The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Dicampakkan!*




Setelah melalui malam yang panjang. Akhirnya Sia dan Galaksi saling terlelap dengan rasa lelah yang begitu mendalam. Bahkan keduanya tak menyadari jika ada seorang perempuan masuk ke dalam kamar mereka dengan senyum penuh kemenangan. 


Wajahnya begitu diliputi rasa kebahagiaan. Bahkan saat dia menyadari jika putranya tak hanya sekali menyentuh Sia, melainkan berulang kali, Pandora yakin jika rencananya kali ini akan berhasil.


Tugasnya hari ini hanya tinggal dua langkah lagi. Dirinya mendekati sisi ranjang Galaksi lalu dengan pelan mulai memasangkan kemeja dan celananya kembali seperti semula. Semua Pandora lakukan dengan cepat dan pelan tanpa membuat dua manusia itu terbangun.


Sepertinya kegiatan yang berlangsung lama, membuat keduanya tak bisa bangun karena kelelahan. Hingga setelah tugasnya selesai, Pandora segera memanggil dua satpam yang menjaga pagar rumahnya dan menyuruh mereka mengangkat Galaksi ke kamar tamu. 


Dengan begitu susah payah, kedua orang itu berhasil mengangkat tuan mereka dan membawanya pergi. Sedangkan Pandora, wanita tersebut menatap remeh ke arah wanita yang masih tak mengenakan pakaian apapun. Bahkan bibirnya menyunggingkan senyum sinis saat menyadari jika harga diri Sia begitu rendahan.


"Kita lihat saja nanti. Apakah Galaksi yang akan menendangmu atau kamu yang akan menyerah dan memilih pergi." 


Setelah selesai merapikan kamar yang terlihat begitu berantakan. Akhirnya Pandora mulai beranjak pergi. Dia menutup pintu itu begitu perlahan agar tak menimbulkan suara yang membangunkan Sia.


Hingga akhirnya pagi itu menjelang, seorang pria dengan pakaian lengkap mulai merenggangkan tangannya. Dia berulang kali menguap sambil menatap sekitarnya.


"Kamar tamu?" gumamnya dengan kepala yang masih terasa sakit. Matanya menelisik penampilannya hingga dia baru menyadari jika bajunya masih tetap sama dengan yang semalam.


"Semalam aku minum minuman beralkohol dan membuatku tiba-tiba berada disini dan tak mengingat apapun." Galaksi hanya bisa menghela nafas berat.


Sungguh dia tak menyangka jika semalam bisa meminum minuman laknat. Seumur hidupnya, Galaksi tak pernah menyentuh cairan seperti itu. Namun, semalam untuk sekali dalam hidupnya, dia baru menyentuh dan membuatnya tak mengingat apapun kejadian yang terjadi.


Perlahan dia mulai menurunkan kakinya dan berjalan menuju pintu. Namun, saat Galaksi hendak membukanya, ternyata pintu itu terbuka terlebih dahulu dan muncullah wajah sang Mama disana. 


"Ada apa, Ma?" tanya Galaksi saat melihat raut wajah mamanya yang begitu kacau.


"Kabar buruk, Nak. Kabar buruk," ujarnya dengan mata menangis. 


"Apa, Ma?" 


"Perusahaan Entertainment yang ada di New York hampir bangkrut. Kita harus kesana sekarang juga tanpa menunda apapun," kata Pandora dengan wajah sekhawatir mungkin.


"Mama tunggu disini. Galaksi mau mandi dan pamit sama Sia dulu," ujarnya dengan kaki yang ingin melangkah.


Namun, dengan cepat Pandora menahan tangannya hingga membuat Galaksi menatap Mamanya dengan heran. 


"Jika kamu mandi, maka waktu akan semakin terbuang. Lebih baik kamu mandi dan membersihkan diri di pesawat!" seru Pandora dengan suara yang tertahan.


"Tapi, Ma. Barang-barangku?" tanya Galaksi yang mencari celah untuk menemui istrinya.


"Mama sudah memasukkan semua di koper. Tiket juga sudah Mama atur. Jadi kita langsung saja berangkat." Akhirnya, Galaksi hanya bisa menghela nafas berat.


Melupakan rasa lelah pada dirinya sendiri. Galaksi akhirnya mulai menarik koper miliknya. Namun, selain itu, pikiran Galaksi terus tertuju pada Sia. Apalagi mengingat semalam dia yang tertidur di ruang tamu, membuatnya yakin jika sang istri pasti menunggunya pulang. 


Aku akan menghubunginya lewat telepon jika sudah sampai, atau aku meminta tolong pada Star nanti, batin Galaksi dengan segala keresahan.


Akhirnya dengan keberatan hati, Galaksi pergi tanpa pamit secara langsung pada Sia. Melainkan pria itu menitipkan salam pada sang satpam untuk diberikan pada sang istri. Tanpa Galaksi sadari, jika semua salam yang ia titipkan tak akan pernah sampai karena ancaman dari Pandora lah yang membuat pelayan dan satpam di sana takut dan hanya bisa menutup mulut mereka demi kebaikan bersama.


****


Matahari terus beranjak naik. Seorang perempuan masih terlihat begitu nyaman dengan selimut yang menutupi tubuhnya yang telanjang  Matanya mulai mengerjap saat merasakan sinar matahari masuk dan mengganggu matanya. Bibirnya menguap dengan tangan direntangkan untuk meluruskan tulang-tulang yang rasanya patah.


Perlahan ingatannya kembali tanpa diminta akan kejadian semalam. Bibir Sia tersenyum dengan mata yang mulai terbuka. Namun, seketika Sia tersadar. Keadaan terasa sunyi dan ranjang di sampingnya kosong.


"Kemana Galaksi?" gumamnya dengan pelan.


Matanya mengedar dan mencari sosok yang dicari. Namun, dirinya makin tercengang saat menyadari jika kekacauan semalam sudah tak ada.


Galexia mulai beranjak duduk. Dia menahan sakit di inti tubuhnya yang baru terasa menyakitkan. Matanya mengedar hingga membulat penuh ketika jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.


"Ya Tuhan sudah siang. Mungkin Galaksi sudah ke kantor." Tanpa menunda apapun, Sia segera berjalan menuju kamar mandi dengan bersusah payah.


Dia juga segera membersihkan dirinya dengan air hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa patah karena kegiatan semalam. Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam, akhirnya Sia mulai turun ke bawa. 


"Kemana semua orang?" gumamnya sambil meneliti lantai bawah.


Hingga saat Sia sampai di meja makan. Dirinya semakin dibuat bingung. 


"Kemana Mama, Bu?" tanya Sia ketika melihat salah satu pelayan mendekat ke arahnya. 


"Saya tidak tahu, Nyonya." Galexia mengangguk.


Dia merasa begitu lapar hingga matanya menangkap pemandangan makanan yang begitu menggiurkan, membuat perutnya semakin keroncongan. Akhirnya Sia memilih mengisi tenaganya terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan semua orang.


Suasana yang sepi tentu membuat Sia merasa tak bersemangat untuk mengunyah. Namun, mengingat perutnya yang tak bisa diajak berkompromi, membuat Sia memaksa mulutnya terbuka dan menerima suapan demi suapan dari tangannya. 


Tak butuh waktu lama, akhirnya makanan itu sudah berpindah ke dalam perut. Sia mengelus perutnya dengan tersenyum, pikirannya mengingat kejadian semalam hingga membuatnya memiliki sebuah harapan semoga ada nyawa kecil mulai hidup di dalam perutnya.


Semoga kamu segera datang di antara Mama dan Papa, Sayang," gumamnya dengan bibir yang tak henti menebar senyum.


Saat bersamaan, seorang perempuan paruh baya yang terkenal sebagai kepala pelayan di rumah Galaksi mendekat. Galexia tersenyum karena hanya wanita di depannya ini lah yang bersikap baik kepadanya selama dia datang di rumah ini.


"Ada apa, Bu?" tanya Sia saat menatap wanita yang sudah dia anggap seperti neneknya sendiri.


"Tadi pagi Tuan Galaksi dan Nyonya pergi membawa koper, Nona. Mereka terlihat terburu-buru, bahkan Tuan belum mengganti pakaiannya," ucapnya dengan pelan dan memilih jujur pada wanita yang menjadi istri majikannya.


Galexia mengerutkan keningnya. Dirinya semakin dibuat bingung dengan pernyataan yang barusan dia dengar.


"Tuan menggunakan kemeja yang semalam, Bu?" tanya Sia dengan pelan.


"Iya, Nona. Tuan juga baru bangun tidur."


"Bagaimana Ibu bisa tahu?" tanya Sia bingung.


"Bukankah Tuan tidur di kamar tamu semalam?" 


"Apa!" Sia terbelalak. Dia begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.


Bagaimana bisa suaminya tidur di ruang tamu?


Bahkan Sia mengingat jika dirinya tidur di pelukan suaminya semalam.


Apa maksud semua ini? Batin Sia menjerit dengan segala spekulasi di otaknya.


Hingga lamunan Sia buyar bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi. Segera dia meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja makan dan membuka pesan singkat yang ternyata dikirim oleh asisten suaminya.


Star :


Tuan Galaksi sedang melakukan perjalanan bisnis, Nona. Ada pekerjaan mendadak hingga beliau tak sempat mengabari, Anda. 


"Kamu meninggalkanku tanpa kabar, Sayang. Aku dicampakkan setelah kita menghabiskan malam panas semalam." 


~Bersambung~


Akhirnya bab flashback selesai. Semoga setelah ini pada paham kalau Abang Galaksi juga korban, hiks. Kasihan dia dihujad mulu, apalagi sama Authornya, haha.


Kalian luar binasa eh biasa maksudnya. 250 like ditroboss uhuyy.


Jangan lupa klik like lagi dan komen yang banyak yah. Vote poin, koin dan vocher untuk mengapresiasi karya author.


Bonus Visual Keluarga Astronot eh haha.



Kelakuan bapak, anak sama emak begitu mirip. Haha. Visual akan dihapus setelah 24 jam yah.


Tembus 250 like update lagi. Yok Gass!