
Sebuah taman menjadi tempat pertama untuk seorang pria kecil menenangkan pikirannya. Wajahnya kembali datar untuk menutupi segala kesedihan yang baru dialaminya. Matanya menatap sekeliling, ada beberapa suster dan pasiennya yang sedang bermain dan berjemur di bagian sana. Namun, itu tak membuat Mars merasa terganggu.
Pandangannya kosong ke depan. Dia membayangkan bagaimana jika kehidupannya sampai dewasa tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah?
Bagaimana nasib mereka berdua jika melihat ayahnya sendiri begitu mencintai dan menyayangi anaknya yang lain.
Sungguh pemikiran anak berusia enam tahun ini dipaksa untuk dewasa. Bukan karena dia genius, melainkan proses kehidupan yang dijalaninya, semakin membuat Mars dewasa sebelum waktunya.
"Mungkin aku tak akan pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah sampai aku dewasa," ucapnya dengan pelan.
Terlalu fokus dengan bayang-bayang di matanya, membuat Mars tak menyadari jika ada sosok pria yang mengikutinya sampai sini. Dia bahkan melihat kesedihan dalam diri anak yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri hingga membuat hatinya terenyuh.
"Kasih sayang itu bisa kita raih, jika kita berjuang, Nak," celetuknya sampai membuat Mars menatap ke belakang.
Bibirnya sedikit tersenyum saat melihat keberadaan Riksa yang tiba-tiba di dekatnya. Dia memilih menggeser duduknya hingga kedua pria itu duduk saling berdampingan.
"Ada apa, Prince? Kenapa wajahmu begitu kusut?" tanya Riksa dengan pelan.
Mars menoleh. Dia menghela nafas berat dan berusaha membuang rasa sesak di dadanya saat mengingat bagaimana mamanya menangis karena ulahnya sendiri.
"Apa Om pernah bertemu Papa, Om?" tanya Mars dengan wajah sendu.
Riksa menggeleng. Pria itu tersenyum lalu meraih telapak tangan Mars.
"Papanya Om sudah ada di surga saat Om belum lahir," ujarnya dengan diiringi elusan tangan di kepala anak Sia itu.
"Itu berarti Om gak pernah ketemu sama dia?" tanya Mars semakin ingin tahu.
"Ya. Itu betul," sahutnya dengan menyandarkan punggungnya pada kursi. "Om gak pernah tau bagaimana sosok Papanya, Om. Om juga gak pernah merasakan kasih sayangnya selama ini."
"Kita sama, Om," sahut Mars sambil mengikuti gaya duduk Riksa.
Dalam diam Riksa tersenyum tipis. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh pria kecil disampingnya. Bahkan pertengkaran tadi tanpa sengaja didengar dan dilihat oleh Riksa saat dia berniat menyusul Venus. Namun, siapa yang menyangka, jika tujuannya yang ingin menyusul gadis kecil itu, membuatnya mendengar semua ini.
"Bagaimana bisa? Bukankah Mars masih punya Papa?"
"Ya memang Mars punya, Om. Tapi semua itu terasa tak punya karena Mama tak pernah memberitahukan pada kami siapa papaku dan Venus sampai kita mengetahuinya sendiri," ucapnya mulai meluapkan emosi.
Riksa menyerongkan duduknya. Dia menatap wajah Mars yang terlihat begitu hancur. Bagi seseorang yang berada di posisi Riksa, dia adalah orang yang pas untuk diajak bercerita tentang masalah ini.
Sosok dirinya yang dibesarkan tanpa kehadiran seorang Ayah, tentu membuat Riksa harus dewasa sebelum waktunya. Namun, jika dibandingkan dengan takdir yang dijalani Mars. Kehidupannya Mars masih jauh lebih baik dari dirinya.
Perlahan Riksa menggenggam tangan Mars. Tatapan keduanya bertemu hingga dia bisa melihat bagaimana kacaunya wajah anak Sia itu.
"Apa Mars tahu kenapa Mama tak pernah menceritakan apapun pada kalian?" Spontan Mars menggeleng karena memang itu adalah kebenarannya.
"Mama Sia masih mengalami trauma, Nak. Dia masih takut untuk bertemu Papa Mars. Bahkan mengingatnya saja, Mama Sia masih gemetaran," ucap Riksa mencoba memberikan pengertian. "Seharusnya Mars tak boleh marah sama Mama. Berkat Mama juga, Mars bisa terlahir di dunia ini. Walaupun tanpa sosok papa, tapi Mama Sia bisa memberikan semua yang terbaik pada kalian berdua. Betul 'bukan?"
Mars mengangguk tapi matanya kembali berair saat sesuatu yang mengganggunya begitu ingin dia tanyakan. "Apa dulu Papa sejahat itu, Om. Sampai Mama saja tak mau bercerita padaku dan Venus siapa sosok Papa sebenarnya?"
Tubuh Riksa menegang. Dirinya menelan ludahnya paksa bingung untuk menjawab. Jujur dia takut jika jawabannya akan membuat Mars sangat membenci ayahnya sendiri. Namun, apa yang harus dia katakan sekarang?"
"Om," panggil Mars pelan.
"Jujur Om tak pernah tahu bagaimana hubungan kedua orang tua, Mars. Namun, om yakin jika apa yang Papa Mars lakukan pasti ada alasannya." Mars hanya diam dan hatinya semakin diliputi rasa kebimbangan.
Anak kecil itu tetap menatap lekat ke arah Riksa. Seakan dirinya ingin mendengar nasehat apa lagi yang akan diberikan oleh manager mamanya ini.
"Sebenarnya Mars masih beruntung," ujarnya tiba-tiba.
"Beruntung?" ulang Mars dengan mendudukkan tubuhnya lebih tegak.
"Ya. Jika dibanding dengan, Om. Kehidupan Mars jauh lebih beruntung," jedanya dengan senyuman. "Saat ini kalau Mars rindu Papa masih bisa bertemu dan memeluknya begitu erat walau tempat tinggal kalian terpisah. Bagaimana dengan, Om?"
"Om hanya bisa memeluk pigurannya saja jika Om sedang rindu, Nak," lirihnya dengan air mata yang meluncur dari sudut matanya. "Mengirimkan doa untuknya sebagai salah satu obat rindu saat tak bisa bertemu."
Mars hanya diam membisu. Pernyataan dari Riksa membuat hati pria kecil itu sedikit lebih terbuka. Dirinya menjadi paham apa yang dirasakan mamanya selama ini hingga membuatnya begitu ingin meminta maaf karena ulahnya tadi.
****
Hal pertama yang dilakukan oleh Sia adalah mencari dimana sang putra berada. Pikirannya tak akan tenang, Sia akan terus dihantui rasa bersalah sebelum meminta maaf langsung pada putranya.
Galexia masih ingat betul, bagaimana wajah Mars yang kecewa. Bahkan baru kali ini, dirinya melihat tatapan putus asa dan pasrah dari putranya itu. Rasanya Sia baru sadar jika selama ini dia menjadi sosok ibu yang egois.
Untuk sekian kalinya, dia belajar banyak hal dari kedua anaknya. Kedewasaan, perjuangan, semangat untuk hidup semua dipelajari dari sosok kedua anak kembarnya. Seakan setiap apa yang Sia lewati selama ini, pasti akan ada sebuah dorongan dalam dirinya jika ini semua demi Mars dan Venus.
Hingga tanpa sadar, langkah kaki Sia membawanya ke taman. Matanya langsung berbinar saat menyadari jika memang ada sosok putranya yang berada di sana dan tak sendirian. Semakin dirinya mendekat, pembicaraan keduanya langsung tertangkap oleh telinganya.
"Sayang." Tubuh Mars menegang. Dirinya spontan berbalik hingga matanya membulat melihat kehadiran Sia disana.
"Mama," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Galexia segera berlari ke arah Mars, dan pria kecil itu juga ikut berlari. Hingga kedua tubuh mereka mulai bertemu dan saling melekat. Air mata mengalir di sudut matanya. Dengan sadar diri, Riksa memilih pergi meninggalkan ibu dan anak itu agar bisa saling berbincang untuk menghilangkan salah paham di antara mereka.
"Maafkan Mama, Nak. Mama mengaku salah," ucapnya dan langsung dijawab gelengan kepala.
"Itu bukan salah, Mama. Seharusnya Mars tak bersikap seperti tadi," sahut Mars dengan memegang lengan sang Mama.
"Jangan seperti itu, Nak. Mama senang Mars mau mengutarakan apa yang selama ini dirasakan oleh anak Mama ini," ucap Sia dengan mengusap kepala putranya sayang. "Mama janji tak akan menyembunyikan apapun lagi dari kalian, Nak. Mama berjanji."
Akhirnya kedua orang itu saling memeluk. Kesalahpahaman di antara mereka cepat diselesaikan hingga tak berlarut dan mempengaruhi mental dari seorang anak kecil. Keduanya seketika tersenyum lega. Tak ada lagi beban berat dalam hatinya, baik Mars ataupun Sia mereka berdua saling memaafkan hingga rasa damai kembali hadir dalam diri mereka.
Sedangkan di tempat lain, Galaksi segera kembali ke ruang rawatnya. Dia mencari benda pipih miliknya dan seketika pandangannya begitu serius.
Ia ambil ponselnya itu lalu segera mencari kontak telepon seseorang. Hingga deringan ketiga kalinya, terdengar suara pria dari seberang sana.
"Cari tau apa yang sudah dilakukan oleh Mamaku selama ini. Aku tak mau tau bagaimana kau mendapatkannya tapi yang pasti semuanya harus lengkap!"
~Bersambung~
Tak dung deng, hmmm kita tebak dulu, gimana Kalau Galaksi tahu mamanya yang ngerencanain malam laknat itu, terus memfitnah istrinya sampai dia cerain. Hmm ditendang aja cukup gak?
Maaf ya baru update, aku barusan malah ketiduran sambil megang hp tapi untung aja mamaku bangunin.
Selamat membaca. Jangan lupa like, komen dan vote yah. Author mau tidur~~
Besok kalau telat update berarti aku masih ngetik.