The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Menggoda Mars




"Mama jangan tinggalin, Tania," ucapnya dengan memegang tangan wanita yang selalu ada untuknya. 


Saat ini, mereka ada di rumah sakit. Galaksi dan Galexia tentu langsung membawa Flora karena keadaannya benar-benar mengenaskan. Luka di fisik dan mentalnya, membuat Sia takut jika akan berdampak kedepannya. 


Semua yang dilakukan oleh ibu si kembar karena adanya sosok Tania. Anak kecil itu masih butuh ibunya. Entah apa yang akan terjadi, jika tadi ketiganya datang terlambat. Maka bisa jadi Flora hanya tinggal namanya saja.


"Mama pasti sembuh, Sayang. Mama Flo, 'kan, kuat." Hibur Sia dengan mengelus kepala Tania yang direbahkan di sisi ranjang.


Flora masih memejamkan matanya. Dia diberikan obat tidur agar bisa merilexkan pikiran. Terutama tubuhnya yang sakit dan lelah, membuat dokter yang menanganinya memberikan waktu istirahat yang cukup lama untuk wanita itu. 


"Makasih, Mama Sia," kata Tania yang menegakkan kepalanya. "Makasih udah selametin Mama aku." 


Mata Sia berkaca-kaca. Namun, kepalanya tetap mengangguk. Entah kenapa, Sia merasa sejak pertemuannya dengan Tania pertama kali, dia sudah menyayangi gadis kecil itu. 


Dari sikapnya Tania, sopan santunnya. Ditambah melihat putranya yang sepertinya tertarik pada Tania, semakin membuat Sia begitu bahagia.


"Sama-sama, Sayang. Tania banyak berdoa biar Mama cepet sembuh." 


"Pasti, Mama Sia. Aku selalu minta sama Tuhan, biar Mama selalu sehat dan panjang umur sampai aku bisa bahagiain Mama." 


****


Di kamar sebelah, lebih tepatnya ruangan milik Mars. Keadaan di sana sudah mulai tenang. Semua keluarga meninggalkan ruangan setelah Galaksi kembali dari urusannya.


"Bagaimana, Pa?" tanya Mars saat papanya baru saja mengantar nenek dan kakeknya keluar.


"Tante Flora ada di kamar sebelah," kata Galaksi lalu mengelus kepala putranya. "Kenapa wajah Mars begitu khawatir?" 


Mars membuang wajahnya. Dia pura-pura tak melihat papanya lagi. 


"Apa yang Abang pikirkan?" 


"Tidak ada, Pa," sahut Mars dengan cepat.


"Yakin?" 


Mars mengangguk hingga ide jahil muncul di kepala Galaksi dan membuat bibir pria itu tersenyum miring.


"Yaudah, kalau gak ada yang dibahas. Lebih baik Abang tidur," kata Galaksi dengan tersenyum. "Papa mau liat Mama dulu di ruangan sebelah."


Saat Galaksi hendak beranjak. Sebuah tangan mungil yang menahan lengannya membuat dia berbalik.


"Ada apa, Abang?" 


Ah dia benar-benar sepertiku. Pemalu dan gengsi. Tapi aku berharap semoga putraku tak mengikuti hidupku yang pernah menyia-nyiakan istri dan anakku, gumam Galaksi dalam hati.


"Tania baik-baik saja, 'kan, Pa?" 


Galaksi menjeda. Dia melirik ekspresi anaknya yang ternyata menunggu kelanjutan ucapannya. Ayah dari si kembar itu benar-benar merasa lucu melihat tingkah putranya ini. 


"Tapi apa, Pa?" tanya Mars tak sabaran.


"Tadi ada anak pria seumuran Abang, nyamperin Tania," kata Galaksi pura-pura mengingat. 


"Hah. Siapa?" 


"Nggak tau." 


Wajah Mars sedikit cemberut. Entah kenapa anak itu tak mau Tania memiliki teman laki-laki selain dirinya. 


Mungkin anak seumuran mereka bukan berpikir tentang cinta. Melainkan, Mars hanya takut jika Tania lebih nyaman berteman dengan orang lain daripada dirinya. 


Tanpa sepengetahuan Mars. Galaksi terkekeh tanpa suara. Melihat anaknya yang melamun dengan pandangan tak menentu tentu membuat Galaksi senang dengan kejahilan barunya itu.


"Ganteng anaknya, Pa?" 


"Banget."


"Sama Mars, gantengan siapa?" 


Kena kau, batin Galaksi sambil menahan tawanya. 


"Pastinya gantengan putra Papa," kata Galaksi dengan yakin.


"Tapi aku takut Tania bakalan lupa sama Mars gara-gara dia punya teman baru." 


"Abang takut kehilangan Tania?" tanya Galaksi dengan pelan. 


"Iya, Papa. Tania itu teman satu-satunya Abang selain adek." 


"Papa tahu," jawab Galaksi dengan senyuman. "Dan Papa tadi hanya bercanda."


Wajah Mars spontan bersinar terang. Bibirnya menyunggingkan senyum dan melihat ke arah papanya. 


"Iya, Nak. Tania tak bertemu siapapun. Papa hanya bercanda." 


~Bersambung


Abang Mars dah posesif aja yah, hahha.


Kalau ada typo komen yah. Aku mau lanjut ngetik lagi. Semoga bisa update TBTB lagi.


Jangan lupa klik like, komen dan vote.