The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kebenaran Ketiga




"Aku pastikan semua rencana yang ada di kepalamu, terhempas saat melihat mereka, 'bukan?"


Wajah Pandora benar-benar memucat. Bahkan keringat dingin mulai terasa di kedua telapak tangannya. Matanya memancarkan ketakutan yang begitu besar hingga membuatnya sulit untuk menelan ludahnya sendiri.


Sungguh udara di ruangan ini terasa begitu sesak. Bahkan membuat semua yang menghirupnya tercekik karena aura menyesakkan begitu terasa. Wajah Galaksi yang begitu murka, tentu membuat mereka yang baru saja datang mengetahui jika tuannya ini sudah mulai lepas kendali.


Apalagi melihat kondisi Pandora yang sama mengenaskan dengan Pak Do. Membuat mereka sudah tahu jika Galaksi sudah mengatakan semuanya pada perempuan itu.


"Kenapa kau lakukan itu padaku, Ma! Kenapa!" teriak Galaksi menggelegar.


"Kenapa kau yang menjadi dalang dari kehancuran anakmu sendiri? Apa salahku padamu, Ma? Apa!" serunya dengan air mata yang merembet di kedua matanya.


Galaksi merasa tak terima. Namun, dia juga takut untuk mengetahui semua kebenaran apa lagi yang akan dia dengar. Dirinya begitu tak siap jika mendengar dan mengetahui hal yang ada di pikirannya akan menjadi nyata. 


Hingga tak lama, suara tawa Pandora begitu lepas. Bahkan wanita itu bertepuk tangan seakan bahagia dengan kejadian ini. Rasa takut itu mulai menguap dalam dirinya ketika menyadari jika semuanya sudah ada diujung tanduk.


"Apa yang sedang kau tertawakan, Ma? Apa kau bahagia melihat hidup anakmu seperti ini?" 


"Ya. Aku bahagia," sahut Pandora cepat dengan seringai liciknya. "Bahkan aku akan sangat bahagia jika kau menderita, Galaksi!" 


Pandora menatap pria di depannya ini dengan tajam. Wajah yang dulunya masih imut dan muda, sekarang sudah menjelma menjadi seorang pria dewasa yang gagah dan tampan. Pikirannya tak selugu dulu, bahkan sekarang dia tak bisa dibodohi lagi olehnya. 


"Kau pasti ingin tau, 'kan? Kenapa aku bahagia melihatmu menderita?" tanya Pandora dengan menatap Galaksi tajam.


Galaksi masih mematung. Dirinya semakin tak mengenali sosok di depannya ini. Wajah dan sikap yang dulunya laksana bidadari, perlahan menghilang. Seakan semua kebaikannya terhempas dan diganti dengan sikap tamak dan rakus akan harta dan status sosial.


"Jawab, Galaksi! Kau ingin tau?" bentak Pandora hingga Galaksi menganggukkan kepalanya lemah.


Dia merasa tak ada tenaga lagi untuk menjawab. Seakan dirinya sudah lelah dengan keadaan. Kondisi tubuhnya yang masih lemah karena kecelakaan. Harus mendapatkan banyak kejutan dari sang Mama. Hingga dia sudah berada di titik terendah. Galaksi merasa dia tak akan sanggup untuk mendengar kenyataan apapun lagi.


Pandora bertepuk tangan. Hatinya berbunga melihat wajah Galaksi yang semakin memucat. Bahkan perempuan itu seperti penari yang bergerak ke sana ke mari. Semua orang benar-benar merasa takut dengan aura wanita itu. Bahkan Bu Na sampai menundukkan kepalanya. 


Setelah dirinya merasa bosan. Pandora mulai menghentikan gerakannya. Dia berjalan mendekati Galaksi dan mendongakkan kepala pria tampan itu.


"Karena Mamamu sudah menghancurkan kebahagiaanku," ucap Pandora pelan hingga membuat tatapan Galaksi mengarah kepadanya.


"Ya. Karena kau adalah anak dari perempuan yang mengambil cintaku!" ujarnya dengan mata tajam.


"Karena Mamamu, sudah mengambil kekasihku!" ucapnya dengan diiringi tawa menyakitkan. 


Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa dari seseorang yang memiliki kenyataan pahit jika hubungannya harus kandas di masa lalu.


Galaksi merasakan sesak nafas. Dia menatap Pandora tak percaya. Sungguh pernyataan wanita itu, membuat praduganya kembali muncul hingga menghantam hatinya yang sudah hancur. 


"Jadi...jadi…." 


"Ya. Kau bukan anakku, Galak! Kau bukan anakku!" serunya dengan menunjuk wajah Galaksi. "Kau adalah anak dari wanita rendahan itu. Wanita yang mengambil kekasihku dan menghancurkan semua impianku." 


Tubuh Galaksi terhuyung. Namun, Bu Na yang berdiri tak jauh darinya, segera menangkap bobot badan Galaksi agar tak terjatuh.


"Kau harus hancur, Galaksi! Kau harus menderita, seperti aku yang dulu hampir gila karena Mamamu mengambil pacarku." 


Galaksi menatap Pandora dengan pandangan kosong. Dirinya merasa ditampar dengan kenyataan berkali-kali lipat. Tubuhnya yang lemah tentu tak mampu menampung banyaknya beban dalam dirinya. Hingga tak lama, mata itu perlahan mengabur dan dirinya tak sadarkan diri.


****


Bahkan melihat sikap dan sifat kedua anak kembarnya yang tak berubah, membuat hati Sia tak merasakan sakit ataupun khawatir. Sikap Mars dan Venus masih tetap sama seperti dulu. Walau mereka sudah tahu siapa ayah kandungnya, mereka ternyata tak meninggalkannya. Ketakutan yang selama ini bersarang dalam pikirannya ternyata tak terjadi. Hingga membuat kebahagiaannya kali ini begitu nyata tanpa didampingi rasa ketakutan dalam dirinya.


"Mama," panggil Mars yang membuat Sia menoleh. 


"Ya, Nak?" 


"Apa dia benar-benar sayang sama Mars dan Venus, Ma?" 


Sia spontan terdiam. Jujur bukannya dia tak mengerti akan apa yang diucapkan oleh Mars. Melainkan, Galexia sendiri tak tahu apa yang dirasakan mantan suaminya. Dirinya tak mau memberikan harapan kosong pada dua anaknya. Namun, memberikan kenyataan pahit tentu semakin membuat Sia takut jika Mars dan Venus akan merasa tersakiti.


"Orang tua manapun pasti akan sayang pada anak-anaknya, Sayang. Hewan saja yang tak memiliki akal dia begitu sayang dengan anak-anaknya. Apalagi manusia yang memiliki akal dan perasaan?" 


Mars mengangguk setuju. Namun, entah kenapa dia masih ragu dengan jawaban Mamanya ini. Seakan sosok Mamanya sedang menutupi sesuatu dari dirinya. 


"Ada apa lagi, Nak?" tanya Sia dengan mengelus kepalanya pelan.


"Kenapa nenek begitu membenci, Mama?" 


Sia tertegun. Dia tak menyangka jika kedua anaknya begitu kritis hingga membuatnya gugup saat Mars dan Venus menatapnya dengan lekat. Sia menelan ludahnya paksa saat dirinya bingung harus menjawab apa untuk putra dan putrinya.


"Nenek Alya saja yang bukan siapa-siapa kita, sayang banget sama Mama, Venus dan Mars. Lalu kenapa Nenek dari Papa membenci kita semua?" 


Skakmat!


Sungguh Galexia tak mau menceritakan semuanya pada Mars dan Venus. Apalagi mengatakan jika kehadirannya sebagai menantu yang tak diingininkan oleh Pandlra hanya karena dia bukan dari keluarga kaya. 


Galexia tak mau meninggalkan kesan buruk tentang Pandora. Dia tak mau kedua anaknya memiliki dendam pada sosok yang seharusnya mereka hormati. Hingga saat Sia sudah diujung tanduk, suara ketukan pintu yang terdengar kencang dan panggilan dari seseorang yang begitu dia kenal membuat ketiganya spontan beranjak berdiri. Sia bahkan dengan tergesa menuju pintu tersebut dan membukanya dengan cepat.


"Leo," ucap Sia heran menatap sahabatnya yang terengah-engah seperti habis dikejar seseorang. 


Sia menengok ke belakang dan mengerutkan keningnya saat tak ada siapapun disana.


"Kamu ngapain lari-lari?" tanya Sia heran.


"Ayo ikut aku, Sia!" ajak Leo menarik tangan Sia. 


"Eh kemana?" Sia menahan tangan Leo hingga pria itu berdecak kesal dan membalikkan tubuhnya.


"Galaksi pingsan di rumahnya dan sekarang dibawa ke rumah sakit."


~Bersambung~


Udah ada yang ke jawab belum ya tebakannya, haha.


Sekarang tinggal kenyataan siapa Pandora sebenarnya?


Maaf aku baru update. Dari pagi rada shock berat liat level si kembar. Hmm rasanya aku pengen berhenti di titik ini. Tapi inget ada pembaca yang setia bagi like, komen dan vote aku jadi ngerasa bersalah.


Semoga moodku yang rusak gak mempengaruhi tulisanku ini.


Jangan lupa like, komen dan vote. Hal kecil ini aja sebagai bentuk apresiasi kalian agar novel kembar bisa naik level. Plis jangan ditimbun babnya. Aku usaha 3 bab perhari biar kalian gak nimbun.


Tembus 250 like? oke aku usahain update lagi.