
Jarum jam terus berputar. Malam semakin larut. Semua orang semakin jatuh terlelap ke dasar mimpi. Namun, hanya ada satu orang yang terbangun. Matanya masih terbuka lebar sejak tadi.
Dirinya benar-benar tak bisa menahan untuk meledakkan sesuatu di dalam dirinya. Dia sudah mencapai ujung batas dan malam ini harus terselesaikan. Dengan pelan, dia menurunkan kedua kakinya lalu melihat sosok perusuh yang tadi mengganggu aktivitasnya bersama sang pujaan.
Merasa keduanya benar-benar lelap. Akhirnya kedua tangan kekar itu menyelinap di sela-sela leher dan bagian bawah tubuh sang istri, lalu mengangkatnya perlahan dan membawanya ke dalam dekapan tubuhnya.
"Aku harus membawamu pergi dari kamar ini," bisik Galaksi lalu meniup telinga sang istri. "Mereka benar-benar pengacau malam pertama kita, Sayang."
Setelah mengatakan itu, Galaksi membawa tubuh wanita yang masih terlelap dalam mimpinya keluar kamar. Dia berjalan menuju kamar tamu, yang pernah ditempati sebelum menikah dengan Galexia.
Perlahan dia membuka pintu itu lalu mulai masuk ke dalam. Dia membaringkan tubuh sang istri lalu kembali untuk mengunci pintu kamar yang masih terbuka. Setelah semuanya aman, Galaksi menghidupkan lampu kamar hingga sinar terang itu, membuat wanita yang masih asyik dengan alam mimpinya mulai terusik.
Dahinya mengkerut dengan tubuh mulai menggeliat ke samping. Dia berusaha meraih sesuatu yang mungkin bisa menutupi wajahnya. Hingga gerakan yang dilakukannya, entah kenapa membuat pria yang sejak tadi menyandar di dinding, terpacu untuk mendekat.
"Belum bangun, hmm?" bisik Galaksi dengan suara beratnya.
Dia menggerakkan jari jemari miliknya dengan lihai. Dari mengusap dahi itu, lalu bergerak turun menuju hidung mancung yang selalu menjadi pandangan favoritnya sejak dulu. Dia menekannya lalu mencubitnya hingga sang pemilik benar-benar merasa risih.
"Siapa sih!" seru Galexia dengan menepis jari yang mengganggunya.
"Sayang!" panggil Galaksi tak menyerah.
Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi mulus itu hingga membuat mata perempuan yang sejak tadi terpejam langsung terbuka lebar.
Spontan mata perempuan itu menyipit. Dia menatap sekeliling dan baru menyadari jika ini bukan kamarnya.
"Kita dimana, Kak?" tanya Galexia dengan suara serak khas bangun tidur.
Matanya seakan dipaksa terbuka dengan tubuh yang bergetar karena jarak dengan sang suami begitu dekat.
"Kamar tamu."
"Apa!" Galexia sedikit berteriak.
Namun, dia kembali memastikan ucapan suaminya dengan memandang kamar ini. Benar saja, ini adalah ruangan yang dulu dipakai pria itu menginap disini.
"Lalu bagaimana dengan anak-an…."
"Usttt." Galaksi menutup mulut sang istri dengan jari telunjuknya.
Lalu kepalanya menggeleng pertanda dia tak mau membahas tentang si kembar. Dirinya benar-benar ingin bersama istrinya malam ini. Biarlah dia dianggap egois. Namun, selama ini Galaksi benar-benar tersiksa akan kesalahannya.
Dia ingin menebus semua kesakitan sang istri dan hanya memberikan kebahagiaan yang bisa dia berikan. Dia ingin mengulang kenangan malam yang dulu pernah mereka lewati tanpa sadar.
Malam yang seharusnya indah, ternyata harus dihancurkan karena minuman laknat, dan itu karena kesalahan dirinya sendiri.
"Bisakah malam ini aku meminta hakku, Sayang?" tanya Galaksi meminta izin.
Bagaimanapun pria itu masih sadar akan masa lalunya. Dia takut membuat istrinya tak nyaman atau tiba-tiba mengingat masa lalu mereka. Apalagi ini menyangkut permasalahan yang terjadi di antara mereka di masa lalu. Hingga membuat Galaksi harus benar-benar menunggu istrinya siap.
Pertanyaan sang suami di tengah malam ini. Entah kenapa membuat Galexia merasa dihargai. Wanita itu merasa begitu dicintai dan dihormati oleh suaminya sendiri. Terlepas dari masa lalu mereka yang buruk, tapi perlakuan Galaksi selama ini mampu membuatnya benar-benar ikhlas untuk memaafkan segala kesalahan pria yang menjadi suaminya itu.
"Aku tak akan memaksa jika kamu belum siap. Untukku, kenyamananmu yang terpenting."
Galexia masih diam. Matanya terus menatap mata sang suami dan berusaha menyelami isi di dalamnya. Dia bisa melihat pancaran cinta yang sejak dulu tak pernah berubah. Hingga dorongan dari mana, hati kecilnya berteriak agar memberikan yang terbaik malam ini untuk sang suami.
"Jangan diam saja, Sayang! Aku…."
"Diam!" Galexia menyela.
Dia mendorong tubuh Galaksi hingga pria itu terbaring di ranjang dan dirinya mengambil alih dengan berada di atas.
Dia menatap istrinya tak berkedip dengan mata terbelalak. Dia tak percaya jika Galexia bisa bertindak seperti ini. Jantungnya saja sampai berdegup kencang saat wajah itu mulai condong ke arahnya dengan tangan dia letakkan di dada kekar miliknya.
"Kamu mau ini, hmm?" goda Galexia sambil menggerakkan jemari lentiknya di dada bidang itu.
Membuat pola-pola abstrak yang membuat pemiliknya menggeram dengan mata terpejam.
Galexia semakin berani, jari jemarinya bergerak seperti dua kaki berjalan dan semakin turun sampai pembatas celana panjang yang dikenakan oleh Galaksi. Saat ibu dari si kembar itu mulai menyelipkan tangannya di celana tersebut. Dengan cepat Galaksi mencengkram tangan sang istri hingga membuat gerakan tangan itu berhenti.
"Jangan menggodaku!" seru Galaksi menggertakkan giginya.
Dirinya benar-benar tak bisa menahan. Namun, istrinya itu benar-benar lihai mempermainkannya.
"Bukankah sudah aku katakan untuk diam," seru Galexia dengan mata tajam menatap Galaksi.
Dia melepaskan tangan itu lalu meletakkannya di atas kepala Galaksi.
"Jika tangan itu sampai bergerak, maka permainan berakhir."
"Apa!" Galaksi menatap tak percaya.
"Deal."
"No, Honey!"
"Yes!"
"No!"
"No? Berarti malam ini gagal."
Ahhh dirinya tak mungkin mundur. Akhirnya Galaksi menyerah. Dia menggenggam kedua tangannya agar tak terlepas dan membuat malam indah ini berakhir.
Akhirnya kuasa kendali berada di tangan Galexia. Perempuan itu benar-benar balas dendam pada suaminya. Dia melepaskan kain panjang itu lalu berakhir dengan penutup terakhir yang menjaga sesuatu berharga di dalamnya.
Sesuatu yang dulu pernah dia lihat akhirnya bisa dijumpai kembali. Senjata yang benar-benar tepat sasaran hingga menghasilkan dua anak kembar yang cantik dan tampan.
Hingga suara laknat lolos dari bibir Galaksi, saat senjata tajam itu dibersihkan dan dipijat begitu baik. Ini benar-benar gila dan memabukkan. Bahkan saat sesuatu itu semakin cepat, dirinya semakin berada di ambang batas
Dia tak bisa untuk diam. Akhirnya Galaksi bergerak dengan cepat. Menggulingkan tubuh istrinya hingga perempuan itu tertidur tengkurap dengan senyum kepuasan di bibirnya. Galexia benar-benar bahagia melihat wajah suaminya begitu tersiksa.
Sampai dia tak melihat ketika suaminya itu mulai berada di posisinya. Hingga saat Galexia masih mengatur nafasnya tiba-tiba,
"Kakak!" jerit Galexia sampai tubuhnya terdorong ke depan.
Dia merasa penuh bahkan sampai matanya terpejam. Dirinya benar-benar berada di nirwana paling atas. Ini begitu indah dan candu untuk mereka berdua.
Akhirnya malam itu, keduanya sama-sama berusaha memberikan apa yang selama ini mereka inginkan. Keduanya tak memandang waktu yang terus berputar. Baik Galaksi maupun Galexia hanya mengejar sesuatu yang ingin meledak sampai mereka lelah dan merasa lega.
~Bersambung~
Udah berhenti woy berhenti. Jan minta lebih akunya pusing nulis adegan begini.
Biasanya satu bab butuh waktu satu jam. lah ini hampri 4 jam woy.
Mending suruh nulis adegan sedih, emosi atau marah-marah deh. Beneran suwer!
Gak ahli nulis begini.
Semoga terjawab lah yah MP terkeren dari aku, hahaha.
Jangan lupa like, komen, vote koin poin dan vocher yah.