
Akhirnya setelah melewati proses yang panjang dengan hasil yang memuaskan. Semua orang mulai keluar dari ruang sidang dengan wajah begitu bahagia. Hati mereka semua mulai merasa lega. Tak ada lagi biang keladi yang akan mengancam keselamatan mereka. Semuanya sudah tertangkap dan mendapatkan hukumannya masing-masing.
Begitulah kehidupan, dimana yang kau tanam. Maka itu yang kau tuai. Jika kau menabur kebaikan, maka kau akan mendapatkan hasil yang baik. Namun, jika kamu menabur keburukan, maka kau akan menuai hasil yang buruk dan bisa menjerumuskan dirimu ke jurang yang terdalam.
Itulah hukum tabur tuai. Tak akan ada yang tau, kapan dia datang dan membalas. Namun, yakinlah, Tuhan tak akan tinggal diam jika kejahatan merajalela. Tangan takdir akan membalas dengan kuasanya dan akan membuatnya berada di satu titik bawah dari musuhnya.
"Ayo kita pulang!" ajak Galaksi dengan menggandeng tangan Galexia.
"No, Papa! Papa punya hutang buat tlaktil Adek sama Abang es klim," tolak Venus sambil berkacak pinggang.
"Memangnya Papa berhutang apa sama, Adek?" tanya Sia sambil menatap putrinya itu.
"Papa bilang, Mama gak boleh tau kalau sebenalnya Papa gak ada di pesawat itu," kata Venus dengan tampang tak berdosanya.
"Apa!" Galexia menatap mantan suaminya dengan mata melotot.
Dia tak menyangka jika calon suaminya bekerja sama dengan anaknya itu.
"Jadi Mars sama Venus tau kalau Papa gak kecelakaan?"
Mars dan Venus spontan mengangguk. Hal itu tentu semakin membuat wajah Galexia terperangah. Yang menjadi dalang, hanya bisa menepuk keningnya. Ternyata dua anaknya itu balas dendam karena sejak tadi keinginannya belum dipenuhi.
"Kak…."
"Aku akan jelaskan nanti. Tapi lebih baik kita pulang dulu, oke?"
"Gak mau!" tolak Venus.
"Bagaimana kalau beli es krimnya sama Kakek?" tawar Jericho dengan mensejajarkan tubuhnya.
Spontan perkataannya barusan membuat Venus menoleh. Dia mengangguk dengan mata begitu berbinar.
"Mau, Kakek. Venus mau beli es klim banyak-banyak. 'Boleh?"
"Tentu saja, Cucu Kakek. Kalian boleh pilih apapun sesuka kalian," sahut Jericho yang membuat tubuh Venus melompat kegirangan.
Galexia tak enak hati. Dia mendelikkan matanya ke arah Galaksi dan berjalan mendekati sosok ayahnya.
"Kalau ayah capek, mending anak-anak sama Sia aja beli es krimnya, gakpapa," kata Sia dengan sungkan.
Jericho tersenyum. Dia beranjak berdiri dan menatap putri pertamanya itu.
"Lebih baik selesaikan urusan kalian terlebih dahulu," jeda Jericho dan mengelus rambut putrinya itu. "Biarkan anak-anak sama ayah dan ibu untuk jalan-jalan, bagaimana?"
Galexia terdiam. Dia seakan memikirkan apakah ini jalan terbaik agar permasalahan dan rasa penasarannya cepat terbayarkan. Matanya beralih, dia melihat wajah Galaksi dan Riksa bergantian dengan pikiran berkecamuk.
Namun, apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Bukankah dia begitu penasaran bagaimana calon suaminya bisa ada disini. Dalam keadaan baik-baik saja dan perkataan si kembar jika papanya tak naik pesawat semakin membuatnya begitu penasaran.
"Pergilah, Nak! Selesaikan dulu bersama suamimu."
"Tapi, Om. Saya…." jeda Galaksi dengan mata terbelalak.
Dia menatap Galexia seakan meminta jawaban atas apa yang dikatakan oleh Jericho kepadanya. Namun, tak mendapatkan jawaban. Akhirnya Galaksi memilih diam, dia benar-benar tak tahu harus mengatakan apa.
"Baiklah, Ayah. Ayah dan Ibu hati-hati," peringat Sia sambil mencium kedua tangan orang tuanya.
Selama satu minggu dekat dan berkumpul bersama. Hubungan antara anak dan orang tua itu semakin dekat. Bahkan Venus dan Mars saja sudah begitu akrab dengan kakek neneknya. Sifat dan sikap hangat dari Jericho dan Rhea tentu membuat siapapun yang ada didekatnya merasa nyaman.
Akhirnya, mereka semua mulai berpisah. Jericho, Rhea, Mars dan Venus menaiki mobil milik Galaksi menuju kedai es krim. Sedangkan yang lain langsung menaiki mobil masing-masing dan kembali ke rumah utama.
****
"Jadi bisa dibilang kalau ini adalah jebakan?" tanya Sia memulai percakapan.
"Ya, Sayang," sahut Galaksi yang membuat Sia tersipu malu.
"Jangan menggombal! Kamu mirip banget sama papamu, Galak. Gak tau tempat kalau mau gombalin cewek," ledek Pandora yang membuat Galaksi pura-pura merajuk.
"Emang Kakak gak punya malu, Ma. Dia mah gombalannya banyak," ujar Sia dengan terkekeh.
"Banyak gombalannya gini aja, kamu cinta sama aku. Bener, 'kan?" bisik Galaksi membuat Sia tersipu malu.
"Ih, udah-udah." Sia merasa pipinya semakin panas.
Dirinya tak menyangka jika calon suaminya itu semakin suka menjahilinya. Galaksi akhirnya memilih menghentikan ocehannya. Melihat wajah Sia yang memerah membuatnya tak tega untuk meneruskan sikap jahilnya.
Galaksi berdehem. Dia mulai memasang wajah serius dan membenarkan duduknya.
"Apa kalian ingat kejadian dimana sebelum Alula tertembak, dia mengatakan jika semua sumber masalah ini dari Papaku?"
Spontan Galexia mengangguk. Dia masih ingat betul saat Alula mengatakan itu dengan seringai jahatnya.
"Dari sana aku mulai berpikir apakah itu benar? Bukankah papaku meninggal karena kecelakaan mobil. Apakah orang meninggal bisa hidup lagi?" ujar Galaksi dengan mata menerawang ke depan.
Kepalanya seakan mengulang kejadian dimana setelah kejadian penembakan tersebut.
Setelah pemakaman Alula selesai, akhirnya Galaksi segera menghubungi Star yang berada di New York. Dia begitu ingat jika area rumahnya ini dipenuhi dengan CCTV.
"Ya, Tuan?" sahut Star saat panggilan itu baru tersambung.
"Tolong lihat rekaman CCTV yang akan kukirimkan padamu. Cari orang yang begitu mencurigakan dan lokasi seseorang yang menembak Alula. Kau paham?"
"Paham, Tuan!"
Akhirnya Galaksi segera menyalin rekaman itu dan mengirimkan pada asisten kepercayaannya. Jujur dirinya tak bisa tenang. Seakan perkataan Alula terus terngiang di kepalanya. Namun, dirinya tak berani mengatakan pada Galexia karena takut jika membahayakan keselamatannya.
Kinerja yang cepat dan tanggap, membuat Star segera mengirimkan video balasan pada Galaksi dengan cepat. Hanya butuh waktu dua jam dia menyelesaikan penelusuran CCTV itu dan memberikan bukti kejanggalan pada Galaksi.
Hingga jepretan-jepretan beberapa orang berpakaian hitam mulai terlihat memenuhi layar handphonenya. Sampai saat sebuah foto pria memakai masker membuat Galaksi mengernyitkan alisnya. Manik mata berwarna biru seperti dirinya itu, membuatnya begitu penasaran. Bahkan dirinya sampai zoom sedekat mungkin tapi tetap saja dia tak bisa menebak.
Akhirnya dia mulai melihat foto yang lain. Hingga Galaksi terus menggeser layar itu sampai sebuah foto yang menampilan wajah seseorang begitu jelas tanpa masker disana. Dia menatap wajah itu dengan lekat sampai sebuah chat baru masuk ke ponselnya.
Star :
Dia adalah penembak Alula, Tuan. Saya juga sudah mendapatkan lokasi pria itu sekarang.
Galaksi tersenyum bangga. Dia merasa takjub akan pemikiran asistennya ini. Belum dirinya memberikan perintah tapi Star sudah mengerti keinginannya.
"Kirimkan orang-orang kita ke sana! Aku ingin menemuinya sekarang juga!"
~Bersambung~
Yang kemarin tanya apa sih hubungan keluarga Galaksi dan Galexia. Kok Atlas bisa nyekap orang tua Sia. Terus Galaksi kok bisa tau pesawat itu disebotase.
Nah disini bakalan aku kasih part flashback oke. Aku pasti kasih part begini biar kalian gak bingung.
Jangan lupa klik like, komen dan vote ya biar aku makin semangat ngetiknya.
Btw bab selanjutnya udah kuketik, yok tembusin 250 like biar aku cepet update.
Bab selanjutnya alasan kenapa Atlas nyulik orang tua Sia.