The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Dua Minggu Lagi




Keduanya mulai terbuai dengan ciuman yang begitu memabukkan. Bahkan keduanya sudah lupa jika ada di ruangan yang terbuka. Mereka saling menyesap dan menyalurkan rasa cinta di hati keduanya sampai tak menyadari ada sepasang langkah kaki menuju ke arah mereka dengan cepat.


"Om Liksa ngapain?" teriak Venus dengan berkacak pinggang.


Dua manusia yang saling memagut spontan menjauh. Wajah keduanya bersemu merah ketika menyadari apa yang mereka lakukan. Apalagi sampai dipergoki oleh sosok anak kecil tentu membuat keduanya malu bukan main.


"Om Liksa ngapain, ih? Peluk-peluk Tante Clessi begitu," sungut Venus kesal saat tak ada yang menjawab pertanyaannya.


Setidaknya Riksa merasa lega karena posisi mereka membelakangi Venus yang sudah pasti tak melihat kelakuan mereka.


"Yaudah kalau gak jawab, Venus bilangin Kakek, nih!" ancamnya sambil berbalik.


Mendengar nama Kakek disebut, tentu membuat keduanya kelabakan. Mereka sama-sama takut jika Venus sampai membocorkan apa yang dia lihat dan bisa menjadi malapetaka. Dengan spontan, Riksa berjalan ke arah Venus yang sudah melangkah. Menangkap tubuhnya dan menutup mulut kecil itu dengan erat.


"Jangan berisik! Om gak ngapa-ngapain Tante Cressida tadi," ujar Riksa setengah berbisik.


"Emmm...emmm." Venus menggelengkan kepalanya.


Dia berusaha untuk melepas tangan Riksa yang ada di mulutnya. Kedua kakinya tentu saja bergerak menendang. Dia meronta meminta diturunkan dari gendongan Riksa. Namun, pria yang takut tingkah mesumnya diketahui oleh calon mertuanya tentu tak mengizinkan Venus kabur.


Sampai saat Riksa dan Cressida terlalu fokus untuk menenangkan Venus. Sebuah pukulan keras di pantatnya membuat Riksa melepaskan bekapan tangannya dan menurunkan Venus.


"Kalian apakan putriku?" tanya Galaksi dengan wajah marah sambil menarik tangan anaknya yang terlihat kesal.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Sia mensejajarkan tubuhnya dan merapikan rambut Venus yang berantakan.


"Mulut Venus sakit, Ma. Om Liksa tutup mulutnya kenceng banget," adu Venus dengan menunjuk bibirnya.


"Ehhh." Riksa terbelalak. Dia menggelengkan kepalanya menatap ke arah Galaksi dan Sia bergantian. "Aku…aku…." 


Kenapa semuanya jadi seperti ini. Tentu hal itu akan terlihat memalukan jika Riksa mengaku dirinya habis kepergok berciuman oleh Venus. Dirinya yakin akan menjadi bahan ledekan dua orang manusia di depannya ini. 


"Riksa!" seru Galaksi dengan tak sabaran.


"Tadi Venus liat Om sama Tante peluk-pelukan, Ma," celetuk Venus yang mengejutkan semua orang. 


"Apa!" Galaksi dan Galexia membelalakkan matanya. 


Mereka menatap ke arah tersangka yang sedang menundukkan kepalanya. Keduanya saling tatap seakan menyalurkan apa yang ada dalam pikiran mereka. Perkataan Venus tentu dapat dicerna baik oleh Galaksi dan Galexia. Apalagi melihat tingkah Cressida dan Riksa yang seperti ini, semakin memperkuat dugaan mereka. 


Akhirnya Galaksi mengalah. Dirinya tak tahu harus mengatakan apa-apa lagi jika menyangkut hal ini.


"Ayo, Sayang. Lebih baik Venus ikut Papa berkeliling rumah. Bagaimana?" 


"Yeay, asik. Come on, Papa!" Venus meraih tangan Papanya lalu keduanya segera pergi meninggalkan tiga orang yang masih setia berdiri disana.


Setelah suara ocehan Venus tak terdengar. Cressida memberanikan diri mendongakkan kepalanya. Sungguh dirinya merasa malu pada sang kakak. Dia yakin jika kakak perempuannya itu tahu apa yang dimaksud oleh putri kecilnya itu.


Situasi ini tentu berbanding terbalik dengan Galexia. Perempuan itu mati-matian menahan tawa saat melihat keduanya diam tak berkutik. Bahkan Riksa dan Cressida seperti tersangka yang ketahuan mencuri di hadapannya.


Dirinya memilih untuk menetralkan suaranya. Lalu dia mulai membalikkan badannya untuk menyusul calon suami dan putrinya. Namun, sebelum dirinya melangkah, Sia melirik ke belakang dan menatap wajah adiknya yang mulai mendongak.


"Lain kali jangan lakukan di ruangan terbuka. Untung saja bukan Ayah dan Ibu yang datang. Kalau sampai mereka, habis riwayat kalian," ucapnya dengan jahil lalu segera melanjutkan langkahnya.


Mendengar jawaban ibu dari dua anak itu, tentu membuat pipi Cressida semakin bersemu merah. Dia begitu malu akan apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan ketahuan oleh kakaknya sendiri. Hingga saat dia melirik ke arah Riksa, pria itu ternyata sama-sama sedang meliriknya. 


Sungguh bukannya Cressida marah. Melainkan dirinya kesal pada Riksa karena tak bisa melihat kondisi keduanya yang ada di luar. Dirinya tentu tak tahu harus meletakkan mukanya dimana, jika nanti berhadapan dengan Galexia dan Galaksi. 


"Cress, maafin aku," rengek Riksa sambil mengejar wanitanya.


Pria itu tentu menyadari apa yang dirasakan oleh Cressida. Maka dari itu dirinya memilih mengikuti dan meminta maaf karena keteledorannya. Toh namanya sedang terbawa suasana, yang membuat pria itu lupa jika keduanya ada di ruangan terbuka. 


Saat Riksa hampir menarik tangan Cressida. Suara pria yang memanggil namanya, membuat dia terpaksa menghentikan langkahnya. Dirinya menoleh dan mendapati calon mertuanya berjalan ke arahnya.


"Ya, Ayah?" 


"Diamlah disini sampai makan malam. Ada yang ingin Ayah katakan padamu dan Galaksi." 


****


Seperti yang dikatakan oleh Jericho. Usai makan malam berakhir, semua orang mulai berkumpul di ruang tamu. Mama Pandora, Mama Alya, Riksa, Galaksi, Orion, Galexia, Cressida, Rhea dan Jericho semuanya duduk tenang di sofa ruang tamu. Sedangkan si kembar, asyik bermain di kamar mereka masing-masing dengan penjagaan pelayan yang diminta Jericho untuk menjaga kedua cucunya.


Malam ini pria yang memiliki dua putri itu ingin membahas suatu hal penting dan itu tentu menyangkut kedua putrinya. Jericho berdehem, dia menatap ke arah sang istri yang juga sedang menatapnya.


"Ada apa, Ayah?" tanya Sia saat melihat wajah kedua orang tuanya yang terlihat ragu.


"Ayah dan Ibu ingin salah satu dari kalian segera menikah," kata Jericho pelan sambil menatap kedua anaknya.


"Tapi kenapa, Yah?" tanya Sia begitu penasaran.


"Ayah ingin suami kalian meneruskan aset penting keluarga kita, Nak," jeda Jericho sambil menatap Galaksi dan Riksa bergantian. "Berkat bantuan Orion, semua aset kita bisa kembali di tangan Ayah hari ini." 


"Alhamdulillah." Semua orang mengucap syukur. Mereka tak menyangka jika Orion benar-benar bisa mengembalikan semuanya.


Ya keluarga Galexia dan Cressida bukan keluarga biasa. Melainkan keduanya adalah anak dari pasangan Jericho dan Rhea yang memiliki banyak hotel dan villa yang tersebar di Indonesia. Mereka berdua adalah pasangan tajir melintir yang hartanya jika dihabiskan tujuh turunan tak akan habis.


Kenyataan itu tentu membuat Sia dan Cressida menatap tak percaya. Mereka bahkan hanya bisa diam saat Ayahnya menceritakan tentang pekerjaan dan semua aset yang dimiliki keluarganya.


"Jadi Ayah berharap kalian benar-benar ada yang menikah dalam waktu dekat," putus Jericho dengan penuh harap.


"Galaksi siap, Ayah. Dua minggu lagi pernikahan bisa Galaksi siapkan." sahutnya tegas dengan tatapan mata begitu yakin. "Semua keputusan hanya ada di tangan Galexia. Jika dia mau, maka Galaksi akan menyiapkan semuanya." 


"Bagaimana, Nak?" 


Semua orang menatap ke arah Sia. Hal itu tentu membuatnya begitu gugup. Namun, pikirannya tentu hanya tertuju pada jawaban dari Galaksi. Wanita itu tentu tak mau bersikap egois. Dirinya tak mau membuat masalah lagi ketika jalan di depannya begitu mulus.


"Galexia mau, Ayah. Dua minggu lagi Sia akan menikah dengan Galaksi." 


~Bersambung~


Jangan lupa siapin baju, bunga dan koin yah buat kondangan haha.


Maaf ya baru update, kumohon jangan kecewa sama aku. Aku belum bisa update kayak biasanya karena masih ada kerjaan offline dan sambil jaga anakku.


Semoga aku bisa segera update rutin lagi. Aamiin.


Kalian mau gak, part dimana Atlas ditembak mati dimasukkam di bab? kalau mau komen yah.


Jangan lupa like, komen dan votenya yah.