
Sesampainya di rumah sakit, Galaksi langsung dipindahkan ke brankar yang sudah disiapkan untuknya. Tubuhnya ditelungkupkan dan memperlihatkan kemejanya yang sudah basah terkena darah.
Pria itu tetap berusaha membuka matanya walau sedikit. Dia ingin melihat wajah Sia dan kedua anaknya yang mengikuti tubuhnya dari samping brankar. Seakan kehadiran mereka menjadi support terbaik untuk Galaksi. Rasa sakit di punggungnya semakin terasa hingga perlahan mata yang terbuka lama-lama terpejam.
Semua orang akhirnya menunggu didepan ruang IGD. Mereka sama-sama memanjatkan doa demi keselamatan Galaksi. Begitupun dengan Sia dan si kembar, ibu dan anak itu saling menguatkan antara satu dengan yang lain.
Seakan ikatan darah dan batin begitu terasa yang membuat tangan ketiganya sama-sama dingin. Terutama Galexia sendiri, telapak tangan kirinya masih berlumuran darah Galaksi. Hingga dia juga mengabaikan penampilannya yang sudah kacau balau.
"Apa Mama sudah dikabari, Om?" tanya Sia menatap orang kepercayaan mantan ayah mertuanya itu.
"Sudah. Nyonya Pandora sedang dalam perjalanan," sahut Orion yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Sia.
Akhirnya keheningan kembali terjadi. Baik Mars dan Venus hanya mampu memeluk tubuh mamanya dengan segala doa saling dipanjatkan. Kebahagiaan baru saja mereka rasakan, dan keduanya benar-benar berharap semoga ayahnya baik-baik saja.
Saat ketiganya saling memeluk satu dengan yang lain. Dari arah lorong rumah sakit, terlihat Pandora yang baru saja datang dengan tergesa-gesa menuju ke arah mereka. Kedua matanya terlihat sembab dengan hidung memerah menandakan jika mantan mertuanya habis menangis.
"Kalian baik-baik aja, 'kan?" tanya Pandora menatap kedua cucu dan mantan menantunya.
"Kami baik-baik saja, Ma. Tapi…." sahut Sia dengan menjeda ucapannya.
"Tapi kenapa, Nak?" tanya Mama Pandora mendesak.
"Kak Galaksi yang ada di dalam, Ma. Dia tertembak di bagian punggungnya," kata Sia menatap Pandora dengan wajah menyesal.
Pandora terkejut bukan main. Tanpa sadar tubuhnya oleng ke belakang dan hampir saja jatuh jika tak ditangkap oleh Orion. Jujur dia baru tahu jika yang celaka adalah anaknya sendiri, karena saat Orion tadi mengabari, dia hanya disuruh datang kesini dengan membawa pakaian untuk Sia.
Orion dengan sigap mendudukkan tubuh Pandora di samping Sia. Perempuan itu tanpa diminta segera mengusap punggung mantan ibu mertuanya agar otot-ototnya tak setegang tadi.
"Maafkan aku, Ma. Karena aku Kak Galak harus seperti ini," ucap Sia dengan wajah penuh rasa bersalah.
Sungguh jika dirinya tahu semua akan berakhir seperti ini. Sia tak akan meminta mantan suaminya untuk menyelamatkan kedua anaknya. Dia juga tak akan membiarkan Galaksi sendirian. Namun, semua sudah menjadi bubur. Menyesal pun tak akan bisa merubah keadaan.
Terdengar helaan nafas berat di bibir Pandora. Lalu dengan perlahan dia mengelus kepala Sia yang masih menunggu jawabannya.
"Ini bukan salahmu, Nak," ucapnya dengan menatap mantan menantunya dengan yakin. "Semua yang terjadi sudah menjadi takdir dari Tuhan."
Tanpa mengatakan apapun lagi. Akhirnya Sia menghambur ke pelukan Pandora. Dia ingin mencari ketenangan dalam pelukan sosok yang sudah dianggap ibu kandungnya. Hingga Sia hanya mampu berharap, semoga semua baik-baik saja dan mantan suaminya bisa segera pulih.
Hingga tak beberapa lama. Pelukan keduanya terpaksa dilepas saat melihat pintu IGD mulai terbuka dan muncullah sosok pria yang memakai pakaian dokter berjalan ke arah mereka.
"Keluarga pasien atas nama Galaksi?" tanya Dokter yang membuat Orion, Pandora dan Sia mengangguk.
"Bagaimana anak saya, Dokter?" tanya Pandora dengan wajah penuh kekhawatiran.
Dokter itu menatap penuh ragu ke arah Pandora. Seakan dia ingin mengatakan suatu hal besar yang membuat jantung ketiganya berdebar kencang.
"Tembakan yang mengenai punggungnya hampir saja terkena jantung pasien. Jadi kami akan melakukan operasi pengambilan peluru itu, tapi…." jedanya yang semakin membuat mereka tak sabaran.
"Lalu apa, Dok?"
"Apa yang terjadi sama Galaksi?"
Desak Sia dan Pandora tak sabaran. Wajah dua perempuan berbeda generasi itu sama-sama memancarkan kekhawatiran yang mendalam.
"Tapi dengan berat hati saya harus mengatakan, jika…." ucapnya sambil menghela nafas lelah. "Pasien bisa mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya setelah operasi ini selesai dilakukan."
****
Dirinya merasa pria-pria yang ia sewa tak ada yang becus. Hingga membuatnya ingin sekali memukul wajah mereka dengan tangannya sendiri.
"Akhhh," teriaknya dengan tangan menepis semua benda yang ada di lemari riasnya hingga berserakan.
Nafasnya memburu dengan tarikan nafas yang begitu berat. Dia begitu marah dan tak tahu harus membalasnya kepada siapa.
"Ini gara-gara bocah sialan itu," serunya dengan mengingat wajah dua anak kembar yang menurutnya begitu nakal.
Ingatannya kembali memutar pada kejadian saat dirinya baru saja keluar dari rumah Galaksi dalam keadaan kacau. Perempuan itu bahkan tak mempedulikan keadaannya lagi dan terus menginjakkan pedal gasnya menuju sebuah rumah.
Rumah besar dan mewah yang akan menjadi tempat tinggalnya sementara, tentu membuat Inggrid begitu nyaman dan senang. Menurutnya selama ada di Indonesia, ini adalah tempat teraman untuknya. Setelah dirinya memarkirkan mobil itu di depan pintu utama, dia segera turun dan memasuki bangunan itu dengan cepat.
Dirinya sudah tak memperdulikan keadaannya. Bahkan dia juga tak peduli jika ada pelayan yang melihat penampilannya. Sungguh perempuan itu ingin sekali mandi dan segera menghubungi seseorang yang menjadi dalang dari semua ini.
Setelah semuanya beres. Dia segera menghubungi seseorang yang sejak tadi ada dipikirannya. Hingga deringan ketiga panggilan itu mulai tersambung.
"Apa maksudmu menutupi semuanya dariku?" bentak Inggrid saat panggilan tersebut baru saja tersambung.
"Itu hanya menunggu waktu, Inggrid. Toh kamu juga sudah tahu semuanya, bukan?"
"Ya aku sudah tahu semuanya. Bahkan aku juga tahu, jika dia ternyata duda dan memiliki dua orang anak," seru Inggrid dengan emosi yang meluap.
"Bagus. Lalu apa yang kamu inginkan?"
"Bantu aku mendekati Galaksi dengan mudah. Aku tak mau memakai rencana menginap lagi ke rumahnya karena disana begitu menyeramkan," seru Inggrid tak tahu malu.
"Kamu sudah dibodohi, Inggrid!"
"Apa maksudmu?"
"Tak ada apapun di rumah Galaksi, Inggrid. Disana aman dan malam itu, semua yang terjadi di kamarmu karena rencana seseorang," tegas suara pria dari seberang telepon.
Mata Inggrid membulat penuh. Bahkan tanpa sadar dia melempar guci kecil di tangannya sampai jatuh berserakan.
"Siapa dia?" tanya Inggrid tak sabaran.
"Si kembar."
Dari situlah semua ide itu mulai bermunculan. Inggrid berniat membalas perbuatan si kembar kepadanya karena ulah Mars dan Venus keterlaluan. Hingga tak lama, lamunan Inggrid buyar karena kedatangan sosok anak buahnya yang hadir ke ruangannya.
"Ada apa?" tanya Inggrid dengan wajah dingin.
"Tuan Galaksi mengalami luka cukup parah, Nona. Hari ini dia akan dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang ada di punggungnya," kata pria itu dengan menundukkan kepalanya.
Wajah Inggrid semakin memerah. Dia menginjakkan botol minyak wangi miliknya hingga tak berupa untuk melampiaskan segala kemarahan dalam dirinya.
"Tunggu saja pembalasanku, Bocah sialan! Aku akan menjadi mama tiri yang baik dan kejam dalam waktu bersamaan."
~Bersambung~
Ada yang tebakannya benar gak? yuhuuu. Biarin Inggrid halu dulu geng. Kasihan entar mewek gak ada balon kotak, haha.
Tapi buat, Bang Galak. Dia lumpuh, hiks. Gimana dong?
Terima kasih atas like, komen dan votenya yah. Akhirnya malam ini bisa up lagi. Oke mau tidur dulu.
Jangan lupa tekan like!