
Galexia menunduk. Dia merasa kedua pipinya memanas yang menandakan jika dirinya didera rasa malu. Ditatap dan dipuji di hadapan semua orang tentu membuat jantung Sia bekerja tak beraturan.
Sejak dirinya keluar, jantungnya terus berdebar kencang. Dia tak menyangka jika dirinya diminta keluar oleh owner gaun tersebut. Alasan yang diberikan hanyalah klasik, untuk meminta pendapat dari calon suaminya.
Saat semua orang menikmati keindahan dan kecantikan Galexia. Tiba-tiba perhatian mereka beralih ke sosok gadis kecil yang berjalan ke arah Sia. Dia mengelilingi tubuh mamanya itu dengan tangan memegang rok gaunnya yang kepanjangan.
"Kenapa punya Mama lebih bagus dalipada punya Venus?" tanyanya dengan menghentikan langkah dan menatap ke arah Sia.
"Sama saja, Nak. Punya Mama dan Venus sama-sama bagus."
"No...no...no." Venus menggeleng. Dia berkacak pinggang dengan alis berkerut. "Punya Mama lebih bagus."
Galexia menyerah. Dia tak tahu harus menjawab apa. Jika mendebat pernyataan putrinya bisa dipastikan akan ada tangisan kencang sebentar lagi.
Ibu dua orang anak ini tentu sudah mengenal dengan baik sifat putrinya itu. Venus yang begitu suka dengan hal-hal keindahan, keras kepala dan harus dituruti segala keinginannya membuat Sia merasa kelabakan.
"Venus mau itu, Mama. Venus mau gaun punya, Mama," rengeknya dengan mata penuh harap.
Galaksi mulai menghela nafas berat. Dia juga merasa tak tahu harus melakukan apa lagi untuk putrinya itu. Sikapnya yang tak jauh beda dari putrinya, membuat Galaksi paham jika apa yang ada dalam pikiran Venus hampir sama dengannya.
"Mama," rengeknya lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan menangis, Sayang." Galexia menyerah. Dia berjalan mendekat dan sedikit membungkukkan tubuhnya. "Gimana kalau kita buat gaun seperti punya, Mama?"
Bola mata yang tadinya berkaca-kaca mulai terfokus pada mata Sia. Wajah muramnya tergantikan dengan mata penuh harap. Tangan mungilnya mulai menghapus air mata yang siap mengalir dan menandakan jika dirinya mulai tertarik dengan perkataan mamanya.
"Mirip punya, Mama?"
"Ya, Sayang. Bedanya hanya ukurannya sama. Gimana?"
"Mau, Ma. Mau." Venus mengangguk. Gadis kecil itu terlihat begitu antusias hingga membuat Sia sedikit merasa lega.
Akhirnya tak ada jalan lain. Galaksi juga merasa ide calon istrinya tidak terlalu buruk. Toh ini semua demi anak-anaknya juga. Hingga Galaksi langsung menatap Owner Gaun ini dengan mata tajamnya.
"Bagaimana, Tante. Bisa?" tanyanya to the point.
"Tapi…"
"Saya akan bayar berapapun demi gaun mungil putriku, Tante."
Akhirnya Owner tersebut mengangguk dengan wajah begitu pasrah. Dirinya juga tak bisa menolak permintaan putra dari temannya itu. Apalagi pernikahan mereka begitu mewah dan dihadiri oleh orang dari kalangan atas. Hal itu tentu membuat pikiran owner galeri untuk membuat gaun yang terbaik demi bisa menarik perhatian semua orang yang hadir disana.
****
Setelah putusan Pengadilan yang menjatuhi hukuman mati pada Atlas. Penjahat kejam itu saat ini berada di penjara khusus dengan tingkat keamanan yang tinggi. Pria itu tentu merasa semangat hidupnya habis. Bahkan dirinya begitu tak bersemangat untuk memakan makanan yang disediakan untuknya.
Dirinya sudah pasrah akan hidupnya. Namun, sampai detik ini tak ada penyesalan dalam dirinya. Atlas begitu bahagia setelah melakukan semuanya. Dia bahkan merasa kurang puas saat rencananya gagal.
Wajah Atlas terlihat sedikit lebih pucat saat seorang petugas memberikan seragam khusus bagi narapidana yang akan dieksekusi. Dirinya tak berkomentar apapun. Hanya matanya saja dia gunakan menatap pakaian itu dengan pikiran entah melayang kemana.
Entah kenapa saat matanya menatap nama dirinya tercantum disana ada sesuatu yang mengusik hatinya. Ada rasa sakit yang mendera dan begitu membuatnya dilanda rasa penyesalan. Bayang-bayang akhir hidupnya akan berakhir sebentar lagi mulai merayap di pikirannya.
Atlas mulai merasa terganggu. Dirinya mulai merasa menyesal karena hidupnya harus direnggut karena semua kesalahannya. Kesalahan yang diakibatkan karena dendam membuatnya terjerumus di dalam sini.
Siang dan malam berlalu dengan cepat hingga tak terasa hari dimana dia dieksekusi telah tiba. Jantung Atlas terus berdetak kencang. Bayang-bayang kedua orang tuanya, kembarannya dan wajah-wajah orang yang pernah ia sakiti muncul satu per satu di kepalanya.
Dirinya begitu pasrah saat seorang pemuka agama dimasukkan ke dalam selnya. Dia diberikan siraman rohani yang semakin membuat kepalanya menunduk. Dirinya merasa malu dan tak mengatakan apapun. Mulutnya seakan terkunci dan hanya bisa diam serta mengangguk ketika pemuka agama bertanya kepadanya.
Setelah acara siraman rohani selesai. Atlas segera dimasukkan ke dalam mobil tahan. Matanya ditutup dengan sebuah kain hitam hingga dirinya tak bisa melihat apapun. Perlahan mobil mulai melaju entah membawanya kemana.
Semakin bergerak, jantung Atlas terus berdebar kencang. Perkataan pemuka agama tadi tak mengusik hatinya sama sekali. Selain wajah-wajah keluarganya lah yang membuat hatinya didera rasa penyesalan.
Tak lama, kendaraan itu berhenti. Atlas mendengar suara pintu mobil dibuka dan perlahan dia mulai ditarik keluar dan digandeng entah kemana. Banyak suara langkah kaki disana. Semakin dia berjalan, semakin dirinya menyesal. Pikirannya terus berputar tentang,
Siapa yang akan menguburkan ku nanti?
Tak ada keluarga yang dia miliki. Semuanya sudah rusak akan dendam yang dia ciptakan hingga membuatnya merasa sendiri saat ini.
Pikirannya mulai kembali sadar saat langkah kaki mulai melambat dan berhenti. Lalu perlahan tutup matanya dibuka hingga matanya mulai bisa melihat walau masih buram.
Sebuah lapangan luas dengan banyaknya petugas berpakaian rapi membuat Atlas menyadari jika hidupnya akan berakhir disini. Disinilah dia akan menghembuskan nafas terakhirnya dan menebus segala dosa yang sudah diperbuat.
"Saudara Atlas. Apa ada pesan terakhir yang ingin Anda sampaikan?"
"Tidak ada." Atlas menggeleng. Dia hanya berani menatap kedua tangannya yang masih terborgol rapi.
Petugas mulai melepas borgol di tangannya. Lalu mulai berganti dengan mengikat tangan dan kaki Atlas di sebuah tiang yang ada disana. Setelah merasa cukup seorang dokter datang dan mendekat ke arah Atlas.
Da memberikan tanda X tepat di jantungnya lalu segera menjauh dari Atlas. Semua orang mulai meninggalkan Atlas sendirian. Namun, beberapa meter dari posisinya, dia bisa melihat seorang komandan mulai menyiapkan kesiapan eksekusi dirinya.
"Laksanakan!"
Pedang komandan mulai mengarah ke bawah dan bersamaan dengan itu sebuah suara tembakan yang melepaskan peluru tajam menghujam tepat di jantung Atlas. Darah segara mulai membasahi baju miliknya dan menandakan jika pria itu sudah tiada.
Hidupnya sudah berakhir disini dengan sebuah penyesalan besar yang melingkupi hatinya. Namun, begitulah hukum alam. Apa yang kamu tabur maka itu yang kamu tuai. Jadi berpikirlah sebelum kalian melakukan apapun, agar tak ada penyesalan di kemudian hari.
~Bersambung~
Akhirnya dia menjemput maut. Hiks maapkan aku tak memberikannya kesempatan untuk bertobat yak.
Kalau ada typo silahkan komen. Aku ngetiknya sambil ngantuk. huhuhu.
Maap baru kelas revisi tadi.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar aku semangat ngetik novel ini.