The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Apakah Dikawinkan?




Saat keduanya hendak meninggalkan dapur. Tiba-tiba terdengar suara bersin yang begitu kencang dengan lemari bergerak membuat Mama Alya spontan melepaskan tangan Riksa. Dia menatap tajam ke arah putranya seakan meminta jawaban atas apa yang dia dengar jelas di kedua telinganya.


"Ma…." 


Mama Alya menggelengkan kepalanya. Dia memberikan tanda jika tak mau mendengar apapun lagi. Bahkan jantung ibu dari satu anak itu begitu berdebar. Dirinya takut jika apa yang ada dalam pikirannya benar-benar kenyataan. Entah apa yang akan dia lakukan jika itu semua terjadi.


Perlahan dia melangkah mendekati lemari tersebut. Menarik nafasnya begitu dalam dengan tangan terulur ke pegangan lemari. Debaran jantungnya semakin kencang hingga dengan sekali tarikan akhirnya benda yang biasanya menyimpan baju itu terbuka lebar.


Wajah Riksa berubah pias. Bahkan dia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia takut jika sang mama tak akan mempercayainya, atau mamanya itu akan berpikiran buruk tentang dirinya. 


Selama ini Riksa berusaha menjadi anak yang tak pernah melakukan hal aneh. Bahkan dia selalu menjaga kepercayaan sang mama karena tak mau membuat ibunya itu kecewa kepada dirinya. Namun, jika seperti ini apa yang harus dia katakan?


Sedangkan Cressida, wanita itu tentu membelalakkan matanya. Dia menatap tak percaya ke arah seorang wanita paruh baya yang menatapnya penuh putus asa. Dirinya sudah ketahuan hingga membuatnya tak tahu harus mengatakan apapun lagi.


Pandangannya tertuju pada Riksa. Pria itu hanya bisa menundukkan kepalanya seakan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dirinya tentu dibuat bingung harus melakukan apa hingga matanya kembali tertuju pada wanita yang diyakini adalah ibu dari pria yang membantunya.


"Selamat Pa…." 


"Siapa kamu?" tanya Mama Alya menatap ke arah Cressida. 


Dia meneliti pakaian yang digunakan wanita muda itu hingga membuat jantungnya berdebar kencang. Penampilan dengan rok seksi yang begitu pendek tentu membuat dia menatap putranya langsung. Seakan dia berharap semoga yang dipikirkannya tak terjadi. 


"Riksa!" seru Mama Alya membentak. 


Pria itu hanya bisa memejamkan matanya. Baru kali ini dia mendengar mamanya berteriak dan membentaknya setelah sekian lama. Hingga hal itu, tentu membuat Riksa paham jika dirinya sudah menyakiti hati mamanya.


"Maafin Riksa, Ma," ucapnya dengan lemah. "Maafin Riksa udah boh…."


"Apa kamu meniduri dia?" Tunjuk Alya ke arah Cressida.


Spontan Riksa menggeleng. Dia bahkan rela bertekuk lutut dan mencium kedua kaki mamanya.


"Aku bersumpah atas nama Tuhan, aku tak menyentuh dirinya, Ma."


Jantung Cress seakan mencelos. Bahkan bisa dia lihat bagaimana Riksa begitu menyayangi dan menghormati sosok ibunya. Apalagi melihatnya berusaha membuat mamanya percaya tentu timbul rasa iri dalam diri Cressida.


"Jangan membawa nama Tuhan jika kamu berbohong, Riksa!" 


"Aku berbicara jujur, Ma. Aku tak akan menodai kepercayaan, Mama. Aku bahkan selalu mentaati semua nasehat, Mama." 


Air mata Cressida menetes. Dia menatap penuh haru ke arah Riksa dan mamanya. Seakan dirinya menjadi saksi bagaimana seorang anak begitu taat pada sosok ibunya. Hingga hal itu semakin membuatnya yakin jika sosok Alya adalah ibu yang begitu luar biasa.


"Berdirilah, Nak!" Mama Alya menarik kedua pundak putranya. 


Lalu tanpa diduga, dia memeluk tubuh Riksa dengan erat. Sungguh hati kecilnya tahu jika putranya ini tak akan menodai kepercayaannya. Dia bahkan yakin jika Riksa akan selalu mendengar dan mengingat semua nasehatnya.


"Mama percaya, 'kan?" kata Riksa dalam pelukannya.


"Tentu saja. Kamu adalah anak Mama yang selalu bisa dipercaya." Setelah mengatakan itu, Alya menghadiahi sebuah kecupan di dahi sang putra hingga membuat Cressida hanya bisa menunduk.


Perlahan pelukan itu terlepas. Hingga pandangan Alya beralih ke sosok wanita muda yang menurutnya begitu cantik. 


"Kemarilah, Nak!" Mama Alya tersenyum. 


Dia mengulurkan tangannya pada Cressida. Dirinya benar-benar yakin jika apa yang dikatakan oleh anaknya adalah kebenaran. 


Cress menatap penuh ragu ke arah wanita paruh baya tersebut. Namun, melihat Riksa yang mengangguk membuatnya dengan ragu menerima uluran tangan Alya. Lalu dengan senyum yang dipaksakan, dia mencium kedua tangan wanita yang merupakan ibu dari pria penyelamatnya.


"Maafkan aku, Tante. Jika kehadiranku benar-benar membuat Tante dengan Riksa hampir terjadi salah paham," kata Cress penuh penyesalan.


"Seharusnya Tante yang harus meminta maaf, Nak. Maafin Tante karena sudah menilaimu terlebih dahulu." 


"Siapapun yang melihatku dengan penampilan seperti ini, pasti akan menilai seperti penilaian, Tante."


"Tidak, Nak. Itu adalah penilaian orang yang salah. Seharusnya kita tidak berhak menilai orang hanya dari cara berpakaiannya saja," ucap Mama Alya sambil merapikan rambut Cress yang berantakan. "Tante yakin kamu adalah anak yang baik." 


"Terima kasih, Tante. Hanya Tante yang menganggapku wanita baik meski penampilanku begitu buruk." 


"Lebih baik kita ke ruang tamu, Ma," sela Riksa dengan perasaan lega. 


Dirinya tak menyangka jika ibunya benar-benar sosok yang bijak. Bahkan Mama Alya adalah sosok yang mau mendengarkan penjelasan mereka sebelum mengambil keputusan. Hingga akhirnya dua perempuan berbeda usia itu setuju dengan usul Riksa. Mereka segera berjalan menuju ruang tamu dan duduk saling berhadapan. 


"Jadi ini…." 


"Kami tak saling kenal awalnya, Ma," kata Riksa mencoba menepis pikiran buruk mamanya. "Semalam aku membantunya saat ke club malam."


"Club malam?" ulang Mama Alya dengan mata membulat.


"Ehhh." Riksa gelagapan. Dia berusaha menelan ludahnya paksa saat keceplosan berbicara. "Itu, Ma." 


"Mama yakin kamu gak bakal datang kesana kalau tak ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."


Skakmat.


Riksa mematung. Dia tak menyangka jika sosok ibunya banyak tahu tentang dirinya. Bahkan tebakannya selalu benar hingga membuat dirinya selalu bersyukur di anugerahi ibu seperti Alya. 


"Iya, Ma." 


"Lalu kamu…." jeda Mama Alya karena bingung harus memanggil apa. 


"Namaku Cressida, Tante. Panggil Cress saja," sahut wanita yang duduk di samping Alya. "Semalam kami bertemu di parkiran club saat saya dikejar-kejar oleh wanita-wanita malam."


"Ya Tuhan. Untuk apa mereka mengejarmu?" tanya Mama Alya dengan penuh tanda tanya.


Cressida menunduk. Dia memainkan kedua jarinya karena ragu harus menjawab apa. Dirinya takut ketika bibirnya mengatakan semuanya dengan jujur, maka Mama Alya akan mengusirnya karena tahu jika dirinya dijual oleh orang tuanya.


Namun, lamunan Cress menjadi buyar ketika sebuah tangan menggenggam kedua tangannya. Hingga pandangan yang awalnya menunduk akhirnya mendongak menatap Mama Alya yang sedang tersenyum kepadanya. 


"Jangan katakan jika kamu tak mau, Nak. Tante gak maksa kok," katanya begitu lembut.


Entah kenapa melihat kelembutan sosok ibu dari Riksa membuatnya seperti merasakan kasih sayang seorang ibu yang sebenarnya. Hingga Cress yakin jika Alya adalah sosok ibu yang tak akan menghina dirinya walau Cress berkata jujur. 


"Karena aku merupakan salah satu dari mereka, Tante. Kedua orang tuaku menjualku ke club malam agar mereka mendapatkan uang banyak." 


"Apa!" Mama Alya spontan menutup kedua mulutnya.


Dia tak menyangka jika kisah hidup wanita muda di depannya ini begitu menyakitkan. Hingga tanpa sadar air mata mengalir di kedua matanya dan membuat Mama Alya bisa merasakan sakit yang diderita oleh Cress. 


"Maafkan aku, Tante. Aku berusaha jujur pada, Tante. Aku tak mau berbohong dan menutupi semuanya hanya karena ingin dipandang baik. Aku...aku…." Cress menutup wajahnya. Dia menangis terisak karena tak sanggup untuk melanjutkan ceritanya.


Hingga perlahan sebuah pelukan hangat dia dapatkan dari sosok ibu dari pria yang menyelamatkannya. Pelukan yang begitu hangat hingga membuat perasaan Cress menjadi tenang. 


"Jangan katakan apapun, Nak! Apapun yang terjadi, Tante salut dengan perjuanganmu sampai di titik ini." 


~Bersambung~


Hiyaa yang udah nebak ayo kawin ayo kawin! hahaha.


Salah deh. Masak karakter Mama Alya gak kelihatan. Dia orangnya baik dan gak mudah nuduh anaknya sendiri. Sama Sia yang bukan anaknya aja dia sayang. Apalagi sama Riksa?


Akhirnya 3 bab hari ini. Alhamdulillah walau melalui drama panjang sama anakku.


Jangan lupa support aku dengan like, komen dan vote yah. Biar aku semangat buat nulis lanjutannya.