
Tak henti-hentinya Galaksi mengumpat. Dirinya merasa sangat kesal dengan celotehan sahabatnya itu. Ingin sekali tangannya ia gunakan untuk menimpuk kepala Leo. Namun, sebelum itu terjadi, dirinya menyadari jika sahabatnya itu pasti lelah.
Maka dari itu dia lebih memilih meninggalkan pria itu di ruang tamu dan memasuki kamarnya sendiri. Entah kenapa perkataan Leo tadi meninggalkan racun dalam pikirannya. Dia merasa penasaran apakah yang dikatakan oleh Leo benar atau tidak. Apa mungkin perpisahannya yang sudah lama dengan Sia membuat senjatanya tak berfungsi dengan baik.
Jika hal itu terjadi, dirinya harus segera periksa. Galaksi tak mau saat malam pertama mereka berdua, semuanya gagal karena juniornya yang sakit. Tak ingin membuang waktu, pria itu memilih melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Dirinya harus melihatnya.secara langsung. Namun, sebelum tubuhnya memasuki pintu yang sudah dibuka. Galaksi berhenti sejenak. Matanya menatap suatu gundukan yang ada di balik celana yang ia pakai. Hingga tak lama dirinya menepuk kepalanya sendiri dengan disertai gelengan.
"Bisa-bisanya gue percaya sama Leo. Mulut cewek begitu kan aduhai," ujarnya dengan kesal. "Tapi kalau beneran gak berfungsi gimana?"
Pria itu dibuat bingung. Bahkan tanpa Galaksi sadari, dia berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah bodohnya. Kepalanya dibuat bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Hingga akhirnya Galaksi memutuskan untuk berbalik. Dia tak mau mempercayai ucapan sahabatnya itu dan lebih memilih merebahkan dirinya di atas ranjang dan melanjutkan tidurnya.
****
Di ruang tamu, sepeninggal Galaksi. Leo hanya bisa garuk-garuk kepala. Pria itu bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Saat Leo hendak beranjak berdiri. Suara dari samping yang memanggil namanya membuat dirinya menoleh.
"Leo?" panggil wanita yang tak lain adalah Pandora.
Sahabat Galaksi lekas beranjak berdiri. Kepalanya begitu mengingat siapa sosok yang berdiri di depannya ini.
"Tante Pandora?" tanyanya dengan pelan.
"Iya, Nak." Leo dengan spontan meraih tangan Pandora dan menciumnya.
Dia merasa bahagia bisa bertemu dengan sosok wanita di hadapannya ini. Selama ini dia begitu tahu bagaimana sikap Pandora yang tak lain adalah Alula. Dulu juga ketika dirinya bermain dengan Galaksi, Alula yang menyamar sebagai ibu dari Galak selalu memarahinya.
Hingga hal itu tentu membuat Leo begitu tak menyukai Pandora palsu. Namun, saat ini yang ada di depannya adalah Pandora asli. Ibu kandung sahabatnya yang memiliki wajah begitu lugu dan baik. Bahkan dari pertemuan pertama ini, Leo bisa menilai jika Pandora adalah sosok ibu yang baik.
"Kapan datang?" tanya Pandora memecahkan lamunan Leo.
"Barusan, Tante." Pandora mengangguk.
Tak lupa dia mengajak Leo untuk duduk dan keduanya berdampingan.
"Lalu kemana Galaksi?" tanya Pandora sambil menjangkau daerah yang mampu dijangkau oleh kedua matanya untuk mencari posisi putranya itu.
"Dia ke kamar, Tante."
"Astaga!" Pandora menepuk jidatnya. "Bisa-bisanya anak itu ke kamar dan gak nungguin kamu. Tunggu disini yah, Tante bakal bangunin Galaksi."
"Ehhh, jangan, Tante," tahan Leo dengan menarik tangan Pandora dan mengelusnya begitu lembut. "Galaksi kelihatan capek. Biarkan dia istirahat, Tan."
"Kamu yakin?" tanya Pandora begitu ragu.
"Iya, Tante. Leo yakin," sahutnya yakin. "Mending Tante aja yang nemenin Leo disini. Bagaimana?" godanya dengan menaik turunkan alisnya.
Pandora terkekeh. Dia tak menyangka jika sahabat dari putranya ada yang seperti Leo. Tubuhnya boleh kekar, tapi bahasa gerakannya begitu lemah gemulai, tentu mampu membuat Pandora selalu tertawa.
"Dasar anak nakal," ucap Pandora dengan tawa kecil di bibirnya. "Baiklah Tante bakalan disini nemenin kamu. Tapi…."
"Tapi apa, Tan?"
"Tante mau ambil cemilan dulu buat kamu yah," ujar Pandora sambil berdiri.
"Oke, Tante. Habis itu Tante janji ya cerita kisah mereka berdua."
"Oke, siap."
Akhirnya Pandora benar-benar membawakan cemilan dan jus dingin untuk sahabat dari Galaksi. Dia juga membawakan brownies coklat hasil olahannya sendiri yang begitu enak. Apalagi teksturnya yang lembut dan tidak bantat, semakin membuat siapa saja yang mencobanya merasa kurang.
Sungguh penampakan sahabat dari anaknya terus mencuri perhatian. Bahkan sikapnya yang lucu membuat Pandora senang akan kehadiran Leo di rumahnya.
"Ayo dimakan!"
"Tentu saja, Tante. Leo pasti bakalan makan ini semua," ujarnya sambil mentoel brownies itu dan memakannya.
"Hmm, enak," ucapnya dengan mata terpejam.
Lidahnya begitu meresapi tekstur dari roti coklat itu. Rasanya yang enak tentu membuat Leo begitu bersemangat untuk mengunyahnya lagi dan lagi. Hingga tanpa disadari olehnya, sepiring brownies di meja itu perlahan tersisa 3 potong.
"Ini hilang apa gimana ya, Tante?" celetuk Leo dengan mengangkat piring berisi 3 slice brownies.
"Hahaha, ya hilang di perutmu."
Spontan ucapan Pandora mengundang gelak tawa Leo. Keduanya begitu tertawa lepas dan seakan pertemuan pertamanya saat ini sudah pernah terjadi berulang-ulang. Sungguh siapapun yang melihatnya pasti menebak jika mereka sudah pernah bertemu.
Setelah bercandaan mereka berakhir. Leo mulai mode serius. Dia mulai menegakkan tubuhnya dan menatap Pandora yang sedang menatapnya balik.
"Galaksi benar-benar berubah, 'kan, Tante?" tanya Leo memulai.
"Ya, Nak. Kita doakan saja semoga Galaksi tak mengulangi kesalahannya lagi," ujar Pandora.
Yang namanya orang tua, pasti mereka menginginkan anak-anaknya bahagia. Apalagi mengingat kisah hidupnya dengan sang anak yang terus berada dalam ikatan balas dendam Atlas. Semakin membuat Pandora takut jika Galaksi akan kembali bersikap seperti itu.
"Ada apa, Tan?" tanya Leo saat melihat raut wajah ibu dari Galaksi.
"Tante sangat berharap Galaksi gak bakal nyakitin hatinya Sia dan kedua anaknya, Nak. Tante benar-benar berharap Galaksi berubah," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Leo tertegun. Dia begitu kagum akan sikap dari ibu kandung Galaksi. Sikapnya yang lembut, tutur katanya yang baik membuatnya yakin jika Pandora asli tak seperti yang palsu.
"Aamiin. Leo doakan dari sini, Tan. Leo juga cuma bisa doain kebahagiaan mereka berdua."
"Aamiin."
Keduanya perlahan diterjang keheningan. Leo benar-benar memberikan waktu untuk Pandora menenangkan dirinya. Dia bisa menebak dan merasakan bagaimana seorang ibu yang dijauhkan oleh putranya sendiri. Kehidupan yang begitu rumit tapi bisa dilewati oleh mereka.
Hingga tak lama, sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Pandora membuat Leo terkejut setengah mati.
"Kamu sendiri kapan nikah?"
"Hah!" Leo terkejut. Matanya melotot dengan bibir terbuka menatap Pandora tak percaya.
Pria itu benar-benar langsung merasakan tubuhnya merinding. Kepalanya berputar dan dia membayangkan bagaimana jika ia menikah. Bagaimana repotnya menjadi ayah hingga segala kewajiban yang ada. Namun, di dasar hatinya yang terdalam juga, Leo kadang merasa iri dengan kehidupan para sahabatnya.
"Itu, Tante. Anu…." jedanya sambil garuk-garuk kepala.
"Anu apa?"
"Kalau besok gak ketiduran, jam 8 Leo berangkat ke KUA."
~Bersambung~
Yaudah besok Leo bangun jam 7 ya, Nak. Biar nikah hahaha.
Maaf kemarin bolong lagi. Entah kenapa bener-bener lagi fase gak bisa update banyak. Semoga kesehatanku semakin membaik, aamiin.
Jangan lupa jaga kesehatan ya kalian.
Besok part menikah, jangan lupa siapin baju, vote poin koin ya hehe.