The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Pertemuan Tak Terduga




Di dalam sebuah apartemen, terdapat sepasang anak kembar yang sudah rapi dengan penampilannya. Mereka adalah Mars dan Venus. Hari ini adalah hari pertama si kembar melakukan pemotretan dengan pihak Leo Collection. Setelah melewati pergolakan batin dalam diri Galexia, akhirnya ibu dari anak kembar itu menandatangani kontrak kerja sama. Toh menurutnya, seorang Leo pasti tak akan datang dalam pemotretan mereka. Pasti dia memiliki banyak jadwal kegiatan yang membuatnya tak akan bisa bertemu si kembar dan dirinya, pikir Sia.


Setelah melakukan perjalanan sekitar tiga puluh menit. Akhirnya mereka sampai di Galeri Leo Collection. Kehadiran Mars dan Venus tentu langsung disambut oleh para penata pakaian dan fotografer. Kedua anak kembar itu segera berganti pakaian dibantu oleh Galexia sendiri. Bagaimanapun baik Mars maupun Venus, masih tak mau dipegang oleh orang asing di mata mereka. 


"Kalau Mars gagal. Bagaimana, Ma?" tanya bocah kecil tampan yang sedang dibantu memakai baju oleh Sia.


"Tidak apa-apa, Sayang. Bukankah ini yang pertama untuk Mars?  Tanya Sia dengan tersenyum.


Mars mengangguk. Apa yang dikatakan oleh mamanya memang benar. Ini adalah pertama kalinya Mars ikut dalam pemotretan, karena biasanya pria kecil tersebut hanyalah seorang penyanyi bersama mamanya. Berbanding terbalik dengan kembaran kecilnya si Venus, yang pandai berlenggak lenggok di kamera.


"Lihat Mama, Nak," ucap Sia dengan tersenyum. "Mama yakin Mars pasti bisa."


Mars mengangguk. Entah kenapa mamanya ini selalu menjadi support terbaik untuknya. Mungkin karena terbiasa akan didikan Sia. Mars menjadi ketergantungan dengan sang Mama.


Hingga akhirnya pagi menjelang siang itu. Fotografer mulai membantu keduanya untuk bergaya. Baju yang keduanya gunakan juga, model terbaru keluaran Leo Collection. Wajah cantik dan tampan keduanya, tentu menjadi kualitas model dan berharap memikat para pembeli di luar sana.


Galexia dengan sabar ikut menunggu kedua anaknya. Bahkan berulang kali dia memberikan semangat, tatkala Mars merasa tak nyaman. Wajar saja, ini adalah pengalaman pertamanya. Jadi, perasaan tak nyaman pasti masih ada dalam diri pria kecil tersebut.


Hampir satu jam Mars dan Sia berpose. Hingga akhirnya mereka berganti pakaian kedua. Dengan sigap Sia membawa mereka kembali ke ruang ganti dan bergantian dengan Venus.


"Mars sudah menampilkan gaya terbaik. Mama bangga sama Mars," ucap Sia dengan senyuman dan dia menghadiahi kecupan di kedua pipi putranya.


"Mars sayang, Mama." 


"Mama juga sayang Mars." Kedua anak dan ibu itu saling memeluk. Hingga panggilan dari seorang crew galeri membuat pelukan mereka terlepas.


"Mars keluar dulu yah. Mama beresin pakaiannya dulu," kata Sia membuat Mars keluar dari ruang ganti.


Bersamaan dengan itu, dari arah pintu masuk. Datanglah seorang pria tampan dengan pakaian casual memasuki ruangan pemotretan. Banyak para crew yang membungkukkan badannya ketika berhadapan dengan pria tersebut. Terlihat wajahnya menatap suasana yang ada.


Hingga dari ruang ganti. Sia yang baru saja selesai menata pakaian kedua anaknya segera keluar. Dia berjalan sambil membenarkan pakaian yang ada di tangannya. Hingga tanpa sadar, dari arah depan pria tampan tersebut juga berjalan ke arahnya sambil matanya mengawasi sekitar.


Melihat keduanya sama-sama kerepotan dan tak melihat ke depan. Akhirnya tabrakan itu tak terelakkan.


"Aaaa." Sia berteriak dengan mata terpejam.


Dia sudah yakin jika tubuhnya akan mendarat di lantai. Tapi, kenapa sampai satu menit dirinya tak merasakan sakit. Hingga akhirnya Sia mulai memberanikan diri membuka matanya.


Deg.


Tatapan keduanya saling bertemu. Wajah terkejut tentu muncul dari keduanya. Hingga pikiran mereka saling berkelana sampai Sia memutuskan pandangannya. 


Sang pria dengan segera menegakkan tubuh Sia. Dia menatap wanita itu dari atas sampai bawah seakan memindai apakah wanita di depannya ini adalah orang yang sama dengan yang ada di pikirannya.


"Kamu Sia, bukan?" tanya pria tersebut dengan menatap wajah Sia yang nampak gugup.


"Iya, Leo. Aku Sia," ucap Sia pada akhirnya.


Mau bagaimana lagi. Jika dirinya berbohong pun, sudah dipastikan Leo tak akan percaya. Apalagi pria di depannya ini adalah sosok yang begitu mengenal dirinya. 


"Ya Tuhan, Sia." Leo mendekat, dia memeluk Sia begitu erat.


Tergambar jelas wajah kerinduan pada pria tampan itu hingga membuat Sia yang masih shock membiarkan tubuhnya dipeluk. Hingga tak lama, Leo melepaskan pelukannya dan memutar tubuh mantan istri dari sahabatnya itu.


"Kamu kemana saja selama ini?" tanya Leo dengan menatap wajah Sia.


Sia menghela nafas pelan. Dirinya masih diliputi rasa keterkejutan hingga dia baru menyadari jika Leo tadi memeluknya.


"Pumpung gak ada pawangmu yang satu itu," sindir Leo tanpa sadar hingga membuat wajah Sia yang tadinya tersenyum tiba-tiba buram.


Leo yang menyadari ucapannya salah menepuk bibirnya. Ah bibirnya yang ceplas-ceplos masih saja tak bisa di rem. 


"Sorry, Sayang. Tolong maafkan bibir Leo yang suka nyablak," rayu Leo dengan gaya genitnya dan itu berhasil membuat Sia terkekeh.


Sia sangat mengenal betul pria tampan di depannya ini. Namun, dia tak menyangka jika mereka akan bertemu secepat ini. Leo adalah salah satu sahabat Galaksi yang sikapnya sangat berbanding terbalik dengan tubuh serta pakaiannya.


Tubuhnya memang kekar, dengan pakaian yang begitu casual ditambah wajahnya yang begitu menawan. Namun, jika bibirnya sudah mengeluarkan suara. Maka akan terlihat bagaimana Leo itu sebenarnya. 


Sia mengangguk. Lalu dia merapikan pakaian kedua anaknya yang berada di tangannya.


"Kamu selama ini kemana saja, Sia?" tanya Leo lagi dengan pelan.


"Aku di Indonesia," sahut Sia hingga membuat Leo melongo.


"Serius kamu di Indonesia?" Sia mengangguk lugu.


"Tapi, Ga…" Suara Leo terpotong oleh kedatangan dua orang anak yang mendekati mereka dan memanggil Sia dengan panggilan yang membuatnya semakin terkejut.


"Mama," panggil Venus dengan diikuti Mars di belakangnya. "Haus."


"Oh haus ya, Nak," sahut Sia menatap putri kecilnya. "Sebentar Mama ambilkan." 


Setelah memberikan sebotol minuman pada Mars dan Venus. Dua anak kecil itu langsung berlari ke arah fotografer. Meninggalkan Sia dan Leo yang terpaku akan sosok dua anak tersebut. 


"Heh!" Sia menepuk lengan Leo hingga laki-laki itu terkejut. "Ngapain bengong?" 


Leo mengerjapkan matanya. Dia menatap Sia dan beralih ke arah perutnya.


"Itu dua kurcacimu?" tanyanya dengan menunjuk ke arah perginya Mars dan Venus.


"Sembarangan," ketus Sia memukul tangan Leo. "Mereka anak-anakku." 


"Jadi beneran yang dibilang si Galaksi. Kalau kalau…" Leo tak melanjutkan ucapannya. Dia seakan bisa melihat raut wajah Sia yang berubah.


"Kalau aku hamil saat kita bercerai?" Leo mengangguk lugu. "Ya itu memang benar."


"Lalu siapa ayah mereka berdua? Apakah kamu beneran selingkuh atau mereka itu benar anak dari Galaksi?" 


~Bersambung~


Hayoo yang kepo sama Si Leo kemarin. Udah gak kepo lagi kan siapa dia? Hehe. Si cowok kekar tapi letoy nih, hahaha. Wajah tampan tapi bibirnya aduhay, hihi.


Kira-kira Sia jawab apa yah? Dia jawab si kembar anaknya galaksi atau bukan?


Btw aku juga mau tanya. Apakah cerita ini bertele-tele? atau membosankan?


MAU UPDATE LAGI GAK?


KALAU MAU NUNGGU BAB INI DAN BAB SEBELUMNYA LEBIH DARI 150 LIKE, MAKA AKU AKAN UPDATE LAGI.


Jadi jangan lupa tekan like, biar aku update lagi hari ini.


Sebelumnya terima kasih sama yang sudah vote koin sama aku.