
"Terus jalan, Pak!"
Setelah mengatakan itu, Sia melepas seat belt yang digunakan. Lalu dengan sekali gerakan, dirinya melangkah dan duduk di tengah-tengah kedua anaknya. Dia benar-benar takut. Namun, keberadaan kedua anaknya membuatnya harus menjadi sosok paling tenang di antara mereka semua.
"Berhenti!" seru pria tadi kembali berteriak.
"Jangan kurangi kecepatan, Pak! Terus tekan pedal gas," ucap Sia dengan jantung berdebar kencang.
Ini untuk pertama kalinya dia berada di keadaan seperti ini. Dengan senjata api, kebut-kebutan dan pria berbadan besar. Seakan ketenangan dalam hidupnya mulai tak ada sejak kehadiran mantan suaminya.
Apakah semua ini ada kaitannya dengan Galaksi?
Sejak pertemuan mereka, kehidupan mereka jauh dari biasanya. Tertekan, penuh ketakutan, dan banyak sekali ujian yang datang menerpa.
Dirinya hanya bisa memeluk Mars dan Venus dengan harapan ada seseorang yang akan membantunya. Tak ada lagi harapan yang dia inginkan. Hanya itu dan kedua anaknya selamat.
Dor!
Tak lama lamunan Sia buyar. Dia semakin memeluk kedua anaknya dengan kuat.
"Tutup telinga kalian, Nak," pintanya dengan suara bergetar.
"Bagaimana ini, Nona?" kata sopir Galaksi dengan tetap fokus ke depan.
"Jangan berhenti, Pak!"
Dor! Pyarr.
Jantung Sia semakin berdebar tak karuan. Spion kanan mobil sudah pecah dan semakin membuat sopir dan ketiganya sama-sama kalut.
"Berhenti!"
Aksi kejar-kejaran itu terus berjalan hingga satu peluru mulai ditembakkan dan tepat sasaran. Ban mobil depan Sia meletus dan membuat Sopir Galaksi langsung memutar kemudinya dengan kaki yang berusaha menginjak rem agar kendaraan itu berhenti.
Akhirnya mobil Sia berhenti di tengah jalan tol. Untung saja Tuhan masih menjaganya dan mobil itu tak terbalik. Sia benar-benar kacau dan dia melihat ke belakang. Beberapa pria berbadan besar mulai turun dan berjalan ke arah mobilnya.
Saat Sia hendak mengatakan pada sopir untuk mengunci pintu ternyata sudah didahului. Arah samping kiri terbuka dan membuatnya mengeratkan pelukan dengan Venus.
"Pergi! Pergi!" seru Sia dengan air mata mulai mengalir.
"Kemari!" Pria berambut gimbal mendekat dan hendak menarik tangan Venus.
Namun, anak kecil itu segera menariknya dan mengigit sampai pria itu kesakitan.
"Sialan. Akhh!" serunya marah mengibaskan tangannya bekas gigitan Vanus.
"Dasar merepotkan!"
Saat Sia fokus dengan Venus. Ternyata pintu dekat Mars terbuka dan dengan mudah penjahat yang lain menarik tubuh mungilnya.
"Mama!" seru Mars dengan rontaan.
Akhirnya dua tubuh mungil itu berhasil mereka dapatkan. Hal itu tentu membuat Sia dan sang sopir turun. Keadaan semakin kacau saat pistol di arahkan di kepala kedua anaknya. Air mata terus mengalir dengan rasa takut dalam dirinya.
"Tolong kembalikan anak-anakku!" pinta Sia dengan memohon. "Kalian mau uang? Aku bisa berikan semuanya. Tapi tolong kembalikan putra putriku."
"Hahaha. Kami tak butuh uangmu. Sudah ada yang mau membayar kami dengan mahal!" seru seorang pria yang sepertinya pemimpin penjahat itu.
"Bawa mereka!" seru pria itu dan membuat anak buahnya mulai membawa tubuh Mars dan Venus yang terus meronta.
Saat sopir Galaksi hendak melawan, tiba-tiba…
Dor!
"Akhh!" Sia berteriak kaget. Dia melototkan matanya saat tembakan itu tepat mengenai dahi sopir tersebut dan membuatnya tewas di tempat.
Sia terus menangis ketakutan. Namun, dirinya tak bisa tinggal diam. Dengan nekat dia berlari ke arah para penjahat yang membawa kedua anaknya hingga saat dirinya hendak meraih sang putri, tubuhnya ditepis sampai dia terjatuh di aspal.
"Kembalikan putriku!" mohonnya mengabaikan rasa sakit di siku dan kakinya yang lecet.
Dirinya benar-benar tak memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Yang terpenting kedua anaknya ada dalam pelukannya saat ini.
"Mama!" teriak Venus dan Mars bergantian dari dalam mobil.
Mereka benar-benar mendapatkan kedua anaknya. Namun, melihat ada kesempatan, Sia segera menarik kaki pria yang hendak masuk ke mobil hingga dia jatuh telungkup di jalanan. Dirinya spontan masuk tapi urung saat kakinya juga sama-sama ditarik.
Dug.
Janggutnya terkatuk jalanan dan dia merasakan sakit yang luar biasa.
"Dasar merepotkan!" dengus pria yang mulai beranjak berdiri.
"Mars...Venus!"
****
Di sebuah rumah. Terdapat seorang pria yang sedang mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Dia melihat laporan yang dikirimkan oleh Star, asistennya. Pekerjaannya yang jauh, tentu membuatnya harus melakukan semuanya melalui virtual. Namun, entah kenapa sejak tadi jantungnya terus berdebar kencang.
Hatinya merasa gelisah dan terus memikirkan keadaan kedua anaknya. Galaksi benar-benar tak bisa fokus pada laptopnya. Hingga membuatnya memilih menyimpan benda itu dan meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja.
Saat dirinya hendak menghubungi mantan istrinya. Tiba-tiba ponsel itu berdering dan menampilkan sosok yang ingin dia hubungi. Wajah Galaksi benar-benar bahagia. Ternyata keduanya memiliki ikatan batin yang kuat dan dia merasa jika kedua anaknya pasti sama rindunya dengan dirinya.
"Ya, Sia?" tanya Galaksi dengan wajah sumringah.
"Anak-anak, Kak. Anak-anak…" kata Sia dari seberang telepon dengan suara serak seperti menangis.
"Ada apa, Sia? Kenapa suaramu kacau? Kau habis menangis?" cerca Galaksi dengan panik.
"Anak-anak diculik, Kak!"
Degup jantung Galaksi mencelos. Badannya mematung dengan dada yang terasa sesak. Tanpa sadar gerakannya yang spontan membuat Mama Pandora juga sama terkejutnya.
"Ada apa, Nak?" tanyanya mendekati Galaksi.
Pria itu tersadar dalam lamunannya. Dia menatap mamanya yang terlihat menunggu jawabannya.
"Mars sama Venus diculik, Ma."
"Apa!" Mama Pandora terkejut. Bahkan tanpa sadar air matanya mengalir dengan sejuta ketakutan yang menghinggapi hatinya.
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku ada di jalan tol, Kak," sahut Sia menangis. "Aku takut. Aku sendirian."
"Tunggu aku disana! Kirim alamatmu sekarang. Aku akan berangkat," kata Galaksi dengan cepat.
"Mama ikut!" sahut Pandora yang membuat Galaksi spontan menggeleng.
Dia memeluk tubuh mamanya dan memberikan kecupan di kepalanya.
"Mama bantu doa dari sini. Aku tak mau Mama kenapa-kenapa," mohon Galaksi yang membuat Pandora mengalah.
Dia mengantarkan kepergian anaknya dengan banyak doa yang dipanjatkan. Pikirannya benar-benar bercabang. Kedua cucunya yang diculik, mantan menantunya yang entah dimana dan sang putra yang berniat menyusulnya.
"Bawa mereka pulang, Nak!"
Galaksi mengangguk. Dia segera melajukan kendaraannya tanpa memikirkan pakaiannya lagi. Pikirannya kacau dan dia hanya ingin segera sampai dan memeluk tubuh mantan istrinya yang terdengar ketakutan.
Sambil fokus dengan jalan didepannya. Galaksi segera menelfon kepercayaan papanya yang dia yakini bisa membantunya saat ini.
"Ada apa, Galaksi?"
"Anakku diculik, Om. Tolong lacak keberadaan mereka sekarang juga!" pintanya dengan tegas yang langsung disanggupi oleh Orion.
Hampir 45 menit dia mengendarai mobilnya. Akhirnya dari jauh dia bisa melihat sosok mantan istrinya yang berdiri dikerumuni beberapa pengendara mobil di jalan tol. Tanpa menunda Galaksi segera turun dan mendekati tubuh Sia.
"Sia."
Spontan wanita itu menoleh. Dia segera berlari ke arah Galaksi dan memeluk tubuhnya begitu erat. Bisa pria itu rasakan, tubuh mantan istrinya bergetar hebat yang menandakan Sia benar-benar dalam keadaan ketakutan.
"Anak-anak, Kak. Anak-anak kita," kata Sia dengan sesenggukan.
"Ustt," sela Galaksi dengan cepat.
Dia melepaskan pelukannya. Lalu menangkup kedua wajah Sia dan melihat luka-luka yang memenuhi rupa cantik mantan istrinya itu. Tangan Galaksi perlahan menghapus air mata Sia. Dia menghadiahi sebuah kecupan di kening Sia dan menyalurkan ketenangan.
"Percayalah padaku, Sia. Aku akan membawa Mars dan Venus pulang dengan selamat."
~Bersambung~
Bang Galak bisa aja ambil kesempatan, haha..
Berjuang, Bang. Aku mendukungmu.
Eyakk akhirnya aku bisa update juga. Makasih banyak atas support kalian semua. Aku benar-benar gak sendirian dan akan kubuktikan kalau aku bisa ngelawan mereka yang berani menjatuhkan semangatku!
Jangan lupa klik like, komen dan vote ya sebagai bentu support si novel si kembar.
Aku usahain update lagi nanti yah. Mau ngecas dulu dan nyuapin si mungil.
Likenya yang kenceng.