The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Penyelamat Atlas?




Semua orang akhirnya kembali duduk di ruang tamu. Mereka masih terdiam membisu setelah kejadian beberapa menit yang lalu. Seakan kehadiran saudara kembar dari Altair, tentu membuat mereka semua masih merasa shock. Namun, kehadiran Orion yang tiba-tiba dengan segala perkataannya semakin membuat mereka begitu terkejut.


Sungguh pria yang umurnya hampir 50 tahun itu, begitu misterius. Kinerjanya yang cepat, tepat dan tanggap, tentu membuat mereka sekaligus musuhnya terkecoh. Pekerjaan yang dilakukan Orion seakan tersembunyi dan rapi. Hingga nanti akan meledak disaat waktu yang sudah ditentukan. 


Disaat semua orang masih termenung. Celotehan dari bibir Venus, membuat perhatian mereka tertuju padanya.


"Belalti sekalang Venus jadi olang kaya dong, Om?" 


Orion menoleh. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. 


"Wah. Belalti Venus bisa ke lual negeli ya, Om?" 


"Tentu saja, Sayang. Kamu bisa kemana saja." Mata Venus berbinar. 


Manik mata biru itu terlihat begitu senang. Bahkan tangannya tak berhenti bergerak seakan dirinya sedang dibuat bingung. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah muram. Dia menatap ke arah Orion yang sejak tadi sedang menatapnya.


"Kalau uang Papa punya Abang sama Venus. Belalti Papa Galak kismin dong, Om?" celetuk Venus dengan wajah penuh kesedihan.


Perkataan itu tentu mengundang gelak tawa semua orang. Mereka begitu terhibur dengan perkataan bocah umur 6 tahun tersebut.


"Kismin?" 


"Itu miskin maksutnya, Om," sahut Sia menambahi.


Orion terkekeh. Lalu dia kembali menatap ke arah putra dari anak majikannya itu dan mengacak rambutnya. "Ya, Papa Galaksi sudah miskin. Semua hartanya, 'kan, sudah diberi nama kalian berdua." 


Mulut Venus menganga lebar. Matanya seakan berubah berwarna hijau ketika membayangkan uang yang banyak. 


"Uang Papa pasti banyak. Buat tidul apa bisa, Om?" 


"Bisa."


"Buat mandi?" 


"Bisa juga." 


"Dasar cerewet!" dengus Mars menatap jengah ke arah tingkah laku adiknya itu.


"Bialin, wlekk!" Venus menjulurkan lidahnya. "Emangnya Venus kayak Abang. Yang gak bisa senyum atau bahagia ketika melihat duit." 


Galexia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka jika putrinya bisa berpikiran seperti itu. Namun, dirinya sadar diri. Selama ini hidup mereka bertiga begitu keras.


Bekerja di usia dini. Berusaha untuk bertahan hidup dan dari hujatan semua orang. Semua itu adalah pencapaian yang luar biasa untuk bocah 6 tahun. Mereka bisa melewati semua itu tanpa membalas pun sungguh begitu kuat. 


Hingga saat melihat Venus begitu bahagia akan apa yang diberikan papanya. Tak membuat Sia merasa marah. Namun, jujur di hatinya merasa janggal. Kapan mantan suaminya itu memproses semua ini. Bukankah selama ini Galaksi selalu bersama mereka.


"Om?" 


"Ya?" sahut Orion yang langsung menegakkan kepalanya.


"Kapan Kak Galaksi menyiapkan semua ini?" kata Sia dengan memandang wajah Orion lekat. "Bukankah selama kita ada disini, Galaksi selalu bersama kami?" 


Orion mengangguk. Dia membenarkan duduknya sambil menatap Sia yang sepertinya begitu menunggu jawabannya. 


"Sejujurnya Galaksi sudah menyiapkan semuanya saat Alula meninggal. Entah kenapa dia memiliki firasat tak enak dan langsung mengatakan pada pengacara untuk memberikan warisan hartanya pada kedua anaknya." 


"Jadi itu semua benar?" 


Sia benar-benar tak menyangka jika apa yang dia dengar benar-benar nyata. Menurutnya, perkataan Orion tadi hanya untuk menggertak Atlas. Namun, melihat wajah pria paruh baya tersebut begitu serius, membuatnya yakin. Jika apa yang dikatakan dan terjadi, benar-benar nyata untuk kedua anaknya.


"Tapi bagaimana bisa mereka mengurus semuanya, Om? Mereka hanya anak kecil umur 6 tahun," kata Sia yang masih begitu bingung. 


"Aku dan pengacara akan membantu dan menggantikan mereka sampai keduanya benar-benar siap mengurus semuanya." 


****


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di kantor polisi. Terdapat seorang pria yang wajahnya begitu memerah karena emosinya yang meledak. Bibirnya tak henti mengeluarkan sumpah serapah saat anak buahnya begitu tak becus untuk melakukan apa yang dia perintahkan. 


Apalagi saat melihat sosok perempuan yang begitu diharapkan kehadirannya tak kunjung ada kabar. Membuat Atlas semakin tersudut. Dirinya tak menyangka jika semua ini begitu menyerangnya dengan mendadak. Bahkan kedatangan Orion yang tiba-tiba membuat Atlas semakin emosi.


"Bagaimana?" seru Atlas dengan nafas memburu.


Saat ini mereka ada di ruang jenguk. Kedua tangan Atlas tentu saja diborgol dan diawasi oleh dua orang polisi. Posisi pria itu benar-benar dijaga ketat dan tak ada celah untuknya bisa kabur. 


"Nona muda menghilang, Tuan. Dia tak ada di rumah dan apartemen." 


"Apa!" serunya dengan mata melotot.


Kedua tangan Atlas terkepal kuat. Dengan dadanya yang naik turun saat mendengar perkataan anak buahnya itu. Pikirannya tentu langsung melayang memikirkan keberadaan wanita itu. Wanita yang selama ini membantunya sampai di titik ini.


"Kalian cari keberadaannya sekarang juga! Hanya dia yang bisa mengeluarkanku dari sini!" seru Atlas pada anak buahnya yang datang untuk menjenguk.


"Siap, Tuan. Kami akan mencari keberadaan Nona sampai ketemu." 


"Bagus. Kalian pergilah dan bawa dia secepatnya!" 


Setelah anak buahnya pergi. Atlas dibawa kembali ke penjara. Dia harus menunggu pengacara dan sosok penyelamat dirinya untuk mengeluarkannya dari sini. Dia tak boleh ada disini. Atlas harus bisa keluar apapun yang terjadi.


Tempatnya bukan lantai dingin dan pagar besi itu. Seharusnya rumah mewah dan megah itulah tempat tinggalnya sekarang. Namun, semua itu harus hancur karena pria tak berguna itu.


"Aku harus bisa keluar dari sini dan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!"


****


"Bagaimana?" tanya seorang pria yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita.


Keduanya saling berhadapan dengan tatapan mata saling berpandangan. Pria itu tak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya ini, yang begitu dia kenal ternyata salah satu dalang dari semua peristiwa ini. Sungguh dia merasa tertipu akan apa yang wanita itu lakukan selama ini. Bahkan sikap baik dan centilnya hanya sebagai kedok untuk mendekati dirinya dan keluarganya.


"Imbalan apa yang akan kau berikan padaku, hm?" tawarnya dengan senyum miring. "Dia saja membayarku dengan mahal!" 


"Sebutkan saja apa yang kau inginkan untuk berada dipihakku," katanya dengan mata tajam menatap wanita itu. 


"Bebaskan aku dari semua tuduhan! Jangan penjarakan aku, dan jangan membawa namaku di pengadilan. Deal?" serunya dengan mengulurkan tangannya.


Senyum miring tercetak di wajah pria itu. Tanpa berpikir dia membalas jabat tangan wanita itu dan meremasnya dengan kuat. Tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. Namun, satu hal yang ada dihatinya, semua harus selesai dan tuntas.


"Jika kau berani berkhianat, jangan harap jantungmu masih bisa berdetak saat itu juga." 


~Bersambung~


Hiyaaa setelah berpikir dari pagi, akhirnya selesai juga bab ini. Semoga kalian mulai ada titik terang. Gaktau titik terang apa, hahaha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote ya sebagai apresiasi karya ini.


Insya allah nanti malam up lagi satu bab. Yok Tembus 250 like!