The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Ujung Batas Pertemuan




Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Hari dimana seorang Galexia dan Mars akan menyanyi di acara pernikahan seorang Bangsawan New York untuk pertama kalinya. Kegugupan dan kecemasan jelas terlihat di wajah Galexia. Perempuan yang sudah memiliki dua orang anak itu, jelas tahu jika pasti banyak tamu penting yang hadir di sana. Dia bisa menebak, semua tamu yang hadir adalah sosok-sosok berpengaruh dan berkuasa disini. 


Di sebuah ruangan atau lebih tepatnya salah satu kamar di rumah Riksa. Terdapat beberapa perias yang ditugaskan untuk mendandani Galexia. Sedikit pun Riksa tak mau melihat kegagalan, dia ingin menyiapkan dua orang tersebut untuk tampil memukau di malam ini. 


Sebuah dress dengan model sabrina berwarna merah menyala melekat dengan manis di tubuh ramping Galexia. Lehernya yang jenjang dan putih, tentu semakin terlihat seksi jika dipandang. Wajahnya yang terpoles make up tipis, semakin menambah kecantikannya. Sia merasa tercengang ketika melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Dia masih merasa tak percaya jika penampilannya begitu berubah dari biasanya.


"Anda sangat cantik, Nona," kata salah satu perias yang baru selesai menata rambut Sia.


Galexia tersenyum canggung. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih ketika kepalanya diberikan sebuah matha patti oleh seorang perias. Matha patti adalah sebuah perhiasan yang digunakan untuk menutupi bagian perbatasan antara rambut dan kening si pemakainya. Jadi, bentuknya mengikuti alur kepala hingga membuat Sia semakin terlihat luar biasa.


Setelah semuanya siap, akhirnya Sia mulai beranjak berdiri. Dia meneliti penampilannya sekali lagi sebelum keluar dari kamar. Suara ketukan heels dengan lantai, tentu menjadi pusat perhatian orang-orang yang menunggu di ruang tamu.


Semua yang menatap ke arah Galexia, sama-sama menganga lebar. Mereka tak menyangka jika perias yang datang bisa menambah kecantikan dan keistimewaan yang ada dalam diri Sia. Sungguh hasilnya melebihi ekspektasi semua orang. 


"Mama cantik sekali," ucap Venus berlari ke arahnya. 


Gadis kecil itu memeluk kaki mamanya dengan manja. Matanya menatap berbinar ketika bertemu pandang dengan manik mata sang mama. "Terima kasih, Sayang. Putri mama tak kalah cantik." 


"Tentu saja, Mama. Telima kasih." Galexia terkekeh. Dia hendak memberikan ciuman tapi langsung ditahan oleh Riksa yang baru saja tersadar dari rasa keterkejutannya.


"Kenapa?" tanya Sia dengan polos.


"Kau ingin merusak dandananmu?" Sia mencebikkan bibirnya. Dia tak menyangka jika managernya ini begitu menyebalkan. Mencium anaknya sedikit saja, tak boleh. 


Setelah itu mata Sia meneliti semua orang yang ada disana. Hingga dia tersadar jika putranya belum ada di ruangan itu. "Kemana, Mars?" 


Namun, sebelum Riksa menjawab. Suara dari belakang tubuh Sia membuatnya berbalik. Tubuhnya mematung ketika melihat sosok yang dicari sudah berdiri di sana. Dengan penampilan yang begitu luar biasa semakin membuatnya mirip dengan seseorang. Kemeja putih yang membalut badan mungilnya, celana hitam yang menutupi kakinya serta jas dan sepatu hitam semakin menambah ketampanan Mars yang masih di usia dini.


"Perfect." Hanya kata itulah yang keluar dari bibir Sia. Perempuan itu masih merasa takjub karena penampilan Mars yang seperti ini semakin menambah kadar kemiripannya dengan seorang Galaksi.


Akhirnya, setelah keduanya siap. Riksa dengan sigap mengantarkan Galexia dan Mars ke gedung yang akan menjadi tempat acara resepsi pernikahan. Sepanjang perjalanan, jantung Sia berdetak lebih kencang. Dia merasa gugup dan tegang muncul dalam dirinya. 


"Santai saja, Sia. Wajahmu jangan setegang itu," ledek Riksa membuat Sia memukul lengan pria yang berada di sampingnya.


"Kau tau, ini pernikahan seorang bangsawan dan pasti yang datang orang-orang penting."


"Jangan kau pikirkan itu. Anggap semuanya sama seperti kau menyanyi di tempat-tempat lain," kata Riksa mencoba menasehati.


Galexia mengangguk. Berulang kali wanita itu menarik nafas hingga rasa gugupnya sedikit berkurang. Tak beberapa lama, mobil yang ditumpangi mereka mulai memasuki sebuah gedung yang terlihat ramai.  


Disana sudah banyak berjejer mobil-mobil mewah bernilai ratusan miliar. Sia hanya bisa merasakan tangannya yang dingin ketika kaki jenjangnya baru keluar dari mobil.


Dengan langkah pasti, Riksa membawa keduanya masuk setelah menunjukkan id card miliknya. Dia membawa ibu dan anak itu ke bagian samping gedung dengan mencari sosok yang dia cari untuk melapor.


Seorang pria tampan datang menyalami mereka bertiga. Sia bisa melihat jika orang tersebut adalah yang mengatur acara di pernikahan ini. Dia menatap tak peduli dan lebih memilih mengajak putranya berbicara. Hingga tak lama, Riksa mendekati keduanya dan meminta mereka masuk. 


****


Satu persatu semua tamu mulai memasuki gedung yang begitu luas. Terlihat banyak sekali orang-orang penting di ruangan ini. Dari tempatnya berdiri, Sia bisa melihat pakaian yang melekat di tubuh mereka merupakan pakaian mahal dan mewah. Namun, tujuan utamanya kesini bukan untuk melihat hal konyol seperti itu. Melainkan menghibur semua orang dengan suara emas yang dia miliki bersama sang putra.


Perlahan alunan musik Beautiful In White mulai terdengar mengalun. Spontan mata Sia terpejam. Lagu ini adalah lagu yang selalu dia ingin dengar ketika pernikahannya. Pernikahan impian yang dulu ingin dia ciptakan sirna ketika menikah dengan sosok Galaksi. Keduanya menikah dengan begitu sederhana. Namun, Sia tetap merasa beruntung karena dulu mereka saling mencintai. Hingga tanpa sadar, sudut mata Sia berair ketika mengingat kenangannya. Akhirnya, perlahan Sia mulai menyanyikan lagu yang di request langsung oleh sang pengantin yang sedang duduk di pelaminan begitu megah. 


Not sure if you know this.


But when we first met.


I got so nervous I couldn't speak.


Semua memandang kagum ke arah Sia. Suaranya begitu menghipnotis semua orang yang berada disana. Bahkan penghayatan dari setiap nadanya, membuat siapapun yang mendengar pasti merasa ikut hanyut. 


I found the one and.


My life had found its missing piece.


Dari arah pintu, terlihat tiga orang yang baru saja memasuki gedung pernikahan. Salah satu dari mereka, berjalan dengan bergandengan tangan. Namun, terlihat sekali, sang pria begitu tak nyaman dengan belitan tangan si perempuan.


"Lepaskan, Inggrid. Aku ingin menyapa rekan kerjaku," kata Galaksi yang berusaha melepas tangan Inggrid.


"Aku akan ikut kemanapun kamu pergi," ucap Inggrid dengan mata yang menatap sekeliling. 


Galaksi menyerah. Saat dirinya sudah ingin melangkah ke arah para pria yang berada di dekat panggung. Sebuah musik yang sejak tadi mengalun kembali terdengar dengan suara yang sangat familiar. 


So as long as I live I love you.


Will have and hold you.


You look so beautiful in white.


And from now to my very last breath.


This day I'll cherish.


You look so beautiful in white.


Mata Galaksi spontan tertuju ke arah panggung. Tubuhnya mematung dengan lidah yang terasa kelu. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca saat menyadari jika sosok yang dia cari selama ini berdiri disana.


Terlihat aura keanggunan sang mantan istri semakin terpancar. Dengan parasnya yang semakin cantik, menandakan jika hidupnya selama ini bahagia. Hingga air mata yang sejak tadi Galaksi bendung, mengalir tanpa bisa dicegah. 


Ternyata kamu hidup dengan baik selama ini, Sia. Kamu sudah mewujudkan hobi yang terpendam dan sukses setelah perceraian kita, batin Galaksi dengan hati yang diliputi rasa penyesalan. 


Pandangan Galaksi terputus saat merasakan getaran di ponselnya. Dia segera meraih benda pipih tersebut dan melihat ada pesan dari sahabatnya, Janus.


Segera Galaksi membuka pesan tersebut dan membaca kata demi kata yang tertulis disana.


Potret penyanyi yang kau minta, sudah aku kirim ke emailmu. ~Janus


Tanpa menunda, Galaksi segera membuka email miliknya. Mencari nama sang sahabat hingga matanya menemukan apa yang dia cari. Dibukanya email itu dengan tak sabaran hingga perlahan gambar-gambar tersebut mulai terlihat dengan jelas di layar ponselnya.


Degupan jantung Galaksi semakin berdetak kencang. Ternyata praduganya selama ini benar. Disana, potret yang dikirimkan oleh Janus adalah foto Sia bersama seorang pria kecil. Namun, pandangannya semakin membola saat melihat jika ternyata anak itu adalah…


"Mars." 


~Bersambung~


Ya to, nyesel to? Udah dibilangin sing pinter, Bang Galak. Aduhh sekarang mau nangis pas lihat mantan istri sukses.


Mikir lah mikir, Bang. Biar sadar dirimu. Yuhuu~~


Aku tak menyanyi di atas penderitaanmu.


Mon maaf baru update yah. Bab ini ternyata aku lupa publish semalam. Efek ketiduran jadinya ya lupa segalanya ishh.


Jangan lupa like, komen yang buanyak di bab ini. Yang kemarin pengen ketemu, nah ini ketemu loh.


Vote poin dan koinnya untuk si kembar yah, biar authornya makin gila ngetiknya.


Tembus 200 aku update lagi. Yok Gass!