The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Dua Wajah yang Sama




Gelas yang berada di tangan Sia spontan terjatuh. Perempuan itu begitu terkejut dengan apa yang dikatakan mantan suaminya. Wajahnya tak percaya hingga dia menatap Galaksi dan Orion yang juga menatapnya.


"Bagaimana mungkin?" tanya Sia dengan wajah linglung.


"Diam disitu, Sia!" seru Galaksi hendak turun.


"Biar gue aja, Lak," ujar Leo lalu dia membantu Sia untuk duduk.


Bu Na dengan spontan memberikan segelas air putih pada Sia. Perempuan itu tentu masih dilanda keterkejutan. Namun, apa lagi yang harus disembunyikan oleh Galaksi? 


Mungkin Sia harus tahu juga tentang semua ini. Bagaimanapun mantan istrinya ini yang selalu mendapatkan perlakuan buruk oleh Mamanya. 


"Kemarilah, Sia," pinta Galaksi menunjuk kursi dekat Orion.


Sia menarik nafasnya begitu dalam. Dia tentu saja masih merasa shock. Namun, telinganya tentu berfungsi dengan baik dan dia yakin apa yang dikatakan oleh Galaksi tadi sebuah kebenaran.


Perlahan Galexia beranjak berdiri. Dia melangkahkan kakinya menuju ke arah dua pria itu, lalu dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada tepat di samping Orion, pria yang baru kali ini dia temui. 


"Kita cerita dari mana?" tanya Orion menatap Sia dan Galaksi bergantian. 


"Semuanya, Om. Apa yang Om tahu, Galaksi mohon beritahu kami."


"Mars ikut juga," celetuk Mars yang membuat kedua orang tua itu menoleh ke samping. 


Ketiganya baru menyadari jika si kembar masih duduk anteng disana. Bahkan Galaksi yakin jika mereka sudah mendengar dan tahu apa yang tadi sedang dibahas.


"Jadi Nenek peyot bukan neneknya Venus?" tanya gadis kecil itu dengan wajah lugunya.


Galaksi dan Sia saling berpandangan. Keduanya benar-benar bingung harus mengatakan apa. Terlalu fokus dengan pembahasan ini. Hingga membuat keduanya lupa akan posisi anak mereka. 


"Sayang, kalian main dulu sama Om Leo, 'yah?" bujuk Sia menatap kedua anaknya.


Spontan keduanya menggeleng. Bahkan dengan serempak si kembar mengatakan tidak. Keduanya bahkan memberikan bentuk protes melipat kedua tangannya di depan dada dan semakin memepetkan tubuhnya dengan Galaksi.


Sia hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Mau bagaimana lagi? Dibujuk pun tak akan bisa. Kedua anak itu memiliki sifat keras kepala seperti ayahnya. Jadi, baik Galaksi dan Sia akhirnya mengizinkan mereka berada disana. 


Tanpa terkecuali, Leo dan Bu Na pun sama mendekati ranjang. Mereka semua tentu ingin mendengar bagaimana kejadian yang sebenarnya. Sungguh rasa penasaran hinggap di hati mereka semua. Hingga mereka semua mulai menyiapkan mental dan jantung mereka untuk mendengar cerita dari Orion.


"Saat itu…." 


"Istriku akan menemui teman-temannya, Rion. Tolong jaga dia jari jauh," ucap Tuan Altair, Papa Galaksi pada Orion.


"Siap, Tuan."


"Ingat! Jangan sampai istriku tahu. Dia paling tidak suka diikuti bodyguard, tapi aku mengkhawatirkan keselamatannya. Aku takut ada seseorang yang ingin mencelakainya," kata Altair dengan wajah yang benar-benar khawatir.


Bersamaan dengan itu, seorang anak berusia 12 tahun datang mendekati ayahnya. Dia mendudukkan dirinya di samping sang ayah, setelah menyapa Orion dengan melambaikan tangan.


"Om Orion mau kemana? Kok rapi banget. Galaksi ikut dong," ucap anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. 


"Siap, Om." 


Akhirnya Orion segera pamit dari hadapan Altair dan Galaksi. Dia segera berjalan ke halaman rumah dan melihat satu mobil yang diyakini akan digunakan oleh Nyonya besar.


Dengan cepat Orion menuju kendaraan tersebut. Dia membuka pintu depan dan mengeluarkan benda kecil dari saku kemejanya. Itu adalah alat perekam suara dan pelacak untuk jaga-jaga. Jadi, saat ada apa-apa, Orion bisa langsung cepat tanggap.


Setelah benda itu diletakkan ditempat yang tersembunyi. Akhirnya Orion segera kembali ke rumahnya. Dia meninggalkan halaman rumah Tuan besar dan berhenti di tempat yang lumayan jauh dari jangkauan Nyonya besar jika dia keluar.


Hampir sepuluh menit dari aksinya. Terlihat seorang wanita yang masih begitu cantik baru saja keluar dengan seorang anak kecil. Dia adalah Pandora dan Galaksi. Orion tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Sosok ibu dan anak yang tak bisa dipisahkan tentu membuat mereka akan melewati drama panjang ketika ada yang akan pergi. 


Setelah berhasil membujuk Galaksi. Pandora segera memasuki mobilnya. Dia mengendarai dengan santai tanpa tahu jika di belakangnya ada sebuah mobil yang akan mengikuti kemanapun dia pergi.


Setelah perjalanan hampir 45 menit. Akhirnya Pandora sampai di sebuah restaurant yang sudah dipesan untuk pertemuan mereka. Dengan santai, wanita cantik itu duduk di sebuah kursi sambil menunggu rekannya yang lain. Sedangkan Orion, pria itu tentu ikut masuk ke dalam.


Dengan tenang. Dia mengambil jarak dari meja nyonya besar lalu menutupi wajahnya dengan buku menu. Tak ada hal janggal apapun. Bahkan mata kaki kanan Altair itu berkeliling hingga dia menyadari kenapa restaurant ini terkesan tak sepadat seperti biasanya. Namun, akhirnya pandangannya terputus ketika sang Nyonya besar beranjak dari dudukannya dan berjalan menuju kamar mandi.


Orion masih tenang. Bahkan matanya sesekali menatap pintu ke arah kamar mandi. Hingga sampai lima menit berlangsung, Orion dibuat terkejut ketika matanya menatap seorang perempuan yang baru saja memasuki restaurant. Namun, bukan itu yang menjadi picuan dia shock. Melainkan wajahnya yang sama dengan sang Nyonya besar dan wanita itu duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Pandora.


Nafas Orion terasa sesak. Dia akhirnya segera berjalan menuju kamar mandi wanita dengan gerakan cepat dan sembunyi. Hingga saat dia berhasil masuk, semua kosong dan sunyi. Sampai matanya menangkap sebuah pintu yang terbuka dan spontan dia berlari kesana. 


Sebuah mobil suv hitam baru saja meninggalkan tempat itu. Hal itu tentu membuat Orion semakin yakin jika ada yang tak beres. Dia segera berlari ke mobilnya dan mengikuti kendaraan yang diyakini membawa sosok perempuan yang begitu berjasa dalam hidupnya. 


Satu tangannya fokus dengan stir kemudi. Sedangkan tangan yang lain, mencari headset yang sudah di sambungkan dengan mobil yang ia beri perekam suara. Selain itu dirinya juga membuka ponsel untuk melihat mobil sang nyonya besar akan pergi kemana.


Pandangannya begitu fokus dengan mobil di depannya. Sampai mobil itu berhenti di sebuah area gedung gak terpakai. Dari jarak aman, Orion bisa melihat mereka membawa seorang perempuan dalam keadaan tak sadarkan diri dari dalam mobil. Tangan Orion mencengkram kuat stir kemudi. Dia yakin jika itu Pandora yang asli karena pakaiannya masih tetap sama. 


Saat Orion berniat turun dari mobil untuk menyelamatkan sang nyonya. Tubuhnya tiba-tiba mematung saat sebuah suara terdengar dari headset yang digunakan di telinganya. Suara itu, tentu dia begitu tahu suara milik siapa. 


"Lalu bagaimana, Om? Suara siapa yang Om dengar?" desak Galaksi membuyarkan ingatan Orion dari kejadian itu. 


Orion menatap Galaksi dengan pandangan yang sulit dijabarkan. Dia seakan ragu dengan apa yang dia dengar dan ingin disampaikan. 


"Katakan, Om! Suara siapa itu?" 


"Suara Tuan besar." 


~Bersambung~


Hyaaa hahaha, pusing lah pusing.


Pada bisa nebak gak yah? Hayoo.


Bab ini seharusnya bab semalem, tapi pas aku ngetik dapat sebagian. Aku ketiduran. Jadi maaf ya yang udah nungguin.


Bab ini bikin deg-degan gak? jawab yah. Soalnya baru kali ini aku bikin cerita yang ada misterinya.


Jangan lupa like, komen dan vote yah. Sebagai bentu apresiasi kalian sama novel si kembar.


Mau update lagi? tembus 250 like aku up lagi.