
Suasana di sebuah ruangan terlihat begitu tenang. Hanya ada dengkuran halus dari mulut seorang wanita yang sejak tadi tertidur. Matanya terpejam erat dengan tangan dan kaki saling merengkuh sebuah guling. Wajahnya yang tenang menandakan jika dirinya tidur dengan nyenyak. Hingga pemandangan itu membuat sepasang mata yang menatapnya tersenyum kecil.
Entah kenapa dirinya bisa ada disini. Menghabiskan waktu hanya untuk duduk diam memandang wanita yang sedang tertidur pulas. Sedang diluar sana, langit sudah menggelap. Malam pun datang dengan bintang yang membantu menyinari gelapnya malam. Begitu indah dan menawan hingga membuat siapapun yang melihatnya begitu betah.
Begitupun dengan pria yang sejak tadi hanya duduk diam. Dia memilih melangkahkan kakinya ke arah balkon dan membuka pintu penghubung yang membuat angin malam mulai masuk.
Riksa menatap ke langit gelap. Tangannya dimasukkan ke dalam saku dengan pandangannya fokus ke atas. Pikirannya kembali berkelana saat mengingat keputusannya tadi pagi. Entah apapun hasilnya, dia harus segera mengatakan itu pada Cressida.
Disini, Cressida adalah sosok utama yang akan dia lindungi. Sosok yang membuat jantungnya kembali berdebar setelah hadirnya Sia kala itu. Sosok yang membuatnya mengambil keputusan besar dalam hidupnya dengan segala bentuk kedewasaan.
Aku tak tahu keputusan ini sudah benar atau tidak. Namun, aku tak akan mengkhianati pernikahan ini, karena janjiku tetap sama. Menikah sekali dalam seumur hidup, batin Riksa dengan mata yang terus menatap gemerlap bintang.
Tanpa dirinya sadari, ada seseorang yang mulai menggerakkan tubuhnya. Matanya perlahan terbuka dengan silau lampu yang membuat matanya menyipit. Dengan diiringi mulut yang menguap dan tangan mulai mengusap kedua matanya. Perlahan penglihatannya benar-benar jelas.
Dia mulai meregangkan otot tubuhnya. Matanya mengedar dan melihat jika pintu balkon terbuka. Bibirnya berdecak ketika mengetahui penyebab yang membuat matanya harus terbuka hanya karena hawa dingin menusuk ke tulangnya.
"Pantas saja dinginnya AC kebangetan, ternyata gara-gara ini," gerutunya dengan kesal.
Wanita itu akhirnya memilih menyandarkan tubuhnya. Dia menghela nafas begitu dalam dan dikeluarkan. Rasanya dia begitu malas untuk turun. Namun, mengingat matanya yang masih mengantuk dengan pintu balkon terbuka, membuatnya mau tak mau harus turun dan menutupnya.
Saat tangannya bersiap menggeser pintu itu, matanya tanpa sengaja melihat sosok pria yang begitu dia kenali sedang berdiri tenang dengan menatap langit malam. Dia mengurungkan niatnya lalu tanpa kata dirinya ikut menyusul hingga membuat Riksa tersentak akan kehadiran seseorang.
"Kau bangun?" tanya Riksa menatap muka bantal wanita di sampingnya ini.
"Hmm. Aku merasa dingin banget dan ternyata pintu balkon terbuka," gerutu Cressida dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Ternyata kau disini?"
"Kau tak punya jaket?" tanya Riksa tanpa mengindahkan pertanyaan Cressida sebelumnya.
Spontan Cress menggeleng. Dia menatap penampilannya lalu menghela nafas berat.
"Bukankah pakaianku hanya ini saja. Aku tak membawa apapun lagi," katanya dengan santai.
"Jorok banget. Tau gak nyaman seharusnya kau katakan," seru Riksa membuat Cress mengangkat bahunya pertanda bodo amat.
"Gantilah bajumu dengan piyama yang ada di atas sofa. Aku membelikan khusus untukmu."
"Apa!" Mata Cressida membeliak. Dia menatap tak percaya ke arah Riksa yang dengan tenang mengatakan semua itu.
"Maksud kamu apaan?"
"Aku tau kau tak nyaman tidur dengan pakaian itu, makanya aku belikan dan cepat pakai!"
"Oke, terima kasih. Kucoba dulu!" Setelah mengatakan itu Cressida meninggalkan Riksa sendirian.
Dirinya memang sudah tak nyaman dengan pakaian sialan ini. Namun, mengingat dirinya yang tak membawa apapun, dengan terpaksa dia harus memakai ini mau tak mau.
Tanpa menyadari jika tingkahnya yang lucu dan berjalan sambil melompat ke dalam kamar. Membuat senyuman manis terbit di bibir Riksa. Entah kenapa pria itu begitu nyaman dengan tingkah aneh seorang Cressida hingga membuatnya paham akan maksud sang Mama.
****
Di dalam kamar mandi, Cressida sedang berdiri di depan kaca besar yang ada disana. Dia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri lalu berputar untuk melihat seberapa cocoknya piyama yang digunakan dengan dirinya.
"Perfect," gumam Cress dengan wajah yang tak hentinya untuk tersenyum.
Dia menyadari jika piyama tidur ini begitu pas pada tubuhnya. Apakah Riksa dengan sengaja membelikan untuk dirinya? Jika memang iya, maka dirinya akan mengucapkan terima kasih.
Setelah meneliti pakaiannya kembali. Dia melihat tak ada kekurangan apapun di sana, hingga membuat Cress mulai keluar. Dia berlalu menuju ke arah balkon dan menemui pria tampan yang sudah duduk tenang di kursi.
"Bagaimana?" tanya Cress antusias.
"Bagus, 'gak?" tanya perempuan itu lagi dengan berdiri tepat di depan Riksa.
Mulut pria itu hanya bisa mengunci. Matanya memandang tak berkedip saat mengetahui bagaimana wajah Cressida yang sesungguhnya saat ini. Kulitnya yang mulus, serta tubuhnya yang ramping semakin membuat piyama itu begitu terlihat lucu dan bagus.
"Riksa!" bentaknya hingga membuat pria itu gelagapan. "Gimana?" gerutunya pada putra dari Mama Alya tersebut.
"Bagus." Riksa mengangguk setelah tersadar akan lamunannya.
"Ya udah. Aku mau lanjut tidur," kata Cress setelah mulutnya kembali menguap.
Saat dirinya hendak pergi meninggalkan putra dari Alya, sekali hentakan tubuhnya terjatuh bersandar di dada pria yanh tiba-tiba beranjak berdiri itu. Hingga keintiman ini tentu membuat jantung keduanya bertalu.
Keduanya saling bertatapan dengan posisi berpelukan hingga membuat Cress yang tersadar duluan spontan mendorong tubuh Riksa sampai pria itu terjatuh.
"Aduhh." Riksa mengelus pantatnya.
"Maafkan aku. Aku tak sengaja mendorongmu," kata Cress mengulurkan tangannya.
Segera Riksa menggapai tangan itu dan berusaha membuat tubuhnya berdiri. Setelah berhasil, dia menepuk pantatnya untuk membersihkan celananya dari kotoran lantai balkon.
"Ya," sahut Riksa dengan menatap tangannya. "Aku ingin berbicara denganmu berdua saja, Cress. Apa boleh?"
"Tentu." Akhirnya Riksa menunjuk sebuah kursi yang ada di balkon.
Keduanya segera duduk di kursi. Cressida merasakan jantungnya berdebar saat menunggu perkataan apa lagi yang akan keluar dari bibir pria tampan itu.
"Ada apa?" tanya Cress setelah lama terdiam
Dia merasa kulitnya begitu dingin. Bahkan tanpa sadar Cress mendekati Riksa untuk mencari kehangatan dari pria tersebut.
"Apa kau memiliki kekasih?"
"Tidak!"
"Apa kau dekat dengan pria lain?"
"Tidak juga, ihh." Cress berdecak kesal. Dia saling menautkan kedua jarinya karena terlalu lama menunggu ucapan Riksa.
"Baguslah. Jika begitu, besok malam kita akan makan malam bersama!" perintahnya yang semakin membuat Cress bingung.
"Makan malam? Memangnya ada acara apa?" tanya Cress dengan kebingungan.
"Tak ada. Hanya makan malam saja."
"Kau yakin?" tanya Cress dengan curiga.
Dirinya merasa bahagia dengan ajakan Antariksa. Apalagi setelah sekian lama, akhirnya dia bisa menikmati apa itu makan malam. Tanpa dia ketahui, jika makan malam nanti adalah penentuan. Penentuan apakah kehidupan mereka bersama atau tidak.
"Ya. Jadi persiapkan dirimu secantik mungkin besok malam. Jika kau gagal, aku tak akan segan-segan mengembalikan kau pada kedua orang tuamu."
~Bersambung~
Hayoo ada apa sih, Bang.
Tim Ca-Ce Couple hadir gak?
Yeyyy kalau ada typo bilang yah. Mataku ngantuk ini.
Oke hari ini 3 bab, aku mau tidur dulu. Jangan lupa di like, tembus 250 like besok pagi, aku update.