The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Selamat Datang Saturnus




Suasana ruang bersalin amat menegangkan. Ketika istri dari Galaksi itu terlihat pucat pasi wajahnya. Dia sedang menikmati masa pembukaan tapi darah juga keluar dari jalan lahirnya. 


Namun, ada satu kendala yang terjadi disini. Pembukaan pada jalan lahir tak naik lagi. Sejak pagi tadi sampai sekarang, pembukaan itu hanya pembukaan ketiga. 


Hal itu tentu membuat semua orang panik. Ditambah, ponsel milik Galaksi dan Riksa tak dapat dihubungi yang membuat tiga wanita berbeda usia yang berada di depan ruang bersalin mulai panik.


Papa Jericho yang menyusul kedua menantunya juga belum terlihat batang hidungnya.


"Bagaimana ini, Bu? Ayah belum ada kabar," kata Cressida yang sejak tadi tak hentinya menghubungi ayah dan suaminya.


Mama Pandora dan Ibu Rhea saling menguatkan. Hingga seorang dokter berwajah bule yang selalu menangani Galexia selama tinggal disini keluar dari ruangan bersalin. 


"Bagaimana?" tanya dokter itu dengan bahasa inggris.


"Belum ada, Dokter. Suami pasien belum datang," jawab Cressida dengan bahasa inggrisnya juga.


"Salah satu keluarga boleh menemani pasien di dalam. Mungkin pasien akan semangat bila ada yang menemaninya." 


Saat Ibu Rhea hendak masuk. Suara teriakan membuat semua orang menoleh. Terlihat dari jauh, Galaksi yang berlari seperti orang kesetanan dengan Papa Jericho dan Riksa yang mengejarnya dari belakang.


"Mana istriku, Bu?" tanya Galaksi dengan mengabaikan pakaiannya yang acak-acak.


Wajah pria itu sangat amat khawatir. Rambutnya juga sudah acakadut dengan kemeja yang sudah keluar dari celananya.


"Istrimu ada di dalam," sahut Ibu Rhea dengan rasa syukur yang besar.


"Cepat temani istrimu, Galak! Sejak tadi Sia kesakitan," kata Mama Pandora yang menepis air matanya.


Galaksi mengangguk. Dokter segera masuk dan diikuti oleh Galaksi. Pria itu diminta mencuci tangannya lalu memakai pakaian steril yang sudah disiapkan oleh perawat. 


Jantungnya terus berdegup kencang saat ia memakai pakaian itu. Udara AC yang dingin membuat tangannya semakin dingin karena takut.


Hingga saat kedua kakinya berayun menuju ruangan dimana istrinya berbaring. Jantungnya mencelos. Galaksi segera mendekati istrinya yang sedang menahan sakit. 


"Sayang," panggil Galaksi yang membuat mata yang sejak tadi terpejam kini terbuka. "Maafkan aku." 


Galexia meneteskan air matanya. Dia menggenggam tangan suaminya dengan kuat. Bibirnya tersenyum saat semangat hidupnya akhirnya datang.


"Maaf aku terlambat." 


"Kamu gak terlambat, Kak. Masih ada waktu untuk menemani anak kita lahir di dunia," kata Sia dengan menahan sakit.


Galaksi menghapus keringat yang memenuhi dahi istrinya itu. Dia mengecupnya begitu lembut untuk menyalurkan rasa semangat dalam dirinya.


"Semangat, Sayang. Aku disini, menemanimu berjuang melahirkan anak-anak kita," kata Galaksi dengan tatapan penuh cintanya.


"Makasih." 


Galaksi menurunkan pandangannya. Dia mengusap perut istrinya itu hingga gerakan bayinya terasa di kulit tangannya. 


Wajah pria itu condong mendekati perut itu. Lalu perlahan Galaksi memberikan kecupan disana.


"Jangan membuat Mama kesakitan, Nak. Ayo keluar! Papa menunggumu disini," bisik Galaksi pelan yang membuat hati Galexia menghangat.


Bayangan dimana dulu ia harus berjuang sendirian melahirkan si kembar tanpa sadar terbayang. Semua kenangan itu masih membekas lekat dalam ingatan. Momen dimana ia mampu berjuang sendirian untuk anak-anaknya sangat amat ia simpan rapi dalam otaknya.


Namun, saat ini Sia bersyukur dalam hati. Akhirnya kenangan itu diobati sendiri oleh seseorang yang memberinya luka. Kenangan yang dulu menyakitkan mampu diberikan ganti dengan momen indah seperti sekarang.


Hingga desakan yang semakin kuat dengan ritme sakit yang semakin sering dan menyakitkan membuat Galexia tanpa sadar mencengkram tangan Galaksi.


"Sakit, Kak," desisnya pelan.


Galaksi yang merasakan sakit pada cengkraman istrinya berteriak pada suster dan para dokter. Wajar saja, bapak tiga anak tak pernah berada di tempat ini.


Ini adalah pengalaman pertamanya. Meski dirinya sudah memiliki anak. Namun, kalian mengerti bukan apa penyebabnya Galaksi bisa berada di ruang bersalin untuk pertama kalinya. 


"Maaf, Tuan. Sakit itu wajar…" 


"Wajar?" seru Galaksi dengan logat inggrisnya.


Pikiran Galaksi menatap dokter di depannya ini tak percaya. Sakit luar biasa ini, wajar? Benar-benar gila. Saat pria itu hendak memberontak. Suara panggilan Sia membuatnya mau tak mau kembali ke tempatnya semula. 


"Jangan marah-marah. Lebih baik, Kakak usap perutku yah!" Mohon Sia yang membuat Galaksi lekas menurut.


Dia menghembuskan nafas berat. Menghilangkan segala emosi yang hendak meledak dan segera mengusap perut istrinya. 


Semakin lama sakitnya semakin sakit. Ritmenya juga semakin teratur hingga dokter mulai mengecek pembukaan jalan lahir.


Keringat Sia sudah keluar begitu banyak. Dinginnya AC tak membuatnya merasa sejuk dan segar. Hingga sakit di perutnya semakin membuatnya ingin mengejan.


"Ayo bersiap-siap, Nyonya. Pembukaan anda sudah lengkap!" 


Para dokter dan suster langsung bersiaga. Dokter sudah berdiri tepat di depan kaki Sia yang dilebarkan. 


Istri Galaksi itu sudah mengatur nafasnya. Dia benar-benar sudah siap dan tinggal menunggu instruksi dokter. 


"Semangat, Sayang. I Love You," bisik Galaksi bersamaan dengan dokter yang memintanya mengejan.


"Eughh!" 


"Ayo, Nyonya. Terus!" kata Dokter menyemangati.


Galexia mengambil nafasnya begitu dalam lalu mulai mengejan lagi. Tangannya terus mencengkram tangan Galaksi dengan telinga yang mendengar bisikan cinta dari sang suami.


"Sekali lagi, Nyonya. Kepalanya sudah terlihat," ucap Dokter yang membuat Galaksi dan Galexia saling menatap.


"Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa!" 


Galexia mengangguk. Dia kembali menarik nafasnya begitu dalam dan mengejan sekuat tenaga. Sampai suara tangisan bayi akhirnya terdengar di sana.


Oekk…oekk


Galaksi dan Galexia meneteskan air matanya haru. Keduanya saling menatap dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan.


"Anak kita sudah lahir, Sayang," kata Galaksi dengan bahagia.


"Iya, Kak. Anak kita sudah lahir." 


"Selamat. Bayi laki-laki anda sangat sehat," kata Dokter mengangkat bayi itu lalu meletakkan di atas dada Sia.


Wajah Galaksi menatap penuh takjub. Anak yang selalu ditemani proses kembang olehnya. Anak yang selalu ia tunggu dan anak yang membuatnya bisa merasakan menjadi ayah dan suami seutuhnya. 


Bayangan kelahiran sang istri membuatnya mengingat kelahiran si kembar. Dia menatap istrinya dengan air mata yang kembali menangis.


"Ada apa, Kak?" tanya Sia yang merasakan ciuman suaminya di dahi begitu lama dan tetesan air mata yang menetes.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku yang tak ada didekatmu ketika melahirkan si kembar. Kamu berjuang sendirian untuk mereka dan aku sejahat itu padamu," lirih Galaksi dengan hati menyesal.


Galexia mencoba menjauhkan wajahnya. Dia menatap suaminya yang matanya memerah. Ia hapus air mata suaminya perlahan lalu menyentuh rahang tegas itu.


"Aku dan si kembar mungkin dulu berjuang sendiri, Kak. Kejadian masa lalu kita memang buruk tapi Kakak sudah membuktikan bahwa kakak bisa menjadi ayah dan suami yang  baik untuk kita. Jadikan masa lalu kita untuk cerminan dan pelajaran di masa depan."


Galaksi mengangguk. Dia mencium dahi, hidung, kedua mata Galexia lalu terakhir bibirnya. Tak memperdulikan anaknya yang sedang proses mencari asi dan mendapatkannya dengan usahanya. 


"Aku berjanji akan terus bersamamu, disampingmu dan menjadi ayah dan suami yang hebat untuk kamu, Mars, Venus dan anak kita ini," kata Galaksi yang membuat Galexia mengangguk setuju. 


Pria itu menatap anaknya. Dia menyentuh jemari anaknya yang mungil dengan senyum begitu lebar. 


"Selamat datang Saturnus Putra Galaksi." 


~Tamat