
Keesokan harinya, Galaksi mendapatkan pesan dari Star. Dia diminta datang ke rumahnya yang menjadi tempat tinggal sementara para bukti yang akan menjadi pegangan Galaksi. Pria itu sungguh tak menyangka jika kinerja asistennya begitu cepat dan tanggap. Bahkan tanpa Galaksi minta, Star dengan keputusannya membawa bukti kejahatan itu ke New York untuk diinterogasi.
Dengan pakaian santainya, Galaksi keluar dari kamar. Hari ini dia tak akan datang ke Agency karena ingin fokus dengan tujuannya hari ini. Wajahnya begitu tak sabar untuk mendengar segala hal yang sudah disembunyikan dari dirinya. Tubuhnya bergerak cepat hingga diujung tangga, ia bertemu sang Mama yang ingin naik ke lantai dua.
"Mau kemana kau, Galak?" tanya Pandora menatap anaknya yang terlihat tergesa-gesa.
"Bukan urusan, Mama," serunya tak peduli.
"Galaksi!" teriak Pandora yang membuat Galaksi menghentikan langkahnya.
Pria itu berbalik dan menatap wajah sang mama dengan tajam. "Jangan pernah mencampuri urusan Galaksi, Ma. Apalagi sampai memberikan orang-orang Mama kepadaku untuk menjadi mata-mata."
Pandora terdiam. Bahkan wanita itu tak menyangka jika putranya sudah tahu tentang para bodyguardnya. Wajahnya memucat hingga tubuh Galaksi bergerak menjauh sampai tak terlihat oleh matanya.
"Bersenang-senanglah untuk saat ini. Setelah itu, kau akan kembali menjadi bonekaku," seru Pandora dengan wajah bahagia mengingat rencananya malam ini.
*****
Setibanya di sebuah rumah yang baru kali ini dia kunjungi. Galaksi segera keluar dari mobil. Dia menatap rumah sederhana di depannya yang memiliki kebun mungil tepat di sampingnya.
Senyum geli muncul di bibirnya saat membayangkan asistennya yang gila kerja, sama dengannya sedang berkebun. Hingga suara panggilan membuat perhatian Galaksi beralih.
"Selamat Pagi, Tuan. Kenapa Anda tak masuk?" tanya Star setelah menundukkan kepalanya hormat.
"Aku hanya sedang menikmati rumahmu, Star," sahut Galaksi santai sambil melangkahkan kakinya. "Rumahmu begitu nyaman hingga mengingatkanku akan rumah di Indonesia."
Star hanya diam menjadi pendengar. Sejujurnya pria itu tak tahu harus menjawab apa. Selama bekerja di samping Galaksi, pria itu begitu tahu bagaimana sikapnya yang workaholic. Pria tampan dengan sejuta uang di kantongnya itu, mendapatkan semua ini karena ia mengalihkan perhatiannya dari semua masalah hidupnya.
Star dan Leo lah yang menjadi saksi bagaimana Galaksi hidup. Dua pria itu yang begitu tahu bagaimana Galaksi melakukan semuanya disaat keadaan hatinya tak baik-baik saja.
Saat keduanya mulai memasuki rumah Star, pandangan pertama yang dilihat oleh Galaksi adalah ketiga sosok yang ada di ruang tamu. Dia bergerak cepat menuju ke arah mereka, hingga saat jarak mereka dekat, dengan sekali gerakan, Galaksi menarik kerah baju salah satu pria yang disana.
Matanya membulat penuh dengan emosi yang meluap. Ingatannya kembali memutar saat melihat apa yang dilakukan dua pria di dalam video itu.
"Apa salah saya sampai kalian tega melakukan itu!" serunya sampai wajah mereka saling mendekat.
Sebuah pukulan mendarat di pipi pria itu dengan keras. Hingga tubuhnya yang mulai menua terhuyung dan terjatuh. Namun, dengan cepat Galaksi menariknya lagi hingga wajah mereka berdekatan.
"Cepat katakan pada Saya, Pak Do? Apa selama ini gaji Anda kurang, hingga membuat Anda menjebak saya?" teriaknya sampai urat-urat di wajah Galaksi terlihat.
Pria yang dipanggil Pak Do itu terlihat begitu ketakutan. Baru kali ini mereka yang ada disana melihat Galaksi begitu marah. Bahkan untuk yang pertama kalinya majikannya itu memukul seseorang yang dulunya bekerja di rumahnya.
"Kalau Anda hanya diam. Jangan salahkan saya jika saya membawa Anda ke kantor polisi sekarang juga!" ancamnya tak main-main.
"Jangan, Tuan. Jangan!" ucap Pak Do dengan tangan berusaha menutupi wajahnya yang sudah mulai lebam.
"Cepat katakan! Apa yang dilakukan Nyonya kepada kalian sampai bisa mengkhianati saya?" ucap Galaksi dengan penuh penekanan.
"Nyonya mengancam akan mencelakai anak dan istri saya, Tuan," sahut Pak Do dengan menunduk.
Jujur pria tua itu begitu takut dengan kemarahan mantan majikannya ini. Galaksi yang dia kenal tak seperti yang sekarang. Dulu majikannya ini lebih banyak diam. Namun, sekarang Galaksi terlihat mengerikan.
Hey perlu kalian tahu!
Seorang orang tua akan berubah menjadi singa, jika anak-anaknya diganggu.
Begitupun dengan Galaksi, kehidupan yang membuatnya menjadi pria bodoh, tentu mengajarkan banyak hal pada dirinya. Apalagi sekarang dia memiliki dua orang anak yang harus ia jaga melebihi dirinya sendiri.
"Lalu kalian tak berpikir bagaimana nasib istri dan calon anak yang masih di dalam perut!" seru Galaksi marah.
"Mereka juga butuh saya! Tapi karena kalian, saya tak bisa menemani mereka sampai detik ini," serunya dengan emosi yang meluap-luap.
"Tidak semudah itu." Saat tangan Galaksi hendak melayang kembali.
Suara perempuan yang begitu dia hormati sejak dulu selain mamanya terdengar. Dia meninjukan tangannya pada angin lalu mulai menetralkan nafasnya. Sungguh dirinya merasa kalut dengan semua ini. Galaksi tak menyangka jika dua satpam yang begitu dia percayai berani mengkhianatinya.
"Jangan memukulnya lagi, Tuan. Anda bisa membunuhnya," ujar Bu Na dengan pelan.
Galaksi perlahan mengangkat kepalanya. Mamandang wajah tua yang selalu setia di keluarganya sebagai kepala pelayan. Sosok di depannya ini adalah sosok yang dulu sering menemaninya selain ibu kandungnya sendiri. Bahkan Bu Na sudah Galaksi anggap seperti neneknya sendiri.
"Aku hancur, Bu," lirih Galaksi memandang Bu Na dengan sendu.
Ketika berhadapan dengannya, Galaksi akan berubah drastis. Dia begitu menghormati dan menyayangi Bu Na dengan tulus. Bahkan disaat dirinya selalu formal dengan pelayannya yang lain, hanya pada Bu Na lah, Galaksi selalu bersikap normal.
"Kemarilah, Tuan. Anda pasti ingin mendengar cerita saya tentang keadaan rumah, 'bukan?"
"Iya, Bu." Akhirnya Galaksi meninggalkan dua orang pria yang menjadi satpamnya dulu dirumah.
Dia mengikuti langkah Bu Na ke sebuah ruangan yang Galaksi yakini adalah kamar sementara yang ditinggali Bu Na selama disini.
Keduanya duduk berhadapan. Bu Na memandang wajah tuan yang sudah dia anggap sebagai cucunya semakin terlihat begitu tampan. Dia mengusap bahunya yang kokoh sambil memberikan senyuman di wajah tuanya.
"Apa kabar, Tuan? Anda terlihat semakin gagah," ucap Bu Na memulai pembicaraan.
Galaksi tersenyum. Dia begitu senang mendengar kepala pelayan didepannya ini yang selalu bisa menghiburnya.
"Aku selalu gagah di mata, Bu Na. 'Bukan?"
Bu Na mengangguk hingga mengundang tawa kecil dalam dirinya. Namun, tak lama, wajah Bu Na berubah sendu hingga Galaksi menyadarinya.
"Ada apa, Bu?"
Bu Na menghela nafas berat. Dia memejamkan matanya untuk memutar kepalanya mengingat segala hal yang selalu bersemayam dalam otaknya.
"Apa ini semua ada kaitannya dengan Nyonya?" tanya Bu Na setelah membuka matanya.
"Iya, Bu." Galaksi mengangguk. "Sikap Mama begitu berubah tak seperti dulu."
Bu Na mengangguk. Kemudian dia menatap wajah Galaksi dengan mata dipenuhi keraguan.
"Kenapa, Bu? Apa yang Ibu tahu?"
"Ibu begitu merindukan Nona Sia, Tuan. Saya masih mengingat bagaimana sabarnya Nona menghadapi sikap Nyonya Pandora."
Degup jantung Galaksi berpacu cepat. Bahkan matanya terbelalak tak percaya dengan ucapan yang baru saja dia dengar. Sungguh aliran darahnya terasa memanas dengan tangan terkepal.
"Dulu saat seminggu pernikahan, Tuan. Nyonya selalu memerintah Nona Sia mengerjakan pekerjaan rumah. Dari mengepel lantai dengan jongkok, membersihkan semua guci yang ada di rumah, menyapu dan menyiram seluruh taman yang luas."
"Apa!" Nafas Galaksi naik turun. Dia begitu terkejut sekaligus shock.
Ingatannya kembali mengingat bagaimana dulu ketika dia baru pulang, Sia selalu terlihat begitu kelelahan. Namun, ketika dia menanyakan apa yang dilakukan istrinya sepanjang hari. Sia selalu mengatakan jika dia hanya merapikan dan membersihkan taman miliknya.
"Ya Tuhan. Jadi penderitaan Sia dimulai sejak awal pernikahan kami?"
~Bersambung~
Siapin jantungnya Bang Galak. Aku mau kasih tahu semua kebenaran sama kamu lagi. Jan sampek gila otaknya yah, denger semua kebenaran ini.
Maaf baru update yah, aku sambil jagain toko disuruh gantiin kakakku ini. Aku sempetin ngetik.
Semangat like dan komen yang banyak yah.
Tembus 250 like aku update lagi!