The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kecurigaan Semakin Besar




"Siapa?" tanya Leo dengan debaran semakin kencang.


"Galexia." 


Leo menelan ludahnya paksa. Seakan dirinya sesak nafas mendengar tebakan Galaksi yang ternyata benar. Namun, dia harus pura-pura tak tahu. Janjinya pada Sia, membuatnya harus sebaik mungkin menyimpan semua ini agar tak diketahui oleh Galaksi.


"Jangan aneh deh lo. Mana mungkin mereka mirip sama Sia? Dia dapat duit dari mana buat terbang ke New York?" Ujarnya penuh hinaan. 


Maafkan aku, Sia. Aku terpaksa menghinamu karena pria bodoh di depanku ini mulai curiga, batin Leo mengeluh. 


Galaksi menghela nafas lelah. Dia membenarkan ucapan Leo barusan. Mengingat bagaimana kehidupan Sia dulu saat mereka menikah, ia yakin jika mantan istrinya tak mungkin tinggal di sini. 


"Btw, lo tau kembar dari mana emang, Lak?" 


"Dari sini," sahut Galaksi dengan malas.


"Dari sini?" Ulang Leo pelan dengan kening berkerut. "Kok bisa?" 


"Koknya ilangin," sahut Galaksi tak acuh.


"Astaga." Leo menepuk jidatnya. 


Benar bukan? Jika Galaksi adalah orang yang menyebalkan. Berbeda sekali dengan anak kembarnya yang begitu lucu dan mengasyikkan. 


"Gue serius," desak Leo hingga membuat Galaksi menatap jengah.


"Gue ketemu Venus di sini waktu itu." Akhirnya Galaksi bercerita tentang pertemuannya dengan Venus saat di Galeri.


Lalu pertemuan kedua mereka saat di mall dan ketiga ya sekarang ini. Tentu semua itu didengar baik oleh Leo. Pria itu sungguh tak menyangka jika ternyata ayah dan anak yang selama ini terpisah jauh sudah bertemu tanpa sengaja.


Disaat Sia belum siap untuk bertemu Galaksi. Ternyata, Tuhan sudah mempertemukan kedua anaknya terlebih dahulu. Leo tak bisa membayangkan bagaimana jika sahabatnya itu tahu bila Mars dan Venus sudah bertemu bahkan akrab dengan Galaksi.


Leo takut jika Sia akan menuduhnya atas pertemuan ini. Atau lebih parahnya, perempuan itu akan mengajak kedua anaknya pergi lagi. Dia tak mau seperti itu. Namun, Leo harus melakukan apa jika semua diluar kendali dirinya. 


"Jujur gue masih belum percaya kalau mereka ayah dan anak," ujar Galaksi yakin dari suaranya. "Tapi informasi yang didapat asisten gue cuma gitu doang." 


Mata Leo terbelalak. Dia menarik lengan Galaksi hingga tatapan keduanya bertemu. "Lo nyuruh asisten buat nyari identitas mereka? Gila lo yah?" 


Galaksi mengedikkan bahunya tak acuh. "Yang gue mau cuma identitas mereka. Gue gak peduli apapun." 


"Tapi itu sama aja pencurian identitas tau gak?"


"Lo kenapa sih? Tumben bilang begini? Biasanya lo dukung gue," seru Galaksi menatap tajam ke arah Leo. "Apa lo tau sesuatu tapi disembunyiin dari gue?" 


Leo tergagap. Namun, wajahnya dia buat setenang mungkin agar tak membuat Galaksi curiga. Dengan mimik kesal, Leo memukul kepala Galaksi hingga pria itu mengaduh.


"Sembarangan nuduh! Lo udah gak percaya sama gue?" Tanya Leo dengan nada dibuat semenyedihkan mungkin.


"Gue gak bilang begitu, tapi gelagat lo mencurigakan." 


"Jelas lah. Mereka itu model gue. Kalau sampai mereka gak nyaman dan kabur. Lo mau tanggung jawab?" Kata Leo dengan wajah garangnya. 


Dia menaikkan satu alisnya hingga membuat Galaksi terdiam. Apa yang dikatakan sahabatnya memang benar. Dia mengganggu privasi orang. Tapi, rasa penasarannya terlalu tinggi hingga membuatnya tak memperdulikan apapun. Yang terpenting, rasa keingintahuannya tercapai dan dia mendapatkan apa yang dia inginkan. 


Beberapa menit mereka terdiam. Hingga suara Galaksi yang tiba-tiba membuat Leo terkejut.


"Kenapa?" 


"Lo inget wajah Mars, 'kan?"


"Ya inget lah. Dia 'kan model gue," sungut Leo kesal.


"Terus?" 


"Wajah Mars mirip banget sama waktu gue kecil." 


Deg.


Leo terkejut sampai hp yang dia pegang terjatuh. Ungkapan dari Galaksi barusan sungguh membuat Leo tak percaya jika langkah sahabatnya sejauh ini. Ternyata pria itu sudah banyak sekali tebakan yang Leo sendiri tau jawabannya apa.


"Mungkin hanya kebetulan. Bisa aja 'kan? atau emaknya ngefans sama lo terus mirip?" Celetuk Leo menatap sahabatnya itu.


"Emang bisa begitu?" Tanya Galaksi menoleh.


"Bisa 'kan? Lo tanya aja sama Tante Pandora, anak kecil itu wajahnya berubah-ubah. Apalagi kalau pas hamil emaknya ngefans sama seseorang, bisa-bisa pasti anaknya mirip," ujarnya asal dengan wajah seyakin mungkin. 


"Emang bisa gitu? Kok gue baru tau?" Ujar Galaksi dengan penuh kebingungan.  


"Mangkanya lo banyakin main sama gue. Jangan kerja mulu biar gak kayak orang bodoh begini." 


"Gue kerja dapet uang. Lah elo, banyak bacot begini ngehabisin duit," seru Galaksi tak terima dibilang bodoh.


"Emang lo kira gue gini diem gak dapet duit juga? Lah apa gunanya si kembar di foto itu kalau gak karena duit?" Sahut Leo tak kalah sombong.


Ya begitulah persahabatan keduanya. Walau sering kali mengejek, tapi antara Galaksi dan Leo saling menyayangi satu dengan yang lain. Keduanya tak pernah berkhianat. Bahkan baik Galaksi sudah menganggap Leo seperti saudaranya sendiri. 


"Gimana kabarnya Galexia ya?" Celetuk Galaksi setelah beberapa menit mereka terdiam.


Pandangan matanya kosong. Dia menatap langit-langit ruangan tapi dengan pikiran melayang entah kemana. Entah Galaksi tak tahu harus curhat pada siapa lagi. Tapi, Leo adalah sosok sahabatnya yang menjadi teman ceritanya 6 tahun terakhir ini.


Leo adalah saksi bisu dimana perjuangan Galaksi berjuang dari nol. Dimana pria itu berusaha agar perusahaan berkembang, dengan keadaan hati yang masih hancur karena perceraian. 


Leo adalah bukti dimana dia melihat bagaimana Galaksi mencintai Sia. Bagaimana pria itu hidup setelah perceraian hingga sampai di titik ini. Namun, Leo merupakan sosok orang yang bisa dipercaya. Walau dia berteman dengan Galaksi, tapi semua rahasia Galexia tetap aman.


Dia tak mau memberitahukan kebenarannya saat ini. Karena Leo yakin akan ada masa dimana Tuhan yang akan menunjukkan semuanya tanpa campur tangan manusia. 


"Gue yakin Sia hidup dengan baik di luar sana, Lak," sahut Leo sambil membayangkan sahabatnya yang sudah sukses sekarang.


"Kok lo bisa mikir begitu?" 


"Karena gue yakin dia udah ngelahirin dan rejeki anak itu pasti ada," ucap Leo tanpa melihat perubahan wajah Galaksi.


Anak?


Mengingat kata anak tentu membuatnya berpikir pada kejadian di masa lalu. Dimana dia menceraikan mantan istrinya itu dalam keadaan hamil. Jika sekarang Sia masih hidup dan anak-anaknya tumbuh sehat. Maka pasti saat ini anak-anaknya sudah sebesar si kembar Mars dan Venus. Tapi tunggu dulu, kenapa dia jadi mengaitkan dengan mereka. 


Kenapa ikatan di hatinya mengatakan jika antara Sia dan Venus ada sebuah hubungan. Hingga membuatnya semakin bertekad untuk mencari langsung semuanya sendiri. 


"Aku yakin pasti ada hubungan dengannya. Melihat garis wajah Venus yang mirip dengannya, itu bukan suatu kebetulan." 


~Bersambung~


Bab ini bonus dari vote koin pembaca yah. Biar aku gak punya hutang update~~


Jangan lupa klik like dan komen yah. Jangan lupa bab sebelumnya juga di like.


Mau update lagi gak? authornya makin gila nih hahaha.