
"Aku punya uang. Sebutkan saja berapa yang kalian minta agar aku bisa menjadikan Cressida sebagai istriku?"
"Tiga ratus juta, maka kau bisa membawa dan menikahinya."
Deg.
Tubuh Cressida mematung. Dirinya menatap sosok seorang ayah yang dengan teganya menominalkan dirinya. Matanya berkaca-kaca saat menyadari sebuah kenyataan jika dirinya tak berarti apa-apa untuk kedua orang tuanya.
Bahkan tak ada wajah berat atau tertekan dari mereka saat mengatakan itu. Keduanya sama-sama bersikap tenang dan arogan hingga semakin menusuk dasar hati seorang Cressida. Hingga dirinya merasa tak memiliki harga diri lagi.
Wajahnya kian menunduk dengan lelehan air mata yang membasahi kedua pipinya. Dia sudah tak sanggup lagi ada disini. Hingga saat dirinya hendak berdiri, sebuah tangan tetap menggenggamnya dan membuat Cress tersadar.
Dia menatap ke samping, memandang wajah yang juga menatapnya dengan lembut. Matanya yang memancarkan ketulusan, ketampanannya serta kebaikan hatinya tentu membuat Cressida begitu beruntung.
Bahkan malam ini dirinya masih merasa seperti mimpi jika pria yang baru saja dia kenal dan temui sudah berani melamar dirinya. Menghargai dan memperlakukannya begitu baik, hingga membuat Cressida memanjatkan sebuah harapan untuk hubungan keduanya.
Dirinya yakin jika pria di depannya ini benar-benar baik untuk dirinya. Dia yakin jika sosok Antariksa adalah seorang malaikat yang dititipkan oleh Tuhan untuk dirinya. Menemani di segala kesedihan dan membawanya pergi dari kedua orang tua yang begitu jahat kepadanya.
"Oke, deal," sahut Riksa dengan matanya yang tajam ke arah Castor. "Aku akan memberikan kalian uang sebesar 500 juta, tapi dengan syarat…." jedanya menatap kedua orang yang menampilkan ekspresi terkejut.
"500 juta?" ulang Carina menatap Riksa tak percaya.
"Ya. 500 juta," jawab Riksa dengan tangan yang semakin menggenggam erat telapak tangan Cressida.
"Apa syaratnya?" tanya Castor cepat.
Matanya memandang lapar ke arah Riksa. Seakan dirinya sudah membayangkan akan sebanyak apa uang sebesar itu. Sedangkan Riksa, dia sudah tahu sikap orang tua yang seperti ini. Mereka akan semakin gila jika uang yang diinginkannya melebihi jumlah. Hingga itulah yang Riksa incar agar kedua orang itu memenuhi syaratnya.
"Setelah menikah, aku akan membawa Cressida pergi dari kehidupan kalian berdua," tegasnya dengan tatapan nyalang. "Jangan berani mengganggu kehidupannya lagi dan jangan temui dia. Kalian paham?"
Cressida merasa jika jantungnya semakin berdebar kencang. Dia merasa begitu dilindungi oleh seorang pria tampan di sampingnya hingga membuat hatinya sedikit lebih lega.
"Deal. Aku tak akan menemui anak sialan ini lagi," kata Castor mantap. "Dia akan menjadi milikmu dan bawalah dirinya jauh dari kami. Kehadirannya begitu merepotkan selama ini."
Tangan Riksa terkepal erat. Bahkan genggamannya semakin kuat menandakan jika pria itu begitu emosi. Namun, perlahan dirinya mengingat tujuannya. Tanpa kata, Riksa mengambil sebuah cek yang ada di dompetnya lalu segera menyodorkan ke hadapan Castor dan Carina hingga membuat mata pasangan suami istri itu berbinar cerah.
"Kau benar-benar bagus dalam berbisnis, Nak. Akhirnya kau mau membeli anak itu."
"Aku bukan membelinya, Tuan Castor," kata Riksa sambil beranjak berdiri. "Aku hanya sedang menyelamatkan harga diri calon istri dan calon ibu dari anak-anakku."
"Apa maksudmu?" seru Castor tak terima.
"Aku sudah mengetahui rahasiamu, Tuan." Perkataan Riksa tentu membuat wajah keduanya begitu pias. Keduanya saling pandang lalu tertawa begitu kencang.
"Memang rahasia apa yang kau ketahui, hah?" tanya Castor dengan berjalan mendekati keduanya.
"Jangan mengada-ngada, Nak. Kau hanya anak muda yang baru saja terjun. Lebih baik diamlah daripada membahayakan keselamatanmu," ancam Carina dengan meraih tasnya itu.
Riksa tersenyum miring. Namun, dirinya harus sukses akan tujuannya malam ini. Tangannya segera mengambil ponsel miliknya yang ada di saku celana. Dia perlaham bergerak menggulir, mencari bukti nyata yang kemarin malam dia cari sampai dirinya kurang tidur.
Setelah dia mendapatkannya, Riksa menyodorkan layar ponselnya yang menyala di depan wajah Castor dan istrinya. Dia ingin membuat kedua mulut pedas itu diam dan segera membawa sang calon istri pergi dari sini.
Mata kedua paruh baya itu terbelalak lebar. Bahkan nafas keduanya begitu sesak hingga pemandangan seperti itu menjadi hal yang seru untuk Riksa.
"Kau dapat dari mana, hah?" seru Castor mencoba meraih ponsel itu tapi sudah ditarik dan dikembalikan di saku jasnya.
"Aku? Tentu saja hal mudah untukku untuk mencari identitas seseorang."
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Cress yang ingin tahu.
"Diam kau!" sentak Carina menunjuk wajah Cressida. "Karena dirimu, kami ada di posisi yang sulit."
"Maafkan aku, Ma. Maafkan aku," kata Cressida mencoba mengambil hati mamanya.
"Diam!"
"Nyonya Carina!" seru Riksa dengan wajahnya yang merah.
Sejak tadi dirinya sudah menahan segala kesakitan atas hinaan kedua orang tua Cress pada dirinya. Namun, saat melihat dan mengetahui jika mulut pedas itu tak berhenti menghina calon istrinya, tentu hal itu memancing kesabaran Riksa yang mulai habis.
"Kau boleh berteriak sepuasmu, tapi jangan di hadapan calon istriku," katanya dengan tegas.
"Wah wah. Kau sudah menunjukkan jika bisa menjaganya yah?" ledek Castor dengan seringai mengejek.
"Diam!" seru Riksa yang teriakannya begitu kencang menggelegar. "Jangan menyepelekan perkataanku. Katakan rahasia apa yang sudah kalian simpan selama ini?"
"Untuk apa kau menanyakan itu padaku, jika kau sudah mengetahuinya, heh?" seru Castor dengan seringai lebar.
Dia melebarkan cek uang 500 juta itu dan menggerakkannya di hadapan Cressida. Pria paruh baya itu benar-benar sudah gila harta bahkan dirinya tak memandang sepasang mata yang melihatnya dengan sayu.
"Hidupmu tak sepenting uang ini, Cress. Kau juga tak ada gunanya untuk kami berdua, karena…." jeda Castor menatap keduanya dengan senyum meremehkan.
"Karena apa, Papa?"
"Uhh kau manis sekali, Sayang. Tapi apakah panggilan itu akan semanis ini jika kau sudah tau kebenaran yang sebentar lagi aku katakan."
Wajah Cressida semakin dibuat bingung. Bahkan dirinya berpikir keras untuk mengetahui maksud dari kedua orang tuanya. Namun, tetap saja dirinya yang tak tahu apa-apa sudah pasti tak bisa menebak.
"Ayo kita pulang, Sayang. Dia sudah ada ditangan penjualnya," kata Castor meraih tangan sang istri.
Wajah keduanya begitu bahagia tanpa mengindahkan tatapan protes dari seorang Cressida.
"Katakan, Pa! Kenapa Papa tak menjawab?"
"Mama sama Papa mau kemana? Papa harus menjadi wali nikahku, 'kan?"
Mulut Cressida terus saja mengoceh. Namun, tangan Riksa masih setia menggenggamnya dengan erat. Seakan dia sedang memberikan kekuatan pada calon istrinya untuk menerima kenyataan yang mungkin akan dia dengar kali ini.
"Jangan harap kita akan menjadi wali nikahmu!" seru Castor melepaskan tarikan tangan Cressida.
"Apa maksud, Papa? Aku anak Papa jadi Papa yang harus menikahkan aku."
"Bukan. Ternyata membodohimu semudah itu, Sayang," kata Castor yang diiringi tawa Carina.
"Sebenarnya apa yang ingin Papa katakan? Kenapa Papa tak mau menjadi wakilku?"
"Karena kau bukan anak kandung kami."
~Bersambung~
Hayoo ada yang tebakannya bener gak?
Uhuy 3 bab lagi hari ini. Pliss dong minta likenya biar level aku naik bulan depan. Ya kali kalau naik, aku tetep bertahan disini.