The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Dasar Cabul




Hari mulai berganti lagi. Malam yang gelap mulai berganti terang karena sinar matahari. Semua orang mulai terbangun untuk menghadapi kenyataan hidup. Berjibaku dengan pekerjaan dan keluarga serta mengikuti indahnya takdir yang selalu dia lakukan setiap hari. 


Namun, dari semua kesibukan orang-orang, terdapat dua orang manusia yang masih setia tidur di atas ranjang. Mereka saling berpelukan dan berbagi kehangatan selimut yang menutupi tubuh keduanya. Seakan mereka begitu menyelami mimpi indah dan melupakan waktu yang ternyata sudah beranjak siang.


Perlahan, dinginnya AC yang menusuk kulit, membuat seorang perempuan semakin memepetkan tubuhnya dibagian yang hangat. Dirinya melingkarkan tangannya saat merasakan kehangatan yang begitu nyata. Tapi, perlahan dia meraba benda itu. Benda hangat yang begitu menenangkan dirinya hingga dia baru menyadari jika itu bukan sebuah benda. Melainkan pertemuan dua kulit yang membuatnya segera menjauhkan tubuhnya.


"Akhhh!" teriaknya sambil mendudukkan dirinya.


Dia tarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan mengintip pakaiannya yang ternyata sudah berubah. Seketika pandangannya beralih ke arah sosok yang tidur di sampingnya. Seorang pria dengan otot yang besar begitu seksi membuat jantungnya berdebar kencang. 


"Kamu siapa?" seru wanita itu dengan mata melotot. 


Dia menatap pria yang baru saja terbangun dengan mengusap kedua matanya. Seketika dirinya merasa melihat sosok malaikat di depan wajahnya. Wajah asing yang begitu tampan dengan tubuh seksi tentu membuatnya tanpa sadar menelan ludahnya kasar.


"Jangan teriak! Aku mau tidur," serunya dengan memiringkan tubuhnya dan kembali memejamkan mata.


Wanita itu tak mau kalah  Dia begitu marah dan menggoyangkan lengan pria itu kembali.


"Hey, jawab dulu! Siapa yang mengganti pakaianku, hah!" tanyanya semakin berteriak. 


Pria itu tak peduli. Dia semakin menutup telinganya dengan bantal karena teriakan wanita itu begitu menyakiti telinganya.


"Dasar cabul! Kau sudah menodaiku yah! Woyy, kalau kau tak mau bertanggung jawab, aku akan menuntutmu," serunya beruntut hingga membuat pria itu benar-benar kesal bukan main. 


Dia merasa moodnya sudah hancur karena teriakannya. Apalagi merasakan matanya yang begitu mengantuk, dirinya ingin sekali tidur meski hanya sebentar. Melupakan segala kepahitan kenyataan yang akan dia hadapi, meski kebenarannya tak semudah itu. Namun, keberadaan wanita asing tentu membuat kepalanya pusing bukan main.


Spontan dia menyibak selimutnya. Memperlihatkan bagian bawah tubuhnya yang hanya memakai celana kolor. Sedangkan bagian atasnya, dia tak memakai pakaian apapun.


"Aku bukan pria cabul dan aku tak menyentuhmu, Nona," seru pria itu dengan menurunkan kedua kakinya dari ranjang.


"Aku tak percaya. Semua pria pasti mengatakan itu jika sudah menodai seseorang," teriak wanita itu marah.


Perkataan itu tentu membuat langkahnya berhenti. Dia menatap tajam ke arah wanita itu dan melangkah mendekatinya.


"Kalau aku termasuk pria yang ada di otakmu itu. Sudah pasti aku akan menodaimu semalam. Bahkan jika kau tau tingkahmu tadi malam. Kau pasti tak akan berani menghadapiku," serunya kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Tanpa kata, dia tutup pintu itu dengan keras lalu bersandar di baliknya. Pikirannya kembali mengingat kejadian semalam ketika setan hampir merasuki pikirannya.


"Kau yang memancing dan kau sendiri yang harus bertanggung jawab." 


Saat dia hendak memegang area terlarang itu, seketika sekelebat bayangan wajah sang Mama hadir dan membuatnya spontan memundurkan tubuhnya. Dia menghela nafas berat lalu segera menuju kamar mandi. 


Tanpa kata, dia menyegarkan tubuhnya di waktu yang menjelang dini hari dan menenangkan adik juniornya yang sudah berdiri menantang. Hingga hampir 1 jam dia ada di kamar mandi, akhirnya pria itu mulai keluar.


Dengan segera, dia menutupi tubuh wanita itu. Memikirkan apa yang harus dia lakukan lalu seketika pikirannya mengingat layanan di apartemen ini. Tanpa menunda apapun, segera dia meminta bantuan pelayan wanita untuk ke kamarnya. Menunggunya dengan sabar hingga suara bel berbunyi membuat dia segera membukanya.


"Bisakah Anda membantu teman saya berganti pakaian? Tubuhnya begitu kotor karena muntah. Jadi saya minta tolong bersihkan dan gantikan baju dia."


Wanita yang umurnya tak lagi muda itu mengangguk. Dia menyanggupi perkataan pria di depannya ini dan mulai berjalan mengikutinya.


"Baik, Tuan. Saya bisa membantu teman Anda untuk berganti pakaian." 


Matanya berbinar. Dia segera menganggukkan kepalanya dan mengambil pakaian tidur miliknya agar bisa dipakai oleh wanita itu. Tanpa kata, dia menyerahkannya pada pelayan itu dan meninggalkan keduanya untuk menonton televisi di ruang tamu


Hingga hampir satu jam pelayan itu berusaha. Akhirnya dia mulai keluar dan mengatakan pekerjaannya beres. Riksa tersenyum lebar, dia masuk ke dalam kamar dan melihat kinerja wanita itu.


"Perfect," katanya dengan puas.


"Ini terlalu banyak, Tuan…" jeda pelayan itu yang tak tahu namanya.


"Riksa." 


"Ah iya, Tuan Riksa. Ini banyak sekali," kata wanita itu dengan mata begitu terkejut ketika melihat nominalnya. 


"Tidak apa-apa, Bu. Ambil dan saya sangat berterima kasih pada Anda, karena bisa membantu saya." 


Segera dia memberikan senyuman terbaiknya saat mengantarkan kepergian pelayan itu. Akhirnya semuanya selesai. Dirinya tak akan terjerat hasrat setan lagi dan bisa bernafas lega. 


Riksa segera masuk ke dalam kamar. Dia melewati perempuan itu dan mengambil bantal gulingnya. Namun, saat dirinya hendak mengangkat benda-benda itu ke arah sofa. Suara ketakutan dari bibir wanita itu menarik perhatiannya. Dia segera mendekat dan menepuk kedua pipi wanita itu agar segera sadar.


Saat dia semakin berusaha. Tiba-tiba tangannya ditarik kuat hingga dia terjatuh menimpa atas tubuh wanita itu. Riksa benar-benar tak bisa berkutik. Kaki dan tubuhnya dipeluk erat oleh wanita tak dikenalinya hingga membuatnya hanya bisa pasrah.


Sungguh dirinya berulang kali berusaha melepas tangan wanita itu. Namun, tenaga dan cengkramannya kuat, hingga membuat Riska hanya bisa menerimanya saja.


"Dasar wanita gila! Padahal dia yang gatal, malah orang yang kena," omel Riksa sambil meneruskan langkahnya yang ingin mengganti pakaian.


Setelah hampir setengah jam dia mandi. Riksa perlahan meraih handuk dan bathrobe. Dia ingin segera merapikan dirinya dan berangkat ke kantor. Setelah semua bagian tubuhnya tertutupi, dia segera keluar dari kamar.


Pandangannya melirik sosok wanita yang masih betah duduk disana. Dengan kepala menuduk dan jari yang saling dimainkan, semakin membuatnya yakin jika wanita itu sedang memikirkan sesuatu.


"Lebih baik kau mandi! Semalam tubuhmu hanya dibersihkan dengan kain oleh pelayan apartemen ini," seru Riksa mendekati wanita itu dengan tatapan tajamnya. "Jadi, jangan anggap aku cabul lagi karena aku tak menyentuhmu sedikitpun. Kecuali…." jedanya sambil mendekatkan wajahnya didepan wanita itu. 


Tatapan keduanya saling berpandangan dengan lekat. Mereka saling meneliti antara satu dengan yang lain. Hingga suara Riksa yang seperti bisikan membuat wanita itu membulatkan matanya.


"Kecuali aku mengingat bagaimana bentuk kain segitiga yang membalut milikmu." Setelah mengatakan itu, Riksa segera berlalu menuju walk in closethnya. 


Membiarkan wanita itu menyelami kata dari biskikannya hingga dia baru sadar akan apa yang dimaksud oleh Riksa.


"Dasar cabul!" 


~Bersambung~


Hahahaha yaelah kelakuan jahilnya Venus nurun dari Riksa. Mangkanya ikutan gila haha.


Akhirnya aku bisa update lagi yey~


Aku mau tidur ya. Dah ngantuk hehe.