
"Beneran kamu gak mau ikut?" tanya Galaksi saat dirinya menunggu sang istri memakaikan dasi di lehernya.
"Nggak, Sayang. Aku tunggu kamu disini, 'yah?"
Galaksi mengangguk. Lalu dia mencuri sebuah kecupan di bibir Sia hingga membuat gadis yang memakai pakaian dress rumahan itu menepuk lengan kokoh itu dengan pelan.
"Dasar pencuri."
"Pencuri ciuman manismu, Sayang." Sia hanya bisa tertawa ringan.
Kemudian tangannya meraih jas yang ia letakkan di atas ranjang lalu segera memakaikan ke tubuh kokoh sang suami. Sungguh selama satu minggu ini, Galaksi begitu manja. Bahkan dirinya sudah tak pernah memakai kemeja, jas dan dasinya sendiri. Semua Galaksi serahkan pada sang istri. Hingga kedekatan mereka membuat keduanya sedikit menghapus kecanggungan.
"Sudah beres," kata Sia sambil menatap penampilan sang suami. "Perfect."
Galaksi membusungkan dadanya. Dia merasa bangga karena sang istri memujinya dengan mata berbinar.
"Apa kamu baru sadar kalau suamimu itu begitu perfect dan tampan, Sayang?" tanya Galaksi sambil menaikkan salah satu alisnya.
Sia hanya terkekeh. Dia merasa mendapatkan hiburan ketika memiliki suami yang selera humornya tinggi. Namun, itu hanya khusus untuk dirinya. Kenapa bisa begitu? Karena Galaksi akan menjadi orang yang berbeda ketika bersama sahabat dan istrinya saja.
Setelah semuanya beres. Akhirnya Galaksi segera keluar dari kamar sambil menggenggam tangan sang istri. Keduanya turun ke lantai dasar hingga bertemu dengan sosok Pandora yang terlihat begitu mewah sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Apa Mama sudah siap?" tanya Galaksi saat mereka baru sampai di ruang tamu.
"Sudah sejak tadi," ketusnya sambil beranjak berdiri. "Kamu lama banget sih?"
"Galaksi masih mandi 'kan, Ma. Mangkanya lama," sahutnya dengan malas.
Pandora tak menjawab lagi. Dia langsung keluar dari rumah dan berjalan meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
"Aku berangkat ya, Sayang. Kamu hati-hati di rumah."
"Seharusnya Sia yang bilang gitu. Kamu hati-hati di jalan, 'yah? Ingat cepet pulang," bisik Sia diakhir kalimat.
"Pasti, Sayang. Tunggu aku pulang," ucap Galaksi lalu menghadiahi sebuah kecupan di kepala setelah sang istri mendaratkan bibir di punggung tangannya sebagai tanda bersalaman.
Akhirnya Sia melepaskan kepergian sang suami dengan lambaian tangan. Namun, entah kenapa hatinya sejak tadi merasa gelisah. Dirinya merasa kepergian sang suami semakin membuat pikirannya tak karuan.
Tak mau semakin berpikiran buruk. Akhirnya Sia kembali ke kamar. Dia ingin menyiapkan ranjang ini untuk malam pertama mereka. Mengubah nuansa kamar menjadi seperti di hotel hingga menimbulkan sensasi yang berbeda untuk mereguk kenikmatan keduanya.
****
Sedangkan di sebuah mobil, terlihat anak dan ibu itu tak saling berbicara. Keduanya hanya diam dalam kebisuan sambil menatap keindahan malam dari jendela mobil.
Seakan baik Galaksi ataupun Pandora sedang memikirkan sesuatu hingga keduanya memilih diam. Padahal, jika kita bisa membaca pikiran keduanya, maka kita akan melihat rencana yang sudah disusun oleh Pandora. Rencana yang harus dia kerjakan malam ini dan harus berakhir dengan sukses.
Terlalu fokus memikirkan rencananya, tanpa sadar mobil Galaksi mulai memasuki pelataran hotel yang akan menjadi tempat acara koleganya. Sebuah ruangan aula yang ada di dalam hotel, sudah disulap menjadi sebuah jamuan makan malam dan berpesta. Ruangan itu tentu terlihat begitu megah dan sempurna.
Hingga waktu yang terus berjalan naik, tak membuat semua orang ingin pulang. Bahkan para pengantar minuman, semakin berkeliaran kesana kemari memberikan gelas-gelas tersebut pada para tamunya.
Sampai saat seorang crew yang membawa nampan hendak berjalan memasuki aula. Pandora dengan kasar menarik tangannya hingga membuat wanita itu diam.
"Ada apa, Nyonya?" tanya pelayan tersebut sambil menatap Pandora yang berdiri dengan angkuh di depannya.
"Saya ingin kamu melakukan sesuatu," kata Pandora dengan menatap wanita itu tajam.
"Melakukan apa, Nyonya?" Tangan wanita itu gemetar.
"Berikan minuman ini untuk pria yang ada disana." Tunjuk Pandora pada sang anak yang asyik berbincang dengan para koleganya.
Pelayan itu mengangguk. Namun, sebelum dia melaksanakan pekerjaannya, Pandora menyelipkan uang di saku bajunya hingga membuat wanita itu tersenyum sumringah.
"Saya pastikan pria itu akan meminum ini, Nyonya," katanya saat melihat jumlah uang yang begitu banyak dan diletakkan di dalam saku bajunya.
"Bagus. Sekarang pergilah!"
Pandora hanya berdiri diam. Dia melipat kedua tangannya didepan dada sambil melihat bagaimana kinerja pelayan tadi. Hingga sebuah senyuman lebar muncul di bibir Mama Galaksi, ketika melihat anaknya mengambil gelas itu dan meminumnya hingga tandas.
Aku yakin rencanaku kali ini akan berhasil, gumamnya dalam hati dengan wajah yang begitu berbinar.
Malam terus beranjak naik. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Dengan langkah begitu angkuh, dia berjalan ke arah sang putra yang sudah duduk dengan kepala ia tumpu di atas meja.
"Galaksi!" panggilnya dan berusaha membangunkam putranya.
Namun, semua orang tak ada yang tahu jika dalam hati, Pandora begitu bahagia. Dia tak pernah merasakan jika rencananya akan semulus ini. Hingga membuat wanita paruh baya itu tak sabar membawa Galaksi pulang.
"Kamu kenapa, Nak?" tanyanya basa-basi.
Hingga pertanyaan ketiga kalinya, membuat teman-teman Galaksi menjawab.
"Galaksi terlalu banyak minum, Tante. Mangkanya dia teler malam ini," ucap salah satu temannya yang masih terlihat sadar.
Pandora pura-pura marah. Bahkan bibirnya mengomel agar sandiwara rencananya berhasil. Hingga dengan bantuan semua temannya, akhirnya Galaksi sudah berbaring di kursi belakang.
Pandora mengucapkan terima kasih. Lalu dia segera mengendarai kendaraannya tersebut sambil matanya sesekali menatap ke belakang agar tak terjadi sesuatu hal pada putranya.
Sudah aku katakan, Sia. Jika kamu tak meninggalkan anakku, maka akan kubuat Galaksi yang menendangmu dari hidupnya, batinnya dengan bibir yang tersenyum miring.
Tepat pukul sebelas malam, mobil yang Pandora kendarai mulai memasuki rumahnya yang besar. Dia segera menepuk kedua pipih Galaksi yang ternyata masih sadar dan bisa berjalan. Dengan sempoyongan, pria tampan itu berlalu masuk ke rumah. Walaupun butuh perjuangan, akhirnya Galaksi berhasil masuk ke dalam rumah dan membuka pintu kamar.
Sedangkan Pandora. Wanita itu hanya menatap kepergian anaknya dengan senyuman licik. Dirinya tersenyum misterius lalu memanggil satpam yang berjaga malam ini.
"Jika nanti saya memanggil, kamu harus cepat datang. Mengerti?"
"Mengerti, Nyonya."
"Bagus." Pandora segera berjalan dengan angkuh.
Dia meletakkan tas mewahnya di dalam kamar lalu segera menyusul sang putra. Senyumnya begitu lebar saat mendengar suara ******* dan erangan dari kamar menantu dan anaknya. Ternyata tebakannya berhasil hingga membuat Pandora menunggu rencana selanjutnya dijalankan.
Akhirnya, wanita yang masih mengenakan dress mewahnya segera kembali ke kamar. Dia ingin memberikan waktu untuk sepasang pengantin itu untuk saling mereguk nikmat yang terakhir kalinya. Karena setelah ini, Pandora berjanji akan membuat keduanya berpisah dan tak akan pernah saling menyentuh lagi.
"Nikmati malam terakhir kalian. Setelah itu, tak akan ada lagi kehangatan ranjang sampai rencanaku berhasil dengan sempurna."
~Bersambung~
Ini Masih Flashback yah. Je mau kabur gara-gara Pandora makin menggila haha.
Bakalan aku ungkap flashback sebenarnya biar nggak pada tanya lagi. Kayaknya kurang satu bab lagi, Hehe.
Jangan lupa di like dan komen biar diriku semangat ngetiknya. Kalau punya koin poin, bolehlah bagi buat si kembar sebagai tanda apresiasi.
Tembus 250 like, aku otw meluncur update lagi. Yok Gas yak! tekan likenya.