
"Yang artinya, jika Galaksi hanya milikmu dan tak ada yang boleh mendekatinya. Bukankah seperti itu, namanya orang tua di hadapan seorang anak?"
Belum hilang keterkejutan dengan pernyataan dan pertanyaan sang mantan mertua. Tiba-tiba Sia kedatangan satu orang pelayan perempuan dengan dua orang satpam yang tiba-tiba berlutut di hadapan Sia membuatnya terperanjat kaget.
"Maafkan kami, Nona," kata mereka dengan raut ketakutan. "Saya disuruh Non kecil untuk ikut dengannya dan…."
Galexia menggeleng. Dia membantu si Mbak dan menyuruh dua pria berpakaian satpam untuk berdiri.
"Saya benar-benar terpaksa, Nona," pintanya dengan tangan yang dikatupkan di depan dada dengan wajah penuh ketakutan.
"Saya tau, Mbak. Semua sudah selesai. Lebih baik Mbak istirahat," ucap Sia dengan mengelus lengan pelayan Galaksi lembut. "Seharusnya saya yang minta maaf atas nama anak-anak saya, Mbak."
"Nggak apa-apa, Non. Non Venus sama Tuan kecil Mars gak ngerepotin apapun," kata si Mbak dengan tersenyum tulus.
Galexia mengangguk. Lalu dia menyuruh wanita berpakaian pelayan itu kembali ke kamarnya karena waktu sudah menjelang pagi. Setelah si Mbak benar-benar pergi, Sia segera menatap dua pria di depannya ini.
"Bagaimana bisa anak-anak mendapatkan ulat itu, Pak?" tanya Sia yang penasaran.
"Sebenarnya itu ulat punya saya, Non. Tadi siang saya habis ngasih makan burung di rumah belakang dan kebetulan ada Tuan kecil Mars. Kemudian dia meminta ulat itu, ya saya berikan," ujar pria yang kulitnya kecoklatan.
"Lalu tangga kecil yang ada di belakang pilar?"
"Tadi saya yang mengambilkan, Non," sahut pria satunya yang umurnya lebih tua. "Non Venus bilang ingin meletakkan pigura fotonya di tempat yang agak tinggi. Saat saya sudah mengambilkan tangganya, saya menawarkan diri tapi ditolak. Alhasil saya katakan pada mereka tangganya ada di belakang pilar."
Galexia memijat dahinya yang berdenyut. Kekurangan jam tidur tentu membuat Sia semakin tak enak badan. Namun, memikirkan masalah ini semakin membuatnya sulit untuk memejamkan matanya.
Mengingat ucapan Venus dan mantan mertuanya membuat Sia terlihat begitu egois. Dia seakan menjadi ibu paling jahat sedunia. Apalagi ingatan tentang anaknya yang tak mau dengannya semakin menimbulkan ketakutan dalam dirinya.
"Lebih baik Bapak istirahat aja. Semua sudah selesai dan saya minta maaf jika anak saya sangat merepotkan," kata Sia begitu tulus.
Setelah keduanya pergi. Sia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Pikirannya kalut dan dia belum bisa memejamkan matanya walau sudah mengantuk. Sungguh rasanya Sia ingin mengulang waktu dimana dia tak membentak putrinya. Dia sadar jika Venus hanya seorang anak yang sedang menuntut miliknya. Namun, dirinya yang terlalu lelah malah semakin membuat keadaan semakin rumit.
"Apa yang harus Sia lakukan, Ma?" tanya Sia menatap mantan mertuanya dengan lemah.
"Berdamailah dengan masa lalu, Nak. Mama tak memintamu kembali pada Galaksi. Mama tahu bagaimana perasaanmu yang dicampakkan dan dihina ketika hamil. Itu bukanlah kenangan yang begitu mudah untuk dilupakan," jedanya sambil mengelus sisi wajah Sia, "tapi setidaknya ubahlah pola pikirmu, Sayang. Turunkan egomu demi kebahagiaan si kembar. Mereka tetap membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Meski kalian tak bersama, tapi kalian bisa berbagi kasih sayang pada mereka berdua."
****
Angin malam yang dingin tentu terasa menusuk kulit. Namun, hangatnya tubuh yang saling berpelukan seakan tak membuat mereka menggigil. Sepasang ayah dan anak itu saling duduk bersama menatap indahnya bintang di langit.
Tak ada suara apapun sejak tadi. Keduanya duduk di kursi taman dengan mata memandang langit yang begitu cerah. Galaksi hanya ingin memberikan Venus waktu untuk menenangkan dirinya. Dia tak mau gegabah apalagi ini untuk pertama kalinya mereka sedekat ini.
Hampir setengah jam mereka ada disini, perlahan isak tangis yang tadi terdengar mulai tak ada. Nafas Venus pun mulai teratur yang menandakan dia sudah sedikit tenang. Perlahan Galaksi menegakkan tubuhnya. Dia membenarkan posisi sang putri hingga keduanya berhadapan dengan Venus yang duduk di pangkuannya.
"Sudah tenang?"
Venus mengangguk malu. Menyadari tingkahnya sekarang, dia tak berani menatap wajah Galaksi. Sosok pria yang dijahili olehnya ternyata begitu peduli kepadanya. Hingga tanpa sadar kedekatan mereka berdua, membuat hati seorang anak umur 6 tahun begitu bahagia.
Telnyata dipeluk papa dan duduk dipangkuannya sepelti ini lasanya, batin Venus dengan pikirannya yang kembali memutar kejadian tadi.
"Kalau boleh tau. Venus sama Mama kenapa tadi?" tanya Galaksi pelan mengelus kepala putrinya.
"Mama malah sama Venus kalena udah keljain Tante galong tadi," adunya dengan kepala menunduk.
Jujur jantung Venus berdebar kencang. Dia takut jika Galaksi akan sama marahnya seperti mamanya tadi. Namun, menunggu sampai beberapa menit berlalu. Papanya itu hanya diam dan membuat Venus memberanikan diri mendongakkan kepalanya.
"Kenapa Om diam?"
Galaksi tersenyum. Sejujurnya dalam hati pria itu, ada hati yang sakit ketika mendengar Venus kembali memanggilnya dengan sebutan Om. Entah kenapa pikirannya kembali memutar pada kejadian saat sang anak untuk pertama kalinya memanggil dirinya dengan sebutan 'Papa.'
"Apa Om malah sama Venus sepelti Mama?"
Spontan Galaksi menggelengkan kepalanya. Lalu dia mulai membenarkan duduk sang putri agar lebih nyaman dalam berbincang.
"Om gak bakal marah sama, Venus. Begitupun dengan Mama Sia," katanya hati-hati.
"Nggak, Om. Mama malah sama Venus," serunya dengan kencang. "Mama ngebentak Venus dan panggil nama Venus dengan jelas. Kalau sudah begitu, jadi peltanda Mama malah."
Perkataan Galaksi tentu membuat hati Venus tercenung. Putri dari pasangan Galexia dan Galaksi itu terdiam. Seakan pikirannya sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh ayah kandungnya itu.
"Yakin, Om?" tanya Venus dengan ragu.
Galaksi mengangguk dengan pandangan mata yakin. Lalu dia menggenggam kedua tangan Venus dan mengusapnya. "Kalau Venus jatuh dan terluka. Apa Mama ngomel-ngomel?"
"Iya, Om. Mama selalu bilang kalau Venus lali dan gak hati-hati, ya pasti jatuh."
"Nah! Itu bukti Mama Sia selalu khawatir sama, Venus. Dia ngebentak biar Venus lebih hati-hati lagi. Mengerti?"
"Mengelti, Om."
"Bagus. Ini baru anak Papa Galaksi."
Venus terdiam. Dia tak tahu harus mengatakan apa. Namun, menyadari bagaimana sang ayah yang menghiburnya tentu membuat hati seorang anak menghangat. Dirinya tak pernah membayangkan jika pelukan dan nasehat seorang ayah begitu membuatnya tenang. Hingga tanpa sadar, dalam diri seorang Venus dia mulai menuntut.
Menuntut sosok ayah dalam kehidupannya. Menuntut kasih sayang dan seluruh perhatiannya. Hingga perlahan ide muncul dalam otaknya dan membuatnya ingin mengajak sang Abang bekerja sama.
"Ya udah. Ini sudah hampir pagi, Sayang. Ayo tidur!"
"Bolehkah Venus tidul di gendongan, Om?"
Permintaan Venus tentu membuat Galaksi mematung. Dia tak pernah menyangka jika masih diberikan kesempatan untuk merawat dan bertemu dua buah hatinya. Sungguh nikmat yang begitu patut disyukuri 'bukan?
"Boleh."
Akhirnya Galaksi langsung menggendong sang putri. Menimang dan mengelus punggungnya hingga tak lama suara dengkuran halus mulai terdengar.
Tanpa menunda apapun, Galaksi langsung masuk ke dalam rumah. Dirinya hendak membawa tubuh sang anak sampai matanya melihat mantan istrinya masih ada disana.
"Sudah tidur?" tanya Galexia pada Galaksi.
"Ya."
"Antarkan dia di kamar."
Sia segera mengikuti langkah Galaksi. Mereka mulai memasuki kamar dan melihat sosok Mars yang sudah tertidur. Tak mau membuat putranya bangun. Galaksi langsung meletakkan Venus tepat di samping kembarannya dan langsung menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh mungil buah hatinya itu. Setelah melihat keduanya sudah tenang dengan posisinya. Sia mengajak Galaksi keluar. Dia ingin berbincang berdua dengan mantan suaminya itu sekaligus mengutarakan keinginannya.
"Ada apa, Sia?" tanya Galaksi yang curiga akan gerak-gerik mantan istrinya.
"Besok aku akan mengajak anak-anak kembali ke Surabaya."
Tubuh Galaksi mematung. Dia memandang tak percaya ke arah mantan istrinya. Apa maksud Sia kembali untuk menjauhkan mereka lagi. Perlahan mata Galaksi memandang Sia dengan sendu. Dia begitu menyesal sudah bertindak gegabah dan membuatnya ada di posisi ini.
"Apa tak ada sedikitpun perasaan yang tertinggal untukku, Sia?"
"Di sini." Tunjuk Sia di bagian dadanya. "Lebih banyak kekecewaan dan kesakitan yang kamu torehkan padaku!"
"Berikan aku kesempatan, Sia. Aku benar-benar ingin membuktikan dan membayar semua kesakitan kalian dengan kebahagiaan," mohon Galaksi menatap mantan istrinya dengan mata berkaca-kaca.
Jujur dia tak mau merasakan kehilangan lagi. Beberapa hari bersama Sia dan si kembar membuatnya seperti memiliki kehidupan baru.
"Jika kamu ingin kembali pada kami, buktikan bahwa kamu sudah berubah dan benar-benar akan menjadi sosok ayah dan suami yang baik untukku dan si kembar."
~Bersambung~
Noh Galak! Yok berjuang. Emak bantu deh, gimana mau?
Maaf baru update yah. Si kecil baru tidur dan ternyata aku gak bisa update 4 bab.
Hari ini anakku bener-bener gak bisa ditinggal.
Terima kasih semua likenya. Walau sambil nahan kantuk, akhirnya bisa selesai juga.
Jangan lupa klik like, komen dan vote sebagai bukti apresiasi kalian dengan novel si kembar.
Sampai jumpa besok dengan perjalanan Galaksi yang berjuang.