
Di dalam sebuah ruang tamu yang tak begitu besar, hanya isak tangis yang terdengar. Seakan antara Mama Alya dan Riksa memberikan Cress sebuah ruang. Ruang dimana dia bisa menenangkan hatinya dengan menangis dan mulai belajar menerima takdirnya dengan ikhlas.
Mama Alya hanya bisa mengusap punggungnya dengan pelan. Dia tak mengeluarkan sepatah katapun. Seakan dirinya sendiri saja sulit menerima kenyataan hidup seorang Cressida.
Bagaimana jika kita ada di posisinya?
Tak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua, dijual hanya untuk uang dan dijadikan seorang pelacur?
Menyedihkan bukan?
Apalagi untuk anak muda seperti Cressida, yang masih memiliki jalan hidup panjang, harus berada di sebuah keadaan begitu menyakitkan.
Namun, mungkin takdir masih memberikan dia kesempatan. Melalui pertemuannya dengan Riksa, dia memiliki jalan takdir yang mulai berubah. Mungkin kenyataan itu masih tetap membekas, tapi setidaknya dia tak berakhir disana. Di tempat pelacuran dengan keadaan yang mengenaskan.
Tak lama, suara isak tangis itu menghilang. Diganti dengan dengkuran halus dari bibir wanita yang sudah bisa ditebak jika matanya pasti membengkak. Hingga membuat Mama Alya memberikan kode pada anaknya untuk mengangkat tubuh Cressida ke kamar.
"Tapi, Ma…."
"Apa kau tega membiarkan dia tertidur di sofa sempit ini?" tanya Mama Alya menatap anaknya penuh permohonan.
Sebagai seorang ibu, tentu dia tahu betul bagaimana sikap putranya. Riksa adalah sosok laki-laki yang tak gampang menyentuh wanita. Ajaran dan nasehat dari Mamanya, tentu selalu menyertai hidupnya hingga membuat Riksa menjadi pria seperti saat ini.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa. Riksa menggendong tubuh ramping itu dalam dekapannya. Membawanya ke kamar yang semalam dipakai oleh Cressida lalu meletakkannya dengan begitu pelan. Dengan penuh perhatian, Riksa juga menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.
Bukan takdir yang kejam, tapi Tuhan sedang mengajarkanmu arti pahitnya hidup, batin Riksa menatap wajah wanita yang masih ada sisa-sisa air mata disana.
Tak lama, lamunan Riksa buyar dengan sebuah tepukan di bahunya. Dia menoleh dan melihat mata Mamanya yang dipenuhi dengan air mata. Dia segera menghapusnya dan membawa sang mama keluar dari kamar.
"Kenapa Mama menangis?" tanya Riksa yang duduk dihadapan Mama Alya.
Mama Alya menarik nafasnya begitu dalam. Dia menenangkan hatinya yang kacau saat mengingat perkataan Cressida. Seakan jiwa keibuannya keluar dan ingin sekali menjaga wanita muda itu.
"Mama merasa melihat Galexia kedua. Namun, dalam versi hidup yang lain," kata Mama Alya sambil membayangkan pertemuannya dulu dengan ibu dari si kembar. "Keduanya saat itu sama-sama masih muda, fisik mereka cantik, bahkan tingkah lakunya begitu baik. Namun, ternyata takdir mereka tak sebaik itu."
Mama Alya menepis air mata yang kembali mengalir. Dirinya begitu bangga jika mengingat sosok Sia. Seorang perempuan yang rela menjaga kandungannya tanpa suami dan diceraikan disaat keadaan berbadan dua. Namun, siapa yang menyangka jika sosok itu sekarang menjadi orang sukses. Melahirkan dua orang anak kembar yang begitu pandai serta pekerjaan mereka yang begitu menghasilkan.
Lalu sekarang, ternyata Mama Alya dipertemukan kembali oleh seorang perempuan hebat. Dia yang dilahirkan tanpa diminta, ternyata dijual oleh orang tuanya sendiri. Dijadikan sebagai seorang pelacur hanya untuk menghidupi kebutuhan kedua orang tuanya. Sungguh miris, 'bukan?
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Mama Alya tiba-tiba.
"Maksud, Mama?"
"Apa kamu akan mengurungnya disini terus?"
Spontan Riksa menggeleng. Dia perlahan merubah posisi duduknya lalu merebahkan kepalanya diatas pangkuan sang Mama. Matanya terpejam menikmati pijat lembut tangan sang Mama di kepalanya.
"Aku sudah memintanya untuk berpikir, Ma," kata Riksa perlahan.
"Terus?" tanya Mama Alya sambil menatap wajah putranya.
"Dia bilang tak memiliki tujuan. Cress takut akan diantar ke club malam oleh kedua orang tuanya jika dia pulang," ucap Riksa dengan pikiran yang sama pusingnya.
"Bagaimana jika dia tinggal di rumah kita?"
"Apa!" Spontan Riksa mendudukkan dirinya. Dia menatap wajah mamanya dengan begitu lekat.
"Itu berbahaya untuk, Mama. Aku tak mau terjadi sesuatu hal sama, Mama."
"Cress butuh pelindung, Nak. Dia butuh seseorang yang bisa menjaga dia dari kejahatan kedua orang tuanya," kata Mama Riksa dengan pelan.
Riksa terdiam. Dia mencoba menelaah apa maksud dari perkataan mamanya. Seakan sosok wanita yang melahirkannya ini sedang memberikan sebuah perkataan ambigu pada dirinya.
Hingga tiba-tiba, sebuah pikiran terlintas dalam otaknya. Jantung Riksa berdebar kencang dengan mata melebar menatap mamanya untuk meminta jawaban jika yang ada dalam pikirannya bukanlah hal yang benar.
"Mama gak mungkin, 'kan?"
"Kenapa gak mungkin? Apa kamu masih menunggu Galexia kembali kesini? Apa kamu masih berharap kepadanya disaat mereka saat ini sedang bersama ayah si kembar. Begitu?"
Skakmat!
Riksa dibuat bungkam. Dirinya seakan tertampar dengan sebuah kenyataan yang dikatakan mamanya. Semua yang keluar dari mulut Mama Alya memang benar. Apakah dia tak bisa melupakan Galexia dan berharap wanita itu lari ke pelukannya. Sedangkan kesempatan itu begitu sempit ketika perkataan Venus kembali terngiang di pikirannya.
Mama dan Papa akan tinggal selumah, Om.
Perkataan itu tentu terus berputar di kepalanya. Seakan dia sudah disadarkan jika tak ada celah untuknya dihati Sia. Hingga hal itu tentu membuatnya harus segera sadar. Sadar jika dirinya tak akan bisa menggapai perasaan Sia.
"Umurmu sudah begitu matang, Sayang. Kamu juga sudah siap menjadi sosok kepala keluarga untuk keluarga kecilmu," sambung Mama Alya membuat kepala Riksa mendongak.
"Apakah aku harus dengannya, Mama? Kita belum mengenal lebih jauh. Bahkan pertemuan kita masih baru semalam."
"Apa kamu tak percaya takdir?" kata Mama Alya dengan tersenyum. "Mungkin pertemuan kalian semalam menjadi jawaban jika kamu adalah sosok penjaga Cressida."
Riksa termenung. Bahkan dalam pikirannya tak pernah terbayang akan terjadi hal seperti ini dalam hidupnya. Pertemuan singkat, dan perkenalan yang masih sekedar nama. Apa bisa langsung berlanjut ke jenjang yang seperti itu.
"Tapi, Ma…."
"Statusmu yang kuat akan membantunya keluar dari rumah nerakanya itu. Statusmu itulah yang membantunya untuk keluar dari kepahitan dalam hidupnya," kata Mama Alya yakin menatap mata sang anak yang sepertinya dipenuhi keraguan.
"Tapi aku belum mencintainya, Ma."
"Cinta akan datang setelah kalian menjalin kebersamaan, Sayang," kata Mama Alya lalu mengambil sebelah tangan anaknya dan mengusapnya.
"Ini hanya pemikiran, Mama. Tak ada paksaan untukmu. Jika kamu menolak, Mama tak akan marah. Tapi, Mama yakin kalau dia adalah perempuan baik-baik yang dipaksa menjadi perempuan bebas."
Riksa mulai berpikir keras. Semua nasehat dan perkataan Mamanya membantu otak kecilnya mulai berpikir. Meresapi segala hal dan membuatnya harus sadar dengan kenyataan.
Hingga setelah keheningan melanda keduanya. Riksa sudah memutuskan. Tekadnya sudah bulat untuk kebaikan semua orang. Demi dirinya, mamanya, wanita itu dan Galexia. Dia sudah mengambil jalan ini. Mungkin memang ini adalah jawaban dari Tuhan untuknya, agar sadar dengan apa yang seharusnya bukan menjadi miliknya.
Hingga perlahan, Mama Alya tersenyum. Dia menatap mata anaknya yang ternyata sedang menatapnya balik.
"Apa kamu sudah memutuskan?"
"Ya, Ma. Aku akan menikahi Cressida untuk menjaga dirinya dan membawanya keluar dari kejahatan kedua orang tuanya."
~Bersambung~
Hayoo yang kemarin udah teriak kawin-kawin, nohh aku kabulin.
Aku minta like sama komen yang banyak pokoknya. huhu. Makasih semua.
Mau update lagi?
Tembus 250 like aku up