The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Cerita Leo




Akhirnya disinilah mereka sekarang. Di sebuah taman indah dekat dengan restaurant yang tadi dijadikan tempat untuk makan malam. Perasaan Galexia semakin kacau. Bahkan melihat ekspresi wajah Leo yang serius, membuatnya berpikir apakah ada sesuatu yang terjadi selama ini. Namun, dia tak mengetahuinya.


Hening beberapa saat. Mata Galaxia terpaku pada lampu-lampu taman yang terlihat begitu cantik. Berbentuk bulat dengan cahaya warna kuning itu menambah indahnya taman di malam hari. Suasana yang tenang dan terdengar suara deru mobil sesekali menambah pikiran Sia yang semakin melayang entah kemana. 


"Apa yang ingin kamu katakan, Le!" kata Sia dengan tak sabaran.


Dia menolehkan wajahnya ke samping. Menatap raut wajah Leo yang dipenuhi keraguan semakin membuatnya yakin jika telah terjadi sesuatu hal.


"Le!" desaknya dengan mengguncang bahu Leo hingga membuat pria itu tersentak kaget.


Leo menghela nafas berat. Dia sedikit memiringkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Sia. 


"Selama ini, aku tau jika Galaksi ada disini," ucapnya mulai membuka cerita, "tapi sedikitpun aku tak pernah mengatakan atau bercerita tentang kamu dan si kembar kepadanya." 


Sia memandang tak percaya. Dia masih ragu dengan perkataan sahabatnya itu. Mana mungkin Leo menutupi dimana dirinya dan si kembar pada Galaksi, jika jelas-jelas pria itu adalah sahabat mantan suaminya.


"Aku tau kamu tak mungkin percaya, tapi itulah kenyataannya," ujar Leo menatap mata Sia. "Walaupun dia sahabatku, tapi aku tak membenarkan tingkah lakunya kepadamu. Menceraikanmu tanpa bukti, meninggalkanmu yang hamil dan lahir sendirian tentu membuatku marah kepadanya." 


Mata Sia berkaca-kaca. Melihat keyakinan Leo membuatnya yakin jika pria di depannya benar-benar berkata serius. Selama ini dia percaya pada Leo, walau pria itu memang sedikit gemulai. Namun, jangan ditanya tentang kesetiaan dan kepercayaan, karena Leo adalah salah satu sahabat yang selalu bisa dipercaya akan dua hal itu. 


"Kamu percaya 'kan?" Galexia mengangguk.


"Lalu sebuah kebenaran apa yang ingin kamu katakan kepadaku?" tanya Sia setelah menenangkan hatinya.


Leo menghela nafas begitu dalam. Dia harus mengatakan ini dengan hati-hati. Bagaimanapun membahas hal yang sensitif seperti ini selalu membuat tekanan dan emosi seseorang terguncang. Namun, sepertinya Galexia harus tahu apa yang sudah terjadi. Mungkin, ada secercah harapan kedepannya untuk mereka semua yang terbaik. Apapun itu, Leo hanya ingin kebahagiaan kembar, Sia dan Galaksi terjamin.


"Apa selama kamu pergi, kamu tahu kabar Galaksi?"


"Setelah dia mengusirku, aku sudah bertekad untuk tak pernah mencari tahu kabarnya. Melupakan dan menutup segala hal tentangnya itu sudah cukup membuatku tenang dari rasa trauma," kata Sia sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman. "Setiap malam aku harus bermimpi buruk. Kejadian tentang perpisahan itu selalu berputar denganku ketika aku tidur. Sampai aku sendiri ketakutan dan selalu menangis." 


Sia menunduk. Dia menopang kepalanya dengan kedua tangan. Mengingat bagaimana cara dia selama ini hidup. Berusaha melupakan mimpi yang setiap malam menghampirinya. Menyambut pagi dengan sebuah senyuman hanya demi kedua anaknya. 


Jujur semua hal yang ia lakukan selama ini sebuah kesulitan. Disaat hatinya sakit, dia dipaksa untuk berjuang tertawa di hadapan si kembar. Disaat mimpi itu muncul, dirinya dipaksa meminum obat tidur agar bisa melupakan kejadian yang terjadi di pagi harinya. Memang sulit, tapi demi anak, Galexia rela melakukan apa saja. 


"Bukan hanya kamu saja yang merasakan itu, Sia," kata Leo setelah lama terdiam.


Sia mendongakkan wajahnya. Dia menatap Leo dengan kerutan di dahinya menandakan dirinya tak mengerti apa maksud pria itu. 


"Selama ini Galaksi juga dipenuhi rasa bersalah. Dia menyesal telah menceraikanmu. Hidupnya berantakan dan dia dituntut untuk sebuah kemajuan perusahaannya," ucap Leo memulai cerita tentang sahabatnya. "Awal aku bertemu dengannya disini. Kehidupannya masih kacau, pulang pagi hanya untuk tak bertemu tidur malam, lalu pagi disibukkan dengan bekerja. Selama 3 tahun dia hidup seperti itu sampai aku saja tak kuat melihatnya."


Sia menahan nafasnya. Tak menyangka jika perpisahan itu bukan hanya menyakiti dia saja. Namun, ternyata mantan suaminya juga sama seperti dirinya. 


"Galaksi melewati masa sulit sama sepertimu. Dia juga masih mencintaimu walau dalam pikirannya dia masih berpikir jika kamu hamil dengan pria lain. Selama ini dia tak tahu kenyataan itu, Sia. Hanya kamu kunci dari apa yang terjadi malam itu." 


"Bukan hanya aku saja, Le. Ibu dari dia juga tahu karena wanita itulah dalang dari semuanya," kata Sia dengan mata memerah. 


"Apa kamu yakin?"


"Seratus persen yakin. Galaksi pergi bersamanya dan pulang dalam keadaan seperti itu," jeda Sia sambil menarik nafas. "Selama kita mengenalnya. Apa kamu pernah lihat Galaksi minum?" 


"Maka kamu bisa menebaknya sendiri cerita selanjutnya." 


Leo termenung. Tak perlu dijelaskan juga dirinya pasti bisa menebak. Tapi sungguh selama ini dia tak menyangka jika dalang dari kerusuhan hidup sahabatnya karena ibunya sendiri.


"Sudahlah, Leo. Apa kamu menceritakan ini semua agar aku kembali dengannya? Apa agar aku tahu bagaimana hidupnya dan merasa kasihan?" tanya Sia dengan hatinya yang mulai tenang. 


"Bukan seperti itu, Sia," sahut Leo dengan cepat.


"Jangan katakan apapun lagi. Aku bahkan masih mengingat dirinya mengataiku ******," jeda Sia dengan kepala yang mulai berdenyut. "Untuk saat ini aku tak akan terpengaruh dengan ceritamu. Aku tak peduli bagaimana dia hidup, karena semua ini terjadi juga karena kesalahannya," kata Sia dengan tegas. 


"Tapi, Sia…" 


"Gak ada kata tapi, Le. Aku tak akan terpengaruh apapun lagi. Sudah cukup dia menginjak harga diriku, membuangku begitu saja dan melupakan apa yang sudah kita lewati selama ini," ujarnya dengan sorot mata tajam.


Sia mulai beranjak diri. Merapikan tas yang ia bawa lalu mengajak Leo pulang. 


"Tunggu!"


"Apa lagi, Le? Kamu ingin mengatakan apa lagi, agar aku kasihan kepadanya?" tanya Sia mulai menaikkan nada bicaranya. "Apa kamu tak ingat bagaimana kehidupanku selama ini?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. 


Emosinya kembali menaik. Namun, seperti itulah Sia jika disangkut pautkan dengan mantan suaminya. "Aku juga hidup dalam penderitaan. Kedua anakku sampai ikut bekerja di usia yang masih kecil dan kamu melihatnya sendiri, 'bukan?" 


Sia berbalik. Dia hendak berlalu tapi cekalan di tangannya membuat dia terpaksa membalikkan tubuhnya. 


"Bagaimana jika si kembar ternyata sudah bertemu dengan Galaksi?" 


Mata Sia terbelalak. Degup jantungnya berpacu cepat dengan aliran darah yang mendidih. Ketakutan-ketakutan itu kembali muncul hingga membuat Sia tanpa sadar maju dan menarik kerah kemeja Leo.


"Apa yang kamu katakan!" teriak Sia dengan mata melotot. "Katakan sekali lagi, apa itu benar, Le!" 


Sia mengguncang tubuh Leo. Perempuan itu menuntut jawaban dari mulut pria tampan tersebut.


"Benar, Sia. Tuhan memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan ayah dan anak."


"Kamu bohong, 'kan?" tanya Sia menatap wajah Leo dengan air mata mulai mengalir.


"Jika kamu tak percaya, tanyakan saja pada Riksa. Riksa dan si kembar lah yang sudah bertemu dengan Galaksi melalui takdir Tuhan." 


~Bersambung~


Galexia gak bakal luluh lagi loh, Leo. Dia mah bodo amat, mau Galaksi jungkir balik pun masih sengsara hidup Sia. Kamu aja belum tahu apa yang sudah Sia lewati selama ini. Kalau udah kukasih flashback, nangis lu.


Uhuy covernya si kembar baru geng, cakep gak? cakep gitu jawabnya macem aku hahaha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Itu sebagai bentuk apresiasi kalian untuk si kembar.


Semalam aslinya pen up, tapi aku belum ngetik dan ngantuk. Alhasil ketiduran.


Tembus 200 like aku update lagi.