
Ruang tamu yang biasanya terasa tenang menjadi panas. Semua orang terlihat berkumpul disana. Bahkan Orion yang sibuk membantu pekerjaan Star melalui virtual, harus ikut turun tangan. Galaksi benar-benar mengumpulkan semua orang untuk memikirkan bagaimana keselamatan mereka setelah ini.
Galaksi tak mau kecolongan lagi. Bahkan dirinya tak bisa bersikap egois karena kehadiran dua anaknya. Dirinya tak bisa seberani dulu, yang bertindak gegabah tanpa memikirkan orang lain. Saat ini, ada Mars, Venus, Galexia dan Pandora yang harus diutamakan keselamatannya. Hingga, hal ini tentu membuatnya harus bersikap lebih hati-hati.
Saat ini, mereka semua saling duduk berhadapan di sofa ruang tamu. Wajah mereka begitu tegang dengan pikiran yang sama-sama berkecamuk. Ini bukan masalah sepele, tapi menyangkut nyawa seseorang. Hingga rencana mereka kali ini, tak boleh asal-asalan. Jika sedikit saja teledor, maka pasti ada nyawa yang melayang.
"Sore ini juga aku akan ke rumah lamaku," kata Cressida memutuskan. "Aku tak bisa terlalu menunda. Bisa-bisa aku kalah cepat oleh mereka."
Semua orang menganggukkan kepala paham akan penjelasan Cressida. Jika di posisi wanita itu, mereka pasti akan memikirkan hal yang sama. Identitas yang dicari, ada di sebuah rumah kosong. Hal itu bisa menjadi senjata untuk mereka datang terlebih dahulu dan mengambil bukti yang ada.
"Oke. Saya akan ikut dan memberikan pengamanan penuh untuk perjalanan Anda kali ini," kata Galaksi dengan tegas.
"Terima kasih," sahut Cressida dengan menundukkan kepalanya.
"Aku ikut, Kak."
"No!" Tolak Galaksi mentah-mentah.
"Tapi…."
"Ingat, Sia! Ada anak-anak disini yang harus kita jaga."
Entah kenapa perasaan Sia menjadi tak enak ketika mendengar jika Cressida dan suaminya akan datang ke rumah lamanya. Dia merasa khawatir dan begitu cemas. Entah ikatan apa yang terjalin, tapi kali ini perasaan dari ibu si kembar itu benar-benar tak bisa diabaikan.
"Kumohon, Kak. Aku ingin ikut kalian," rengek Sia dengan wajah penuh permohonan.
"Mars dan Venus…."
"Kami ikut, Papa." Semua orang spontan menatap ke arah si kembar.
Suara keduanya yang bersamaan tentu membuat mereka begitu tercengang. Telinga mereka tentu masih berfungsi dengan baik dan mendengar begitu jelas apa yang dikatakan oleh mereka berdua.
"Ini berbahaya, Sayang," kata Mama Pandora menatap kedua cucunya yang duduk di samping kanan kirinya.
"Tapi, Nenek. Kami ingin menjaga Mama," kata Mars dengan wajah datar.
"Sayang," panggil Sia beranjak berdiri.
Dia mendudukkan dirinya di samping sang putra dan menatap kedua anaknya secara bergantian.
"Mars putra mama yang kuat, 'kan?" kata Sia dengan bibir yang tersenyum.
"Tentu saja, Ma."
"Jadi, Mars disini buat jagain Nenek dan Adik selama Mama dan Papa keluar. Boleh?" tanya Sia dengan menatap penuh harap ke arah putranya.
Terlihat wajah penuh keraguan dalam benak bocah kecil itu. Bahkan berulang kali, Mars menatap wajah sang mama dan sang adik bergantian hingga membuat Sia begitu paham jika putranya ada dalam posisi yang bimbang.
"Mama minta tolong, Sayang. Kali ini saja. Mama juga gak bisa bawa Mars ke sana karena itu tempat berbahaya," rayu Sia lagi agar putranya mau.
Sebenarnya dia juga dilanda kecemasan. Dirinya takut akan ancaman yang begitu melekat dalam pikirannya. Namun, dia juga tak tega untuk membiarkan Cress dan Galaksi mencarinya sendiri tanpa bantuannya.
"Oke. Mars disini jagain Nenek dan Mama, tapi…." jeda Mars sambil menempelkan kedua tangannya di sisi wajah Sia. "Mama harus hati-hati, 'yah?"
Sia begitu terharu. Bahkan tanpa sadar matanya berkaca-kaca merasakan perhatian begitu mendalam dari putranya. Namun, ini adalah keputusan yang tepat. Dirinya tak mungkin mengabaikan keselamatan kedua anaknya dengan mengajak mereka ke tempat yang tak aman.
Sampai suara deringan ponsel yang begitu kencang membuat semua pandangan tertuju pada Galaksi. Ternyata ponsel pria tampan itu berbunyi hingga membuatnya segera meraih benda itu. Melihat namanya sekilas dan langsung mengangkatnya sekarang juga.
"Ya, Star?"
"Agenci sedang ada masalah, Tuan. Artis kita terlibat skandal menghebohkan yang membuat perusahaan kita ikut tercemar," kata Star dengan nada begitu khawatir.
"Apa!" Galaksi merasa kepalanya berdenyut sakit.
Kenapa semua masalah ini datangnya bersamaan?
Disaat masalah yang ada disini belum selesai, kenapa ada masalah lain yang muncul. Hingga kesadaran Galaksi kembali terpanggil saat suara Star yang sedang menunggu jawabannya disana terdengar.
"Baiklah. Malam ini juga aku akan terbang ke sana!"
Setelah panggilan itu terputus, Galexia langsung memborondong banyak pertanyaan pada mantan suaminya itu. Dia melihat pria yang membuat hatinya kembali nyaman begitu tertekan.
"Aku tak bisa menemanimu disini, Sia. Aku harus kembali ke New York. Perusahaan sedang ada masalah."
"Berangkatlah, Kak! Aku akan menjaga anak-anak disini," kata Sia menatap Galaksi dengan pandangan iba.
Bisa dia lihat raut wajah lelah pada mantan suaminya itu. Namun, dirinya juga tak tahu harus melakukan apa. Semua keadaan ini begitu rumit. Hingga mereka harus saling bekerja sama untuk membantu dan menjaga satu dengan yang lain.
"Aku belum melihat berita, Ma. Tapi Star mengatakan, jika salah satu artisku terlibat skandal dan yang pasti akan mencoreng nama baik Agency," keluh Galaksi sambil menyandarkan punggungnya. "Aku sudah melakukan yang terbaik untuk perekrutan tapi kenapa masih kecolongan?"
Galaksi merasa begitu pusing dengan semua masalah ini. Namun, jujur hati dan pikirannya lebih berat untuk meninggalkan Sia dan kedua anaknya disini. Rasanya ia masih mau ada disini. Namun, pekerjaan ini juga begitu penting untuk keberlangsungan hidup mereka.
"Aku akan memberikan penjagaan penuh dan pengawasan polisi disini. Jadi kalian akan aman selama keberangkatanku ke New York," kata Galaksi dengan yakin. "Aku titip rumah ya, Om."
Orion yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengangguk. Jujur kepala pria yang tak lagi muda itu, merasa sedikit pusing. Jam tidurnya yang berantakan sudah pasti membuatnya kelelahan.
"Apa Om baik-baik saja?"
"Ya, Nak. Hanya sedikit pusing."
"Om tinggallah di rumah ini. Galaksi percayakan semua yang ada disini sama, Om Orion," kata Galaksi memegang tangan pria yang mulai keriput.
"Pasti. Om akan menjaga keluarga ini seperti sumpah setia Om pada Papamu."
Akhirnya semua pembahasan ini selesai. Mereka semua mulai kembali ke kamarnya masing-masing untuk bersiap. Cressida dan Mama Alya tentu akan menyiapkan dirinya untuk menuju ke rumah Cress yang lama. Sedangkan Orion, pria itu tentu di antar oleh Mama Pandora ke kamar untuk beristirahat.
Lalu sang utama, Galaksi, Galexia dan si kembar, berkumpul di kamar pria tersebut. Dengan sigap, Sia langsung membantu merapikan pakaian yang akan dibawa oleh mantan suaminya ke New York. Dia melipat pakaian itu serapi mungkin dan memasukkannya ke dalam koper.
"Belapa lama Papa pelgi?" kata Venus yang sedang duduk di pangkuan Galaksi.
"Papa belum tahu, Nak."
Jawaban yang diberikan sang Papa tentu membuat wajah wanita kecil itu begitu muram. Jujur gadis kecil itu tak mau berpisah dengan papanya saat ini.
"Papa janji akan pulang secepatnya, Sayang."
"Benel?"
"Tentu, tapi Venus juga harus janji," kata Galaksi sambil menatap putri kecilnya.
"Janji apa, Papa?"
"Venus gak boleh nangis saat Papa pergi. Harus nurut sama Mama dan Abang. Mengerti?"
"Mengelti, Papa."
"Anak pintar." Galaksi memberikan sebuah kecupan di dahi putrinya. Lalu dia beralih menatap putranya dan mengelus kepalanya dengan sayang. "Boleh Papa meminta tolong?"
"Tentu saja, Pa," sahut Mars dengan yakin.
"Tolong jaga Mama, Nenek dan Adik ketika Papa pergi. Kamu adalah pria yang akan menjadi pengganti Papa selama Papa gak ada. Boleh?"
Mars mengangguk. Selama ini bukankah dia selalu menjadi pawang untuk mama dan adiknya ketika mereka belum bertemu dengan Galaksi. Hingga hal seperti ini tentu membuatnya tak merasa kesulitan.
"Kalian keluar dulu yah. Papa mau bicara sama Mama."
Setelah kepergian si kembar. Galaksi menatap Sia yang masih berdiri diam di dekat kopernya. Dia beranjak dan mendekati wanita yang selalu mampu menggetarkan hatinya sampai detik ini.
"Kenapa wajahmu jelek sekali?" tanya Galaksi dengan nada bercanda.
"Jangan ketawa," ancam Sia dengan air mata yang mulai menggenang. "Aku gak mau Kakak pergi."
Akhirnya runtuh sudah air mata yang sejak tadi dia tahan mulai menetes. Sia menangis karena belum siap untuk berpisah dari ayah kedua anaknya. Ada perasaan khawatir sejak telepon dari Star terputus. Dia merasa begitu cemas dengan penerbangan Galaksi kali ini.
"Ustt." Galaksi menarik tubuh Sia ke dalam pelukannya dan mengelus punggung itu dengan lembut.
Dirinya benar-benar tak sanggup melihat ibu dari anaknya ini menangis. Namun, harus dengan cara apa lagi. Hal ini juga begitu penting untuk hidupnya. Perusahaan Agenci adalah sumber pundi-pundi uangnya selama ini. Hingga hal itu tentu membuat Galaksi harus segera membereskan semua kekacauan yang terjadi.
"Aku yakin semua akan baik-baik saja, Sia. Kamu percaya, 'kan, sama aku?" kata Galaksi sambil melepaskan pelukannya.
Dia menangkup wajah yang mulai memerah dan menghapus air mata itu dengan lembut.
"Siaku," panggilnya dengan lembut hingga mata sembab itu akhirnya berani menatapnya.
"Aku percaya, Kak. Berjanjilah untuk segera pulang dan menikahiku secepat mungkin!"
~Bersambung~
Hiyaa lagi tegang juga bisa-bisanya mereka romantis.
Kubisikin. Besok part dimana kita bakalan tahu rahasia siapa Cressida. Hehe.
Yaudah aku mau ngetik lagi. Hari ini aku up dua bab biar gak ada penasaran nanti di bab ketiga. heheh.
Jangan lupa klik like, komen dan vote biar author semangat updatenya.