
"Lebih baik kalian berdua langsung tentukan tanggal pernikahan dengan putri Ayah secepatnya. Sepertinya mereka juga sama tak sabaran untuk cepat-cepat menikah."
"Ayah," rengek Sia dan Cressida bersamaan.
Kedua pipi mereka bersemu merah. Mereka begitu malu saat Jericho mengatakan tersebut. Namun, di sudut hati yang terdalam, keduanya tak membantah.
Mereka juga butuh kepastian. Keduanya bukan lagi anak-anak yang ingin mencoba-coba. Mereka sudah dewasa dan ingin melanjutkan ke jenjang yang serius.
"Tentu, Ayah. Besok Galaksi akan urus semuanya."
"Kakak," sahut Sia menatapnya tak percaya.
"Kenapa, hm?" Galaksi mendekat. Dia merapikan anak rambut Sia yang menutupi wajahnya. "Kamu ingin menundanya?"
Galexia menggeleng. Bukan dirinya menolak tapi persiapan pernikahan tak semudah itu menurutnya. Banyak hal-hal yang harus mereka urus dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
"Semuanya butuh waktu, Kak. Kita tak bisa menggunakan kekayaan hanya untuk melakukan semuanya seperti kemauan kita," kata Sia dengan mata yang terus menatap ke arah wajah calon suaminya. "Berikan mereka waktu untuk mengerjakan seperti kemampuan mereka."
Galaksi hanya bisa menghela nafas berat. Beginilah jika memiliki istri yang hatinya begitu baik. Yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.
"Baiklah," sahut Galaksi pasrah yang langsung dihadiahi sebuah senyuman lebar di bibir Sia.
"Tapi kalian jangan lupa, jadwal manggung Sia mulai padat. Aku sudah mengaturnya sejak kepulangan kalian dari New York," celetuk Riksa dengan diiringi ledekan.
"Apa!" Wajah Galaksi memberengut. Dia menatap ke arah istrinya sampai membuat wanita itu menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Apa kamu masih mau menyanyi setelah kita menikah?" tanya Galaksi dengan spontan.
"Tentu saja. Jadwalku tak bisa tiba-tiba kuputuskan, Kak. Aku harus bersikap profesional," kata Sia dengan tegas.
"Berarti anakku seorang penyanyi?" tanya Rhea dengan wajah penuh tanya.
Galexia menoleh. Kepalanya mengangguk dan berjalan ke arah orang tuanya.
"Iya, Bu. Kehidupan Sia dan Mars selama ini semua dari hasil menyanyi."
"Jadi Cucu Ibu juga?"
"Iya."
"Maafkan Ayah dan Ibu, Sia. Kamu harus melewati semua ini tanpa…."
"Ayah," potong Sia cepat dan meraih kedua tangan sang ayah. "Jangan katakan apapun. Itu semua sudah terlewat, bukan? Yang terpenting sekarang, kita sudah bersama."
Wajah Jericho dan Rhea tetap terlihat muram. Walau mereka bisa melihat kedua anaknya hidup dengan baik selama mereka tak ada. Namun, di dasar hati yang terdalam tetap saja, ada perasaan menyesal ketika melihat kedua anaknya harus hidup dan berjuang sendirian.
Ketika mereka berdua disekap, kedua anaknya harus melawan pahitnya hidup. Berpisah dalam waktu yang begitu lama, bukanlah hal yang mudah untuk mereka.
"Percayalah, Ayah. Sia tak menyesal dengan takdir hidup kita," kata Sia dengan senyum tulusnya.
"Apa kita akan terus berdiri di luar, Ayah? Cressida sudah begitu penasaran dengan rumah masa kecil kita," kata wanita yang berdiri di dekat Riksa sejak tadi.
Wanita itu ingin mengalihkan perhatian kedua orang tuanya. Cressida dan Galexia saling mengkode melalui mata agar kesedihan dan penyesalan Jericho dan Rhea tak membuat beban baru di pikiran mereka.
"Ah maafkan Ibu, Nak. Ayo kita masuk!" Rhea menepis air mata yang jatuh. Lalu dia meraih kedua tangan putrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Sedangkan di belakangnya, ada Galaksi dan Riksa yang menggandeng si kembar di sisi kanan kirinya. Mereka sama-sama tak sabaran untuk melihat bagaimana indahnya rumah yang sudah lama ditinggalkan.
"Wah, lumahnya bagus. Sepelti istana plinces elsa, Papa," celetuk Venus saat dirinya baru menjejakkan kakinya.
Bocah kecil yang begitu aktif itu segera melepas gandengan papanya. Dia berlari lebih dalam dan melihat ruang tamu yang jauh lebih besar dari rumah papanya.
"Kakek…Kakek," panggil Venus ke arah Jericho. "Ini benal lumah, Kakek?"
"Benar, Sayang. Tapi sebentar lagi ini bukan hanya rumah Kakek, melainkan rumah cucu Kakek juga."
"Wah asyik...asyik. Venus mau bobok disini." Bocah kecil itu berlari ke arah sofa.
Dia menepuk sebuah sofa yang terlihat begitu halus dan empuk. Sedangkan di belakangnya, sang Abang dengan setia mengikuti tingkah adiknya itu.
"Apa kalian ingin berkeliling?" tanya Rhea ke arah dua putrinya yang masih melihat seluruh ruangan di ruang tamu.
"Iya, Bu. Apa boleh?"
Akhirnya kedua pasangan itu berpencar. Mereka sama-sama mencoba menelusuri rumah yang begitu mewah ini dengan pasangannya masing-masing. Jika Riksa dan Cressida meneruskan langkahnya lebih masuk. Berbeda dengan Galaksi dan Galexia, orang tua si kembar lebih memilih keluar dan menelusuri pilar-pilar tinggi menuju ke arah samping rumah.
Tangan keduanya saling bertautan. Berjalan bergandengan dengan senyuman bahagia yang terus muncul di bibir mereka.
"Apa kamu bahagia?" kata Galaksi dengan menatap ibu dari anak-anaknya.
"Tentu saja, Kak. Aku bahagia sekali," kata Sia menghentikan langkahnya. "Apa yang harus aku sedihkan?"
"Kedua orang tuaku sudah kembali. Aku bertemu dengan adik kandungku. Memiliki kedua anak yang lucu-lucu dan mertua yang begitu baik. Lalu, Tuhan juga menitipkan pasangan yang begitu sempurna untuk aku disini," kata Sia sambil menunjuk dada Galaksi.
"Aku tak sempurna, Sayang. Aku pria yang pernah menyakitimu."
"Ustt. Lupakan tentang itu. Semua sudah terlewati dengan baik untuk kita berdua," ujar Sia dengan tersenyum tulus.
"Terima kasih."
"Terima kasih kembali, Kak."
****
Sedangkan di tempat lain, dengan situasi yang sama-sama bahagia. Sepasang calon pengantin juga melakukan hal yang sama. Berjalan sambil bergandengan tangan. Namun, kedua bibir mereka tak ada yang bersuara.
Seakan keduanya masih merasa canggung dengan keadaan ini. Keadaan setelah sekian lama berpisah akhirnya bisa berdua kembali. Keadaan dimana rasa di dalam hati mereka mulai saling menyadari. Jika antara satu dengan yang lain sedikit demi sedikit telah timbul cinta di antara mereka.
"Cerewet."
"Cabul."
Keduanya saling menoleh. Mereka tak menyangka jika bisa memanggil dalam waktu yang bersamaan. Hingga saat wajah mereka berdua bertemu, tawa lucu muncul di bibir Riksa dan Cressida.
"Kamu duluan," ucap keduanya bersamaan.
Mereka sama-sama terkekeh dengan Riksa yang menggaruk kepala belakangnya karena merasa canggung. Entah kenapa jantungnya berdebar kencang seakan takut untuk mengatakan sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita suit. Yang kalah yang berkata duluan?" tawar Cressida sambil menggerakkan alisnya.
"Baiklah." Riksa mengangguk.
Keduanya sama-sama menggerakkan tangan mereka. Bersiap untuk melakukan suit terbaik di antara keduanya.
"Pingsut."
"Yey, menang." Cressida menggerakkan badannya. Dia ke kanan dan ke kiri karena bisa mengalahkan si cabul.
Sedangkan Riksa hanya bisa tersenyum dalam diam. Dia merasa bersyukur karena bisa diberikan kesempatan untuk melihat bagaimana bahagianya calon istrinya itu.
"Ayo katakan!" desak Cressida tak sabaran.
Riksa menelan ludahnya paksa. Entah kenapa dia merasa gugup untuk mengatakan hal ini. Sudah sejak perpisahan mereka antara New York dan Indonesia membuatnya menyadari. Menyadari sesuatu yang muncul di hatinya selama ini.
Kehadiran dan sosok Cressida mampu menepis sosok wanita yang tak bisa dijangkau. Dari sikapnya yang berbeda, dengan mudah wanita di depannya ini bisa menepis wajah dan bayang-bayang Sia dari kepalanya.
Memberanikan diri, Riksa melangkah lebih dekat. Hal itu tentu membuat Cressida menjadi gugup. Bahkan tanpa sadar tubuh wanita itu melangkah mundur sampai terpepet tembok.
Dirinya merasa gemetaran dengan posisi sedekat ini. Apalagi melihat tangan Riksa yang mengungkung tubuhnya, membuat Cressida tak bisa berkutik.
"Sebenarnya sebelum aku menghilang. Ada yang ingin aku sampaikan, tapi karena waktunya tak tepat. Aku menundanya sampai detik ini," kata Riksa mengawali. "Tapi sepertinya aku sudah tak mampu menahannya. Menunggu besok pun, aku sudah tak mampu."
Entah kenapa perkataan Riksa yang serius membuat Cressida seakan susah menelan ludahnya sendiri. Dia merasakan keringat dingin di kedua telapak tangannya dan rasa gugup secara bersamaan.
Kedua manik mata itu saling bertatapan dengan pancaran yang sama. Saling memuji antara satu dengan yang lain. Menatapnya penuh binar cinta yang semakin menggetarkan hati keduanya.
"Cressida," panggil Riksa pelan dengan wajah semakin dekat hingga hidung keduanya bersentuhan.
"Aku mencintaimu."
Setelah itu entah siapa yang memulai, kedua bibir itu saling bertemu, Saling menyalurkan perasaan yang membuncah melalui pagutan bibir mereka. Cinta itu telah tumbuh subur dan keduanya berharap semoga apa yang menjadi keinginan keduanya bisa dilewati dengan mudah dan lancar.
~Bersambung~
Huaa kabur! Aku masih kecil, hahaha.
Maaf ya baru update, aku tadi pagi sampai sore habis cek kerjaan offline. Semoga bab ini bisa melepas kerinduan kalian pada pasangan Cabul dan Cerewet, hehe.
Jangan lupa like, komen dan vote. Doain aku yah, semoga besok levelnya naik. Kalau naik aku bakalan lanjut novel ini sampai season kedua.