
Tubuh Sia menegang. Bahkan dirinya masih mengingat apa yang dipraktekkan mantan mertuanya. Sungguh ketakutan itu kembali muncul ketika mengingat jika nyawa kedua anaknya yang menjadi taruhan. Sia memejamkan mata, menenangkan segala resah gundah gulana yang menerpa. Dirinya tak boleh seperti ini, tapi rasa trauma itu masih ada hingga membuat tubuhnya gemetaran.
Ketika Sia mulai merasa sesak nafas. Dia merasakan genggaman di tangan kirinya hingga membuatnya membuka mata dan menoleh. Matanya menangkap raut wajah Leo yang memandang khawatir kepadanya. Namun, mengingat apa yang baru saja terjadi, Sia melepas paksa tangan sahabatnya itu. Matanya memerah menahan amarah hingga membuat pikirannya merasa kacau.
"Ayo kita pulang!" ajak Sia sambil beranjak berdiri.
Semua orang lantas menoleh. Mereka menatap serentak ke arah gerak gerik Sia yang begitu aneh.
"Ada apa, Mama? Kuenya saja belum abis," celetuk Venus menatap kue yang ada di piringnya.
"Nanti kita bisa memakannya lagi, Sayang. Yang penting sekarang kita pulang," kata Sia menatap putrinya.
"Gak mau. Venus mau abisin ini dulu, Mama."
"Venus!" bentak Sia tanpa sadar hingga membuat Venus ketakutan.
Matanya berkaca-kaca hingga tak lama Venus menangis begitu kencang. Tentu hal itu membuat Mama Alya dan Riksa terkejut pada sikap Sia.
"Ada apa, Sia?" tanya Mama Alya sambil meraih Venus dalam gendongannya.
"Kamu kenapa? Dateng-dateng bentar langsung marah," seru Riksa tak terima.
Selama ini pria itu sudah menyayangi Venus apa adanya. Bahkan dia menganggap anak Sia seperti putri kandungnya sendiri. Hingga saat melihat Sia yang memerahi Venus, ada rasa tak rela dalam dirinya.
"Ini bukan urusanmu, Riksa. Dia anakku dan aku berhak marah ketika dia tak mau nurut," seru Sia dengan menunjuk Riksa.
Riksa terperangah. Dia semakin heran dengan sikap Galexia yang berubah. Selama ini wanita itu adalah sosok yang paling tenang. Namun, kenapa malam ini Sia berubah menjadi sosok yang berbeda?
"Sudah, Sayang," bujuk Mama Alya menghapus air mata Venus. "Kita bungkus saja, bagaimana?" tawarnya hingga membuat Venus mengangguk, walau tangisannya masih jelas terdengar.
"Aku tau dia anakmu, Sia. Tapi kamu tak pernah memarahinya seperti ini," ujar Riksa memberikan pengertian.
Tiba-tiba Sia menjatuhkan tubuhnya di kursi restaurant. Kepalanya digunakan menopang kepala yang begitu banyak beban. Rasa takut, gundah, trauma semakin mengumpul menjadi satu. Hingga tanpa sadar air matanya mengalir.
Mama Alya segera mengajak Mars dan Venus untuk pergi dari sana. Dia tak mau kedua anak-anak kecil ini melihat perdebatan orang dewasa, karena itu pasti mempengaruhi emosinya juga. Hingga jalan utama yang terbaik adalah dengan membawa mereka pulang.
"Lihat! Sekarang anakmu menjadi takut padamu, Sia!" seru Riksa setelah melihat Mars dan Venus pergi oleh mamanya. "Sungguh keterlaluan kau memarahi anak yang tak tahu apa salahnya."
"Maafkan aku," lirih Sia sambil menangis.
Dia menutup kedua wajahnya dengan air mata terus mengalir. Rasa sesal kembali menyusup ke dalam hatinya saat mengingat bagaimana wajah Venus dan tangisannya karena ulahnya sendiri. Seumur hidup apa yang dikatakan Riksa memang benar. Dia tak pernah marah pada anaknya. Senakal apapun Venus dan Mars, Sia selalu berhasil memberikan pengertian kepada mereka. Namun, malam ini untuk pertama kalinya dia membentak putrinya sendiri hanya karena pikirannya yang kalut.
"Lebih baik kau pulang. Tenangkan pikiranmu sebelum bertemu anak-anak," kata Riksa sambil mengambil tas miliknya. "Aku tak tahu apa yang merasukimu, tapi yang pasti jangan pernah kau ulangi lagi."
Sia tak menjawab. Wanita itu masih menangis hingga sesenggukan. Rasanya perkataan Riksa barusan begitu menyentuh hatinya. Perasaan sebagai seorang ibu kembali hadir hingga rasanya Sia ingin memutar waktu.
"Aku tunggu di mobil dan kita pulang bersama!"
Setelah mengatakan itu Riksa segera pergi untuk menyusul mamanya. Membiarkan Sia dan Leo yang masih setia berada di sana.
"Sia," panggil Leo pelan hingga membuat tangan Sia perlahan terbuka.
Dia beranjak berdiri dan memutar tubuhnya menghadap sahabatnya itu. Menatap Leo tajam dengan jari menunjuk wajahnya.
"Jangan pernah dekati aku dan kedua anakku lagi. Kau munafik, kau menutupi semuanya dariku, Leo!"
"Bukan seper…."
"Cukup. Aku tak mau mendengarmu lagi!" potong Sia cepat lalu meraih tas gantung miliknya.
Dia segera berlalu pergi dari sana . Meninggalkan Leo yang tetap bersikeras mengejarnya tanpa peduli. Sungguh Sia merasa dibohongi. Dia begitu yakin jika sahabatnya itu tahu tentang Galaksi yang telah lama tinggal disini.
Lalu apa artinya semua ini?
Apakah Leo sudah mengatakan pada mantan suaminya itu. Jika dia dan anak-anaknya ada disini?
Saat Sia sudah sampai di pelataran parkir. Dia segera berjalan menuju mobil yang tadi dipakainya kesini, dan benar saja, matanya menangkap tubuh Riksa yang berdiri dekat kendaraan tersebut.
"Sia...Sia!" teriak Leo yang terus mengejarnya.
Hingga saat dia hampir sampai di pintu mobil, tarikan di tangannya membuat Sia mau tak mau memutar tubuhnya. Menatap wajah Leo yang sudah begitu kacau karena penolakan dari dirinya.
"Menjauhlah dariku!" teriak Sia dengan air mata yang menetes.
"Tak akan pernah, Sia. Kau harus mendengarkanku dulu," sahut Leo tak mau kalah.
Cekalan tangannya semakin kuat sampai membuat Sia kesakitan. Tanpa sadar semua itu dilihat oleh seorang anak kecil dari dalam mobil. Dia segera membuka pintu mobil dan mendorong sosok pria yang selama ini menjadi teman bermainnya.
"Jangan menyakiti Mamaku lagi, Om! Pergi sana, pergi!" teriak Mars dengan wajah merah padam.
Sungguh Mars begitu marah saat melihat mamanya menangis. Ditambah, perdebatan antara Sia dan Leo tentu memancing emosi Mars yang selama ini selalu menjaga dan menyayangi mamanya.
Leo tersentak kaget. Dia tak menyangka jika Mars melihat semuanya. Dirinya takut jika anak-anak Sia akan berpikir yang tidak-tidak.
"Mars, ini tak seperti yang kamu lihat, Nak," ucap Leo pelan dengan menatap wajah Mars.
"Aku sudah lihat semua, Om. Om narik tangan Mama dan membuatnya menangis. Pergi om! Pergi dari Mamaku!" teriak Mars marah dengan mendorong dorong tubuh Leo.
"Tolong jelaskan pada Mars, Sia. Aku tak mau dia marah padaku!" mohon Leo dengan tubuh yang masih didorong oleh putra Sia.
Sia spontan merengkuh tubuh anaknya. Dia mensejajarkan tubuhnya dan memeluk tubuh Mars dengan erat. Sungguh dirinya begitu merasa dilindungi oleh putra kecilnya ini, bagaimanapun keadaan yang terjadi.
"Nak," panggil Sia lirih saat merasakan tubuh Mars yang masih tegang. "Mama baik-baik saja, Sayang."
Perlahan Sia merasakan pelukan dari putranya dan tubuh Mars pun sudah tak setegang tadi. Dia merengkuh tubuh mamanya erat dan menenggelamkan wajahnya di pundak mamanya itu.
"Tangan Mama pasti sakit, 'kan? Tadi Mars lihat Om Leo tarik tangan Mama kenceng," ucap Mars dengan pelan dan terdengar seperti bisikan.
Sia menggeleng. Lalu dia menjauhkan tubuh putranya dan menghadiahi banyak kecupan di wajahnya. "Om Leo gak nyakitin Mama, Sayang. Kita hanya ada salah faham."
Mars menatap kedua bola mata Sia. Mencari kebenaran dari perkataannya barusan. Tapi, ternyata pandangannya tertuju pada air mata yang masih membekas di sudut mata mamanya. Dengan pelan, tangan mungil itu menghapus air mata Sia lalu menghadiahi ciuman lembut di kedua matanya.
"Mama jangan menangis lagi. Janji?"
"Janji, Nak." Akhirnya anak dan ibu itu saling memeluk. Keduanya begitu saling menyayangi hingga tanpa sadar membuat Leo dan Riksa yang melihatnya sama-sama terharu.
"Lebih baik selesaikan urusanmu dengan Leo, Sia. Biarkan aku mengantar anak-anak dan mama pulang."
Sia mengangguk. Lalu dia melepaskan pelukannya dengan sang putra dan memberikan kecupan singkat di keningnya. "Sia pulang sama Nenek, yah? Mama mau bicara sebentar sama Om Leo."
Mars mengangguk. Lalu dia menatap Leo sebentar yang ternyata sedang menatapnya balik. "Jangan sakiti Mamaku lagi, Om!
Leo mengangguk. Lalu Sia membantu anaknya masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya saat Riksa mulai melajukan kendaraan roda empat tersebut. Pikirannya sedikit lebih lega ketika mendapatkan pelukan dari sang putra. Kemudian pandangannya kembali beralih menatap Leo yang masih setia berdiri di dekatnya.
"Kamu ingin mengatakan apa lagi?" tanya Sia menatap sayu ke arah sahabatnya.
"Sebuah kebenaran."
~Bersambung~
Gimana reaksi Sia nanti yah, kalau misal Leo ceritain anu?
Sik tak pikirin dulu. Sia ini orangnya kalem aslinya. Gampang luluh tapi kalau ke Galaksi ya aku mau bikin Sia nyebelin haha. Biar Galaksi ditendang sama Sia.
Btw jujur aku terharu sama antusias kalian. 200 like loh tembus semua. Makasih banyak.
Untuk pembaca yang baru datang, aku ucapin selamat datang dan selamat bergabung bersama si kembar.
Jangan lupa like dan komen karya aku yah. Biar levelnya bisa naik di awal bulan. Jangan nimbun bab! plis aku mohon jangan pernah. Aku udah usahain update 2-3 bab perhari biar kalian gak nimbun. Kalau kalian nimbun, jujur level novel ini ambruk merosot.
Tapi yang pasti, aku ucapin terima kasih pada kalian semua. Sudah mau nemenin aku nulis cerita ini lewat like dan komentar lucu kalian. Love dari si kembar.