The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Perjodohan




Di sebuah rumah mewah, terlihat para pelayan mulai berlalu lalang. Sedari pagi, semua orang terlihat begitu sibuk. Mereka semua saling membantu membersihkan rumah atas perintah nyonya besar.


Di meja makan, terlihat berjajar menu makan malam mewah yang tersaji begitu indah. Ditengah-tengah terdapat sebuah lilin yang menandakan jika kali ini akan terjadi sesuatu yang begitu istimewa.


Seorang perempuan paruh baya dengan dress berwarna merah menyala terlihat baru saja turun dari lantai atas. Tubuhnya yang seksi terbalut dengan pakaian mahal yang membentuk tubuhnya. Di usianya yang sudah tak lagi muda, membuatnya semakin menjaga penampilannya.


"Apa semua siap?" tanya Pandora dengan wajah angkuhnya menatap ke arah meja makan.


"Sudah, Nyonya," sahut salah satu pelayan di sana.


"Bagus! Kalian akan kupanggil jika tamu ingin memulai makan malam." Setelah mengatakan itu, Pandora segera pergi ke ruang tamu.


Dia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Decakan di lidah menjadi pertanda jika perempuan itu begitu kesal. Berulang kali dirinya memencet sesuatu di layar ponsel diikuti dengan gaya seperti menghubungi seseorang.


Pandora menggeram. Bahkan saat dia menyadari jika sang anak dengan sengaja mematikan panggilannya. Hal itu, tentu membuat wajahnya begitu murka.


"Dasar anak tak tau diuntung! Kemana dia?" gumamnya dengan memukul sofa di sampingnya.


Beranjak berdiri, Pandora segera keluar dari rumah. Dia menatap ke arah depan pintu utama dan melihat ada salah satu mobil yang belum dimasukkan ke garasi.


"Aku harus mencarinya," gerutunya dengan membalikkan badannya.


Perempuan itu berniat mengambil ponsel dan kunci mobil. Namun, sebelum dia melangkahkan kakinya, suara klakson mobil diiringi pagar rumahnya yang terbuka menarik atensi Pandora.


Dia menggeram kesal saat menyadari jika para tamunya sudah datang. Sumpah serapah dia keluarkan hingga tak terhitung sebanyak apa.


"Kemana kau, Galak? Aku yakin kau pasti sedang menemui wanita rendahan itu, 'kan?"


Jujur di otak Pandora saat ini hanya diliputi rasa kekesalan pada wajah Galexia. Dia bahkan dengan begitu nyata menghinanya saat ini tanpa tahu kemana anaknya itu pergi. Sungguh rasa benci seseorang sudah membutakan segalanya. Sebaik apapun dia, jika melihatmu dengan buruk. Maka apa yang kau lakukan pasti tetap buruk.


"Selamat malam, Tante." Suara Inggrid begitu terdengar.


Perempuan yang memakai dress berkerah sabrina itu, membuat dirinya semakin terlihat cantik. Bahkan wajahnya yang natural sudah tertutupi bedak mahal. Penampilannya sungguh sempurna dan berharap jika kali ini usahanya akan dilirik oleh seorang Galaksi.


"Malam, Sayang," sahut Pandora menerima pelukan Inggrid. "Kau begitu cantik malam ini."


Inggrid tersipu malu. Namun, tangannya juga tak kalah ikut menyampirkan rambutnya yang digerai setelah pelukan mereka terlepas. Hingga Pandora mulai bergantian memeluk dan bersalaman dengan calon besannya ini.


Tanpa mereka semua sadari, terdapat dua orang yang menatap satu sama lain. Mereka saling mengkode dan tak lupa sang wanita memberikan kerlingan mata.


"Yuk masuk!"


Semua orang mulai memasuki ruang tamu rumah Galaksi. Pandora dengan tenang memilih duduk di sebuah kursi single yang sama dengan yang digunakan oleh calon menantunya.


Mereka semua mulai terlibat dalam pembicaraan ringan. Membahas ini dan itu sambil menunggu kapan datangnya sang calon pengantin pria. Sesekali mata Inggrid menatap keluar. Dia benar-benar merindukan seseorang yang selalu dingin kepadanya. Namun, walaupun sikapnya begitu, dia sudah berjanji tak akan pernah meninggalkannya dan berusaha merebutnya.


****


Dari arah depan, sebuah mobil mulai memasuki halaman rumah Galaksi. Kendaraan yang sudah begitu dihafal siapa pemiliknya, tentu membuatnya dengan mudah keluar masuk ke dalam sana.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan cepat. Pria itu memilih diam. Matanya menatap tangan yang mencengkram setir kemudinya dengan erat. Hingga perlahan matanya terpejam.


Bayang-bayang cerita Bu Na tentu berdengung di telinganya. Hingga ia menyadari jika semua ini harus cepat diselesaikan dan segera menemukan biang keladinya.


"Kalian tunggu disini. Jika aku memberikan kode, kalian boleh keluar. Mengerti!"


Setelah mengatur nafasnya yang naik turun. Galaksi segera turun dari sana. Dia berjalan dengan tegap memasuki rumah sambil matanya melirik sebuah mobil yang begitu mewah dan dia kenali.


"Ternyata dia sudah merencanakan sesuatu," gumamnya dengan pandangan kembali fokus ke depan.


Saat tubuhnya hampir sampai di dekat pintu masuk. Samar-samar suara dari dalam mulai terdengar hingga membuat kedua tangan Galaksi mengepal kuat.


Rasanya jika tak mengingat siapa dia. Galaksi sudah pasti langsung menonjoknya. Sungguh rasanya emosinya ada di ubun-ubun dan ingin sekali segera dikeluarkan.


Perlahan, tubuh Galaksi mulai masuk ke dalam rumah. Ketukan sepatu dengan lantai tentu menarik perhatian. Semua yang ada disana langsung mengarah ke asal suara hingga membuat Inggrid yang sedari tadi menunggu tersenyum bahagia.


Galaksi menghela nafas berat. Namun, dia tetap memberikan sopan santun yang selalu melekat dalam dirinya.


"Selamat malam, Om," ucapnya sambil bertos ria ala-ala pria.


"Selamat malam, Nak. Kau baru pulang?" tanyanya setelah pelukan dan tos mereka selesai.


"Iya, Om." Galaksi mengangguk membenarkan. "Galaksi izin ke kamar dulu ya, Om."


"Galaksi!" peringat Pandora dengan menatapnya tajam. "Duduk!"


Tangan Galaksi semakin terkepal kuat. Namun, lagi-lagi dia harus mengalah dan memilih duduk sambil menetralkan emosinya. Galaksi berdehem sejenak lalu mulai menyandarkan punggungnya.


"Begini, Nak. Malam ini, Mama mengadakan makan malam bersama keluarga Inggrid, Sayang," kata Pandora dengan suara yang begitu dia buat semanis mungkin. "Lalu kami juga sudah bertekad untuk menjodohkan kalian berdua."


Spontan Galaksi beranjak berdiri. Matanya menatap tajam ke arah semua orang hingga terakhir ke wajah mamanya.


"Aku tidak mau!"


"Apa maksudmu, Galaksi?" tanya Mama Inggrid dengan pelan.


"Aku tak mau melakukan perjodohan ini karena aku tak mencintai Inggrid sama sekali."


"Kamu!" seru Papa Inggrid tak terima.


"Kenapa, Om? Ingin marah?" tanyanya dengan senyuman miring.


"Galaksi duduklah, Nak. Bukankah selama ini kamu dekat dengan Inggrid dan menjalin hubungan dengannya?"


Aura mencekam terasa begitu kuat disana. Hingga tanpa sadar teriakan Galaksi tentu membuat Pandora gemetaran. Wajah memerah, bola mata panda menandakan jika wanita itu tak baik-baik saja.


"Galaksi!" panggil Inggrid membuat Galaksi berbalik dan menghindari jangkauan perempuan itu.


"Jangan sentuh aku!"


"Galaksi," rengek Inggrid semakin membuat Galaksi ingin muntah.


"Aku sangat tidak menyukai siapapun yang menyentuhku. Kau paham?"


"Kau keterlaluan sekali, Galak!" geram Papa Inggrid hingga membuat Galaksi tersenyum miring.


"Lebih baik kalian keluar, sekarang! Sampai kapanpun aku tak akan menikahi putrimu yang rela mengangkang demi sebuah popularitas."


Semua keluarga Inggrid beranjak berdiri dengan wajah begitu terhina. Mereka tak menyangka jika Galaksi berani mengusir mereka sekarang juga. Apalagi Inggrid, perempuan itu hanya bisa menunduk dengan wajah memerah menahan hinaan semua ini.


"Kau mengusir kami?"


"Ya. Sekarang pergi dari rumahku dan jangan pernah kembali lagi!"


****


Setelah mendengar suara kepergian mobil Keluarga Inggrid meninggalkan rumah mereka. Pandora yang sejak tadi diam, akhirnya beranjak berdiri. Wajahnya memerah menahan malu dan emosi yang meluap.


Hingga tanpa sadar dia segera bersiap untuk menampar Galaksi. Namun, tetap saja tenaganya kalah cepat dengan anaknya sendiri. Pria tampan itu tentu langsung menahan tangan Pandora erat.


Mata keduanya saling bertemu dengan aura kebencian menguar. Suasana terlihat mencekam dan tak ada satupun pelayan yang mendekat.


"Apa yang sudah kau lakukan, Galaksi!" teriak Pandora begitu marah. "Kau sudah membuat keluarga kita malu, hah!"


"Aku tak peduli," sahut Galaksi dengan mudah. "Kau sendiri yang menciptakan ini dan kau sendiri yang harus menyelesaikan semuanya."


"Kau!"


Pandora mengaduh. Tangannya semakin sakit dan dia yakin jika nanti akan ada bekas merah di sana.


"Jangan berharap bisa menamparku lagi!" seru Galaksi dengan mata tajamnya menatap Pandora. "Kalau tidak, aku tak segan untuk membawamu ke kantor polisi. Kau paham?"


Segera Galaksi menepis tangan Pandora. Dia membersihkan bekas tangannya menggunakan pakaiannya hingga membuat wanita itu semakin terhina.


"Otakmu sudah teracuni oleh wanita rendahan itu. Lihatlah dirimu! Menjadi robot bucin dari wanita tak selevel dengan kita!"


"Berhenti menghinanya lagi!" seru Galaksi begitu murka.


Tangannya mengepal dengan urat-urat di kepalanya terlihat jelas, hal itu tentu menandakan jika Galaksi sudah berada di ambang batas kesabaran. Wanita di depannya ini sungguh tak tahu malu. Bahkan saat dia sudah terpojok, dirinya masih menyalahkan orang lain dari kesalahannya sendiri.


"Kau harus meninggalkan wanita itu, Galak!" seru Pandora dengan kencang. "Dia hanya ingin memanfaatkan hartamu!"


Sebuah tamparan melayang di pipi Pandora hingga membuat wajah itu langsung berpaling. Cap jari tangan kokoh itu membekas hingga membuat Pandora shock bukan main.


Pipinya ini sungguh terasa panas. Bahkan dia dapat merasakan jika ada cairan mengalir hingga membuatnya yakin jika sudut bibirnya robek karena tamparan itu begitu kuat.


"Kau berani menampar Mamamu sendiri?"


Galaksi tertawa kencang. Bahkan tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa untuk membuang rasa sakit dan kecewa dalam dirinya. Dia tak percaya akan semua yang terjadi selama ini kepada dirinya karena ulah wanita di depannya ini.


"Bahkan untuk membunuhmu saja, aku berani!" ancamnya menunjuk wajah wanita tua yang tak punya malu ini.


Pandora diliputi kegugupan. Bahkan tanpa sadar raut wajahnya memucat yang menandakan jika dirinya begitu shock dengan ucapan Galaksi. Selama ini pria itu tak pernah lepas kendali seperti ini. Namun, melihat marahnya Galaksi malam ini, ternyata begitu mampu membuat siapa yang melihat ikut merinding.


"Kenapa diam, hah?" teriak Galaksi tepat di depan wajahnya. "Kemana keberanian yang selalu kau buat untukku?"


"Apa maksudmu, Galaksi?" tanya Pandora menyentuh pipinya dan berusaha menatap wajah pria tampan di dekatnya ini.


"Jangan munafik di hadapanku. Aku sudah tahu jika kau adalah dalang dari semua kejadian malam pertamaku dengan Sia," kata Galaksi dengan tegas. "Aku juga tahu kau yang menyuruh satpam rumah untuk mengangkatku ke kamar tamu dan kau segera memecat mereka agar perbuatanmu tak ketahuan."


Deg.


Pandora mematung. Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya ini. Sungguh darimana Galaksi mendapatkan semuanya hingga dia tahu jika semua ini adalah ulahnya.


"Kau menyiksa Sia sejak pernikahan kami. Kau menyuruhnya seperti pembantu sampai di kelelahan dan berbohong padaku untuk menutupi segala akal bulusmu."


Pandora hanya diam. Tubuhnya seperti patung tak bisa digerakkan. Dirinya benar-benar tak menyangka jika semua ini akan terbongkar malam ini juga.


"Kau terkejut, 'bukan? Aku yakin kau tak percaya, jika aku bisa mendapatkan semuanya," ucap Galaksi hingga membuatnya memanggil mereka yang sudah menunggu di teras rumah Galaksi.


Mulut Pandora menganga lebar. Bahkan dirinya sampai terbelalak tak percaya dengan sosok yang berdiri di dekatnya ini. Kedua orang yang sudah dibayar untuk pergi jauh ternyata masih ada disini dan dengan berani datang ke hadapannya.


"Aku pastikan semua rencana yang ada di kepalamu, terhempas saat melihat mereka, 'bukan?"


~Bersambung~


Lah kan, hahaha. Ditendang kok!


Gak bakal mau si Abang Galak sama ente woy, haha.


Silahkan nikmati malam hancurmu, Pandora.


Jangan lupa klik like lagi dan komen ya biar author semangat updatenya.


Terima kasih. Mau update lagi gak? vote yok haha