
Akhirnya setelah menunggu beberapa tahap. Jadwal sidang pertama untuk Atlas mulai terjadwal. Bahkan pria itu benar-benar akan membusuk di penjara jika semua bukti akan keluar saat ini juga. Atlas benar-benar berada di ujung tanduk. Pria itu semakin terlihat tidak terurus ketika berada di penjara. Ditambah sosok penyelamat yang ia tunggu tidak kunjung datang. Membuat dirinya semakin merasa marah.
Sedangkan di rumah Galaksi. Kesedihan yang terjadi atas kabar yang belum didapatkan dari pihak Bandara masih terasa. Jasad pria yang diharapkan datang ke rumah tak kunjung ditemukan. Seakan alam belum mengizinkan Galexia untuk bertemu Galaksi walau mereka sudah tak bisa lagi untuk bersama.
Galexia memejamkan matanya. Ini sudah hampir 40 hari dari jatuhnya pesawat. Namun, rasa berharap itu masih tumbuh di hatinya. Rasa cinta yang semakin besar seakan menjadi penguat dirinya untuk selalu berharap jika pemiliknya akan datang dalam keadaan sehat.
Dia tak meminta apapun. Galexia hanya ingin pria itu kembali dalam pelukannya. Dia berjanji tak akan menunda apapun. Dia berjanji tak akan menutupi perasaannya lagi. Dia berjanji akan bersikap terbuka dan melupakan segala masa lalu yang ditorehkan oleh pria itu di hatinya.
Galexia benar-benar sadar. Dirinya dan hatinya masih mencintai Galaksi. Rasa kehilangan yang dia rasakan saat ini, membuatnya paham jika sakit di masa lalu sudah terhapus. Terganti rasa cinta yang kembali tumbuh karena kedekatan mereka. Semua kenangan itu tentu terus berputar di kepalanya dan membuat Sia yakin jika sosok Galaksi pasti akan kembali di sampingnya.
"Bolehkah kali ini aku berharap padamu, Tuhan? Kembalikan dia ke pelukanku, satukan kami lagi dan aku akan menerimanya tanpa melihat masa lalu," katanya sambil menepis air mata yang kembali menetes.
Saat Sia asyik menikmati kesendiriannya. Sebuah elusan di pundak membuat Sia menoleh.
"Cressida," ucapnya dengan bibir yang ia paksa untuk tersenyum.
"Apa Kakak merindukan Tuan Galaksi?"
Senyum yang tadi Sia berikan perlahan menyusut. Wajah itu kembali muram dengan lelehan air mata kembali mengalir ketika dirinya tidak sanggup untuk menahan.
"Tentu saja. Aku belum rela atas kejadian ini. Hatiku masih bertekad jika dia akan pulang dan kembali ke pelukanku."
Jawaban yang diberikan oleh sang kakak membuat Cressida tersenyum tipis. Dia tahu jika Galexia beberapa hari ini suka menyendiri. Menepis kesedihannya sendiri dan merenung di tempat sepi. Hingga hal itu terkadang membuatnya takut jika mental sang kakak akan terganggu. Namun, kali ini dia yakin jika kakaknya itu hanya sedang menunggu cintanya kembali.
Cressida hanya bisa berharap dan berdoa semoga harapan kakak kandungnya benar-benar akan terjadi. Semoga ayah dari keponakannya akan pulang dengan selamat.
"Aku berdoa semoga harapan Kakak dan si kembar dikabulkan oleh Tuhan," katanya dengan tersenyum.
"Aamiin," sahut Sia balas tersenyum.
Entah kenapa keberadaan Cressida di sampingnya membuat Galexia bahagia. Seakan dia memiliki harapan untuk masa depan yang bisa ia raih bersama adik kandungnya juga. Setidaknya dia tak sendirian seperti dulu. Saat ini ada adik dan kedua anaknya yang menjadi penguat dirinya disaat seperti ini.
"Bagaimana kabar Riksa? Kakak sudah lama tak menghubunginya," kata Sia yang membuat Cressida melupakan tujuannya. "Ada apa?"
Cressida menghela nafas berat. Dia menatap ke depan sambil menyandarkan punggungnya di kursi taman. Pikirannya kembali berkecamuk saat mengingat calon suaminya itu tak ada kabar selama satu minggu ini.
"Entahlah, Kak. Sudah satu minggu ini dia tak menghubungiku," kata Cressida dengan lesu. "Terakhir dia hanya mengatakan jika sedang menyelesaikan sesuatu yang penting dan akan menyusulku secepatnya."
"Mungkin Riksa memang sedang sibuk, apalagi cafenya semakin berkembang pesat," sahut Sia menenangkan.
"Tapi apa dia sesibuk itu. Memberikan sebuah pesan saja tak sempat?"
Galexia tersenyum dalam hati. Dia bisa melihat kegelisahan di dalam mata sang adik. Dirinya bergeser lalu menarik bahu Cressida dan memeluknya dari samping.
"Percayalah, Riksa adalah pria jomblo yang sudah lama workaholic. Jadi wajar jika pekerjaan terkadang membuatnya lupa pada wanita yang dia cinta," goda Sia dengan memberikan kedipan manja.
Entah kenapa kalimat terakhir dari bibir sang kakak, membuat pipi Cressida merona. Dia merasa malu saat mendengar kata jika dia adalah wanita yang dicintai oleh Riksa. Pria yang menyelamatkan dan melamar dirinya secara langsung kepada dua orang yang selama ini dianggap sebagai orang tua.
Akhirnya perasaan yang tadinya berkecamuk mulai tenang. Dia mulai menerima nasehat kakaknya. Mungkin apa yang dikatakan oleh Sia ada benarnya. Jadi dia berusaha untuk percaya dan yakin jika Riksa baik-baik saja.
Sedangkan tanpa keduanya sadari, jika tak jauh dari sana. Ada dua orang paruh baya yang menatap kedekatan mereka dengan penuh tanda tanya. Bahkan percakapan mereka membuat mata dua wanita itu saling bertanya.
Ada apa gerangan dengan mereka yang terlihat begitu akrab. Bahkan pelukan yang Sia berikan membuat keduanya semakin dilanda rasa penasaran. Sampai saat keduanya hampir berada di dekat mereka, sebuah suara yang diucapkan oleh Cressida membuat keduanya mematung.
"Jadi kalian…." sela suara dari belakang yang membuat Galexia dan Cressida spontan berdiri.
Mereka sama-sama berbalik dan menatap Mama Alya dan Mama Pandora yang sepertinya menuntut jawaban. Dua wanita muda itu saling berpandangan, seakan mereka sedang saling bertanya melalui tatapan mata.
"Mama ada apa?" tanya Sia mengalihkan.
"Jawab pertanyaan Mama, Sia. Kalian?"
Akhirnya mereka tak bisa menutupi ini lagi. Sebenarnya Sia dan Cress sudah bertekad untuk mengatakan semuanya jika urusan Atlas selesai. Namun, sepertinya takdir mengizinkan untuk hubungan keduanya terbongkar saat ini.
"Si kembar dimana dulu, Ma?" tanya Sia tanpa menjawab pertanyaan ibu dari calon suaminya.
"Ada bersama Om Orion di dalam, Nak."
Sia mengangguk. Akhirnya dia mengajak Mama Alya dan Pandora untuk duduk di kursi yang tersedia disana. Mereka sama-sama saling berhadapan hanya dibatasi oleh sebuah meja di depannya.
"Sebenarnya saat mencari identitas Cressida kemarin. Kami menemukan satu fakta, Ma. Jika kami ternyata…." jeda Sia sambil menatap sang adik di sampingnya. "Saudara kandung."
"Apa!" Kedua wanita paruh baya itu terpekik kaget.
Keduanya seakan terkejut akan kabar tersebut. Bahkan mulut Mama Alya dan Pandora menganga lebar tak percaya.
"Bagaimana mungkin?"
"Nah itu, Ma. Semua serba luar biasa. Bukti tentang foto sudah ada, dan jelas mengatakan jika kami adalah kakak dan adik."
Akhirnya Sia dan Cressida mulai menceritakan penemuan mereka kesana dan meyakinkan dua wanita paruh baya itu dengan bukti mereka. Mama Alya dan Pandora sungguh dibuat bingung dengan takdir. Seakan hidup Galexia mulai dibuka tentang tabir kenyataan disaat dirinya merasakan kehilangan.
Saat mereka saling berbagi cerita. Kedatangan Orion yang tiba-tiba membuat keempat wanita itu menoleh. Mereka seakan menunggu kabar apa lagi yang akan dibawa olehnya.
"Besok adalah sidang pertama Tuan Atlas, Nyonya. Bisakah Anda dan Nona Sia datang ke pengadilan?"
Galexia dan Mama Pandora saling pandang. Keduanya seakan bingung dengan maksud yang dikatakan oleh Orion. Namun, keduanya tak menolak. Mereka sama-sama mengangguk dan setuju untuk hadir di pengadilan.
"Oke. Kami akan datang besok, Om."
"Syukurlah," sahut Orion dengan wajah begitu berbinar.
"Semoga pria itu mendapatkan balasan yang setimpal," kata Sia dengan emosi yang kembali muncul.
"Pasti. Saya jamin dia akan membusuk di dalam penjara setelah bukti dan saksi akan memberikan keterangan."
"Saksi?" ulang Sia menatap Orion tak percaya. "Siapa saksinya, Om?"
"Kamu akan tahu besok, Sia. Doakan saja jika semuanya akan lancar," katanya dengan senyum penuh arti.
~Bersambung~
Ah next bab sidang pertama si Atlas, hihi. Kira-kira saksinya siapa yak? hahaha.
Udah kuketik loh bab selanjutnya. Yuk like yang cepet biar aku cepet update! Jangan lupa like, komen dan vote yah sebagai bentuk apresiasi kalian sama novel si kembar.
250 like langsung update!