
Di sebuah ruangan yang begitu luas. Terlihat seorang pria tengah berkutat dengan pekerjaannya. Dia adalah Galaksi. Pria itu seakan mendapatkan tumpukan harta karun di hari pertama dirinya bekerja.
Mengingat janjinya untuk pulang cepat. Tentu membuat Galaksi memilih mematikan ponselnya dan fokus dengan pekerjaannya. Dia benar-benar ingin segera pulang dan bermain dengan kedua anaknya.
Entah kenapa, sejak tadi perasaannya tertuju pada Mars dan Venus. Galaksi seakan sudah merindukan anak-anaknya itu. Hingga kedamaian di ruang kerja itu terpecah dengan kedatangan Star yang tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Star? Kenapa terburu-buru?" tanya Galaksi dengan heran.
"Itu Tuan. Tuan kecil…."
"Kenapa dengan putraku?" sela Galaksi pada akhirnya.
Dia pasti langsung paham betul dengan siapa yang dimaksud oleh asistennya itu. Pikirannya kacau balau dengan kecemasan yang melanda.
"Katakan padaku, Star! Ada apa dengan putraku?"
"Tuan kecil masuk rumah sakit."
Kabar yang diberikan oleh Star tentu membuat Galaksi spontan berdiri. Jantungnya berdegup kencang dengan ketakutan yang mendalam. Mengabaikan semuanya, Galaksi hanya meraih kunci mobil dan segera berlalu dari sana.
Wajahnya begitu khawatir. Bahkan pikirannya melayang pada sosok putranya itu. Baru tadi pagi Mars baik-baik saja dan terlihat begitu sehat. Lalu bagaimana bisa, putranya masuk rumah sakit sekarang.
Pikiran yang takut membuat Galaksi mengendarai mobilnya dengan kalap. Bahkan Star yang duduk di kursi penumpang berkali-kali menasehati bosnya itu.
"Tuan tenang. Jangan sampai Tuan membuat Nona Sia semakin kalut."
"Astagfirullah." Galaksi mulai memelankan laju mobilnya.
Dia menghela nafas berat agar pikirannya sedikit lebih tenang. Setelah itu, dia melanjutkan perjalanannya dengan mata berusaha fokus menatap ke depan.
Akhirnya setelah hampir tiga puluh menit menuju rumah sakit. Galaksi segera turun dengan cepat. Dia meminta Star memarkirkan mobilnya sedangkan dirinya berlari masuk ke dalam.
Matanya mengedar. Dia mencari sosok istri dan anak-anaknya. Hingga matanya tanpa sengaja menemukan satpam rumahnya. Galaksi segera mendekat dan menarik tangannya.
"Dimana anakku?"
"Tuan Galaksi." Satpam itu terkejut.
Tubuhnya gemetaran saat melihat sosok Galaksi di dekatnya.
"Tuan kecil baru saja dipindah ke ruangan VVIP, Tuan."
"Antarkan aku sekarang!"
🌴🌴🌴
Di sebuah ruangan serba putih. Terlihat seorang ibu muda sedang duduk di dekat brankar pasien sambil memegang tangan putranya. Matanya terus meneteskan air mata karena takut. Dia tak mau kehilangan putranya itu. Mars adalah jantung hatinya. Kekuatannya selama ini untuk tetap bertahan.
"Jangan tinggalin Mama, Nak. Mama sayang sama Mars," gumam Sia sambil mencium tangannya.
Di dekatnya, berdiri Flora yang mengelus punggung Sia dengan pelan. Ibu satu anak itu, tentu merasa bersalah. Demi menyelamatkan putrinya, Mars mengorbankan dirinya.
"Aku benar-benar merasa bersalah, Sia. Maafkan aku dan putriku," lirih Flora dengan penuh penyesalan. "Kehadiranku dan Tania selalu menimbulkan kekacauan."
Galexia menggeleng. Dia tak mau terlihat lemah dihadapan Flora. Namun, jika menyangkut anak-anaknya, Sia selalu tak kuat untuk tak menangis.
"Ini bukan salah Tania, Flo. Jangan menyalahkan diri sendiri," sahut Galexia mencoba tegar. "Kamu dan anak-anakmu itu berharga."
"Tapi…."
"Tidak ada kata tapi. Semua ini sudah takdirnya. Lebih baik doakan Mars semoga baik-baik saja."
Flora mengangguk. Dia segera mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia disana menemani Venus dan Titania yang sudah duduk disana.
Tak lama, suara pintu terbuka membuat Galexia menoleh.
"Kakak."
"Sayang," panggil Galaksi dengan pikiran sedikit lebih lega.
Dia segera memeluk tubuh istrinya dengan erat dan menjatuhkan sebuah kecupan di kepalanya.
"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Galaksi melepas pelukannya.
Dia memutar tubuh Galexia dan melihat serta meneliti kondisi istrinya itu.
"Aku baik-baik saja, Kak. Tapi Abang…" jeda Sia yang membuat Galaksi menoleh.
Disana, dia ranjang pasien. Terlihat putranya terbaring lemah. Di tangannya tentu terdapat jarum infus yang menancap. Galaksi mendekat, dia mengelus kepala putranya dengan sayang.
"Bagaimana bisa Abang masuk rumah sakit?" tanya Galaksi menatap istrinya.
Galexia mendekat. Dia memeluk lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di lengan Galaksi.
Perlahan Sia mulai menceritakan apa yang dia lihat. Mulai dirinya meminta Mars menemani adiknya bermain sampai saat dia menemukan Mars sudah tak sadarkan diri dengan Tania ada di atasnya.
"Maafkan saya dan anak saya, Tuan…."
"Tidak apa-apa, Nona Flo. Ini bukan kesalahan Anda ataupun putri Anda. Ini sudah musibah," kata Galaksi berlapang dada.
Sebagai seorang ayah dan orang tua. Galaksi tak mau menyalahkan siapapun. Keadaan anaknya ini tentu ada sebab akibat. Dia juga tak bisa tiba-tiba marah sebelum mendengar perkataan putranya sendiri.
Saat semua orang tak ada yang bersuara. Tiba-tiba suara pelan dari sosok yang sangat mereka khawatirkan membuat Galaksi dan Galexia sedikit bernafas lega.
"Mama."
"Oh, syukurlah. Abang sudah sadar?" tanya Galexia dengan wajah bahagia.
"Haus, Ma," ujar Mars dengan suara sangat pelan.
"Papa ambilkan." Galaksi dengan sigap mengambil sebotol minuman yang ada di dekat ranjang.
Dia menyerahkan botol itu pada istrinya lalu membantu Mars agar tubuhnya sedikit menyandar.
"Terima kasih."
"Mana yang sakit, Sayang?" tanya Sia menatap putranya.
Mars, wajah putra kecil pasangan Galexia dan Galaksi masih terlihat pucat. Namun, anak itu berusaha terlihat baik-baik saja.
"Punggung, Ma."
Galexia mengangguk. "Nanti Mama elus ya punggungnya."
"Iya, Ma." Mata Mars mengedar.
Pria kecil itu seakan mencari seseorang yang membuat Galexia dan Galaksi saling menatap.
"Cari Tania?"
Wajah Mars mendadak diam. Dia seakan kepergok seperti pencuri oleh mamanya sendiri. Berbeda dengan Galaksi, pria itu menahan tawanya.
"Benar?"
"Iya, Ma," sahut Mars dengan wajah menunduk.
Pipi putra dari Galaksi itu memerah. Dia benar-benar merasa malu pada mama dan papanya. Namun, Mars tak berkilah. Dia benar-benar mencari Tania untuk melihat keadaannya.
"Tania," panggil Galexia dengan lembut.
Sosok anak kecil yang duduk bersama Venus perlahan turun. Dia berjalan mendekati Galexia dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ada apa, Tante?"
"Ada yang mencarimu."
"Siapa?" tanya Tania dengan bingung.
"Itu." Tania mengikuti arah pandang Sia.
Matanya membulat saat melihat manik mata malaikat penolongnya terbuka lebar.
"Mars sudah bangun?"
"Iya, Sayang. Kamu mau duduk di ranjang?"
"Boleh."
Akhirnya Galexia menggendong tubuh Tania dan mendudukkannya di ranjang. Hingga hal itu tentu membuat Mars dan Tania berhadapan.
Dua anak itu benar-benar saling berpandangan. Bahkan Mars sendiri yang jarang berinteraksi dengan orang baru, mulai terlihat berbeda.
"Terima kasih, Abangnya Venus. Kalau gak ada Mars, pasti Tania bakalan terluka."
Mars mengangguk. Pria kecil itu tak tahu harus menjawab apa. Hingga tatapan matanya tertuju pada Tania yang mengulurkan jari manis ke arahnya.
"Mulai saat ini kita berteman spesial. Tania sayang banget sama Mars karena Mars baik udah tolong Tania."
Tanpa diduga, Mars mengaitkan jari kelingkingnya juga hingga membuat senyuman lebar muncul di bibir Tania.
Galaksi dan Galexia yang melihat hanya mampu menahan tawanya. Mereka merasa tingkah dua anak itu benar-benar menggemaskan.
"Dia anakmu, Kak. Benar-benar cuek ketika digombalin oleh perempuan," bisik Sia yang membuat Galaksi terkekeh dan mencium pipi istrinya itu.
~Bersambung~
Maaf baru update yah. Kalau bab ini lolos hari rabu berarti sistem eror. Ini bab di upload jam 10 malam.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat.