The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kisah Masa Lalu




Rasa haru dan bahagia menyergap di hati seorang perempuan yang wajahnya sudah dirias begitu sempurna. Suara lantang dari sang pujaan hati saat mengucapkan kalimat sakral itu begitu terdengar mengharukan. Air mata bahagia meluncur di kedua sudut matanya saat menyadari jika dirinya sudah berstatus sebagai seorang istri dari Galaksi, kekasihnya semenjak mereka kuliah.


Hubungan yang terjalin sudah sejak lama, ternyata bisa sampai di titik ini. Dalam mimpi Galexia, dia tak pernah menyangka jika dirinya yang hanya seorang anak yatim piatu, hidup sendirian dan bekerja untuk dirinya sendiri bisa menjadi tambatan hati seorang Galaksi, pebisnis hebat di usia muda. 


Lamunan Sia seketika buyar saat pintu kamar yang ditempati terbuka. Perlahan sosok ibu mertuanya masuk dengan wajah yang begitu masam. Dia berjalan mendekati Sia dengan wajah seperti menahan amarah. Dia tahu, jika Pandora tak pernah menyetujui hubungan mereka. Gadis itu juga pernah meminta Galaksi untuk mengakhiri hubungan mereka karena Pandora tak merestui. Namun, Galaksi yang keras kepala dan sudah begitu cinta pada Sia, melakukan segala hal hingga mereka bisa bersatu dalam ikatan halal.


"Meski statusmu sudah berubah menjadi istri, tapi aku tak akan pernah mengakuimu sebagai menantuku," ucapnya dengan sorot mata tajam hingga membuat hati Sia begitu sakit. 


Tapi perempuan itu hanya bisa tersenyum. Dia tak pernah membalas perkataan mertuanya ini sepedas apapun ucapannya. Sia benar-benar menghormati orang tua seperti ajaran ibu panti tempatnya dibesarkan. 


Akhirnya Sia turun dari kamar didampingi oleh Pandora. Wajah bahagianya semakin terpancar saat melihat Galaksi sudah menunggunya dengan senyuman lebar. Sia sudah tak peduli dengan cengkraman tangan di lengannya. Dia hanya berusaha menutupi tingkah laku Pandora di hadapan anaknya sendiri. 


Sepasang pengantin baru itu saling bertukar cincin. Pernikahan mereka juga hanyalah pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh teman dekat Sia dan Galaksi, dan beberapa kerabat sang mempelai pria. 


Setelah melalui acara bersama keluarganya, akhirnya waktu mulai beranjak malam. Galaksi membawa Galexia ke kamarnya dengan tangan saling bergandengan tangan. Wajah keduanya tentu begitu menggambarkan kegembiraan seharian ini. Hingga sampai di depan pintu kamar, Galaksi mendorongnya dengan pelan, hingga ruangan yang didominasi warna hitam itu mulai terlihat.


Seketika tubuh Sia menegang. Bahkan wajahnya memerah karena menahan malu. Baru kali ini dia dan Galaksi berada di dalam kamar yang tertutup dan berdua saja. Selama ini hubungan keduanya begitu sehat, baik Galaksi maupun Galexia tak pernah melakukan hal lebih selain pegangan tangan dan cium pipi. Jadi saat mereka berdua ada di dalam kamar, tentu saja baik Sia maupun Galaksi sama-sama malu. 


"Kamar mandinya disana, Sayang. Kamu mandilah dulu," kata Galaksi memecahkan lamunan Sia.


"Hah!" 


"Kamu memikirkan apa, hm?" tanya Galaksi sambil mengelus pipi Sia.


Tubuh Sia meremang saat kulit Galaksi bersentuhan langsung dengan kulitnya. Hingga tanpa sadar, membuat wanita yang tak pernah merasakan perasaan seperti ini spontan memejamkan matanya. Galaksi menahan tawa, tapi dia begitu menikmati ekspresi wajah wanita yang menjadi istrinya beberapa jam yang lalu.


"Mandilah dulu, setelah itu kita akan…" bisiknya hingga membuat mata Galexia tiba-tiba terbuka.


"Akan apa?" tanya Sia menatap mata Galaksi.


Kedua mata itu saling berhadapan. Hingga Galexia bisa melihat tatapan Galaksi yang menatapnya seperti candu. Sia hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Namun, dirinya tak bertanya lagi pada sang suami melainkan dirinya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat Galexia mulai membuka satu persatu pakaiannya. Tubuhnya yang sintal langsung terlihat begitu sempurna. Namun, saat tinggal satu kain saja yang melekat di bagian bawahnya, mata Sia membola. Noda merah di sana menandakan jika dia sedang kedatangan tamu bulanan.


Sia meringis. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati saat melihat noda itu datang di waktu yang tak tepat. Namun, mau bagaimana lagi, ini bukan kehendaknya melainkan sudah takdir dari Tuhan untuk mereka. Akhirnya, Sia menyembulkan kepalanya dan mencari dimana suaminya itu berada.


"Sayang," panggilnya hingga terdengar suara pintu bergeser dan muncullah sang suami.


"Ada apa?" tanya Galaksi khawatir.


"Tolong ambilkan pembalutku di koper. Boleh?" ucap Sia dengan wajah merah.


Sungguh dia merasa malu meminta tolong pada Galaksi. Namun, bagaimana dia bisa mengambil jika dirinya saja sudah tak memakai pakaian. 


Galaksi melongo tapi seketika dia langsung tersadar. Wajahnya bak anak kecil seperti kehilangan mainan kesukaannya. "Berarti kamu?"


Sia meringis. Namun, kepalanya mengangguk menyetujui apa yang ada dipikiran sang suami. "Maaf, Sayang. Tapi tamu bulananku datang lebih cepat." 


Galaksi hanya bisa menghela nafas berat. Dia hanya bisa mengangguk. Mau dikata apa? Semua bukan kehendak istrinya. Hingga akhirnya malam itu tak ada kegiatan apapun di antara sepasang pengantin baru. Keduanya hanya tidur saling berpelukan sambil menahan segala keinginan hasrat yang ada dalam tubuh mereka.


****


Galaksi dan Galexia berjalan bersama menuju meja makan. Wajah keduanya begitu sumringah sampai membuat Pandora yang ada disana mengernyit heran. Dia merasa ada sesuatu hal di antara anak dan calon menantunya hingga membuat dirinya ingin tahu.


"Sepertinya ada kabar gembira," celetuk Pandora dan membuat Galaksi mengangguk.


Dia menarik kursi untuk sang istri lalu ikut mendudukkan dirinya di samping Sia. "Tentu, Ma. Nanti malam aku dan Sia akan tidur di luar." 


"Memangnya ada apa?" tanya Pandora dengan raut wajah tak suka.


"Ya kami ingin mencicil membuat cucu untuk, Mama." Pandora menatap Galexia tajam. Seakan perkataan anaknya barusan sangat tak ia sukai. 


Namun, Galaksi yang terlampau bahagia tak sempat menatap mamanya. Sedangkan Galexia, perempuan itu hanya bisa diam tertunduk. Bukan dirinya malu oleh perkataan sang suami, melainkan dirinya mengerti tatapan mertuanya yang tak suka dengan rencana anaknya.


Sungguh selama satu minggu menjadi istri Galaksi, dia bisa melihat sikap Pandora yang terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya. Apalagi jika Galaksi bekerja, maka sikap mertuanya bisa lebih semena-mena. Namun, Galexia yang hatinya begitu lembut dan selalu patuh, hanya mampu menahan semuanya sendiri. Dirinya juga tak mau menjadi alasan Galaksi untuk durhaka dan bertengkar dengan mamanya sendiri. 


Akhirnya setelah acara sarapan selesai. Galaksi hendak beranjak berdiri. Namun, suara sang Mama membuatnya spontan mengalihkan perhatiannya.


"Mama baru ingat. Nanti malam ada acara kolega bisnis kita. Jadi, kau harus datang, Nak," kata Pandora tanpa rasa bersalah.


Galaksi menatap Pandora penuh tanda tanya. Dia sampai mengerutkan keningnya karena acara yang menurutnya tiba-tiba. 


"Apakah aku harus datang, Ma?" 


"Siapa pemilik perusahaan kita? Apakah mama?" tanya Pandora dengan sinis.


Galaksi hanya bisa menghela nafas lelah. Namun, dia juga tak bisa menolak lantaran tuntutan pekerjaannya sebagai pemilik dan CEO di perusahaan. Tanpa menjawab, Galaksi akhirnya pergi meninggalkan meja makan diikuti Sia.


Perempuan itu akan mengantar kepergian sang suami sampai di depan pintu seperti kegiatannya selama satu minggu ini.


"Maafkan aku, Sayang," sesal Galaksi menatap istrinya itu.


Sia tersenyum dengan tangan merapikan jas milik suaminya. "Aku mengerti. Lebih baik datanglah bersama Mama. Sia akan menunggu di kamar kita," ucapnya dengan pipi merona. 


Galaksi akhirnya kembali bersemangat. Dia mencium kening sang istri dan mencuri kecupan lembut di bibirnya. Hingga akhirnya mobil yang ditumpangi sang suami mulai berjalan meninggalkan rumah dan membuat Sia ingin kembali masuk.


Namun, baru saja Sia membalikkan tubuhnya. Wajah Pandora sudah ada di sana. Menunggunya sambil menyandarkan punggung di pintu masuk.


"Hebat. Mulai berlagak kau, Sia," ucapnya dengan tatapan meremehkan. 


"Apa maksud, Mama." 


"Jangan pura-pura bodoh. Aku tak akan mengizinkan kamu dan Galaksi untuk pergi bersenang-senang sampai pernikahan kalian bercerai." 


~Bersambung~


Emang dari awal nenek lampir udah ngeselin.


Perlu diingat. Ini Flashback yah. Takut ada yang masih bingung nanti, soalnya aku gak ada tanda flashback on off. Pengen berasa alur maju mundurnya aja.


Terima kasih 250 likenya. Padahal aku tadi mau ngetes ternyata tembus beneran. Alhamdulillah pembacaku mau mengapresiasi karyaku. Walau hanya sekedar like dan komen itu sudah berharga banget buat aku yah.


Itu jadi tanda kalau kalian mau support karya aku. Terima kasih banyak. Love sekebon.