
"Jadi yang mengatakan semuanya tentang kami berdua adalah Mama tiri Inggrid?" tanya Sia menatap tak percaya.
Sungguh perempuan itu terkejut bukan main. Cerita dari sang calon suami, membuat kepalanya mulai berpikiran banyak hal. Ada apa dengan semua cerita ini. Kisah apa yang sebenarnya terjadi antara keluarganya, keluarga Galaksi dan Atlas.
Galexia mencoba mengingat kepingan tiap kepingan tentang masalah yang sudah dia hadapi. Mencoba menatanya satu persatu dan menarik benang merah di tengahnya. Namun, sekuat tenaga dia mencoba, dirinya tak menemukan alasan apapun.
"Lalu tujuan Tuan Atlas menculik dan menyekap ayah dan ibuku, lalu memisahkan kami berdua apa, Kak?" Tuntut Sia dengan wajah penuh harap.
Perempuan itu sungguh tak tahu apapun. Dirinya merasa menjadi wanita bodoh selama ini. Tak tahu jika orang tuanya masih hidup dan hidupnya dipermainkan oleh sosok pria yang merupakan saudara dari almarhum ayah mertuanya.
"Karena Ibu menolak cintanya, Nak."
Suara yang mengejutkan tentu membuat semua orang menatap ke arah suara. Disana, kedua orang tua Sia terlihat baru saja datang dengan Ayah Jericho menggendong tubuh cucu perempuannya. Sedangkan Mars, tubuhnya yang lebih besar dari Venus, dibopong oleh supir kepercayaan Galaksi.
"Ibu!" Sia beranjak berdiri.
Dia berjalan ke arah orang tuanya dan hendak mengambil tubuh sang putri.
"Biarkan, Nak. Lebih baik kamu tanyakan pada ibumu apa yang ingin kamu tahu." Setelah mengatakan itu, Jericho segera membawa tubuh cucunya ke kamar.
Sedangkan Rhea, dia menggandeng tubuh sang anak dan membawanya duduk di sofa yang tersedia.
"Apa kamu ingin tahu cerita tentang ibu, ayah dan Tuan Atlas?"
"Tentu saja, Bu. Sia dan Cress begitu ingin tahu," kata Sia sambil menatap Cressida yang sejak tadi diam.
Jujur sifat cerewet yang biasanya timbul seakan lenyap. Cressida masih merasa seperti mimpi akan kehadiran kedua orang tuanya. Kasih sayang yang selama ini tak ia dapatkan, akhirnya bisa dia rasakan selama satu minggu ini.
Berkumpul bersama orang tuanya tentu menjadi sebuah kebahagiaan yang tak terbatas. Dirinya mendapatkan perhatian yang dulu begitu diinginkan. Tak ada rasa takut dan bentakan lagi. Yang ada hanya kehangatan dan rasa kenyamanan dari kedua orang tuanya.
"Dulu, sebelum ayahmu melamar ibu. Tuan Atlas lebih dulu datang dan menyatakan cintanya pada Ibu."
"Apa!"
Semua orang terperangah. Mereka menatap tak percaya ke arah Rhea. Wanita paruh baya yang umurnya sudah hampir menginjak 50 tahun, masih terlihat begitu cantik.
Pipi tirus dan tubuh kurus saat pertama mereka bertemu, mulai sedikit berisi. Satu minggu ini tentu Galexia dan Cressida memberikan kedua orang tuanya gizi dan makanan yang cukup. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit tubuhnya mulai mengembang.
"Tapi saat itu, Ibu menolak cinta Tuan Atlas," kata Rhea dengan mata menatap ke depan.
Seakan dirinya mencoba mengingat kenangan yang dulu pernah terjadi kepadanya.
"Kenapa, Bu?" Tanya Cressida dengan cepat.
"Karena saat itu Ibu tahu bagaimana sikap dan perilaku Tuan Atlas di luar sana. Dia adalah pria pemabuk, suka bermain wanita dan peminum," kata Rhea dengan pikiran membayangkan bagaimana dulu wajah Atlas datang menghampirinya. "Jika kalian jadi Ibu, apa kalian akan menerima pria seperti itu menjadi seorang imam?"
Spontan Galexia dan Cressida menggeleng. Dua wanita itu tentu tak mau mempunyai suami yang memiliki sikap buruk. Apalagi suka main wanita, uhh sangat jauh sekali dari kriteria pria idaman.
"Lalu bagaimana caranya Ibu bertemu dengan Ayah?" Kata Sia penasaran.
Rhea menoleh. Dia menatap kedua wajah putrinya bergantian dan tersenyum.
"Ibu dijodohkan dengan ayahmu oleh orang tua Ibu. Mereka berdua takut jika Atlas bersikap lebih berani. Maka dari itu, Kakek dan Nenek kalian begitu kekeh menjodohkan Ibu dengan Ayah Jericho," ucap Rhea begitu jelas.
"Berarti Ayah dulu baik ya, Bu?" Tanya Galexia dengan polos.
"Nenek sama Kakek aja sampai mau sama Ayah," celetuk Cressida dengan spontan.
Rhea terkekeh. Dia tak menyangka dua anaknya menanyakan hal itu. Namun, jujur perempuan yang hampir setengah umurnya disekap oleh Atlas begitu bahagia. Akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya bercerita dengan kedua anak-anaknya.
"Tentu saja. Ayah dulu begitu baik. Buktinya Ibu kalian pilih Ayah, 'kan?" Goda Jericho dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"Ayah," bisik Rhea dengan wajah memerah.
"Ah Ibu gak usah malu. Sia sama Cressida mulai paham dengan tingkah Ayah selama satu minggu ini," ujar Sia dengan menatap ke arah ayahnya.
Perkataan Sia tentu mengundang tawa semua orang. Namun, jujur apa yang dikatakan oleh ibu dari si kembar tersebut adalah sebuah kebenaran. Sikap Jericho begitu terlihat jika dia adalah pria bucin. Dia selalu memperhatikan dan selalu menemani Rhea dimanapun dia berada.
Bahkan kedekatan keduanya dan tak malu mengumbar keromantisan di depan kedua anaknya membuat Sia dan Cressida juga merasa senang. Dalam hati mereka tentu mereka bersyukur dan berharap jika cinta mereka pada pasangan akan sekuat Ayah Jericho dan Ibu Rhea.
"Jadi, Atlas dengan sengaja menculik kalian untuk balas dendam?" Tanya Mama Pandora yang sejak tadi diam.
"Ya. Tuan Atlas sudah merencanakan semuanya dan mengatakan jika saya tak bisa bahagia bila tak dengannya, Besan," kata Rhea dengan menatap pada ibu dari Galaksi.
"Jujur saya begitu terkejut dengan semua ini. Seakan saya tak menyadari jika sebenarnya dalang dari semua ini adalah saudara kembar almarhum suami saya sendiri," kata Pandora penuh penyesalan.
Jujur wanita paruh baya dengan paras yang masih begitu cantik merasa bersalah. Entah kenapa seakan keburukan yang terjadi pada ibu dari kedua cucunya juga karena dirinya.
"Sekali lagi atas nama almarhum suami, saya meminta maaf."
Rhea beranjak berdiri. Lalu dia mengambil duduk tepat di samping wanita yang dia tahu merupakan mertua dari putri pertamanya itu.
"Lebih baik kita lupakan semua yang sudah terjadi. Saya sudah mengiklaskan dan memaafkan apa yang terjadi pada keluarga kami," kata Rhea dengan tulus.
Mata Pandora berkaca-kaca. Kepalanya mengangguk dengan bibir yang tak tahu harus berkata apa-apa lagi. Hingga hal mengejutkan terjadi. Rhea dengan segala kelembutannya memeluk tubuh Pandora dengan pelan.
Melihat adegan itu tentu membuat Galexia begitu bahagia. Dia merasa senang saat kedua orang tuanya bisa akrab dengan orang tua Galaksi. Padahal mereka berkenalan dalam kurun waktu satu minggu. Waktu yang singkat memang, tapi jika sudah nyaman, maka tak ada yang tak mungkin.
"Sebenarnya ada yang ingin ayah katakan pada kalian," kata Jericho tiba-tiba pada kedua anaknya.
Ucapan itu tentu membuat pelukan dua wanita paruh baya tersebut terlepas. Mereka menghapus air mata yang tadi sempat menetes dan beralih menatap wajah ayah dari Galexia.
"Ada apa, Ayah?"
"Ayah dan Ibu tak mungkin selamanya tinggal disini, Nak," jeda Jericho dengan tersenyum. "Besok kami akan pindah."
"Apa!" Galexia terbelalak.
Dia menggelengkan kepalanya dan mendekati posisi ayahnya itu. "Ayah mau tinggal dimana?"
"Di rumah kita, Nak. Rumah masa kecil kalian."
Galexia dan Cressida mematung. Kedua wanita itu menatap wajah Rhea dan Jericho bergantian. Seakan keduanya begitu tersentak kaget dengan perkataan ayah mereka.
"Maksud, Ayah…."
"Iya, Nak. Ayah dan Ibu memiliki rumah di Jakarta. Hari ini kepercayaan Papa Galaksi masih membantu untuk mengurus apa yang seharusnya menjadi milik kita dari tangan kotor Tuan Atlas."
~Bersambung~
Nah akhirnya tau, 'kan, kenapa Atlas culik orang tua Sia dan memisahkan anak-anaknya.
Kira-kira yang diurus Om Orion apa hayoo?
Maaf ya aku baru update. Aku baru ada di rumah. Hari ini satu bab dulu. Maaf banget, mataku udah gak kuat nih.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar besok aku semangat ngetiknya.