
Akhirnya bersamaan dengan datangnya Mars dan Tania. Seorang dokter baru saja selesai memeriksa Mama Flo. Tania berlari ke arah ranjang mamanya setelah meletakkan kotak makan di atas meja.
"Mama baik-baik aja?" tanya Tania dengan cemas.
Mama Flo mengangguk. Dia tersenyum melihat anaknya kembali ke rumah sakit.
"Anda boleh pulang hari ini. Semua urusan administrasi Anda sudah dibayar oleh Tuan Galaksi."
Mama Flo hanya bisa menghela nafas berat. Dia mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Lagi-lagi ia merepotkan keluarga Sia. Mereka sangat baik kepadanya dan membuatnya harus berhutang budi lagi. Hal ini benar-benar membuatnya merasa tak enak hati.
"Halo, Tante," sapa Mars yang membuat Mama Flo terkejut.
"Hai, Boy. Kemarilah!" ajak Mama Flo yang mulai mendudukkan dirinya di atas ranjang. "Bagaimana kabar, Mars?"
"Baik."
"Lalu kabar Mama Sia dan yang lain?" tanya Mama Flo penuh perhatian.
"Semuanya baik, Tante. Mama juga lagi hamil," ujar Mars memberitahu.
"Wah. Mars seneng dong bakalan punya adik baru?"
Mars mengangguk. Dia memang saat ini menjadi senang dengan keberadaan adiknya. Kesalahpahaman itu sudah tiada dan membuatnya menerima apa yang terjadi pada mamanya.
"Mama sudah makan?" tanya Tania mengalihkan pembicaraan. "Tante Sia bawain banyak makanan."
Mama Flo menoleh. Dia menatap kotak makan yang mulai dibuka oleh putrinya itu.
"Ini beneran dikasih? Tania ndak minta, 'kan?"
Wajah Tania berubah menjadi gugup. Dia menundukkan kepalanya karena takut. Hingga suara Mars yang menyahut membuat Tania mengangkat wajahnya.
"Nggak, Tante. Mamaku memang lagi masak banyak. Terus saat lihat Tania pulang, Mama titip makanan ini buat, Tante."
"Oh." Mama Flo mengangguk. "Bilangin sama Mama Sia yah. Terima kasih dari Tante."
"Sama-sama. Pasti, Tante."
Akhirnya Tania menatap Mars dengan perasaan bahagia. Dia tak menyangka jika Mars akan membantunya. Pria kecil itu benar-benar penuh perhatian dan semakin membuat Tania kagum.
Tania dengan penuh perhatian menyuapi mamanya. Setelah selesai bersamaan dengan itu, perawat datang untuk melepas infus yang melekat di tangan mamanya. Semua peralatan medis dilepaskan dan membuat Mama Flo mengucapkan terima kasih.
Dengan tanggap, Tania ikut membantu membereskan pakaian mamanya dan dirinya lalu dimasukkan ke dalam tas. Mars juga ikut serta membantunya meski Mama Flo dan Tania melarangnya.
"Kata Mama, kalau dikerjakan bersama bakalan cepat selesai," mata Mars yang membuat Tania akhirnya mengangguk.
Setelah semuanya selesai. Mars tak lupa memberikan kabar pada orang rumah bahwa Mama Flo pulang sekarang juga.
"Ayo kita pulang sekarang! Semoga Mama gak bakal masuk ke sini lagi." Doa Mama Flo yang langsung diamiinkan oleh dua anak kecil itu.
...🌴🌴🌴...
"Langsung lewat samping saja, Pak," kata Mama Flo saat sopir hendak membelokkan mobilnya di depan rumah Galaksi.
Sopir itu menurut. Mereka berhenti tepat di depan rumah Mama Flo dan semua orang akhirnya turun.
Wajah ibu dari Tania itu tercengang saat melihat Galaksi dan Galexia keluar dari rumahnya. Pasangan suami istri itu menyambut Flo pulang.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu bisa pulang, Flo," kata Sia sambil memeluk wanita yang kepalanya diberi perban.
"Makasih, Sia. Kamu benar-benar terus membantuku," kata Mama Flo tak enak hati. "Uang rumah sakit…"
"Udah gak usah dipikirin. Yang terpenting sekarang kamu dan Tania aman."
Mata Mama Flo berkaca-kaca. Dia tak menyangka pertemuannya dengan Galexia akan menjadi permulaan yang sangat baik dan terjalin hubungan persaudaraan seperti ini.
Selama dia tinggal disini. Baru kali ini, Flo memiliki teman sekaligus tetangga. Biasanya dia selalu di rumah dan semua orang takut berteman dengannya karena memiliki suami KDRT dan suka pukul.
"Ayo masuk! Jangan bersedih seperti ini," kata Sia lalu menggandeng tangan Flo.
"Tunggu!" Tahan Flo menghentikan langkahnya.
Dia menggenggam tangan Galexia yang membuat ibu si kembar itu mengernyit heran.
"Selamat atas kehamilanmu, Sia. Semoga Tuhan melindungi kamu dan anakmu ini," kata Mama Flo dengan tulus lalu mengusap perutnya.
"Aamiin."
Akhirnya semua orang mulai masuk. Flo benar-benar takjub akan rumahnya ini. Galexia benar-benar sudah merubah semuanya dan bahkan didekorasi ulang.
Entah kapan wanita itu melakukan tapi yang pasti hal itu membuat hati Flo menghangat. Dia memang trauma akan rumah ini. Namun, desainnya yang baru seakan mampu membuatnya tak mengingat apa yang sudah terjadi kepadanya.
"Apa semua ini kamu yang lakuin?"
Galexia mengangguk. Apa yang dilakukan oleh Sia diawali sejak penangkapan suami Flo. Dia juga meminta suaminya untuk membereskan semua kekacauan dan membuatnya menjadi baru lagi.
Tania juga mengerti akan hal itu. Bahkan dia mengucapkan banyak terima kasih pada Sia karena wanita itu benar-benar seperti malaikat untuk dirinya dan sang ibu.
"Sia ini sangat berlebihan. Aku…"
"Jangan merasa sungkan kepadaku, Flo. Bukankah kamu sudah aku anggap seperti sahabat dan kakaku sendiri?"
Air mata mengalir dari sudut mata Flo. Dia tak menyangka akan bertemu orang sebaik ini. Tanpa kata Flo memeluk Sia dengan perasaan haru dan bahagia. Dia juga bersyukur karena Tuhan membuatnya bertemu dengan orang sebaik dan setulus dirinya.
"Terima kasih banyak. Aku tak akan lupa semua kebaikanmu, Sia. Suatu hari nanti aku pasti akan membalas kebaikanmu ini."
~Bersambung
Ntar kebaikannya pas Mars sama Tania itu hahaha. Kaburr.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Maaf baru update juga. Aku baru sanggup ngetik selama dua hari libur karena sakit.