
"Mama."
Spontan Riksa terhuyung ke belakang. Dia merasa panas dingin dengan tenggorokan yang sulit untuk menelan air liurnya. Bahkan nafasnya terasa sesak ketika mengingat wajah mamanya ada di depan pintu apartemen.
Matanya menatap ke kanan dan ke kiri. Dia kebingungan, pikirannya berusaha berpikir hingga membuat Cress yang masih berdiri di depannya menjadi penasaran.
"Ada apa, Riksa?"
"Mamaku…." kata Riksa dengan mulut yang begitu sulit untuk berbicara.
Kening Cress berkerut. Dia berjalan menuju pintu dan mengintip dari lubang yang tadi dipakai oleh Riksa. Dia meneliti sosok yang membuat pria itu ketakutan hingga matanya terbelalak. Dirinya spontan menjauh, hingga tiba-tiba tangannya ditarik oleh Riksa yang membuatnya berteriak.
"Akhh...hmmmm."
"Ust jangan berteriak!" kata Riksa mendelikkan matanya dengan tangan menutup mulut Cress.
Wanita itu mengangguk. Lalu tangan itu terlepas dan membuat Riksa segera menarik Cress ke arah kamar. Dia kebingungan, ditambah ketukan pintu itu semakin menjadi hingga membuatnya harus berpikir dengan cepat.
"Kau mau apa?" tanya Cress dengan hati yang sama-sama bingung.
"Kau harus bersembunyi!" kata Riksa dengan melepaskan tangannya dan memijat kepalanya yang mulai pusing.
"Tapi dimana?" kata Cress yang sama kalutnya.
Keduanya sungguh dibuat kalang kabut. Bahkan mereka mulai keluar masuk kamar, mencari tempat yang aman untuk Cress bersembunyi. Hingga tatapan Riksa tertuju pada mesin cuci miliknya. Dia segera menarik tangan wanita itu dan membawanya ke tempat yang tak akan dijangkau oleh sang Mama.
"Kau diam disini. Jangan bersuara dan jangan bergerak!"
"Tapi…."
"Gak ada tapi-tapian. Jongkok!" perintah Riksa dengan memaksa. "Cepetan!"
Akhirnya Cress segera berjongkok. Lalu dengan cepat, Riksa menutup tubuh wanita itu dengan keranjang pakaian yang didalamnya ada baju-baju miliknya.
Setelah itu Riksa segera berlalu meninggalkan Cress yang hanya bisa pasrah duduk disini sendirian. Dalam hati wanita itu hanya berharap semoga tak ada kecoak atau tikus yang berlalu lalang disana.
****
Riksa menghela nafasnya lelah. Nafasnya naik turun karena terlalu banyak bergerak untuk mencari posisi sembunyi untuk Cress. Hingga perlahan dia menetralkan nafasnya, lalu mengacak-acak rambutnya agar terlihat seperti seseorang yang baru saja bangun tidur. Sampai penampilannya sudah begitu sesuai seperti orang yang baru saja bangun. Dia segera membuka pintu itu.
"Astaga!" Riksa membulatkan matanya.
Dia menatap tak percaya ke arah Mama dan tiga orang pria yang berdiri di depan pintunya. Riksa menatap heran ke arah mereka semua, hingga sentuhan sang Mama membuatnya tersadar.
"Kamu darimana aja, Nak? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mama Alya penuh khawatir.
Wanita paruh baya itu meneliti penampilan sang putra dan melihat apakah ada luka atau tidak disana.
"Aku baik-baik saja, Ma," sahut Riksa dengan cepat.
"Lalu kenapa kamu lama sekali membuka pintunya?" tanya Mama Alya kepada sang putra.
Riksa tertawa canggung. Dia menggaruk kepalanya dengan wajah dibuat semeyakin mungkin.
"Aku baru bangun, Ma."
Mama Alya bernafas lega. Dia menata tiga pria berpakaian security dan meminta maaf. Setelah mereka semua pergi, Mama Alya segera menarik tangan putranya untuk masuk.
"Lain kali kamu kabarin Mama dulu kalau mau tidur disini. Semalaman Mama khawatir sama kamu," ujar Mama Alya sambil meletakkan tasnya di kursi sofa kemudian mulai berjalan ke arah dapur.
Riksa dengan jantung yang berdebar mengikuti langkah sang Mama. Hingga hal itu tentu membuat Mama Alya mengernyit heran.
"Kamu ngapain ngikutin, Mama?"
"Ehhh." Riksa mendadak linglung. Dia menatap sekitar hingga tangannya menunjuk sebuah kemasan minuman.
"Kopi?" tanya Mama Alya heran.
"Iya, Ma. Aku mau kopi buatan, Mama," kata Riksa dengan cepat.
"Oke. Kamu duduk disana," kata Mama Alya menunjuk meja makan. "Biar Mama buat dulu."
"Eh aku disini saja, Ma," ucap Riksa sambil mencuri pandang ke arah samping mesin cuci.
"Kamu aneh banget sih. Biasanya juga nunggu di meja makan," kata Mama Alya sambil melirik sang putra.
"Hehehe. Emang gak boleh yah, Riksa nunggu disini," katanya memelas.
"Ya boleh lah, tapi tumben aja." Setelah kopi itu siap, Mama Alya segera memindahkan dua cangkir minuman di atas nampan dan memberikan pada sang putra.
Mereka berdua lekas meninggalkan dapur. Namun, sekali lagi Riksa menatap ke arah dimana Cress bersembunyi.
Semoga dia betah disana, batin Riksa berharap.
Mama Alya dan Riksa duduk saling berhadapan. Mereka sama-sama meraih cangkir minuman masing-masing dan menyesapnya secara perlahan. Mata ibu dari Riksa itu menatap sekeliling, seakan meneliti ruangan yang sudah lama tak dia datangi.
"Mama kok bisa tau kalau Riksa disini?" tanya Riksa dengan penuh tanda tanya.
"Ya jelas lah. Mau kemana lagi anak Mama memang?" tanya Mama Riksa dengan tersenyum. "Kamu bukan tipe pria yang suka main, 'kan? Kecuali dengan si kembar. Jadi jika kamu tak ada di cafe berarti kamu disini."
Riksa mengangguk. Dia tak percaya jika pemikiran sang mama seteliti itu. Bahkan dirinya juga sampai tak percaya jika mamanya masih mengingat tentang apartemen ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Mama Alya menatap anaknya.
"Sudah, Ma," sahut Riksa sambil menyesap kopinya lagi.
"Kapan?" tanya Mama Alya penuh selidik. "Bukankah kamu juga baru bangun?" cercanya menatap sang anak.
Riksa gelagapan bahkan dirinya sampai tersedak karena begitu ceroboh menjawab pertanyaan sang Mama. Hingga spontanitas tersebut membuat Mama Alya segera menepuk punggung sang putra agar batuknya berkurang.
"Kenapa kamu terkejut? Bukankah kamu tadi mengatakan pada Mama jika baru bangun. Lalu kapan kamu sarapan?" tanya Mama Alya lagi yang duduk di samping putranya.
"Itu, Ma…." Riksa menjeda ucapannya. Otaknya berusaha berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Mamanya yang menjebak.
Hingga belum sempat Riksa menjawab. Suara benda jatuh dari belakang membuat perhatian Mama Alya beralih.
"Apa itu?" Mama Alya spontan berdiri.
Dia hendak berlalu ke asal suara. Namun, tangannya tiba-tiba dipegang oleh sang putra.
"Bukan apa-apa, Ma. Paling hanya tikus," kata Riksa mencoba menahan.
"Tikus?" ulang Mama Alya menatap sang putra. "Mama gak percaya kalau ada tikus disini. Ini apartemen bagus dan darimana coba tikus itu bisa masuk," ujar Mama Alya menepis tangan Riksa.
Dia hendak meneruskan langkahnya tapi ditahan lagi oleh sang putra.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari Mama, Riksa? Sejak Mama datang kamu udah aneh banget," kata Mama Alya menatap wajah sang anak penuh curiga.
"Nggak, Ma."
"Ya udah. Biarin Mama lihat dulu." Setelah mengatakan itu, Mama Alya segera berlalu dengan rasa penasaran yang tinggi.
Dibelakangnya tentu sang putra mengekori dirinya. Jantungnya berdegup kencang dengan tangan berkeringat dingin. Riksa benar-benar takut saat ini dan dia berharap semoga Cress bisa sembunyi di tempat lain.
"Astaga, Riksa!" pekik Mama Alya dengan keras. "Baju kamu sebanyak ini?"
Mata Riksa yang tadinya terpejam, spontan terbuka. Dia berdiri di samping Mamanya dengan nafas begitu lega.
"Hehe. Biasa, Ma."
"Ini baju kapan?" tanya Mama Alya dengan berkacak pinggang.
"Udah lama, Ma. Terakhir aku kesini sepertinya hampir sebulan yang lalu."
"Apa!" Mama Alya memekik kaget. Dia menjewer telinga sang anak dengan mulut tak berhenti mengeluarkan nasehat-nasehatnya. "Cepat cuci semua baju ini! Kamu jorok banget."
"Iya nanti, Ma. Mending Mama ke ruang tamu lagi daripada disini nanti ngomel mulu," ajak Riksa menarik tangan sang Mama dengan mata terus menatap sekitar mencari keberadaan wanita itu.
~Bersambung~
Hahha udah jantungan, 'kan?
Cress mah pinter pindah-pindah. Kalau ketahuan entar dikawinin gimana? hehe.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Insya allah aku usahain update lagi. Mau nemenin bocil tidur lagi.
Likenya yok cepet!