
"Mungkin Anda tak percaya, Tuan. Tapi, itulah kebenarannya," ucap Bu Na serius. "Apalagi ketika kejadian malam dimana Anda pulang dalam keadaan mabuk. Nona Sia benar-benar bingung pagi harinya."
Galaksi benar-benar shock berat. Dia seakan kehilangan udara di ruangannya. Semua kebenaran ini benar-benar membuat kepalanya sakit. Ingatan tentang apa yang terjadi di video dengan penjelasan Bu Na semuanya sama. Hingga membuat ia yakin jika wanita di depannya ini selalu bisa dipercaya.
"Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Bu Na memegang tubuh Galaksi saat melihat wajahnya yang pucat.
"Aku tak tahu harus mengatakan apa, Bu. Rasanya aku ingin tak mempercayai semuanya. Namun, jika semua bukti sudah ada. Bagaimana aku tak mempercayainya?" tanya Galaksi dengan pandangan sendu.
Sungguh Galaksi terlihat begitu rapuh. Dia tak tahu akan ada kejutan apa lagi dalam hidupnya. Semua ini terasa begitu mengejutkan dan seperti bom atom yang meledak tanpa bisa dicegah.
Semua peristiwa masa lalu dalam hidupnya dan kebahagiaannya hancur karena campur tangan ibu kandungnya sendiri. Galaksi tentu mulai berpikir. Menyambungkan semua kejadian hingga membuat kepalanya berdenyut.
Perlahan dia memijat dahinya untuk mengurangi rasa sakit itu. Hingga tak lama, dia teringat sesuatu yang begitu membuatnya penasaran. Kejadian itu mungkin hanya dirinya yang merasa, karena semua yang terjadi selalu berkaitan dengannya.
Hingga setelah kesunyian terjadi di antara mereka. Galaksi akhirnya mulai menatap Bu Na. Sakitnya sedikit berkurang, hingga membuatnya ingin melanjutkan pertanyaannya ini.
"Apa Bu Na tak merasakan perubahan sikap Mama?"
Raut wajah Bu Na spontan terkejut. Dirinya begitu gugup dan menghindari kontak mata dengan Galaksi. Perubahan sikapnya tentu bisa dilihat oleh pria tampan berpakaian santai itu. Hingga Galaksi menyadari jika kepala pelayannya itu pasti tahu sesuatu.
"Apa Bu Na mengetahui sesuatu?" tanya Galaksi dengan menatapnya tajam. "Tolong bantu Galaksi, Bu."
Nada suara Galaksi yang terdengar putus asa membuat Bu Na mengangkat wajahnya.
"Penjelasan Bu Na akan menjadi takdir bagaimana aku kedepannya, Bu," ucapnya membuat Bu Na bingung.
"Apa maksud, Tuan?"
"Aku sudah menemukan Sia dan kedua anakku, Bu," ujar Galaksi dengan mata berkaca-kaca.
Mata Bu Na terbelalak. Bahkan kedua tangannya dengan reflek menutup mulutnya karena begitu tak percaya. Matanya ikut berair saat mengingat sosok wanita, yang berstatus istri dari majikannya, yang begitu ia sayangi.
"Serius, Tuan?"
"Iya, Bu. Anak-anakku bahkan kembar. Perempuan dan laki-laki," ucap Galaksi antusias. "Jadi aku mohon, Bu. Tolong bantu aku untuk mencari tahu semuanya."
Bu Na mengangguk setuju. Dia begitu bahagia melihat mata Galaksi yang berbinar. Wanita paruh baya itu tentu merasakan aura bahagia dari majikannya. Hingga membuat sesuatu di sudut hati Bu Na menjadi tersentuh untuk mengatakan semuanya
Dirinya tak mungkin menutupi semua ini lagi. Mau sampai berapa lama lagi dia berdiam diri. Sudah cukup selama ini dia menutup mulutnya dan mungkin hari ini semua itu harus diungkapkan, untuk membuat semua keadaan akan kembali damai.
"Malam itu…."
Suasana di sebuah rumah terlihat damai. Semua orang mulai terlelap dalam tidurnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hingga hanya sunyi dan denting jam yang terdengar di sana.
Seorang wanita paruh baya terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya dan merasakan haus. Saat menoleh kesamping, dia melihat gelas air miliknya kosong. Hingga mau tak mau, dia menurunkan kedua kaki tuanya. Lalu mulai keluar dari kamar dan menuju ke dapur.
Saat dia asyik menuangkan air di gelas miliknya. Sayup-sayup dia mendengar suara pintu terbuka diiringi gelak tawa seorang perempuan dan pria. Merasa penasaran sekaligus takut dirinya ketahuan, wanita itu memilih bersembunyi di balik lemari piring.
Dadanya naik turun dengan tubuh yang gemetaran. Perlahan dia mendengar suara ketukan sepatu diiringi suara yang begitu dia kenal semakin mendekat.
"Kau yakin malam ini aman?" tanya suara pria yang baru dia dengar malam ini.
"Tentu saja. Putraku sedang ada perjalanan bisnis, dan semua pelayan pasti sudah beristirahat."
"Lalu bagaimana dengan wanita itu?" tanya pria itu dengan nada suara terdengar ragu.
"Aku sudah membunuhnya dan meminta mereka menguburkannya dengan layak," ucap wanita itu dengan diiringi tawa mengerikan. "Meskipun aku begitu membencinya, tapi karena dia, aku sampai di posisi ini."
Tak lama, terdengar sebuah kecupan hingga membuat wanita itu memberanikan diri untuk mengintip. Matanya membulat penuh dengan wajah begitu shock akan apa yang dia lihat.
Pandora, majikannya itu membawa seorang pria yang umurnya sebaya dengannya ke rumah ini. Apalagi adegan ciuman itu terlihat begitu bergairah hingga membuat wanita itu semakin tak percaya. Hingga tak lama, suara pintu yang terbuka dan menghilangnya kedua manusia itu membuat wanita itu memerosotkan tubuhnya di depan lemari.
"Sungguh saya merasa terkejut, Tuan. Bahkan saya kira itu semua mimpi. Namun, saat saya mencoba mencubit lengan saya dan sakit. Saya baru menyadari jika semua itu nyata," ucap Bu Na mengakhiri ceritanya.
Wajah Galaksi sudah tak berekspresinya. Dirinya begitu bingung akan apa yang baru saja dia dengar. Sungguh Galaksi ingin menepis semua perkataan kepala pelayannya ini. Tapi, inilah kenyataannya.
Mama yang dulunya dia kenal selalu setia pada sang Papa. Ternyata tak ubahnya seorang pelacur yang memperdagangkan tubuhnya dan membawa pria lain masuk ke dalam kamarnya. Apalagi sebuah ucapan mamanya yang didengar oleh Bu Na dalam ceritanya, semakin membuat Galaksi semakin yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh mamanya.
"Aku masih tak percaya semua ini, Bu. Apa yang terjadi begitu mengejutkan," ungkap Galaksi dengan menyandarkan punggungnya.
Dia memejamkan matanya dengan pikiran yang terus berputar. Kebenaran yang kali ini dia dengar ternyata semakin membuatnya sakit. Sesuatu terasa menusuk saat bayang-bayang wajah papanya yang selalu mengatakan padanya dulu, jika mamanya adalah sosok yang begitu setia.
Bagaimana papanya yang memuji mamanya cantik.
Bagaimana dulu papanya yang selalu bersikap mesra pada mamanya. Bagaimana dulu dia melihat papanya yang begitu setia.
Hingga rasa tak terima mulai muncul di kepalanya. Tanpa sadar air mata mengalir di sudut matanya. Dia merasa sedih saat menyadari bagaimana perasaan papanya yang sudah tak ada jika tahu semuanya.
Sampai suatu peristiwa yang terlintas di kepalanya, membuat Galaksi membuka mata.
"Ada apa, Tuan?" tanya Bu Na yang terkejut dengan reaksi Galaksi.
"Apa Bu Na mengingat, hari dimana Mama mulai berubah drastis?"
Degupan jantung Bu Na berpacu cepat. Bahkan dengan cepat dia menganggukkan kepalanya saat mengingat peristiwa yang baru pertama kali terjadi di rumah Jakarta.
"Saat itu Mama izin untuk bertemu dengan rekan-rekannya bukan, Bu?" tanya Galaksi memastikan ingatannya.
"Iya, Tuan."
"Lalu pulangnya, Mama kembali dengan penampilan berbeda. Rambutnya dia gelombang dengan warna coklat terang dan dress yang ia gunakan begitu terbuka," jeda Galaksi dengan pikiran berusaha mengingat. "Hingga saat Mama sampai di rumah ternyata ada Papa dan aku di ruang tamu. Saat Papa melihat penampilan Mama, Papa begitu marah. Namun, untuk pertama kalinya, malam itu Mama berani membalas nasehat Papa dan keduanya bertengkar. Betul 'kan, Bu?"
Bu Na mengangguk. Galaksi semakin memutar otaknya. Menyambungkan semua kejadian dan bukti yang dia dengar. Hingga matanya sampai terpejam. Dia berusaha melawan sakit di kepalanya dan memilih untuk menyatukan semua itu untuk mendapatkan jawaban.
Hingga akhirnya mata Galaksi terbuka. Nafasnya mulai naik turun dengan keringat dingin membasahi tangannya.
"Kenapa aku berpikir tentang perkataan Mama yang mengatakan 'membunuh,' Bu?"
Jantung keduanya sama-sama berdegup kencang. Mata keduanya saling pandang dan memancarkan ketakutan di antara mereka berdua.
"Apa jangan-jangan…."
~Bersambung~
Dasarnya Nenek Peyot banyak tingkah, ya begini!
Siapa si yang bikin dia ada? sebel banget aku tuh!
Jangan lupa jempolnya tekan like langsung yah. Biar aku update lagi dan pegelnya kalian cepet lega hahaha.
Jangan lupa komen dan votenya yah. Mau vote poin, koin atau vocher itu begitu menghargai dan apresiasi karya ini.
Terima kasih.
Tembus 200 like aku update lagi.