia langsung pergi meninggalkan Galaksi yang tertawa begitu puas. Benar-benar ibu dari si kembar itu merasa malu dengan apa yang dia lakukan. Niat hati ingin memberikan semangat malah membuatnya terjebak dalam suasana memalukan. 


Setelah menaiki tangga. Galexia mengetuk pintu kamar kedua anaknya.


"Mama boleh masuk?" 


"Masuk, Ma!" sahut suara serentak dari dalam sana.


Galexia membuka pintu itu lebih lebar. Lalu dia memasuki kamar bernuansa anak-anak. Senyumnya mengembang saat melihat Mars dan Venus sudah berbaring tenang di atas ranjang masing-masing.


"Kenapa belum tidur?" tanya Sia setelah mendudukkan tubuhnya di ranjang sang putri.


Dia mengusap kepala putrinya dan menghadiahkan sebuah kecupan sayang di pipi gembul tersebut.


"Tadi Abang celita sama Adek, kalau kita gak bakal tinggal disini. Benel, Ma?" 


Ya, saat Galexia belum datang. Mars bercerita pada adiknya jika mereka akan pindah dari sini. Dirinya tak sengaja mendengar obrolan keluarga saat dirinya hendak ke bawah menemui sang Mama. Namun, melihat keluarganya berkumpul. Mars memilih putar balik dan menemui Venus. 


Galexia menoleh. Dia menatap putranya yang sedang menatapnya balik. 


"Bener, Sayang." 


"Kenapa kita gak tinggal disini aja, Ma? Lumah Kakek besal. Venus juga betah disini," ucapnya dengan polos.


"Apa Venus mau berpisah sama Papa?" tanya Galexia dengan lembut.


"Kalau Venus gak mau pisah sama Papa. Berarti kita harus ikut Papa." 


"Memang Papa mau kemana, Ma?" 


"Kerja, Sayang." 


"Jadi kita ikut Papa kerja?" tanyanya lagi.


"Iya, Sayang. Papa ingin kita ikut Papa daripada berjauhan. Jadi Venus mau ikut Papa?" 


"Venus betah disini. Kakek, Nenek dan semuanya baik sama Venus. Tapi kalau Papa ajak Venus pelgi, Venus pilih Papa." 


Ucapan anaknya membuat senyum dibibir Sia melebar. Dia menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui keputusan anaknya.


"Kalau Abang bagaimana?" tanya Galexia menatap sang putra.


Mars yang awalnya berbaring, spontan mendudukkan dirinya. Dia menatap Galexia dengan lekat lalu menurunkan kakinya untuk berpindah ke ranjang sang adik.


"Abang sebenarnya ingin tinggal bersama Kakek, Ma," ucap Mars takut-takut. 


"Kenapa?" tanya Galexia dengan nada kecewa. 


"Abang pengen nemenin Kakek sama Nenek." 


"Jadi Abang mau ninggalin Mama sama Adek?  Tanya Galexia dengan mata begitu sendu.


Mars spontan menggeleng. Dia mendongakkan wajahnya dan melihat mata sang Mama berkaca-kaca. 


"Jangan menangis, Ma. Maafin Mars udah buat Mama sedih," ucap Mars dengan menghapus air mata Galexia yang menetes. 


Galexia menggeleng. Dirinya tak tahu harus melakukan apa. Mendengar jawaban sang putra tentu membuatnya begitu sedih. Dia belum siap untuk berpisah dengan Mars apalagi dalam jangka waktu yang lama. 


Tiba-tiba perhatian ketiganya tertuju pada pintu kamar yang terbuka. Lalu muncullah Galaksi dengan wajah panik.


"Kenapa Mama sedih?" tanya Galaksi pada putra dan putrinya.


"Abang bilang pengen disini nemenin Kakek sama Nenek, Pa," cicit Venus yang sudah ikut duduk di samping sang mama.


"Apa itu benar?" kata Galaksi menatap putranya yang menunduk. "Mars." 


Kepala bocah yang hampir berumur 6 tahun itu mengangguk. 


"Angkat kepala dan katakan apa alasannya!" kata Galaksi dengan tegas. 


Spontan duplikat Galaksi itu mendongakkan kepalanya. Dia menatap mata Galaksi tak kalah tajam.


"Karena Nenek sama Kakek sendirian disini." 


"Jadi Mars gak mau ikut Papa?" 


Terlihat wajah putra mereka kebingungan. Bahkan Mars sampai menatap ke arah lain karena ragu akan keputusannya. 


Galaksi menghela nafasnya begitu dalam. Lalu dia ikut mendudukkan dirinya di samping sang putra. "Ketika Papa libur nanti, pasti kita datang kesini lagi, Nak. Menjenguk Kakek dan Nenek." 


"Papa janji?" tanya Mars sambil menjulurkan jari kelingkingnya ke arah sang papa.


Galaksi menatap jari kecil itu. Lalu dia berganti menatap ke arah sang istri yang menatapnya balik. Kedua mata itu seakan saling mengatakan jika mereka harus bisa menepati janji putra kecilnya.


"Ini janji seorang pria, Papa!" ucap Mars dengan wajah begitu serius.


Galexia mengangguk. Bagaimanapun bukankah mereka juga pasti akan menjenguk orang tua Sia disini. Saat Galaksi libur mereka juga bisa pergi ke Indonesia untuk liburan.


"Papa janji." 


~Bersambung~


Maaf baru update yah. Baru selesai ngetik langsung up nih.


Otw ngetik lagi.


Jangan lupa like, komen dan vote yah.


Besok jangan lupa aku bakalan publish novel baru aku yang aku ikutkan lomba Berbagi cinta