
"Iya, Bu. Selamat, Anda benar-benar sedang hamil," kata Dokter setelah layar yang semula hitam kini berubah dan menampakkan satu titik indah di sana.
Sia tak bisa menutupi rasa bahagianya. Dia tersenyum begitu lebar dengan air mata yang menetes. Sesuatu yang sangat dinanti suaminya akhirnya bersemayam dalam dirinya saat ini.
Momen yang dulu pernah suaminya lewati kini mampu Galaksi rasakan. Pria itu bahkan sosok yang paling antusias.
"Mana adik bayinya, Bu Doktel?" tanya Venus yang ikut berdiri di samping brankar mamanya.
Gadis cilik itu tak mau untuk duduk. Dia meminta ikut selalu berada di samping mamanya dan membuat semua orang hanya bisa pasrah.
Mereka tak mau anak-anak Galaksi, Venus dan Mars merasa dikekang dan tak diizinkan dekat dengan mama dan adiknya.
"Adik bayinya masih kecil, Sayang," jawab Galaksi lalu meraih anaknya dalam pelukan.
"Adik bayinya ini, Anak Cantik," kata Dokter perempuan yang sudah paruh baya sambil menggerakkan kursornya di layar monitor.
"Itu cuma titik, Papa," kata Venus menunjuk layar itu sampai keningnya berkerut.
"Iya. Adiknya masih kecil sekali," sahut Bu Dokter menjawab. "Karena adiknya masih kecil, Mbak Cantik harus bantu Papa jaga Mama sama Adik. Jangan boleh kecapekan Mama yah?"
Venus mengangguk. "Siap, Bu Doktel. Venus bakalan jagain Mama."
Galexia mengalihkan tatapannya. Dia menatap putranya yang sedang menatap layar itu tanpa kedip. Jujur hatinya merasa sedih juga. Melihat bagaimana tatapan Mars yang seakan ragu dan takut posisinya akan diambil oleh sang adik.
Dia mengulurkan tangannya. Dia mengusap kepala Mars hingga membuat anak itu mengalihkan pandangannya.
"Ada apa, Sayang?"
Mars menggeleng. Dia menatap perut mamanya yang mulai dibersihkan, lalu berlari ke arah dua neneknya.
Mama Pandora dan Ibu Rhea memang ikut ke dalam. Mereka tak kalah antusias dari Galaksi dan Sia. Kedua nenek itu memang ingin memiliki cucu yang banyak. Bahkan mereka ingin rumah mereka dipenuhi oleh tangisan anak kecil.
Sia menatap kepergian Mars dengan sedih. Namun, sebuah elusan di pipi membuatnya mendongak.
"Biarkan Kakak yang akan bicara dengan Mars. Okey?"
Sia hanya mengangguk. Dia juga tak bisa melakukan apapun. Putranya memang dekat dengannya. Namun, semenjak ada Galaksi. Bocah itu juga sangat dekat dengan papanya.
Akhirnya pemeriksaan itu selesai dan keadaan ibu serta bayinya sangat sehat. Dokter juga mengatakan bahwa Sia tak boleh stress dan banyak pikiran.
"Aku dan Mars akan menebus obat dulu ya, Sayang. Kamu jalan dulu aja sama Mama dan Ibu ke parkiran."
Akhirnya sepasang ayah dan anak itu berjalan bergandengan tangan. Wajah keduanya masih sangat terlihat tampan meski sekelilingnya banyak bule.
Wajah ciri khas Galaksi dan Mars perpaduan indo dan bule, masih sangat terlihat jelas. Mereka tak kalah putih dan tak kalah tampan. Bahkan banyak pasang mata para wanita yang melihat keduanya dengan tatapan kagum.
Galaksi segera memberikan kertas berisi resep obat lalu segera mengajak anaknya untuk duduk dan menunggu antrian. Dia hanya ingin berbicara dengan putranya saja.
Dirinya sejak tadi sudah melihat bagaimana ekskresi Mars. Mars dengan Venus memang berbeda. Keduanya memiliki pemikirkan kritis yang sama. Namun, Venus hatinya lebih lembut dan mudah disentuh daripada Mars.
"Apa Mars tak bahagia?" tanya Galaksi dengan hati-hati.
Anak itu hanya menundukkan wajahnya. Dia tak berani menatap wajah papanya yang ia kira sedang ingin marah padanya.
"Papa hanya bertanya, Sayang. Lihat, Papa!" kata Galaksi dengan suara tegas.
Akhirnya Mars mulai mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah papanya yang juga sedang menatapnya.
"Mars…" Anak itu tak mampu melanjutkan perkataannya.
Entah kenapa Mars bersikap seperti ini. Biasanya anak itu yang paling mengerti daripada Venus. Namun, mungkin karena ini adalah adiknya sendiri. Mangkanya dia ketakutan.
"Papa tak bisa merubah cara berpikir anak Papa ini. Tapi Mars bisa melihat bagaimana sikap Papa dan Mama setelah ini. Setelah adanya adik di perut Mama."
Galaksi tetap bersuara dengan dingin dan tegas. Dia tak mau anaknya menganggap ucapannya hanya sebuah penenang.
Dalam hati, memang Galaksi adalah sosok yang paling bahagia dengan adanya anak yang dikandung oleh Sia. Namun, disisi lain dia juga sangat lebih bahagia memiliki Mars dan Venus.
"Yang perlu Mars tahu. Tak ada yang bisa menyingkirkan Mars dan Venus dalam hati Papa. Mars dan Venus sebagai pelindung Mama di mata Papa selama ini. Sosok yang memberikan maaf dan memberikan kesempatan Papa bisa merasakan kebahagiaan ini lagi. Jadi kamu adalah salah satu sumber kebahagiaan yang Papa miliki sebelum kebahagiaan ini datang."
"Kamu tetap anak Papa."
Akhirnya Mars langsung memeluk papanya. Dia mulai terbuka pikirannya. Anak itu juga yakin jika Papanya tak mengkhianati ucapannya sendiri.
"Maafkan Mars, Papa."
Galaksi tersenyum. Dia mengusap punggung Mars dengan perasaan bahagia. Akhirnya tak ada kesalahpahaman lagi. Anaknya pasti sudah mengerti tentang kedudukan mereka di mata Galaksi dan Sia.
Tak lama, panggilan untuk obat milik Sia mulai dipanggil. Galaksi dan Mars segera beranjak dari duduknya dan segera menebusnya.
"Ayo kita ke Mama. Lalu Mars harus peluk Mama karena tadi Mama sedih sama perilaku, Mars."
...🌴🌴🌴...
"Mars minta maaf, Mama," kata anak itu setelah mereka sudah ada di dalam mobil. Sia yang duduk di tengah dan tepat berada di samping putrinya segera memeluk anak itu.
Dia tersenyum bahagia melihat anaknya mulai kembali seperti semula.
"Mars udah salah sama Mama dan Papa. Mars beneran minta maaf."
Kepala Sia mengangguk. Dia mencium puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Mama udah maafin, Abang."
Semua yang ada disana merasa terharu. Galaksi dan Galexia saling menatap penuh cinta. Akhirnya keluarga kecil itu kembali menepis kesalahpahaman dengan hati yang dingin dengan bantuan Galaksi sendiri.
Untung saja, Mama Pandora dan Ibu Rhea ada di mobil berbeda dengan supir yang menyetir. Jadi dua nenek itu tak melihat kesalahpahaman mereka.
Saat mobil yang baru saja dikendarai oleh supir berhenti di depan rumah mereka. Venus segera turun dan berlari ke arah Tania yang berdiri di dekat rumah.
"Tania. Aku akan memiliki adik. Mamaku sedang mengandung," kata Venus dengan raut wajah bahagia.
Tania yang mulanya murung, kini melebarkan senyumannya.
"Wah selamat yah!" kata Tania lalu berjalan ke arah Galexia. "Selamat atas kehamilannya, Tante."
Galexia menunduk. Dia mengusap kepala anak dari tetangganya itu.
"Terima kasih, Sayang," balas Sia dengan ramah. "Tania ngapain disini?"
"Tania tadi ambil pakaian buat, Mama. Terus…"
"Iya terus?"
"Tania lapar," ujarnya sambil menunduk.
Hati Sia mencelos. Hati seorang ibu adalah yang paling lemah dan tak bisa melihat anak sekecil ini kelaparan.
Akhirnya Sia berjongkok dan mengusap air mata Tania yang menetes.
"Tania mau makan?"
"Iya, Tante. Tapi mau Tania bawa ke rumah sakit. Biar bisa makan sama Mama," ujarnya dengan diiringi isakan.
Sia mengangguk. Dia segera beranjak berdiri dan menggenggam tangan Tania.
"Ayo kita ambil makanan! Terus dibawa ke rumah sakit."
~Bersambung
Hah emang kalau udah ke Tania. Bawaannya mewek mulu.
BTW aku kalau update satu bab dulu maaf yah. Tiga hari ini, perutku mules banget. Minum diapet tetep. Aku bahkan tiap malem bolak balik kamar mandi dan alhasil tiap ditempat kerja dan siang aku tidur.
Jangan lupa klik klik like, komen dan vote. Setelah aku mendingan aku bakalan update banyak kok. Biar cepet tamat.