
Tak lama setelah Galaksi meletakkan ponselnya kembali, suara ketukan membuat perhatian mereka semua beralih. Seorang perawat dengan dokter terlihat memasuki ruangan Sia diikuti Riksa di belakangnya.
"Kita lepas infus dulu, yah," kata perawat lalu mulai melakukan tugasnya.
Dokter mengecek laporan kesehatan Sia dengan teliti sampai infus itu terlepas dengan baik dari tangannya.
"Jangan beraktivitas berat dulu yah. Anda butuh istirahat total," kata dokter dengan serius. "Jika Anda siap, berkunjunglah ke psikiater agar mental Anda lebih tenang."
Hati Galaksi tercubit. Dirinya menatap Sia dengan pandangan yang sulit diartikan. Bayang-bayang kejadian masa lalu menjadi tersangka utama di pikiran Galaksi. Apakah karena itu mental mantan istrinya terganggu?
Jika iya, maka dia adalah salah satu penyebab utama dari trauma Sia. Dirinya lah yang menjadi pokok utama dalam diri wanita yang dia cintai. Rasa bersalah dalam diri Galaksi semakin melekat. Bahkan dirinya sampai tak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Iya, Dokter. Terima kasih. Saya pastikan jika waktu senggang untuk datang ke psikiater."
Dokter mengangguk. Setelah semuanya selesai, dokter dan perawat mulai beranjak meninggalkan ruangan, hingga tersisa Sia, Mars, Venus, Galaksi dan Riksa disana. Dua anak kembar itu perlahan membantu mamanya untuk turun dari ranjang. Mereka sudah bersiap untuk pulang ke rumah sekarang.
"Mobilnya sudah siap. Ayo kita pulang!" ajak Riksa dengan menenteng tas milik Sia.
"Tunggu!" sela Galaksi hingga membuat perhatian mereka semua tertuju ke arahnya. "Izinkan aku mengantarkan kalian."
"Aku tidak mau!" seru Sia sambail membuang wajahnya.
Sungguh dirinya tak mau berada di dekat mantan suaminya. Bukan karena dia gugup, melainkan Sia masih menyimpan rasa sakit di hatinya hingga terkadang trauma itu muncul tanpa tahu waktu.
"Kumohon, Sia. Aku ingin mengantarkan anak-anakku dan kamu ke rumah kalian," pintanya dengan pandangan memohon.
Mars dan Venus berdiri di depan Sia. Mereka berdua laksana tameng yang selalu siap menjaga mamanya.
"Jangan memaksaku!" seru Sia sambil menatapnya tajam. "Ingatlah, Galaksi! Kamu adalah sumber utama dari rasa traumaku!"
Galaksi merasakan sakit di dasar hatinya. Dia tak menyangka jika karena ulahnya sendiri, sikap mantan istrinya berubah. Tak ada lagi kelembutan, cinta dan kasih sayang darinya. Bahkan perhatian yang dulu sering Sia berikan seakan kandas tak berbekas.
"Biarkan kami saja yang ikut mobil Om Galak, Mama," celetuk Mars yang diacungi jempol oleh Venus.
"Iya, Mama. Apa boleh?" sahut Venus menatap penuh harap ke arah sang mama.
Galexia begitu bimbang. Bahkan dirinya menatap kedua anaknya bergantian. Jujur Sia takut jika Galaksi akan membawa Mars dan Venus kabur. Jika itu benar, Sia sendiri tak bisa membayangkan akan jadi apa dirinya.
"Tapi…."
"Aku tak akan membawa mereka kabur, Sia," potong Galaksi cepat. "Aku sudah berjanji untuk membayar waktuku yang hilang dengan membahagiakan kedua anakku."
Sia menatap Galaksi tajam. Dia menarik lengan pria itu dengan erat untuk menjauh dari kedua anaknya. Sungguh dia takut jika lepas kendali di hadapan Mars dan Venus. Apalagi selama ini, perempuan itu selalu menjaga emosinya di hdapan sang anak, agar keduanya bisa mencontoh hal baik yang Sia lakukan.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, hah?" tanya Sia sambil menghempaskan pegangan tangannya. "Apa tak cukup, hinaan Mamamu untukku dan kedua anakku?"
"Dia juga anakku, Sia. Kamu harus ingat" seru Galaksi tak terima.
Sia tersenyum miring. Bahkan dirinya tak percaya jika Galaksi masih bisa mengatakan itu setelah enam tahun dia membuang Sia dengan anak yang masih dalam kandungan dari hidupnya.
"Aku ingat jika ada darahmu di tubuh mereka. Namun, kamu sendiri juga harus ingat…." jedanya sambil menunjuk wajah Galaksi. "Bagaimana dulu mulutmu itu menghinaku dan kedua anakku."
Skakmat!
Galaksi terdiam membisu. Dia tak tahu harus menjawab apa-apa lagi. Jika ditelak dengan masa lalu, dia hanya bisa mematung. Semua kesalahannya tentu tak bisa dilupakan hanya dengan kata maaf saja. Apalagi, kenangan itu terlalu buruk dan pasti akan meninggalkan bekas luka yang menganga.
Galaksi menunduk. Dia tak kuat untuk menatap mata Galexia begitu lama. Dia merasa seperti mendapatkan tamparan keras dari perkataan mantan istrinya.
"Ini untuk yang terakhir kalinya! Jangan dekati Mars dan Venus sebelum urusan dengan Mamamu selesai. Aku tak mau anakku menjadi korban dari keegoisan dan kemarahan mamamu." Setelah mengatakan itu, Sia langsung kembali masuk ke ruangannya.
Dia menatap kedua anak kembarnya yang menunggu percakapannya dengan Galaksi sampai selesai.
"Kalian hati-hati yah. Mama tunggu di apartemen," ujar Sia yang dijawab anggukan oleh Mars dan Venus.
"Kalian ingat alamat apartemen kita, 'kan?" tanya Riksa sambil mendekati si kembar.
"Tentu saja, Om."
Akhirnya ibu dan anak itu saling melambaikan tangan. Mereka berdua berpisah di depan rumah sakit hingga Sia memasuki mobil Riksa terlebih dahulu.
"Tentu, Sayang. I love you," ucap Sia sambil menyembulkan wajahnya di jendela.
"Love you too, Mama."
Perlahan mobil yang ditumpangi Sia bergerak menjauh. Meninggalkan si kembar dan Galaksi yang masih berdiri ditempatnya. Kemudian, setelah kendaraan itu tak terlihat, dia mengajak kedua anaknya memasuki mobil miliknya.
Dengan sigap, Galaksi membantu Mars dan Venus yang duduk di bangku kedua. Ditangan mereka, terlihat kantung plastik berisi cemilan yang dibelikan dirinya. Setelah memasang seatbelt, perlahan Galaksi melajukan mobilnya dengan sesekali matanya menatap kedua anaknya yang duduk tenang di bangku belakang.
Hingga saat mobil Galaksi mulai memasuki jalan raya, pria itu sudah fokus ke depan. Dia tak memperdulikan kedua anaknya yang sedang berbisik merencanakan sesuatu.
"Bagaimana?" tanya Mars setelah mengatakan rencananya.
"Laksanakan!" Venus segera membuka bungkus cemilannya.
Lalu dengan lahap, gadis kecil itu mulai memakannya dengan semangat. Bau mobil yang awalnya harum, berganti dengan aroma makanan. Hingga hal itu sontak membuat Galaksi mengernyitkan alisnya.
"Apa kalian makan cemilan di mobil?" tanya Galaksi tanpa menoleh.
Suasana jalanan lumayan padat sehingga membuatnya harus fokus ke depan. Dia tak mau terjadi sesuatu karena saat ini dirinya tak sendirian. Melainkan Galaksi membawa belahan hatinya yang selama ini jauh dari hidupnya.
"Iya, Om. Kenapa?" tanya Mars memajukan kepalanya. "Apa tak boleh?"
Galaksi menggeleng, dia melirik sebentar ke arah wajah Mars dan tersenyum.
"Boleh. Om hanya bertanya saja." Akhirnya Mars memundurkan tubuhnya di posisi semula.
Lalu keduanya kembali bersemangat menghabiskan cemilan Galaksi dengan menyelesaikan rencananya. Sungguh tak ada yang tahu bagaimana keadaan bangku belakang. Bahkan dengan santainya, Venus membuang bungkus makanan itu di kursi paling belakang. Dia seperti bodo amat dengan keadaan mobil ini yang kotor karena ulahnya.
Akhirnya perjalanan itu berakhir. Galaksi memarkirkan mobilnya di depan pintu apartemen dan langsung turun untuk membukakan pintu kedua anaknya.
Saat tangannya mulai menarik pintu untuk kedua anaknya, aroma makanan langsung menguar di hidungnya. Mata Galaksi membulat penuh saat melihat keadaan mobilnya yang begitu berantakan.
Bungkus makanan, bekas cemilan yang berjatuhan dan cap tangan kedua anaknya di sepanjang kursi membuat mobil kesayangannya begitu kotor. Dengan tampang santainya kedua anak itu berjalan meninggalkan Galaksi yang masih shock dengan apa yang dia lihat.
"Ayo, Om! Apa Om gak mau mampil?" teriak Venus dengan membalikkan tubuhnya.
Galaksi mengangguk lalu dia menutup pintu mobil itu dan menghela nafas pasrah. Sepertinya pikiran Galaksi semakin kacau setelah melihat ulah si kembar. Wajahnya murung dan berjalan seakan tak memiliki kekuatan dalam dirinya lagi.
Jujur, sekuat tenaga Mars dan Venus menahan tawa saat melihat raut wajah Galaksi yang berubah. Keduanya benar-benar begitu puas dengan hasil karyanya. Mars dan Venus memang sengaja membuat kotor mobil Galaksi, agar sang ayah memarahi mereka dan menguji kesabarannya. Namun, sepertinya dibalik rencana yang berhasil, si kembar harus menelan kekecewaan karena ayah mereka tak marah.
Tapi tingkah mereka tak hanya sampai disini. Baik Mars dan Venus masih memiliki seribu rencana di otaknya untuk menguji kesabaran dan mental Galaksi serta membuatnya menyerah untuk mendekati mereka dan mamanya.
****
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah rumah besar nan mewah. Terlihat sebuah keluarga dengan seorang tamu istimewa sedang berbincang bersama. Keduanya terlihat begitu akrab antara satu dan yang lain. Dari pakaiannya saja, bisa kita lihat jika mereka adalah orang-orang kaya. Wajah bahagia tentu terselip di antara mereka saat membahas sesuatu yang begitu penting.
"Besok malam kalian datanglah ke rumah. Kita bahas rencana pertunangan anak kita agar segera dilaksanakan sekaligus makan malam bersama. Bagaimana?" ucap seorang wanita paruh baya dengan wajah bahagia.
"Tentu saja, Pandora. Kami akan mengunjungi rumahmu untuk menemui calon menantu kami yaitu Galaksi," ucap wanita dengan penampilan begitu mewah.
"Aku yakin anakku akan bahagia dengan berita ini. Apalagi kedekatan mereka selama ini pasti membutuhkan status yang jelas. Bukan begitu, Inggrid?" tanya Pandora tersenyum ke arah wanita yang wajahnya bermake up tebal.
"Iya, Tante. Aku sudah lelah berhubungan seperti ini. Aku ingin segera bersatu dengan Galaksi agar tak ada wanita lain yang mengambilnya," ucapnya dengan mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Tak akan ada yang bisa mengambilnya, Sayang. Kamu cantik dan berpendidikan. Siapapun pasti tak selevel jika dibandingkan dengan kamu," kata Pandora dengan yakin.
"Tentu, Tante. Aku juga tak akan mengizinkan siapapun merebut Galaksiku," ucapnya dengan sombong. "Siapapun yang berani mengusik milikku, aku akan menghancurkannya sampai dia menyesal."
~Bersambung~
Hlahh, yakin menghancurkan?
Emang aku mau? hahaha.
Baru selesai ngetik langsung update.
Kalau ada typo atau kalimat ambigu boleh komen.
Makasih yang udah like dan komen banyak. Love sekebon dari kembar.