The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Jasad Tak Ditemukan




"Kakak." Cressida spontan meraih tubuh Galexia yang oleng.


Bahkan wajah wanita itu sudah pucat pasi, seperti kekurangan oksigen. Ditambah pandangan kakak perempuannya itu kosong, yang membuat Cressida semakin bertanya-tanya. Ada apa gerangan sampai Galexia bersikap seperti ini.


Saat dirinya hendak mengeluarkan suara. Panggilan dari ponsel yang ada digenggaman Sia membuatnya berinisiatif mengambilnya. Lalu dia mulai meletakkan ponsel itu di telinga untuk mendengar pembicaraan apa yang membuat kakaknya kaget.


"Halo. Ini siapa?" 


"Ini Cressida?" kata suara dari seberang.


"Oh iya, Tante," sahut Cress mengingat suara wanita paruh baya yang diyakini Mama dari Galaksi.


"Tolong susul Tante ke Bandara ya, Nak. Kami mau cari informasi ke sana," kata Pandora dengan suara yang terlihat tergesa-gesa.


"Memang untuk apa kita ke Bandara?" 


"Pesawat Galaksi mengalami kecelakaan. Jadi Tante ingin mencari info tentang kebenarannya." 


Spontan Cressida menatap wajah kakaknya. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Galexia. Kehilangan sosok yang begitu dicintai tentu bukanlah hal mudah. Apalagi ketika meninggalkannya, Galaksi dalam keadaan sehat. Jadi tentu kakaknya itu merasa shock. 


"Iya, Tante. Kami akan menyusul." 


Setelah panggilan itu berakhir. Cressida meletakkan ponsel milik Sia ke dalam tas wanita itu lagi. Lalu dia segera membawa tubuh Sia untuk duduk di atas ranjang. 


"Kakak baik-baik saja?" kata Cress mencoba menggosok telapak tangan Sia yang terasa dingin.


Tanpa diduga, Sia menatap wajah Cressida. Dia menggeleng dan tak lama mata itu mulai meneteskan air mata. Tentu dirinya tak tahu harus melakukan apa. Namun, Cress memilih beranjak dan duduk disamping Sia. Lalu segera memeluknya untuk menenangkan hati saudaranya yang kalut. 


"Tenanglah, Kak. Aku yakin Tuan Galaksi akan baik-baik saja," ucap Cress sambil mengusap punggung Galexia.


"Bagaimana jika itu benar? Bagaimana jika ayah dari anak-anakku benar-benar meninggalkan kami bertiga, hiks?" kata Sia diiringi isak tangis. "Aku belum siap untuk mengatakan pada mereka, jika ayahnya akan pergi lagi. Aku tak siap melihat kedua anakku harus dianggap seperti anak haram lagi oleh mereka." 


Tentu perkataan Sia membuat hati Cressida ikut sakit. Dia tak menyangka bagaimana jika perkataan sang kakak ada benarnya. Dari cerita Mama Alya, tentu saja dia bisa membayangkan bagaimana menjadi Galexia dulu. Hidup sendirian, hamil tanpa suami dan mengasuh kedua anaknya tentu menjadi sebuah perjuangan yang berat. Namun, Cressida yakin jika Sia mampu melewati semua ujian ini. 


"Kakak harus yakin. Kalau Tuan Galaksi masih hidup dimanapun dia berada," kata Cress meyakinkan.


Perlahan pelukan itu terlepas. Hingga mampu membuat Galexia bisa menatap wajah adiknya itu.


"Kakak harus kuat demi anak-anak. Kakak harus yakin jika Tuan Galaksi baik-baik saja," ucap Cress lagi dengan tatapan mata seyakin mungkin. "Jika Kakak rapuh, siapa yang akan menguatkan si kembar?" 


Hati Galexia tertampar. Dia merasa apa yang dikatakan oleh adiknya itu benar. Pasti kedua anaknya juga sama-sama terkejut jika mendengar berita ini. Pasti Mars dan Venus sama kacaunya jika mengetahui kabar sang ayah yang belum diketahui. 


"Kamu benar, Cress," kata Sia sambil menarik nafasnya begitu dalam.


Dia mencoba menenangkan hatinya yang berkecamuk dan berdamai dengan keadaan. Banyak orang yang membutuhkan kekuatan. Banyak orang yang membutuhkan support di saat seperti ini. Ada Mama Pandora, wanita yang melahirkan mantan suaminya itu pasti sosok yang paling terkejut. 


Wanita paruh baya itu pasti sama kalutnya. Hingga membuat Galexia benar-benar mendengarkan nasehat sang adik. Dia mulai menghapus air matanya. Lalu menghela nafas berat sebelum kembali menatap wajah Cressida.


"Kamu benar. Aku harus kuat demi mereka," kata Galexia tegas yang membuat Cressida tersenyum.


"Ayo kita ke Bandara dan mencari tahu semuanya, Kak." 


****


Suasana Bandara tentu begitu ramai. Banyak anggota keluarga yang lain datang untuk menanyakan keberadaan sanak saudaranya. Petugas Bandara bahkan sampai kewalahan melayani semua keluarga yang sedang menunggu kabar tentang keluarganya itu.


Mata Galexia tentu menatap sekeliling. Dia mencari dimana ibu dari mantan suaminya itu. Hingga tak jauh dari tempatnya berdiri, Sia bisa melihat sosok ketiga paruh baya yang sedang mengintrogasi seorang petugas Bandara. Bahkan terlihat olehnya, jika salah satu dari mereka ada yang histeris. 


"Mama," panggil Sia dengan langkah dipercepat.


Dia tak menyangka jika Mama Pandora hilang kendali. Mata wanita paruh baya tersebut begitu bengkak. Bahkan air mata masih menetes dengan suara yang mulai serak. 


"Kumohon, Pak. Pasti kabar itu bohong, 'kan? Pasti anakku baik-baik saja, 'kan?" kata Mama Pandora dengan wajah begitu memohon.


Hati Galexia mencelos. Bahkan kedua tangannya mengepal untuk menepis rasa ketakutan itu. Dia berusaha tak termakan akan perkataan petugas tadi. Sia yakin jika calon suaminya itu pasti kembali dan baik-baik saja.


"Mama sudah," kata Sia menarik tubuh sang mama.


Dia memeluk Mama Pandora yang tetap meronta tak percaya akan perkataan petugas Bandara tersebut. Hatinya sama-sama sakit. Namun, dia berusaha menjadi kuat saat melihat ibu dari calon suaminya itu begitu terpuruk. 


"Sia, kamu yakin, 'kan, kalau Galaksi baik-baik saja?" 


"Iya, Ma. Galaksiku pasti baik-baik saja. Dia pasti selamat dari insiden itu," kata Sia mengeratkan pelukannya.


Dia tak tahu apa yang dikatakan dirinya benar atau tidak. Namun, menenangkan jiwa yang kacau saat ini adalah keputusan yang terbaik. Sia juga takut kesehatan Mama Pandora akan menurun jika terus seperti ini. 


"Mama harus yakin kalau anak Mama kuat. Kak Galaksi pasti pulang, Ma. Kak Galaksi pasti akan menghubungi kita besok ketika sampai di New York," ucap Sia dengan harapan yang membumbung tinggi.


Bayang-bayang wajah kedua anaknya melintas di matanya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana wajah penuh kesedihan dari Mars dan Venus. Sia tak yakin bagaimana ketika menjelaskan pada kedua anaknya tentang keadaan calon suaminya. Namun, dirinya meyakini dalam hati jika dia harus yakin. Hati kecilnya bahkan begitu kuat mengatakan jika Galaksi pasti selamat.


****


 


Hari keempat. Semua keadaan masih sama. Menunggu dan berharap kabar tentang bagaimana kondisi Galaksi mereka dapatkan. Semua sama-sama memanjatkan doa. Mereka sama-sama berdoa semoga Galaksi bisa pulang dengan selamat.


Bahkan Mars dan Venus juga sudah tahu bagaimana kabar tentang jatuhnya pesawat sang Papa. Namun, yang membuat Sia tak menyangka adalah dua anaknya tak menangis. Si kembar malah terlihat begitu tenang dalam pandangan matanya. Dia melihat tak ada raut khawatir sedikitpun.


Hal itu tentu membuat Sia merasa khawatir. Dia takut jika Mars dan Venus lebih memilih menyimpan kesakitannya sendiri daripada terbuka kepadanya. Namun, semua hal itu dia tepis saat mengingat perkataan si kembar yang mengatakan jika, 


"Abang sama Adik yakin kalau Papa pasti pulang, Ma. Papa sudah janji sama kita akan cepat pulang dan menikah sama, Mama." 


"Venus juga pelcaya kalau Papa pasti baik-baik aja. Jadi Mama juga halus yakin, kalau Papa akan pulang." 


Begitulah pernyataan kedua anaknya yang membuat hatinya semakin kuat. Dia yakin dan percaya jika ikatan seorang anak dan ayah begitu kuat. Hingga membuat Sia yakin jika apa yang dikatakan oleh Mars dan Venus benar-benar akan terjadi.


Saat semua orang berkumpul di ruang tamu. Bunyi telepon rumah berbunyi membuat Sia segera mengangkatnya.


"Ya?" 


"Bisakah Anda ke Bandara, 'sekarang? Kami ingin menanyakan perihal barang-barang penumpang atas nama Galaksi," kata petugas Bandara dari seberang telepon.


"Bisa." 


Akhirnya mereka semua segera ke Bandara. Semua berharap jika ada harapan yang membuat mereka yakin Galaksi masih selamat. Saat semua orang sampai di Bandara. Mereka segera menuju ke ruangan yang sudah dikatakan oleh petugas. 


Disana tentu sudah ada beberapa keluarga yang sama hadirnya. Hingga salah seorang petugas mendekati mereka dengan membawa sebuah benda yang begitu Galexia kenal.


"Apa ini betul barang-barang pasien?" 


Mata Sia berkaca-kaca. Dia meraih sebuah jam tangan dan baju yang dirinya sendiri memasukkan ke dalam koper. 


"Kami menemukan ini di dalam koper atas milik, Bapak Galaksi."


"Lalu bagaimana keadaan Galaksi, Pak? Bagaimana?" kata Mama Pandora menuntut.


"Maaf, Bu. Penumpang belum ditemukan jasadnya." 


~Bersambung~


Maafkan aku, Bang. Dirimu tak ditemukan huaaa.


Hari Senin sekarang yak, aku minta vote poin koim atau vocher buat si kembar boleh tak?


Biar aku makin semangat up nya. Maaf baru update, kemarin aku keluar jadi baru sempet revisi dan up.


Hari ini aku usahain Up 3 bab. Yok semangat likenya. Tembus 250 like, aku update lagi.