The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Mama Tiri




Semua orang masih saling berpandangan. Mereka sama-sama bingung dengan kejadian ini. Namun, Galexia yang menebak ulah siapa, segera berjalan meninggalkan ruang tamu. Dia melangkahkan kakinya ke lantai dua, menuju kamar kedua buah hatinya.


Dari balik pintu, dia bisa mendengar tawa bahagia Venus. Hal itu tentu membuatnya yakin jika ini semua ada hubungannya dengan si kembar. Hingga Sia perlahan mengetuk pintu mereka dengan pelan.


"Ini Mama, Nak. Apa kalian sudah tidur?" kata Sia dari balik pintu.


Hening.


Tak ada suara apapun sampai Sia hendak mengetuk pintunya lagi. Namun, tak sampai tangannya menyentuh, pintu itu sudah terbuka dan muncullah sosok Mars di sana.


"Mama boleh masuk?" tanya Sia menurunkan pandangannya.


Mars mengangguk. Lalu dia membuka pintu lebih lebar dan mengizinkan mamanya masuk ke kamar mereka. Pandangan Sia tertuju pada Venus yang baru saja keluar dari kamar mandi. 


"Halo, Mama," panggilnya dengan wajah cerah.


"Halo, Sayang," sahut Sia dengan pandangan sendu.


"Ada apa Mama kemari?" tanya Venus sambil mendudukkan dirinya di atas ranjang bersama Mars. 


Galexia berjalan mendekat. Lalu dia mendudukkan dirinya di hadapan dua anaknya yang masih berumur 6 tahun. Tangannya dengan lembut mengelus kepala Mars dan Venus bergantian. 


Masih hening dan tak ada percakapan. Sia hanya menatap sosok kedua anaknya yang sama-sama menatapnya seakan menunggu apa yang ingin dibicarakan. Menghela nafas lelah, Sia akhirnya membenarkan duduknya agar lebih nyaman berbincang dengan si kembar di waktu yang sudah menjelang pagi.


"Apa ini ulah kalian?" tanya Sia menatap kedua anaknya lembut.


Tak ada yang menjawab. Namun, pandangan Venus yang menunduk membuat Sia harus berusaha mengontrol emosinya.


Sebenarnya selama ini dia tak pernah marah akan kejahilan putrinya. Namun, melihat bagaimana takutnya Inggrid tadi dan kekacauan yang terjadi. Tentu membuat Sia merasa tak enak hati. Ini bukan rumahnya dan dia juga terpaksa menginap karena paksaan mantan mertuanya. Jika bukan karena Pandora, mungkin dia sudah pulang ke Surabaya. 


"Sayang," tegur Sia membuat bocah kecil itu mengangguk. 


"Kenapa kalian melakukan ini?" tanya Sia masih berusaha lembut.


Badannya yang lelah dan emosinya yang tak stabil. Tentu membuat Sia merasa benar-benar capek dengan semuanya. Ditambah kepalanya yang sakit dan kejadian malam ini semakin membuatnya ingin sekali marah. 


"Katakan, Venus!" Jika sudah memanggil namanya dengan penuh penekanan. Itu pertanda Sia sedang marah pada kedua anaknya. 


Putri kecilnya itu tetap hanya diam. Namun, perlahan isak tangis mulai terdengar. Selain paling jahil, Venus adalah sosok anak yang tak bisa dibentak. Terkadang dia langsung memberontak jika ada yang memarahinya. 


"Venus!"


"Mama," serunya sambil mendongakkan kepala. 


Galexia tertegun. Dia melihat kedua mata anaknya begitu basah dengan air mata. Hingga pemandangan ini tentu menyakiti hatinya juga.


"Kenapa Mama menyalahkanku?" tanyanya dengan tangan berusaha menghalau air mata yang terus turun. "Aku hanya ingin menyelamatkan Papa dari tante galong itu, Ma." 


Menurut Venus, apa yang dilakukan olehnya, sebanding dengan hinaan yang dulu Inggrid katakan pada mereka. Apalagi melihat bagaimana wanita itu mendekati papanya, membuat Venus merasa harus menjaga ayah kandungnya.


"Bukan seperti itu…." 


"Telus sepelti apa, Ma?" tanya Venus dengan air mata terus mengalir. "Venus hanya ingin menjaga Papa. Venus gak mau punya Mama tili sepelti di film-film. Yang boleh jadi Mama Venus dan Abang cuma Mama!" 


"Cuma Mama Sia!" teriaknya dengan wajah marah.


Tanpa mengatakan apapun lagi. Venus segera turun dari ranjang. Dia berlari meninggalkan kamar dengan isak tangis yang terus terdengar kencang.


Tanpa menunda, Galexia akhirnya mengejar putrinya itu. Air matanya juga ikut mengalir saat mendengar kalimat menyakitkan yang keluar dari bibir mungilnya. Dia baru sadar jika apa yang putrinya lakukan hanya karena ketakutan dalam diri seorang anak kecil.


"Venus...Venus…."


"Papa...Papa." Akhirnya kata itulah yang keluar dari mulut kecil Venus sambil berlari ke pelukan Galaksi. 


Dia memeluk tubuh anaknya yang bergetar sambil melihat ke arah Sia yang berusaha mendekati mereka berdua. 


"Maafkan Mama, Nak. Mama bukan ingin memarahi, Venus. Tapi…." 


"Aku gak mau sama, Mama. Pelgi!" seru Venus dengan menyembunyikan wajahnya di pundak sang ayah.


Air mata Sia semakin deras. Bahkan dia sama-sama terisak melihat penolakan putrinya. Niat hati ingin menasehati, ternyata membuatnya seperti ini.


"Ku mohon, Kak. Berikan Venus padaku?" pintanya sambil mengulurkan tangan siap menerima tubuh putrinya.


Galaksi begitu bingung. Di satu sisi dia tak tega dengan keadaan Sia yang begitu kacau. Namun, di sisi sang putri, dirinya juga tak bisa memaksa keinginannya untuk memberikan Venus pada mantan istrinya.


"Biarkan Venus denganku, Sia. Dia butuh ketenangan," kata Galaksi dengan pelan.


Sia menggeleng, dia mencoba mengambil Venus dari gendongan Galaksi. Namun, tepisan tangan kecil di tangannya semakin membuat dirinya takut jika putrinya akan pergi meninggalkannya.


"Maafkan Mama, Nak. Mama janji gak akan marah lagi," bujuk Sia di sela-sela isak tangisnya.


"Venus mau sama, Papa. Ayo pelgi, Papa! Ayo!" 


"Jangan, Kak. Jangan bawa putriku!" mohon Sia sampai menyatukan kedua tangannya di depan dada.


Galaksi melihat ketakutan yang besar di mata mantan istrinya hingga membuatnya terpaksa mendekat dan menghapus air matanya itu. 


"Aku tak akan membawa Venus pergi, Sia. Aku hanya ingin dia tenang. Setelah itu baru kuberikan padamu," kata Galaksi yakin lalu perlahan dia membawa tubuh anaknya keluar dari rumah.


Mereka meninggalkan Sia yang masih menatap tubuh mantan suaminya hingga hilang dari pandangan mata. Dia merasa kacau. Apalagi mendengar penolakan sang anak sampai membuat Sia lupa jika di sana bukan hanya ada dirinya. Melainkan ada mantan ibu mertuanya yang melihat semua adegan tadi.


"Mama." Sia terkejut. Dia menghapus air matanya dan mendekat ke posisi Pandora.


"Kenapa Mama tak tidur?" 


"Mama tadi nemenin Galaksi disini sambil nunggu mbak-mbak selesai," kata Pandora lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Maafkan Venus ya, Ma. Ini semua ulah…." 


Pandora menggeleng. Dia meraih kedua tangan mantan menantunya dan menghapus sisa air mata yang ada disana.


"Seorang anak pasti memiliki ketakutan dalam dirinya, Sayang. Sejauh apapun mereka dipisahkan tapi darah akan selalu kental dan tak bisa dipisahkan," ucapnya dengan tersenyum lembut. 


"Apa maksud, Mama?" tanya Sia dengan bingung. 


"Venus hanya ingin menjaga Galaksi dari Inggrid, Nak. Naluri anak dalam dirinya spontan keluar saat melihat wanita lain mendekati papanya. Menurutnya Mama Venus dan Mars hanya dirimu. Yang artinya…." 


"Artinya apa, Ma?" tanya Sia penasaran..


"Yang artinya, jika Galaksi hanya milikmu dan tak ada yang boleh mendekatinya. Bukankah seperti itu, namanya orang tua di hadapan seorang anak?" 


~Bersambung~


Yaelah nangis lagi ngetik ini. Udah ngetiknya pagi-pagi lagi.


Venus jahilnya juga kalau ada yang ngusik duluan. Dia juga masih bocah umur 6 tahun. Yang menurutnya salah ya harus dibalas. Bener gak?


Udah jangan lupa klik like, komen dan vote ya buat apresiasi novel si kembar.


Tembus 250 like lagi. Aku update!