The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Insiden Tak Terduga




Tak terasa waktu terus berputar dengan cepat. Kehamilan Galexia mulai memasuki trimester terakhir. Masa-masa yang paling ditunggu oleh para calon orang tua karena antusiasnya menyambut kehadiran sang calon buah hati.


Tak ada lagi rasa mual, muntah yang dirasakan oleh Sia seperti awal kehamilan. Saat ini, wanita berbadan dua itu begitu lahap dalam urusan makanan. Dia tak menampik apapun. Ketika lapar melanda dan ada makanan maka dia akan memakannya tanpa malu-malu. 


Begitupun dengan Cressida. Adik kandung Galexia itu sudah sangat memahami tugasnya sebagai istri. Meski sampai saat ini dia belum dikaruniai seorang anak. Namun, Cressida dan Riksa tetap bersabar.


Semua kebahagiaan para manusia itu tak sama. Ada takaran dan jalannya. Tak semuanya mereka harus disamakan karena takdir ada di tangan Tuhan. 


Maka dari itu Riksa tak pernah memaksa istrinya memberikan dirinya seorang anak. Dirinya tahu bahwa istrinya tak memakai apapun. Keduanya sama-sama menikmati indahnya masa pengantin baru. 


Jalan berdua, berkencan dan menghabiskan waktu mereka sebelum datangnya si krucil di antara hidup Cressida dan Riksa. 


"Kalian sudah siap?" tanya Ibu Rhea saat memasuki rumah putri pertamanya. 


Ya hari ini, ibu dua anak itu berniat mengajak dua putrinya berbelanja tanpa suami mereka. Galaksi dan Riksa sedang ada pekerjaan di luar. Jadi, Ibu Rhea mengajak besannya, Pandora. Lalu supir dan pelayan untuk ikut ke mall.


Entah kenapa Ibu Rhea merasa takut terjadi sesuatu pada anaknya. Mengingat Galexia sudah tinggal menunggu waktunya membuatnya harus ekstra hati-hati. 


"Sudah, Bu," sahut Cressida dan Galexia bersama.


"Mars sama Venus? Kemana?" tanya Ibu Rhea menatap sekeliling.


Dia tak mendengar ocehan dua cucunya. Biasanya ketika mereka tahu akan berbelanja kebutuhan adiknya. Mereka akan bersemangat. 


"Mars sama Venus diajak Tania dan Flo, Bu," sahut Sia pada ibunya. 


"Apa kita harus menjemputnya?" tanya Ibu Rhea yang seakan tak rela jika dua cucunya tak ikut.


"Jangan, Bu. Mereka lagi belajar bersama."


Ibu Rhea hanya bisa mengangguk. Dia juga paham jika pasti putrinya tak mau Mars dan Venus kelelahan. 


"Ya sudah. Ayo kita berangkat!" 


Akhirnya mereka mulai memasuki mobil. Dua buah mobil disiapkan untuk mengantar mereka berbelanja. Ketidakhadiran Galaksi dan Riksa tak menghambat keposesifan keduanya.


Sejak tadi, Galexia menatap layar ponsel yang berisi chat suaminya itu. Galaksi tak berhenti mengoceh melalui pesan singkat.


Dari yang mengirimkan kata hati-hati, jangan lupa terus kabari aku, jangan matikan paket datanya dan masih banyak lagi.


Kepala bumil itu hanya bisa menggeleng. Kebucinan suaminya semakin terlihat kentara sekarang.


"Kenapa, Nak?" tanya Mama Pandora yang duduk di samping cucunya.


Galexia menahan tawanya. Dia benar-benar merasa lucu dengan tingkah suaminya itu. 


"Kita masih baru berangkat. Kak Galak udah cerewet, Ma," kata Sia lalu menunjukkan ponselnya.


Mama Pandora tertawa. Dia tak menyangka jika sikap anaknya ketika menantunya hamil sangat amat posesif. Ibu satu anak itu juga merasa bersyukur. Berkat takdir Tuhan dia masih diberikan karunia terbaik dari Allah. 


"Biarkan saja. Jangan dihubungi! Kita kerjain Galaksi," kata Mama Pandora pada Galexia.


"Tapi, Ma. Sia takut kalau…" 


"Semuanya akan baik- baik saja. Serahkan sama Mama." 


...🌴🌴🌴...


Percayalah belanja pakaian bayi adalah sesuatu yang paling menyenangkan. Melihat pakaian serta aksesoris lucu, mungil dan desain yang menggemaskan. Hal itu tentu membuat empat orang perempuan yang saat ini ada di toko perlengkapan bayi itu sangat antusias memilih. 


Dua orang calon nenek dari calon cucu ketiga tak kalah antusias. Mungkin karena kelahiran Mars dan Venus yang dulu tanpa mereka. Membuat keduanya begitu bahagia dengan momen adanya calon cucu ketiganya ini. 


"Bagaimana kalau ini?" tanya Mama Pandora menunjukkan sebuah stroller dengan merk brand terkenal. 


Mata Galexia membulat penuh. Dia sangat mengenal harga dari merk tersebut.


"Beli yang lain aja, Ma," kata Galexia dengan pelan.


Bagaimanapun bumil satu ini masih menolak dengan sopan. Dia tak mau penolakannya menyakiti hati mertuanya itu.


"Kenapa, Sayang? Ini bahannya bagus loh," kata Mama Pandora menatap stroller di tangannya itu.


Galexia mendekat. Dia menampilkan senyumannya pada mertuanya. 


"Beli yang biasa aja, Ma. Bukankah nanti juga stroller ini dipakai bukan untuk selamanya?" kata Galexia pada Pandora. "Daripada uangnya mubazir, mending beli yang lebih efisien dan bisa digunakan." 


Mama Pandora tersenyum. Pemikiran menantunya ini begitu menakjubkan. Tak salah dia memiliki menantu seperti Galexia.


Bukan menunjukkan kekayaan akan brand. Namun, dia membeli untuk suatu hal karena kegunaannya. Bukankah semua stroller sama pemakaiannya?


"Mama gak salah punya menantu kayak kamu, Sayang. Tapi…" jeda Mama Pandora memegang tangan menantunya. "Stroller ini Mama beli dari uang Mama sendiri dan khusus untuk cucu Mama. Anggap ini adalah hadiah dari Mama." 


Akhirnya Galexia tak dapat menolak. Dia mengangguk lalu segera mencari perlengkapan yang lain. 


Ibu Rhea juga tak kalah antusias. Ibu dari dua orang anak perempuan itu memilih pakaian yang berwarna netral. Ya, maklum saja. Jenis kelamin anak ketiga Galaksi dan Galexia memang dirahasiakan. 


Keduanya akan menerima apa saja yang Allah berikan karena Galaksi selalu mengatakan bahwa ia tak banyak menuntut. Mau perempuan maupun pria sama saja untuknya.


"Baju ini bagus, Nak," kata Mama Rhea menunjukkan tumpukan baju yang sudah dipilihnya. "Warnanya juga netral. Biru dan putih." 


"Tapi, Bu. Ini terlalu banyak untuk bayi newborn," kata Galexia geleng-geleng kepala.


"Ini dikit kok. Ya, 'kan, Mbak?" tanya Ibu Rhea pada besannya.


Mama Pandora mengangguk. "Bahkan ini masih kurang." 


Mata Galexia membulat. Apa kata mereka, kurang?


Tumpukan baju yang bisa dihitung lebih dari sepuluh itu menurutnya terlalu banyak. Bayi newborn cepat besar dan pasti bakalan cepat masa kembangnya. 


Namun, sepertinya keantusiasan calon dua nenek itu membuat Galexia tak bisa menggagalkan kebahagiaan mereka. Akhirnya Sia hanya bisa mengangguk pasrah dan membuat Cressida tertawa. 


"Tenanglah, Kak. Mereka sedang bahagia dengan detik-detik kelahiran calon ponakanku ini," bisik Cressida sambil menahan tawanya.


Galexia memukul lengan adiknya pelan. Cressida sudah ketularan bengeknya Riksa. Anak itu pandai membuat orang tertawa dan sebal. 


"Daripada uangnya dibuat beli barang mahal mending ditabung, Dek." 


"Lah. Suami Kakak kaya. Uang buat anaknya pasti dia rela keluar berapapun," kata Cressida dengan pelan. 


"Kakak tahu tapi sebagai istri. Kita juga harus belajar berhemat. Jangan membeli karena penampilan tapi karena kegunaannya. Kita beli barang mewah untuk apa? Pamer?" tanya Galexia mulai mengeluarkan jurus andalan. "Penampilan kita itu untuk kenyamanan kita, Dek. Mau mahal atau murah sama saja. Karena kegunaannya pun sama." 


Cressida mengangguk. Dia benar-benar belajar banyak dari kakaknya ini. Belajar menjadi istri yang baik, sabar, pandai mengatur uang. Semuanya dia cari tahu ilmunya dari ibu dan kakaknya sendiri. 


Dia ingin kehidupan rumah tangganya dengan Riksa baik-baik saja. Menjadi istri yang menyenangkan hati suaminya itulah tujuannya. 


Tiba-tiba, tanpa diduga. Galexia mencengkram tangan Cressida kuat yang membuat istri Riksa itu panik. 


"Kenapa, Kak?" tanya Cressida pada kakaknya.


Galexia tak menjawab. Namun, dia merasa sakit pada perutnya dan ada desakan di inti tubuhnya. Hingga pekikan yang lumayan keras dari bibir Cressida membuat semua orang menatap ke arah Sia.


"Darah!" 


~Bersambung


Akhirnya bisa update. Detik-detik update yah. Percayalah jangan minta bonus bab dulu buat TBTB ya gengs. Aku mau nabung bab buat novel Bang Jim yang bakalan daily mulai 1 april.


Selamat membaca dan jangan lupa klik, like, komen dan vote yah.